Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Surprise untuk Hans
" Maaf Om , Aku gemas banget lihat nya " kata Ayra yang tidak sadar telah menggigit Hans .
" Mmmm, tidak apa-apa" ucap Hans hanya tersenyum.
" Astaga Om ada bekas nya " ucap Ayra yang melihat gigitan nya ternyata membekas di dada Hans
"Udah biarin aja, nanti juga hilang sendiri " ucap Hans .
" Pergilah tidur , ini sudah malam " ucap Hans lagi .
" Iya baiklah, selamat malam Om " ucap Ayra akan segera pergi tapi sebelah tangan nya di pegang Hans .
" Kenapa Om?" tanya Ayra kembali duduk di sebelah Hans .
" Mau kecup pipi Om dulu ?" pinta Hans .
" Mau " kata Ayra mengangguk polos dan mengecup pipi kanan Hans .
" Sebelah lagi?" Hans menyodorkan pipi kirinya yang dikecup Ayra dengan cepat .
" Aku sayang banget sama Om, aku mau Om bahagia " kata Ayra memeluk Hans dengan erat .
" Sekarang aku udah berdamai dengan keadaan Om boleh nikah sekarang " kata Ayra yang berada dalam pelukan Hans .
" Maksud kamu?" pertanyaan Hans mengelus punggung Ayra .
" Iya, mulai sekarang Om kalau punya pacar nggak perlu cari yang bisa terima aku cukup cari yang mencintai dan bisa terima Om" ucap Ayra dengan tulus.
" Ooooh, jadi kamu udah ikhlas Om keluar dari rumah ini dan pergi sama istri Om?" pertanyaan Hans.
" Gimana ya Om, mungkin sepenuhnya ikhlas enggak tapi kita udah sama-sama dewasa setelah aku pikir-pikir nggak ada gunanya aku egois, lagian kebahagiaan Om lebih penting " ucap Ayra memegang kedua tangan Hans .
" Om udah berkorban banyak untuk aku selama ini mulai dari merawat , mengayomi dan juga menjaga semua aset warisan aku . Sekarang aku nggak ingin Om jadi mengorbankan juga kebahagiaan Om demi aku " ucap Ayra .
" Om juga berhak bahagia dan terimakasih untuk semua kasih sayang Om dari aku kecil sampai dewasa " ucap Ayra mengecup kedua tangan Hans yang dipegang nya .
" Enggak Ay, kamu nggak bisa lepasin Om begitu aja , pokoknya sampai kapanpun kita akan tetap bersama" tegas Hans .
" Tapi Om,"
" Udah Om mau tidur , keluarlah " ucap Hans naik keatas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Om, dengerin aku dulu " kata Ayra ikut naik keatas ranjang mencoba melepaskan selimut yang menutupi wajah Hans .
" Ommmm" rengek Ayra bersandar pada Hans yang tidak mau keluar dari selimut itu .
" Ini sudah malam , tidur sana" ucap Hans dari balik selimut merasakan Ayra yang malah bersandar manja di punggung nya .
" Mmmmh, nggak bakal pergi sebelum Om bicara " rengek Ayra malah berbaring menjadikan punggung Hans sandaran nya.
" Kamu ingin Om bicara apa lagi, tidur sana " kata Hans benar-benar tidak mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut.
" Ya keluarin dulu kepala Om , ayo " rengek Ayra .
" Om mau tidur " kata Hans
" Yaudah , aku disini aja kalau gitu " ucap Ayra benar-benar nggak mau keluar dari kamar Hans .
" Baiklah jika kamu memang ingin tidur sini " kata Hans mengeluarkan tangan nya dari balik selimut dan mematikan lampu utama kamar nya .
" Hwaaaa, Om kok matiin lampunya" rengek Ayra yang takut ikut masuk kedalam selimut Hans .
" Dari tadi Om suruh keluar nggak mau?" ucap Hans tersenyum melirik Ayra yang kini bersembunyi dibalik punggung nya .
.....
2 Minggu kemudian.
" Kenapa Hans?" tanya Dave melihat sahabat nya yang lesu sekali setelah keluar dari ruang meeting.
" Tidak , aku hanya memikirkan beberapa hal" ucap Hans menarik nafas berat berkali-kali.
" Masalah apa?" tanya Dave yang baru kemarin pulang dari luar negeri sehingga dia tidak tau apa yang terjadi belakangan ini .
