Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Proloque
Kata orang tuaku, aku dilahirkan dalam keadaan yang berbeda dari anak-anak lain, dalam hal berat badan. Sejak kecil aku memang sudah obesitas. Bocah kecil yang bisa menghabiskan mi ayam dua mangkok penuh itu adalah aku.
Namaku Boni, panggil saja begitu, meski di dunia nyata orang-orang enggak pernah memanggilku dengan panggilan itu. Namun nama itu bukan benar-benar seratus persen muncul begitu saja untuk menutupi identitasku. Nama itu memang bagian dari namaku yang jarang diketahui orang-orang.
Kedua orang tuaku bertemu saat mereka sama-sama bekerja di salah satu pabrik sepatu terbesar di Indonesia. Kata mereka, ayahku adalah karyawan senior dengan gaji lima kali lipat lebih besar dari buruh biasa. Sementara ibuku, gadis muda yang baru saja lulus SMA, berencana kuliah di UGM, tapi enggak pernah diterima, lalu memutuskan bekerja di pabrik yang sama dengan ayahku.
Ayahku, anak dari keluarga veteran empat lima, berasal dari keluarga Islam yang masih sangat kental adat Jawanya. Daripada disebut sebagai Islam, mungkin lebih cocok disebut sebagai Kejawen. Saat SMA, ayahku memutuskan pindah agama menjadi seorang Katolik. Alasannya? Sampai sekarang dia enggak pernah bercerita kepadaku.
Sementara ibuku berasal dari keluarga tuan tanah. Nenek dari ibuku punya tanah yang benar-benar luas, bahkan luasnya bisa dijadikan satu pemukiman sekelas RT, mungkin. Keluarga ibu adalah keluarga Islam yang sangat taat. Tapi, ibuku agak lain. Sejak remaja, ibuku enggak pernah cocok dengan agama yang dianut keluarganya. Daripada membaca Quran, ibuku lebih suka membaca Alkitab.
Ketika ayah dan ibu bertemu, lalu memutuskan menikah, ibuku memilih pindah agama. Mereka menikah beda agama di gereja Katolik. Dulu sih undang-undang di Indonesia belum terlalu ribet soal nikah beda agama, enggak kayak sekarang. Jadi ibuku dibaptis Katolik setelah dia menikah dengan ayah. Lalu lahirlah aku, anak pertama mereka, di bulan Desember tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga.
Setelah menikah, ayahku bekerja sebagai kernet angkutan umum. Di zaman itu, pekerjaan itu masih cukup berarti untuk menghidupi seorang istri dan anak, setidaknya sampai tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan. Setelah tahun itu, semuanya berubah.
Keluargaku sebelum tahun itu tergolong keluarga menengah. Ayahku tipikal orang pekerja keras. Tapi, kerja keras saja rupanya enggak cukup. Realita selalu berkata lain. Tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan, krisis moneter terjadi, harga barang pokok menjulang tinggi. Sayangnya, orang tuaku bukan tipikal orang yang bisa beradaptasi menghadapi kondisi carut-marut ekonomi. Mereka juga bukan orang yang pandai mengatur finansial.
Jadi, saat usia lima tahunan, aku sudah merasakan arti kemiskinan. Hidup tanpa aset sama sekali. Ayah bekerja keras cuma cukup untuk makan satu hari. Ketika anak-anak lain bisa merengek minta mainan kepada orang tua mereka, aku enggak bisa. Bukan karena aku enggak ingin seperti anak-anak lain, tapi karena aku sudah punya kesadaran kalau keluargaku itu miskin.
Aku enggak ingat dengan jelas masa kecilku. Tapi, yang aku ingat, dulu orang tuaku mengontrak rumah di pinggiran sungai. Jadi aku suka sekali main di pinggir sungai. Karena itu juga, kakak kandung ayah menyuruh orang tuaku pindah kontrakan. Alasannya karena mereka takut aku hanyut ke sungai ketika aku main di sana.
