Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan yang Tidak Terucap
Aruna membaca pesan dari ayahnya berulang kali. Kalimatnya singkat, tidak memaksa, bahkan nyaris terdengar biasa. Namun justru di sanalah bebannya karena ayahnya tidak pernah berbicara tanpa makna. “Ayah ingin bicara. Pulanglah besok malam.”
Aruna menutup ponselnya perlahan. Ia duduk lama di sofa apartemennya, menatap dinding kosong di hadapannya. Hujan di luar turun pelan, membasahi jendela, menciptakan garis-garis air yang bergerak turun seperti waktu yang tidak bisa dihentikan.
Ia tahu, pembicaraan itu akan datang juga. Hanya saja, ia tidak menyangka akan secepat ini.
Malam berikutnya, Aruna duduk berhadapan dengan Surya di ruang tamu rumah orang tuanya. Suasana hening, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Wening memilih berada di dapur, memberi ruang bagi ayah dan anak itu.
Surya menatap Aruna dengan pandangan lembut namun penuh pertimbangan. “Aruna,” katanya pelan, “Ayah tidak memanggilmu untuk memaksa.”
Aruna mengangkat wajahnya. “Aruna tahu, Yah.”
“Ayah hanya ingin kamu tahu,” lanjut Surya. “Ardian mengingatkan Ayah tentang janji lama kami. Tentang perjodohan itu.”
Hening kembali turun. Aruna menarik napas panjang. Jari-jarinya saling menggenggam di pangkuan. “Dan Ayah setuju?”
Surya terdiam sejenak. “Ayah masih ragu.”
Jawaban itu justru membuat dada Aruna sesak. “Karena Aruna?”
Surya mengangguk. “Karena Ayah tahu, kamu pernah sangat terluka.”
Aruna menunduk, menatap lantai. “Aruna masih mencintai Revan, yah.”
Pengakuan itu keluar begitu saja. Surya tidak terkejut. “Lalu kenapa wajah kamu terlihat setakut itu?”
Aruna tersenyum kecil, getir. “Karena Aruna tahu bagaimana rasanya mencintai Revan dan tidak dipilih.”
Surya memejamkan mata sejenak. Sebagai seorang ayah, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mengetahui anaknya mencintai seseorang yang pernah meremukkan hatinya.
“Aruna tidak takut menikah,” lanjut Aruna lirih. “Aruna takut berharap.”
Surya menghela napas panjang. “Kalau begitu, jawab dengan jujur. Jika Ayah menolak perjodohan ini, apa kamu akan lega?”
Aruna terdiam lama. Dan keheningan itulah jawabannya.
“Ayah mengerti,” ucap Surya akhirnya. “Kadang, keputusan paling berat bukan tentang menolak atau menerima tapi tentang kesiapan untuk menjalani.”
Di sisi lain kota, Ardian Maheswara duduk di ruang kerjanya bersama Revan. Tanpa basa-basi dan tanpa pilihan yang ditawarkan.
“Pernikahan kamu dengan Aruna akan tetap dilaksanakan,” kata Ardian tegas. “Dalam waktu dekat.”
Revan mendongak. “Papa serius?”
“Sangat.” Jawab Ardian.
Revan tertawa pendek, tanpa humor. “Dan perasaan aku?”
“Bukan pertimbangan,” jawab Ardian dingin. “Kamu sudah cukup dewasa untuk memahami nama baik keluarga.”
Revan berdiri, rahangnya mengeras. “Papa tahu aku mencintai Viona.”
“Papa tahu,” potong Ardian. “Dan justru karena itu, kamu harus belajar melepaskan.”
Nama Aruna melintas di benak Revan. Wajahnya yang tenang. Tatapannya yang tidak menuntut. Jarak yang ia jaga dengan begitu rapi.
Untuk pertama kalinya, Revan tidak tahu apakah pernikahan ini hanya akan menyakiti Aruna atau menyakiti dirinya sendiri.
“Siapkan dirimu,” ujar Ardian. “Karena keputusan ini tidak akan ditarik kembali.”
Nama Aruna masih berputar-putar di kepala Revan saat Ardian menyelesaikan kalimatnya. Ruangan itu terasa semakin sempit, seolah udara ikut menekan dadanya.
“Pa,” Revan membuka suara lagi, kali ini lebih pelan. “Kalau pernikahan ini memang harus terjadi, aku perlu bicara dengan Aruna.”
