Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab1 Retak yang tak terdengar
Nama lengkap nya Aditya Putra, akan tetapi sejak kecil hampir semua orang memanggil nya dengan sebutan Radit. Nama itu lebih pendek, lebih mudah di ingat dan entah kenapa terasa lebih hangat di telinga nya. Ia tak pernah benar benar tahu siapa yang pertama kali memanggil nya dengan sebutan itu. Yang ia tahu sejak ia mulai mengingat dunia ia sudah berada di panti asuhan kecil. Di pinggiran kota, dengan tembok kusam dan halaman sempit yang selalu di penuhi suara anak anak.
Radit adalah yatim piatu, ia tidak pernah memiliki foto orang tua nya sampai ia beranjak dewasa. Ia tidak memiliki cerita lengkap tentang bagaimana mereka pergi. Yang tersisa hanya selembaran kertas usang di arsip panti. Nama , tanggal lahir, dan keterangan singkat yang di titip kan oleh warga. Dari kecil Radit belajar menerima bahwa ada banyak pertanyaan dalam hidup yang tak selalu memiliki jawaban. Ia tumbuh dengan perasaan hampa yang samar seperti ruang kosong di dada yang tak bisa di isi oleh apapun.
Panti asuhan ini bukan tempat yang kejam, tetapi juga jauh dari kata nyaman. Makanan sering kali sederhana, kadang juga kurang. Pakaian harus bergantian, kasur tipis berderet di satu ruangan yang besar. Namun di sana Radit belajar arti kebersamaan. Ia belajar berbagi, belajar menahan diri, dan belajar bahwa menangis terlalu lama tidak akan mengubah apapun. Sejak kecil ia memiliki kebiasaan mengamati orang-orang, keadaan, dan diri nya sendiri. Ia jarang mengeluh, bukan karena kehidupan nya mudah, tetapi karena ia sadar keluhan tidak pernah memberi nya roti tambahan.
Saat anak anak lain masih bermain hingga senja, Radit sering membantu pengurus panti. Menyapu halaman, mencuci piring, atau menjaga adik adik yang lebih kecil dari nya. Ia tumbuh lebih cepat dari usia nya ada kedewasaan yang terpaksa terbentuk karna keadaan. Namun di balik sikap tenang nya Radit menyimpan suatu hal yang harus ia jaga " Keinginan untuk hidup lebih baik. "
Ketika masuk sekolah dasar, Radit sudah terbiasa berjalan kaki jauh . Sepatu yang di pakai nya sering kali kebesaran, hasil sumbangan yang tidak selalu pas. Tapi ia tidak peduli . Ia menyukai sekolah. Disana ia merasa setara dengan anak anak lain. Di dalam kelas , tidak ada yang bertanya siapa orang tua nya atau dari mana ia berasal. Yang di nilai hanya jawaban, bukan latar belakang.
Sejak SD, Radit di kenal rajin dan pendiam. Nilai nya tidak selalu sempurna tetapi konsisten. Semua guru guru nya sering terkejut karena kesungguhan nya. Saat teman teman nya pulang untuk bermain, Radit sering tinggal lebih lama di perpustakaan sekolah, dia sering membaca apa saja yang tersedia disana. Buku menjadi pelarian sekaligus jendela dunia bagi nya. Dari buku ia tahu bahwa hidup tidak harus berakhir di tempat ia di lahirkan.
Memasuki SMP, Kehidupan Radit menjadi sedikit lebih keras. Bantuan untuk panti mulai berkurang, sementara kebutuhan panti meningkat. Tanpa banyak bicara Radit mulai bekerja serabutan. Sepulang sekolah ia membantu warung tetangga, mencuci motor, mengantar galon dengan gerobak, atau apa pun yang bisa menghasil kan uang bagi nya. Ia tidak pernah memilih soal pekerjaan. Baginya kerja apa saja yang penting halal dan bisa untuk bertahan hidup bagi nya dan saudara saudara nya di panti asuhan.