Oh iya, karena lingkungan kecilku itu jarang sekali ada anak kecil seusia aku, itu membuatku takut bertemu orang asing, atau orang yang jarang kujumpai. Jadi, aku memang introver sejak kecil.
Aku ingat, kalau keluarga dari ayah atau ibu sedang main ke rumah, aku selalu lari masuk ke kamar karena ketakutan. Enggak mengerti apa yang kupikirkan waktu kecil dulu. Yang jelas, kata orang-orang, aku memang anaknya penakut dari kecil.
Singkat cerita, orang tuaku pindah kontrakan. Kontrakan baru ini dekat dengan tempat tinggal kakek-nenek dari ayah. Masih satu kampung, tapi agak jauh. Nah, di lingkungan tempat tinggalku yang baru ini, banyak anak sebaya aku. Tapi, tetap saja, aku masih sulit bergaul dengan mereka. Perlu usaha cukup keras untuk membuatku mau main keluar bersama anak-anak kampung.
Tapi, selalu ada saja orang yang mengajakku keluar untuk main. Aku ingat dulu aku punya teman kecil. Aku lupa namanya, sebut saja namanya Key. Dia bukan orang asli kampung sini, pendatang dari timur. Entah apa yang kita pikirkan, kita sedang main korek api di pinggir kebun pisang. Kebetulan banyak daun kering yang sengaja ditata di pinggir kebun. Terus, kekonyolanku dan Key, kita ngide untuk membakar daun-daun kering itu. Alhasil, satu kebun kebakaran besar. Kita lari. Enggak ada yang tahu kalau penyebab kebakaran itu adalah aku dan Key.
Ada lagi satu kekonyolan yang meninggalkan bekas sampai sekarang. Waktu itu aku main dengan anak-anak kampung. Entah apa yang kita pikirkan. Aku sama anak-anak kampung main korek api lagi. Kali ini bukan kebun yang kubakar, tapi kita bakar-bakar sedotan plastik, dengan fantasi kalau sedotan itu petasan tetes. Dan tetesan dari sedotan yang terbakar itu menetes ke pergelangan tangan kiriku. Meninggalkan luka bakar yang cukup serius, dan sampai sekarang masih ada bekasnya.
Tapi, daripada main dengan anak-anak kampung, jujur saja, dari dulu aku lebih suka main sendiri di rumah. Aku punya banyak sekali mainan di rumah: robot-robotan dan mobil-mobilan. Kayaknya dari dulu memang imajinasiku lebih dari anak-anak lain.
Tapi sebenarnya ada pemicunya kenapa aku jadi lebih suka main di rumah ketimbang main keluar dengan anak-anak kampung. Aku lupa waktu itu umur berapa. Aku sedang asyik-asyiknya main di sungai dekat rumah. Jadi, kujelaskan sedikit. Rumah kontrakan lamaku itu benar-benar di pinggir sungai. Nah, rumah kontrakan baruku agak jauh dari sungai, tapi kampungku tetap dekat sungai, jadi tetap ada sungai dekat rumah.
Waktu itu aku main ke sungai sampai sore. Ibu marah. Terus aku diseret dari pinggir sungai ke rumah, jaraknya kira-kira lima ratus meter. Diseret yang benar-benar seperti menyeret barang. Badanku lecet-lecet semua. Aku cuma bisa menangis. Sejak saat itu, aku benar-benar malas keluar main dengan anak-anak kampung. Selain karena aku memang introver, alasan lainnya karena aku takut ibu marah.
Dan aku ini orangnya pelupa. Sejak kecil aku sudah pelupa. Jadi ibu hobi sekali menyuruhku membelikan sesuatu di warung. Nah, tragedi selalu saja terjadi setiap kali aku membeli. Ibu menyuruh beli apa, aku membelinya apa. Jadi aku meringkas: aku mengulang-ulang kata-kata ibu ketika aku disuruh membelikan sesuatu, biar enggak salah.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