Ardian menatap anaknya tajam. “Untuk apa?”
“Papa tidak perlu tahu alasannya.” Revan menghela napas, mencoba meredam emosinya. “Tapi aku tidak bisa menerima pernikahan ini tanpa mendengar langsung dari Aruna.”
Hening sesaat. Ardian bersandar di kursinya, menautkan jari-jari tangannya. Tatapannya tidak lagi setajam sebelumnya, tapi tetap dingin. “Ok, kamu boleh bicara dengan Aruna.”
Revan menarik napas pelan, “terima kasih, pa.”
“Papa akan memintanya ke Om Surya,” ujar Ardian. “Tapi dengarkan papa,” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit. “Jangan pernah bujuk dia untuk membatalkan perjodohan ini, kalau sampai itu terjadi. Maka papa akan cabut hak waris kamu.”
Revan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah
“Anggap ini kesempatanmu untuk bersikap dewasa,” lanjut Ardian. “Bukan sebagai laki-laki yang mengejar perasaan, tapi sebagai calon suami.”
Beberapa menit kemudian, Ardian mengambil ponselnya dan menghubungi Surya.
Percakapan singkat. Nada formal, tidak ada basa-basi.
Saat sambungan terputus, Ardian menyerahkan ponselnya pada Revan. “Ini nomornya Aruna.”
Revan menatap deretan angka itu seolah menatap sesuatu yang berbahaya. Jarinya ragu sesaat sebelum akhirnya menyimpan nomor tersebut di kontak ponselnya. Ada perasaan asing menyusup, bukan kegembiraan, bukan pula penyesalan. Lebih seperti kesadaran bahwa satu pesan darinya bisa mengubah banyak hal.
Malam itu, Aruna berdiri di balkon rumah orang tuanya. Udara dingin menyentuh kulitnya. Lampu-lampu jalan tampak buram dari kejauhan. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan pikiran yang sejak sore tidak mau diam.
Ponselnya bergetar di tangan. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. “Kita perlu bicara.”
Aruna menatap layar itu lama. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah mengenali sesuatu sebelum pikirannya sempat mencerna.
Ia tahu hanya satu orang yang mungkin mengirim pesan seperti itu. Dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun, nama Revan kembali mengetuk pintu hidupnya tanpa permisi.
Aruna menatap layar ponselnya tanpa buru-buru membalas. Jari-jarinya menggenggam ponsel terlalu erat, seolah benda kecil itu bisa melukai jika disentuh sembarangan. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak lagi setenang beberapa detik lalu.
Ia sudah menduga. Namun dugaan itu tetap menyakitkan ketika menjadi nyata. Akhirnya, ia mengetik balasan singkat. “Siapa ini?”
Balasan datang dengan cepat, seolah pengirimnya tidak pernah meletakkan ponsel sejak pesan pertama terkirim. “Revan.”
Ia menutup mata sesaat, menarik napas panjang, lalu membuka kembali layar itu. Selama enam tahun menjauh, membangun jarak dan kini, nama itu kembali.
“Kak Revan dapat nomor ini dari mana?”
Beberapa detik berlalu. Titik-titik pengetikan muncul, lalu menghilang, muncul lagi. Aruna bisa membayangkan keraguan di baliknya.
“Papaku.” Revan membalas singkat.
Aruna tersenyum tipis dan pahit, tentu saja dia mendapatkan dari papanya dan papanya Revan mendapatkan nomor ponselnya dari ayahnya.
“Ada apa?” Aruna kembali membalas.
Kali ini balasan Revan lebih lama. Aruna hampir menurunkan ponselnya ketika pesan itu akhirnya masuk.
“Aku perlu bicara langsung.”
Aruna memejamkan mata, perlu bicara. Dua kata yang dulu pernah ia tunggu, tapi kini justru membuat dadanya bergetar tidak nyaman.
“Kalau ini soal makan malam kemarin, menurutku tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Balasan Revan datang cepat. “Kamu salah, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan.”
Aruna mengetik balasan, “maksudn kakak?” tanyanya.
“Aku ingin bicara tentang perjodohan kita.” Jawab Revan.
Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. Aruna menatap kata-kata itu lama, terlalu lama, sementara hujan semakin deras di luar balkon.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan masa lalunya, Aruna sadar jarak yang selama ini ia bangun mulai runtuh.