NovelToon NovelToon
Setelah Kepergianmu

Setelah Kepergianmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: naisa strong

Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.

"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.

Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.

Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhyar terlihat acuh

Waktu menunjukkan pukul sembilan. Nina mulai gelisah memandangi jam tangan nya. Hatinya mulai deg-degan. Kata demi kata coba dia rangkai sebelum bertemu dengan Akhyar. Mencoba beberapa kata yang mau dia ucapkan saat bertemu dengan Akhyar nanti sampai mengulang-ulang nya mana tahu ada yang tidak pas saat berbicara dengan Akhyar. Jarum jam mulai bergeser ke kanan perlahan. Hati Nina semakin tidak karu-karuan. Kegelisahan nya sembari menatap ke luar halaman Toko Olivia, mana tahu Akhyar sudah datang. Nina berjalan mondar-mandir dengan celingukan saat jam sudah mendekati waktu janjian. Tidak lama setelahnya mobil Akhyar datang dan terparkir di depan. Nina bergegas menyusul Akhyar dengan senyuman.

"Kamu sudah datang, mas." Basa-basi Nina kepada Akhyar yang mengajak nya duduk di teras depan Toko Olivia dimana terdapat kursi-kursi berikut meja. "Aku mau minta maaf, mas, terkait semalam." Nina dengan cepat mengatakan permintaan maafnya, padahal mereka baru saja duduk.

Agak lama Akhyar memulai kata, namun setelah mengambil nafas panjang. Akhyar mulai bicara. "Aku mohon maaf sebelum nya, Nin." Ucap Akhyar yang masih berjeda karena Akhyar sepertinya sedang memilah-milah kata. Sedangkan Nina semakin deg-degan mendengar pernyataan Akhyar selanjutnya. "Lupakan terkait apa yang pernah kita bicarakan kemarin, Nin." Lanjut Akhyar.

"Maksudnya, mas?" Tanya Nina supaya Akhyar memperjelasnya. Karena menurutnya, pernyataan Akhyar ambigu. "Ini terkait apa? Pertengkaran kita semalam, atau apa?" Tanya Nina agak terbata.

Akhyar jujur sedikit merasa bersalah. Tampaknya memang kemarin hanya menganggap Nina pelarian dari masalah. Hampir sepuluh tahun menyendiri, tidak ada kejelasan dengan masa depan terkait jodoh, lalu dipisahkan dengan Arsyad dan Arsyla membuat Akhyar sedikit frustasi. Begitu bertemu dengan Nina kembali, alhasil ingin membuat keputusan segera menikah apalagi Nina menyambutnya. Namun sayang, andai Nina lebih sabar menghadapinya semalam, mungkin Akhyar akan pertimbangkan. "Lupakan lamaran! Lupakan aku akan menikahi kamu! Lupakan itu, Nin!" Ucap Akhyar yang kemudian menunduk tak berani menatap Nina.

Seketika harapan Nina runtuh. Permintaan maafnya tak cukup mengubah hati Akhyar yang mungkin masih marah. Jujur hati Nina ingin menangis, namun mencoba menguatkan diri di hadapan Akhyar. "Lupakan perkataan ku semalam, mas. Aku akan coba ikhlas kalau anak-anak Bu Zahrin meminta waktu mas, menghubungi mas, atau apapun itu. Dan seharusnya aku tidak bicara demikian semalam. Aku minta maaf, mas." Nina berusaha mengambil hati Akhyar kembali.

"Ini bukan perkara semalam saja, Nin. Aku mau mencoba jujur yang mungkin hati ku masih menyangkut di Zahrin dan anak-anak nya. Aku takut malahan mengecewakan mu. Memberi harapan padamu dimana malah nanti aku tidak bisa menjadi suami seutuhnya untuk mu dan kamu tidak bahagia. Itu yang aku khawatirkan." Akhyar mulai berani menjelaskan.

"Jadi kemarin kamu bohong? Yang katanya kamu senang bertemu ku kembali. Kamu sudah memimpikan memiliki keluarga kecil tanpa bayang-bayang mantan istrinya mas lagi. Kamu juga sudah lama sendiri dan ingin mengakhiri semua itu, kamu bohong, mas?" Tidak terimanya Nina sampai-sampai Nina menjelaskan satu persatu yang disampaikan Akhyar kemarin-kemarin.

