NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Kamar Ayra yang biasanya menjadi tempat paling tenang untuk belajar, kini terasa seperti medan perang pikiran. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun buku ekonomi di hadapannya tidak tersentuh sama sekali. Ayra terus mondar-mandir dari ujung tempat tidur ke arah jendela balkon, lalu kembali lagi ke meja belajarnya.

Jari jemarinya tak bisa diam, ia terus menggigiti kuku jarinya—sebuah kebiasaan buruk yang hanya muncul saat ia benar-benar merasa sangat cemas atau merasa bersalah.

"Duh, Ayra... kamu kenapa sih bego banget?" umpatnya pada diri sendiri. "Harusnya tadi nggak usah masuk ke mobil Kak Rendy kalau akhirnya bakal kayak gitu. Sekarang Lano pasti marah besar."

Pikiran Ayra terus terbayang pada tatapan mata Alano di pinggir jalan tadi. Mata yang biasanya penuh kilatan jahil dan tawa, tadi terlihat sangat redup dan terluka. Alano tidak marah dengan cara berteriak, tapi diamnya Alano saat mengantarnya sampai depan pintu tadi jauh lebih menakutkan bagi Ayra.

"Ayra?"

Pintu kamar terbuka sedikit. Mama Aura berdiri di sana dengan dahi berkerut, memperhatikan anak perempuannya yang tampak seperti setrikaan hidup. "Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi Mama denger suara langkah kaki mondar-mandir terus. Ada masalah di OSIS?"

Ayra tersentak, ia langsung menghentikan langkahnya dan mencoba bersikap senormal mungkin. "Eh, Mama... Ak... aku nggak apa-apa kok, Ma. Ini cuma... lagi ngafalin materi ekonomi yang susah banget."

Mama Aura mendekat, menatap mata anaknya dengan penuh selidik. "Ngafalin materi kok mukanya kayak orang habis kehilangan dompet? Atau... lagi berantem sama Alano?"

Mendengar nama Alano, jantung Ayra mencelos. "Enggak kok, Ma. Alano kan emang kerjaannya berantem sama Ayra. Udah biasa."

"Ya sudah kalau gitu. Jangan malam-malam tidurnya, kamu baru aja sembuh," pesan Mama Aura sambil mengelus rambut Ayra sebelum keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Ayra langsung menyambar ponselnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp dan mencari nama Alano di daftar paling atas. Ia melihat status Alano: Online.

Ayra mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi.

“Lano, kamu marah?” — Hapus. Terlalu kelihatan peduli.

“Lano, makasih ya tadi udah anter pulang.” — Hapus. Terasa terlalu formal.

Ayra menarik napas dalam-dalam. Ia teringat bagaimana Alano selalu menjadi orang pertama yang meminta maaf kalau mereka berantem, meskipun seringkali Ayra yang salah. Kali ini, ia ingin mencoba menurunkan gengsinya.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetik dua kata yang sangat sulit ia ucapkan secara langsung.

Ayrania: "Maaf ya, Lan."

Ia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Satu detik, dua detik... tanda centang dua berubah menjadi biru. Jantung Ayra berdegup dua kali lebih kencang. Alano sedang membaca pesannya.

Lima menit berlalu, tidak ada balasan. Sepuluh menit, masih hening. Ayra mulai panik. "Mampus, dia beneran marah."

Saat Ayra sudah pasrah dan hendak melempar ponselnya ke kasur, sebuah notifikasi muncul.

Alano: "Maaf buat apa? Maaf karena lebih milih mobil ber-AC daripada motor gue yang panas? Atau maaf karena udah bikin gue kayak orang gila di pinggir jalan?"

Ayra menggigit bibir. Balasan Alano terdengar sangat sarkastik, tapi setidaknya dia membalas.

Ayrania: "Semuanya. Aku tadi cuma nggak mau ngerepotin kamu karena kamu baru selesai latihan basket. Aku nggak bermaksud jahat."

Alano: "Lo nggak pernah ngerepotin gue, Ay. Yang bikin gue marah itu bukan capeknya, tapi kenapa lo harus bohong? Kenapa lo harus pesen taksi diem-diem cuma buat hindarin gue?"

Ayra terdiam. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap ke arah jendela balkon. Ia memberanikan diri untuk jujur.

Ayrania: "Karena aku takut, Lan. Aku takut kalau deket kamu terus, aku bakal makin bingung sama perasaan aku. Aku belum siap buat berubah dari 'sepupu' jadi sesuatu yang lain."

Cukup lama Alano tidak membalas. Ayra merasa dadanya sesak menunggu jawaban. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari arah balkon kamarnya. Ayra terlonjak. Ia segera bangkit dan membuka pintu kaca balkonnya.

Di sana, di balkon rumah sebelah yang hanya berjarak dua meter, Alano berdiri bersandar pada pagar. Ia masih memakai kaus oblong putih dan celana pendek, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak sangat lelah.

"Ngapain di luar? Udah malem, ntar demam lagi," suara Alano terdengar nyata, bukan lagi melalui layar ponsel.

Ayra mendekat ke pagar balkonnya. "Kamu sendiri ngapain di luar?"

"Nungguin permintaan maaf lo yang tulus, bukan cuma lewat chat," sahut Alano, meskipun kini ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya.

Ayra menunduk, memilin ujung bajunya. "Aku beneran minta maaf, Lan. Aku... aku tadi emang sengaja hindarin kamu. Aku bingung harus gimana."

Alano menatap Ayra cukup lama, lalu ia mengulurkan tangannya di udara, seolah ingin menyentuh wajah Ayra namun terhalang jarak. "Ay, gue nggak akan maksa lo buat siap sekarang. Gue udah nunggu sepuluh tahun, nunggu beberapa bulan atau tahun lagi pun gue sanggup."

Alano menarik napas dalam. "Tapi tolong, jangan lari ke cowok lain cuma buat buktiin kalau lo nggak suka sama gue. Itu cara yang paling nyakitin buat gue."

Ayra mendongak, matanya berkaca-kaca terkena pantulan cahaya bulan. "Iya, aku janji. Nggak akan kayak gitu lagi."

"Janji ya?" Alano memastikan.

"Iya, janji."

Alano tertawa kecil, suara tawanya yang khas membuat perasaan Ayra mendadak ringan kembali. "Yaudah, sekarang tidur. Besok gue jemput jam tujuh kurang sepuluh. Jangan ada acara pesen taksi atau bareng Ketua OSIS lagi. Ngerti?"

Ayra tersenyum—senyum tulus yang jarang ia perlihatkan pada Alano. "Iya, Kapten. Ngerti."

"Dah, Ayang. Mimpiin gue ya," goda Alano sambil mengedipkan matanya sebelum masuk kembali ke dalam kamarnya.

Ayra masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak kunjung hilang. Ternyata, meminta maaf dan mengakui sedikit kejujuran tidak seburuk yang ia bayangkan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Ayra tidur tanpa memikirkan proposal OSIS. Ia tertidur dengan satu nama yang mulai menetap di hatinya tanpa permisi: Alano.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!