Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 2
Seminggu berlalu begitu saja, ujian selesai remedial selesai. Pengangkatan pegawai baru juga sudah selesai dilaksanakan. Semua satpam dan petugas kebersihan yang ditugaskan di halaman belakang memutuskan untuk resign setelah kabar pembunuhan itu menyebar, tidak ada yang mengatakan apa alasan mereka resign namun dugaan terbesar adalah rasa takut. Beberapa rumor tidak menyenangkan telah beredar setelah Jum’at itu, salah satunya adalah suara tangisan wanita di sekitar taman belakang. Tidak ada saksi atau rekaman yang menguatkan cerita ini, tapi cukup untuk membuat paranoid hampir semua siswa.
Tidak banyak hal baru terjadi selama minggu-minggu ini, namun ada satu kejadian aneh terjadi di minggu yang sibuk ini. Sore itu halaman sekolah sudah sangat sepi, hanya ada beberapa siswa yang tinggal untuk keperluan Pramuka. Hingga tiba-tiba ada suara jeritan beberapa siswi mengema di halaman depan. Suara teriakan itu berasal dari toilet umum, namun begitu satpam dan beberapa orang datang mereka hanya menemukan 3 orang siswi meringkuk ketakutan di pojok ruangan.
Menurut keterangan 3 orang siswi itu, mereka berteriak karena melihat penampakan seorang siswi berseragam OSIS yang berlumur darah di cermin toilet itu.
Sayangnya mereka tidak punya bukti, dan orang-orang yang datang pun tidak merasakan keanehan apa pun. Akhirnya berita itu pun hanya menjadi rumor.
Sekolah mereka mungkin besar, namun berita kecil bukanlah hal yang sulit untuk menyebar, bahkan di hari libur. Kejadian itu sore di hari Jum’at dan hampir seluruh sekolah sudah tau berita itu di hari Senin mendatang. Berita menyebar seperti wabah, penuh dengan virus dan udara kotor. Membuat begitu banyak orang menolak untuk pergi sendirian atau pulang terlalu sore.
Menurut Daniel itu desas-desus ini terdengar aneh. Satu-satunya penampakan yang ia lihat di halaman depan hanya lah entitas yang memang tinggal di tempat itu, dia tidak melihat atau merasakan arwah lainnya. Atau karena ia tidak melihat langsung tempat itu jadi dia tidak tahu. Tapi bagaimana mungkin penampakan bisa dilihat lebih dari satu orang, dan mengapa itu bisa terpantul ke cermin? Sepanjang hidupnya tidak ada satu pun arwah yang bisa bercermin, kecuali mereka menggunakan cermin itu sebagai portal. Kemungkinan terbesar yang terpikir dalam otak Daniel hanya lah halusinasi.
Ditambah lagi arwah Hana yang sudah tenang dan tidak ada lagi gangguan arwah di sekolah mereka. Yang menjadi gangguan mereka sebenarnya adalah persiapan perkemahan yang akan di laksanakan Jumat ini. Tugas terakhir yang melibatkan kelas 12 sebelum melimpahkan tugas pada kelas 11 yang sudah ditunjuk. Hanya tersisa setengah siswa di hampir setiap jam terakhir, begitu juga dengan hari ini Daniel menjadi satu-satunya penghuni bangku pojok di jam pengayaan. Ia tidak tahu apa kaitannya musik dengan kemah, tapi Jonatan juga ikut menghilang dengan alasan rapat koordinasi.
“Kumpulkan tugas kalian di meja saya paling lambat hari Rabu depan, jika tidak nilai tugas kalian akan saya kosongkan. Katakan juga pada teman kalian yang saat ini sedang sibuk dengan Pramuka dan organisasi mereka, tidak ada dispensasi untuk alasan apa pun” ucap guru Akuntansi itu sebelum menutup laptopnya dan keluar dari kelas. Bell pulang berbunyi tepat setelah pintu ruang kelas tertutup. Suasana seketika diisi dengan suara deru motor dan kelegaan dari banyak siswa, menyadarkan Daniel dari pemikirannya.