Akhyar mulai resah. Menarik nafas dalam dan menyadari kesalahannya. "Aku tidak bohong terkait itu, Nina. Tadinya aku pikir semuanya akan berjalan mulus. Aku akan melamar mu, menikahi mu dan akan memulai hidup baru bersama mu. Memiliki keluarga kecil kembali setelah sekian lama. Itu tidak bohong, aku mendamba hal itu. Tapi apa dikata? Jika jujur sampai saat ini, aku ternyata tidak bisa untuk tidak peduli dengan Zahrin, Arsyad dan Arsyla." Begitu detail Akhyar menjelaskan pada Nina.

"Apa mas Akhyar sudah yakin? Nina hanya tidak ingin mas Akhyar berkorban untuk bu Zahrin, Arsyad dan Arsyla semakin lama. "Jadi maksud Nina, begini mas, jika mas Akhyar sudah memaafkan Nina terkait perkataan Nina semalam dan mas Akhyar hanya terjebak diantara pilihan apakah harus melanjutkan menikah atau kembali pada situasi lama dimana rutinitas mas kerja, perhatian dengan Arsyad dan Arsyla tanpa peduli perasaan mas sendiri. Nina bisa memberikan pilihan kepada mas, bahwa Nina akan menerima segala hal tanpa protes jika itu terkait ibu Zahrin, Arsyad dan Arsyla. Tapi itu jika mas Akhyar berkenan." Nina yang berusaha mempertahankan perasaan nya kepada Akhyar. Mengingat Nina tahu sebenarnya, jika Akhyar hanya butuh waktu untuk semuanya yang pernah terjadi pada rumah tangganya terdahulu.

"Maksud kamu?" Akhyar tanya balik ke Nina.

"Aku akan menunggu, mas, tanpa menekan mas untuk begini dan begitu. Intinya, aku sudah terlanjur menaruh perasaanku sama kamu, mas. Terlebih aku juga sudah bicara sama mama dan papa. Mama sama papa juga sudah sangat suka terhadap kamu, mas. Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Jadi ya nggak apa-apa, kalau misal semuanya harus ditunda terlebih dahulu." Jawab Nina tampak lebih sabar ketimbang sikapnya semalam.

"Tapi aku tidak janji perihal selalu memberi kabar pada mu setiap hari, mungkin seperti kemarin yang aku lakukan, misal menjemput pulang kerja lalu mengantar kamu pulang. Intinya selalu ada waktu buat kamu. Aku tidak janji untuk itu, Nin." Jawab Akhyar meskipun meremukkan hati Nina terus-terusan.

Nina mengangguk paham. Entahlah, sampai kapan Nina akan mempertahankan perasaan cintanya kepada Akhyar ini.

"Kalau begitu aku pamit." Akhyar yang bangkit dari duduknya sekaligus titip salam buat mama dan papa Nina. Akhyar juga meminta Nina bisa menjelaskan kepada mama dan papa nya terkait hubungan mereka.

Sekali lagi Nina hanya mengangguk paham. Mencoba mengiyakan semua permintaan Akhyar. Sekembalinya Nina yang kemudian menuju ruang kerja nya. Nina jujur sedih dan berurai air mata. Nina tak menyangka, jika harus begini akhirnya.

Berbeda dengan Akhyar yang berusaha mengalihkan pikiran Arsyad dan Arsyla, mengajak mereka makan siang dan membelikan mainan baru supaya mereka tidak meminta pergi ke rumah sakit hati itu.

Nina yang tidak sengaja melihat ketiganya. Nina sendiri juga tengah makan siang di tempat tersebut. Nina bisa melihat, jika Akhyar memang sesayang itu kepada Arsyad dan Arsyla. "Halo anak manis sama anak ganteng, tante boleh duduk, nggak?" Nina yang menghampiri ketiganya. Membuat Akhyar terkejut.

Arsyad dan Arsyla menoleh ke arah Nina dan mengangguk. Mereka juga ingat, kalau Nina pernah main ke rumah mereka waktu itu.