Tubuh nya sering lelah, tetapi pikiran nya tetap semangat dan terjaga. Ia belajar mengatur waktu dengan ketat . Malam hari, setelah pekerjaan selesai dan panti mulai sunyi, Radit belajar dengan penerangan seadanya. Kadang mata nya perih, kadang kepala nya berat, tetapi ia terus memaksa diri nya untuk bertahan. Dalam diam, ia berjanji pada diri nya sendiri '' hidupku tidak boleh berenti disini, kedepan nya hidup ku harus lebih baik dari ini! "
Di SMA, tekanan hidup semakin terasa . Tuntutan akademik meningkat, sementara pekerjaan sampingan tetap harus di jalani. Ada masa masa ketika Radit hampir menyerah. Pernah suatu malam ia duduk sendirian di tangga panti, memandang langit yang gelap , bertanya dalam hati mengapa hidup terasa lebih berat sejak awal. Namun setiap kali pikiran itu muncul ia selalu teringat satu hal. Jika ia berhenti tidak ada satu orang pun yang akan menyelamatkan nya.
Prestasi Radit mulai menonjol di SMA. Nilai nya stabil tinggi, dan ia beberapa kali memenangkan lomba akademik tingkat sekolah dan sering kali ia menjuarai kelas. Kepala sekolah mulai memperhatikan nya. Meski berasal dari panti asuhan , Radit tidak pernah menggunakan latar belakang nya sebagai alasan atau senjata untuk mencari belas kasihan dari orang orang. Ia hanya selalu bekerja lebih keras sari siapa pun untuk menjungjung tinggi pendidikan nya.
Saat kelas 3 SMA, mimpi yang selama ini hanya berani ia simpan diam diam mulai terasa nyata. "Kuliah! " Namun mimpi itu juga menakutkan. Biaya kuliah adalah sesuatu yang bahkan sulit untuk ia bayang kan. Uang hasil kerja serabutan nya hanya cukup untuk kebutuhan sehari hari. Tapi Radit tidak mundur. Ia mencari informasi tentang beasiswa. Membaca pengumuman, bertanya pada guru, dan mengisi formulir demi formulir dengan penuh harapan.
Pengumuman beasiswa menjadi salah satu hari yang paling menegangkan dalam hidup nua. Saat nama nua tercantum sebagai penerima beasiswa penuh di sebuah universitas negeri, Radit terdiam lama. Tangan nya gemetar. Untuk pertama kali nya, ia menangis tanpa merasa lemah. Tangisan itu bukan karena sedih, melain kan akhir nya dunia memberi nya sedikit ruang untuk bernapas.
Kuliah mengubah hidup Radit, tetapi tidak pernah mengubah nya lupa diri. Ia tetap bekerja di sebuah cafe . Kehidupan kampus tidak selalu ramah. Ada mahasiswa yang memandang rendah karena penampilan nya sederhana. Ada juga yang meremehkan nya karena ia tidak berasal dari keluarga berada. Namun Radit sudah terlalu lama hidup kerasjadi dia tidak sedikit pun sedih atau goyah karena cacian orang orang di sekitar nya.
Ia belajar dengan disiplin tinggi. Setiap nilai adalah tangga kecil untuk menuju masa depan. Setiap kegagalan ia terima sebagai pembelajaran, bukan hukuman . Di kampus Radit juga mulai membuka diri. Ia belajar berbicara , berorganisasi , dan berani menyampai kan pendapat , anak panti yang pendiam itu sekarang tumbuh menjadi seseorang yang sangat disegani karena integritas, kepintaran dan ketekunan nya.
Meski kehidupan nya mulai membaik, Radit tidak pernah melupakan panti asuhan. Ia sering kembali. Membantu adik adik panti asuhan nya belajar, berbagi cerita dan memberi mereka harapan yang dulu nyaris tak ia miliki. Ia ingin merek tahu bahwa latar belakang bukan lah akhir dari cerita.
Aditya, atau Radit , bukan lah tokok yang lahir dari keberuntungan. Ia lahir dari kehilangan. Tumbuh dalam kekurangan dan di tempa oleh keadaan. Namun justru dari situlah ia menemukan kekuatan nya. Hidup nya adalah bukti bahwa masalalu tidak menentukan nilai seseorang, dan mimpi sekecil apa pun, selalu layak untuk di perjuangkan.