Ia berada di kelas namun terkadang otaknya tidak ada pada tempatnya. Dulu saat kecil, ia berfikir bahwa itu adalah salah satu ajakan arwah yang ingin ia tidak fokus. Namun setelah semakin dewasa, ia faham bahwa itu bukan arwah itu adalah otaknya sendiri. Terkadang manusia lebih suka menyalahkan orang lain dari pada dirinya sendiri, dan ketika tidak ada lagi orang lain yang disalahkan maka ia akan menyalahkan sesuatu yang mempengaruhi pikirannya, seperti hantu atau jin. Padahal mereka tidak ikut campur sama sekali.
Mungkin itu salah satu alasan mengapa begitu banyak kasus tidak masuk akal yang terjadi. Makhluk yang selalu diusik tentu akan terganggu.
Daniel mengalihkan perhatiannya dan menghela nafas berat ketika melihat barang bawaan Hani yang begitu banyak. Mengapa ia membawa barang sebanyak itu jika pada akhirnya tidak akan pernah masuk ke kelas, dan mengapa harus menyuruhnya membawa barangnya ke depan? Apakah dia lupa bahwa kelas mereka sangat jauh dari halaman depan? Ia berdebat dengan pikirannya yang malas, hingga tidak menyadari kalau Ilyas sudah masuk ke kelas dengan tatapan tak kalah malas.
“Seenaknya saja mereka, menyuruhku tanpa melihat situasi perut yang lapar ini” ucap Ilyas begitu masuk ke kelas. Wajahnya tampak lelah, bajunya tidak rapi, dan ada sedikit emosi dalam dirinya.
“Kenapa?”
Ilyas tidak menjawab ia hanya mengambil tas Andre dan Hani untuk diberikan kepada Daniel dan mengambil tas Ida dan Jonatan untuk ia bawa sendiri. Hampir setiap sore mereka melakukan ini tanpa bayaran. Apakah ini salah satu bentuk memanfaatkan teman?
“Saatnya jadi kuli panggul” ucapnya sambil berjalan keluar dari kelas.
“Bukannya motor kalian masih di belakang?”
“Sudah dibawa ke depan semua, parkir anak-anak organisasi ada di depan semua biar gampang” jawab Ilyas sambil berjalan. Tolong ingat kelas mereka berada di gedung paling belakang dan ruang rapat organisasi terletak di dekat aula depan.
“Oh iya Dan, PMR kekurangan personil cowok mau gabung? Biar nilai organisasi di rapot tidak kosong” ucap Ilyas. Sesekali ia akan membenarkan ransel yang terasa tidak tepat itu sambil terus menggerutu.
Berbeda dengan ekstrakurikuler lain, organisasi cenderung tidak diminati oleh banyak laki-laki. Bukan hanya karena terlalu banyak aturan tapi juga banyak pengeluaran. Pengeluaran dana, pikiran bahkan tenaga. Setelah terlalu banyak tugas yang didapat dari pelajaran resmi, tentu bukan pilihan yang tepat untuk ikut serta dalam organisasi yang punya banyak tugas.
“Oke, tapi aku tidak mau terlibat rapat atau pengalangan dana apa pun” jawab Daniel.
“Oke, nanti kalau ada rapat cukup aku yang berangkat, tapi untuk rapat sore ini kamu perlu memperkenalkan diri jadi kamu masih harus ikut. Soal penggalangan dana, kamu kan bisa jadi donatur utama” ucap Ilyas sepakat.
Daniel tersenyum kecil, ia memang tidak pernah suka dengan ide menggunakan nama orang tua sebagai alat mencari teman. Namun lama kelamaan dia menjadi terbiasa, mungkin jika dia bukan putra ayahnya tidak ada satu pun orang yang mau menjadi temannya.
“Tenang Dan itu bercanda. Kita jadi teman bukan karena kamu kaya kok. Andre juga dulu punya pemikiran yang sama dengan kamu, kita sengaja aja biar suasana cair, ya syukur-syukur uang makan cair juga” ucap Ilyas tanpa membalik badannya.