" Aku akan menceritakan nya ketika kita sampai diruangan nanti " kata Hans terus berjalan cepat .
" Apa yang terjadi?" pertanyaan Dave begitu sampai diruangan Hans dan duduk berhadapan.
" Alga Dirgantara udah tau semuanya" ucap Hans yang membuat Dave terkejut .
" Bahkan dia mengatakan semuanya pada Ayra " ucap Hans sampai Dave menutup mulut mendengar nya .
" Lalu bagaimana reaksinya, hubungan kalian bermasalah sekarang?" kesimpulan Dave .
" Ayra mempercayai ku bahkan dia tidak menyalahkan aku walaupun Alga mengatakan semua kebenaran " ucap Hans .
" Benarkah?" Dave langsung mengangkat sebelah alisnya.
" Iya , bahkan dia menampar pria itu karena berkata buruk tentangku " ucap Hans tersenyum dan juga bahagia karena Ayra membelanya .
" Kalau begitu apa lagi yang kau takutkan, Ayra milikmu " ucap Dave .
" Keluarga Dirgantara tidak akan menyerah semudah itu " ucap Hans menarik nafas panjang.
" Jika itu permasalahan nya maka sekarang yang harus kau kendalikan adalah Ayra " ucap Dave memberi saran .
" Masalahnya Ayra menyuruh aku menikah " ucap Hans dengan tatapan sendu , sakit sekali rasanya disuruh mencari wanita lain oleh wanita yang akan dia jadikan tujuan .
" Kau sudah melakukan trik-trik yang aku suruh?" tanya Dave yang diangguki Hans .
" Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Dave yang membuat Hans langsung tersenyum lebar mengingat Ayra yang kini mengecup pipi nya setiap pagi dan mereka semakin dekat saja .
" Tapi Alga akan terus berusaha mempengaruhi Ayra , aku takut dia mengambil Ayra dariku " ucap Hans dengan sendu .
" Dengar Hans , sedari awal sudah aku katakan padamu jika kau merebut apa yang seharusnya menjadi milik orang lain maka kau juga harus siap dengan segala resikonya " tegas Dave .
" Tapi jika kau sadar itu salah maka mengalah lah " nasehat Dave sebagai seorang sahabat karena bagaimanapun Ayra memang sudah dijodohkan oleh Papa nya sejak kecil .
" Tidak , kali ini aku tidak akan mengalah lagi atas Ayra , aku sudah kalah atas segala hal dalam hidupku dan aku tidak akan mengalah kali ini " tegas Hans dengan begitu keras .
" Ayra milikku , selamanya akan begitu dan dia akan tetap menjadi istriku bagaimana pun nantinya " ucap Hans yang membuat Dave melotot .
" Hans sadarlah jangan biarkan Obsesi dalam diri membuat kau menyakiti Ayra " tegas Dave yang merasa Hans mulai salah jalan hingga menghalalkan segala cara.
" Aku harus bagaimana lagi Dave , aku tidak bisa hidup tanpa Ayra , jika dia tidak menjadi milikku maka aku akan mati dan kehilangan harapan dalam hidupku" ucap Hans .
" Aku hanya punya Ayra, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil nya dariku " pernyataan Hans .
" Hans bisa gila jika Ayra benar-benar pergi darinya " batin Dave melihat Hans yang terlihat begitu hancur hingga dia harus memikirkan sebuah cara .
Tok
Tok
" Siapa itu" Hans menghapus air matanya yang menetes .
" Masuk " jawab Hans dari dalam .
" Ayra, Sayang , kenapa wajahnya sedih gitu ?" ucap Hans langsung berdiri menghampiri Ayra yang berdiri dengan mata sembab .
" Mmmmh, Om perut aku sakit " keluh Ayra mengadu dan mengeluh pada Hans .
" Sakit kenapa?" tanya Hans khawatir memeluk Ayra yang terlihat sangat bad mood .
" Mmmmh, sakit " rengek Ayra membalas pelukan Hans dan menangis sejadi-jadinya.
" Ada apa, sini bilang sama Om?" Hans mengangkat Ayra dan membawanya duduk ke sofa .
" Akhhhh, Om perut aku sakit banget " tangis histeris Ayra sampai Hans panik dibuatnya dan berlari keluar mencari dokter .
" Kenapa bocil?" tanya Dave menatap Ayra yang tadi mengeluh sakit perut langsung duduk begitu Hans pergi .
" Diam Om , aku ada suprise" senyum nakal Ayra