"Kalian lagi makan apa?" Tanya Nina mencoba akrab dengan Arsyad dan Arsyla dan menggeser tempat duduk untuk lebih dekat dengan Arsyad dan Arsyla. "Wah enak sekali makanan nya?" Lanjut Nina masih dengan kata-kata manisnya.

"Kamu juga makan siang disini, Nin?" Sahut Akhyar.

"Iya mas, aku sudah selesai makan. Ini aku mau balik kok. Maaf ya, kalau aku ganggu waktu kamu sama Arsyad dan Arsyla." Nina yang harus kembali kerja.

Akhyar mengangguk dimana Nina yang kemudian berpamitan dengan Arsyad dan Arsyla karena harus kembali kerja.

Sangat jelas sekali, perbedaan sikap Akhyar sebelum dan sesudah hubungan keduanya merenggang. Rasanya baru kemarin Nina mendapatkan perhatian Akhyar biarpun sekedar tidak lupa mengingatkannya makan siang. Namun kali ini, Akhyar bahkan terlihat acuh.

Sedangkan di rumah sakit.

Ibu Dini sengaja menemui ibu Olivia dan mau berbicara terkait perasaan putrinya. Terlebih dahulu ibu Dini menanyakan keadaan Regi, ibu Dini juga tahu kalau temannya itu sedang bersedih dengan sakit yang diderita putra nya.

"Maaf ya, Liv. Ini sepertinya memang bukan waktu yang tepat. Tapi ini terkait Nina." Ibu Dini yang mulai dengan pembicaraan seriusnya.

"Nina? Ada apa dengan Nina? Apa Nina ada masalah di tempat kerja?" Tanya ibu Olivia.

Ibu Dini mulai menjelaskan dari apa yang pernah disampaikan oleh Nina terkait Akhyar, Zahrin, Arsyad dan Arsyla biarpun ibu Dini sendiri belum tahu bagaimana mereka.

"Jadi Akhyar mau menikahi, Nina?" Ibu Olivia terkejut tapi jujur ikut senang.

"Awalnya begitu, Liv. Tapi mereka sempat berdebat karena Arsyad dan Arsyla."

Ibu Olivia kemudian cerita, jika memang kedua cucunya sangat dekat dengan Akhyar begitu sebaliknya. Akhyar sangat tulus dengan cucu-cucunya itu. Ibu Olivia berharap Nina bisa mengerti, karena memang sangat sulit memisahkan mereka, Zahrin pernah mencobanya, tapi ikatan cinta antara ketiganya memanglah sangat kuat. Akhirnya semua keluarga menerima keadaan yang seperti itu adanya. Bahkan cucu-cucunya punya panggilan khusus terhadap Akhyar. Dan jujur, hal itu pula yang sempat menyulut pertengkaran di rumah tangga anak nya.

"Oh, jadi begitu, Liv." Ibu Dini yang mulai bisa memahami mengapa Akhyar semalam bersikap demikian kepada Nina.

Ibu Olivia mengangguk. "Jadi kalau menurut aku, Nina yang sabar. Aku senang kalau Akhyar menikahi Nina. Karena Akhyar memang sudah lama sendiri. Tapi ya tidak tahu dengan kamu, mengingat Akhyar memang sudah berstatus duda sedangkan Nina belum pernah menikah." Perjelas ibu Olivia.

"Iya, Liv. Tadinya kami juga sudah sangat menerima Akhyar. Kami juga sangat senang karena Nina juga senang. Kebahagiaan Nina yang terpenting. Tapi ada satu hal lagi, Liv, yang mau aku sampaikan. Dan ini sepertinya, kamu juga harus tahu."

Ibu Olivia memasang wajah serius. "Apa itu, Din?"

Bersambung

1
Vanni Sr
semua novel ny saling berkaitan , jd hrus baca semua ny. g seru. hrus ny stop pke crta baru tp ini saling berkaitan yg di wjibkn baca judul sblm nya biar ngerti hadeeeuh
naisa strong: 😄😄😄trik marketing kak🤣🤣 supaya kakak juga baca yang sebelumnya dan semakin banyak novel penulis yang terbaca oleh pembaca yang alhasil kalau banyak yang koment suka dan baca penulis dapat cuan kak....hehehhehe🤣🤣😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!