“Hanya tidak terbiasa”jawab Daniel.
Dulu ia juga punya banyak teman, dulu sebelum mereka tahu ia punya kemampuan untuk melihat arwah, dan sebelum mereka tahu bahwa dia hanya anak angkat. Dia dijauhi seperti wabah, dan itu membuatnya trauma. Teman-temannya yang ia kira tulus ternyata hanya sekumpulan manusia yang hobi memanfaatkan orang.
“Yas ini jam 4 dan masih ada rapat?” tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.
“Sebentar, bagi tugas terus sudah. Acara dimulai besok siang tidak mungkin kita bagi tugas besok pagi. Ingat kita ada ulangan” jawab Ilyas.
Tidak ada salahnya mengisi kekosongan nilai, lagipula ia tidak mau ditinggal sendirian seperti sore ini. Jadi dengan segera ia menyanggupinya. Terkadang sendiri memang menyenangkan, tetapi sendirian diantara keramaian rasanya seperti orang bodoh yang terbuang. Ia tidak suka perasaan terbuang itu.
Mereka sampai di tempat Andre dan yang lainnya menunggu tepat ketika gerimis mulai turun, semilir angin dingin meniup daun-daun kering menerbangkannya ke berbagai arah. Diam-diam Daniel menghela nafas, jam pulang mereka cukup sore dan harus bergelut dengan gerimis dan suasana gelap sungguh pemandangan yang indah. Membuat keinginan untuk pulang terdengar lebih menggiurkan dari yang ia bayangkan.
“Mana Hani?” tanya Daniel.
“Di toilet” jawab Andre.
Daniel memperhatikan sekitar taman dan hanya menemukan satu bangunan yang berjarak tidak lebih dari 5 meter dari tempatnya duduk, letaknya di antara lapangan kecil dan lahan parkir khusus tamu yang saat ini hanya di isi beberapa motor. Bangunan itu tidak besar hanya tampak cukup untuk 4 bilik toilet, di samping bangunan itu terdapat sebuah pohon angsana besar yang rantingnya menjulang seperti kanopi memenuhi hampir seluruh lapangan.
Tidak ada aura gelap, atau pun entitas yang tinggal di sana. Satu-satunya hal yang membuat tempat itu terlihat mengerikan adalah tempatnya yang cenderung tidak disinari cahaya, dahan-dahan pohon itu menghalangi cahaya matahari masuk.
“Bukannya itu tempat yang digosipkan kemarin? Aku belum pernah masuk kesana” ujar Daniel.
“Itu memang jarang digunakan oleh siswa, biasanya hanya tamu dan beberapa staf yang menggunakannya. Tidak tahu apa yang merasuki anak-anak itu hingga mau menggunakan toilet itu” jawab Andre. Dia duduk dengan mata terpejam dan sesekali ia akan mengecek hpnya memastikan ada tidaknya berita dalam grup.
“Dan kau membiarkan Hani masuk ke sana?” heran Ilyas.
“Aku baru dari sana dan tidak terjadi apa-apa, kenapa harus panik?” jawab Andre santai.
“Aku juga dari sana kok, dan tidak ada apa pun yang aneh. Mungkin saat itu siswa itu sedang sial saja” sahut Ida.
“Ya memang tidak ada apa-apa sih, hanya bertanya saja” jawab Daniel. Tanpa disadari teman-temannya memberikan senyum kecil padanya.
Keheningan terjadi selama beberapa saat diisi dengan suara semilir angin dingin yang disertai gerimis. Ini masih pukul 16.02, tapi suasana sekolah sudah terasa seperti menjelang malam. Tidak banyak siswa yang tersisa kelas-kelas pun sudah dikunci, hanya ada beberapa anak kelas 10 yang masih menyelesaikan tugas pionering mereka.
“Ndre DA masih ada rapat?” tanya Jonatan.