Huja turun sejak sore, tipis namun konstan membasahi halaman kampus yang mulai sepi. Radit duduk di bangku panjang dekat faman fakultas, menatap layar ponsel nya yang sedari tadi tidak berhenti menyala. Pesan terakhir dari (Silvana , pacar nya selama lebih dari satu tahun). Singkat begitu singkat untuk waktu yang begitu berat.
Pesan ponsel dari Silvana " Aku mau kita ketemu. Ada hal penting yang perlu kubicarakan ! " Itu isi pesan singkat dari Silvana .
Radit menghela napas pelan. Ia sudah terbiasa dengan kalimat semacam itu. Biasa nya , itu hanya pembicaraan kecil. Tentang kesibukan tentang jadwal yang tidak selaras, atau sekedar rindu yang tertunda. Akan tetapi entah kenapa kali ini dada nya terasa lebih sesak dari biasa nya.
Silvana datang lima belas menit kemudian, ia mengenakan jaket mahal yang tidak pernah Radit lihat sebelum nya. Rambut nya rapi, wajah nua cantik seperti biasanya, tetapi ada jarak yang sulit dijelaskan di mata nya. Radit berdiri, tersenyum kecil, kebiasaan yang selalu ia lakukan unyuk menutupi rasa gugup nya.
"Kamu nunggu lama ? " Tanya Silvana.
"Tidak! " Jawab Radit singkat, meski bangku yang basah membuktikan sebalik nya.
Mereka duduk berhadapan. Suasana canggung merayap pelan, seperti kabut yang turun tanpa suara . Silvana memain kan jari jarinya , lalu menatap Radit sejenak sebelum kembali menunduk.
"Dit... aku mau jujur" Katanya dengan sedikit gugup.
Kata jujur itu menghantam lebih keras tanpa yang Radit duga. Ia hanya mengangguk memberikan isyarat agar Silvana bisa melanjutkan pembicaraan nya.
"Aku capek! " Silvana melanjutkan perkataan nya, suara nya bergetar halus. " Aku capek dengan semua ini, aku capek harus ngertiin , harus selalu nunggu, harus selalu sederhana! "
Radit terdiam ia tidak langsung membela diri. Ia sudah terlalu sering mendengar semua keluhan itu, meski Silvana jarang mengatakan nya secara langsung. Ia tahu hidup bersama nya tidak mudah. Jadwal yang selalu padat, uang pas pasan dan kencan yang sering hanya berakhir dengan berjalan kaki atau sekedar duduk di kursi taman.
"Aku tahu , aku banyak kurang nya. " Ucap Radit akhir nya, suara tenang keluar meski hati nya mulai retak. " Tapi aku selalu berusaha untuk mu! "
Silvana mengangguk, namun kali inj matanya tidak lagi sehangat dulu. "Aku tahu kamu selalu berusaha , kamu baik dit terlalu baik malahan! " Ia tersenyum pahit. " Tapi kadang pahit aja ngak cukup! "
Kalimat itu menancap sangat dalam di hati Radit.
"Aku ketemu seseorang. " Silvana melanjutkan pembicaraan nya, nyaris berbisik. " Dia satu jurusan sama aku. Hidup nya.... Beda. Dia ngak perlu mikir biaya makan, ngak perlu kerja sambilan. Semua terasa lebih mudah jika bersama dia. "
Radit menunduk, jadi inilah akhir nya. Bukan pertengkaran, bukan penghianatan yang dramatis, hanya perbandingan yang tak pernah ia menangkan.
"Kamu suka dia ? " Tanya Radit sederhana.
Silvana terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Aku ngak tahu tapi aku nyaman. Aku merasa hidup ku jika bersama nya bisa lebih .... Ringan.! "
Ringan. Kata itu kembali menghantam. Hidup Radit memang tak pernah ringan sejak awal. Ia terbiasa memikul beban, terbiasa berjalan sambil memikul banyak hal di punggung nya. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa beban itu juga akan menjadi alasan seseorang pergi.
"Aku minta maaf. " Kata Silvana, mata nya berkaca-kaca. " Aku ngak mau nyakitin kamu, tapi aku juga ngak mau bohong sama diri aku sendiri. "
bersambung.... Dialnjut besok ya temen temen, jangan lupa bantu support like, comen dan follow aku ya lffyou all🥰❤
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