“Ada koordinasi terakhir, sebentar ya ditahan dulu pacarannya” jawab Andre kalem. Ia tersenyum menang begitu melihat Jonatan menghela nafas. Sebenarnya rapat sudah dimulai sejak 5 menit yang lalu tapi Hani belum juga keluar dari toilet. Jika ditinggal pasti marah-marah.
“Bukan pacaran ndre, pulang. Tidak lihat itu mendung sudah mau jatuh kita naik motor” jawab Jonatan agak kesal.
“Ya sudah aku ke ruang rapat dulu sebelum anak-anak berotak cair itu membeku. Ayo Dan!” ucap Ilyas.
“Daniel ikut PMR nih? Padahal terlihat malas bersosialisasi ternyata bisa peduli juga” ucap Ida mengoda.
“Tidak peduli sebenarnya, hanya tidak ingin ditinggal di kelas sendiri” jawab Daniel. Ia melangkah pelan mengikuti Ilyas yang masih menggerutu tentang apa pun.
Satu demi satu siswa akhirnya pulang meninggalkan mereka, menyisakan halaman kosong yang lengang. Gerbang utama telah ditutup sepenuhnya menyisakan gerbang samping yang masih terbuka setengah. Mendung semakin tebal dan suasana semakin gelap, lampu-lampu telah dinyalakan dan satpam pun mulai berganti shift.
“Masih ada siswa yang rapat ya, bapak tinggal dulu ya nanti sekitar jam 5 penjaga malam sampai” ucap seorang satpam yang menaiki sepeda kepada mereka.
“Iya pak, 30 menit lagi selesai rapat” jawab Andre.
“Hati-hati kalau ada setan lari saja” ucap si satpam sambil berlalu pergi.
Andre dan Jonatan melempar pandang sebelum tersenyum geli. Sejak Senin kemarin rumor kecil tentang penampakan korban pembunuhan itu beredar. Beberapa siswa bahkan bilang mendengar suara tangisan di beberapa sudut sekolah dan mengira bahwa itu adalah arwah korban. Mereka tidak tahu saja kalau arwah itu sudah tenang setelah mereka dengan susah payah mengungkapkan kasusnya. Mungkin ada arwah baru lain yang tersesat di sekolah mereka dan menangis karena melihat begitu banyak tugas yang harus mereka kerjakan.
Waktu pun berlalu hampir 10 menit dan Hani belum juga kembali, Ida yang penasaran mengapa Hani tidak kunjung keluar akhirnya pergi untuk melihatnya. Siapa tahu dia tertidur di toilet karena kelelahan. Siapa yang menduga menjadi dewan sekolah bukan lah hal yang menyenangkan. Penuh dengan tugas dan begitu banyak tanggung jawab. Dia masuk tanpa ragu dan mengerutkan dahi heran begitu melihat ruangan yang gelap, tidak ada satu pun lampu yang menyala, udara terasa dingin dan cahaya matahari tertutup mendung. Ia tidak sempat memperhatikan situasi di sekitarnya begitu melihat semua pintu toilet terbuka dan Hani terduduk di tengah ruangan dengan badan yang bergetar dan kedua tangannya menutupi matanya.
“Hani kenapa, pusing?” tanya Ida pelan.
Hani menggeleng pelan, dengan tangan yang bergetar dia menunjuk cermin besar yang saat ini ada di balik punggung Ida. Dengan ragu Ida berbalik dan hanya untuk menemukan penampakan seorang siswi berseragam OSIS yang berlumur darah. Wajahnya tidak jelas karena tertutup rambut namun kedua matanya menatap dengan nyalang, menyiratkan dendam.
Ida ingin berteriak namun kata-katanya tercekat di tenggorokan. Dia berkata dengan susah payah,
“Hani bangun sebelum setan itu membunuh mu” ucap Ida gemetar.
Hani dengan ragu mengambil uluran tangan Hani dan berlari dari ruangan sambil berteriak,
“Kyaaa”
Lingkungan sekolah sudah sepi dan satpam pengganti pun belum datang, jadi tidak ada orang lain yang mendengar teriakan mereka.