NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap

Sumatera adalah daratan yang tidak memberi ampun bagi mereka yang ragu. Begitu roda truk K.KJ menyentuh aspal Bakauheni, aroma ancaman tercium lebih tajam daripada bau laut. Jalur Lintas Sumatera bukan hanya sekadar jalan raya; itu adalah labirin di mana hukum rimba sering kali lebih berkuasa daripada hukum negara.

Rencana Reza untuk menghindari jalur utama adalah langkah cerdas, namun sekaligus berisiko tinggi. Truk-truk K.KJ yang membawa muatan sembako dan bibit unggul pesanan petani lokal kini membelah hamparan perkebunan sawit yang seolah tak berujung. Di sini, sinyal ponsel timbul tenggelam, dan satu-satunya teman adalah suara deru mesin dan gesekan dahan sawit pada badan truk.

"Mas, ada yang tidak beres," Aris berbicara melalui radio panggil. Ia berada di truk paling depan, sementara Reza mengawal di truk ketiga.

"Ada apa, Ris?"

"Sejak sepuluh kilometer tadi, saya melihat bekas ban motor trail di tanah yang masih basah. Polanya tidak acak. Mereka mengikuti kita lewat jalan setapak di dalam kebun."

Reza merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang kini ia kenali sebagai bensin hidupnya. "Tetap melaju. Jangan berhenti kecuali saya yang perintahkan."

Tiba-tiba, di sebuah tikungan tajam yang diapit pohon sawit tua yang rimbun,

Jalanan tertutup oleh tumpukan kayu yang sengaja dibakar. Asap hitam membumbung, mengaburkan pandangan.

CIIIIIIEEET!

Ban truk menjerit saat ketiga armada K.KJ berhenti mendadak. Dari balik rimbunnya sawit, muncul belasan orang dengan penutup wajah. Mereka bukan perampok biasa; mereka memegang botol bahan bakar (bom molotov) dan beberapa di antaranya membawa senjata tajam yang berkilat tertimpa sinar matahari yang masuk lewat celah daun.

"Turun! Serahkan kunci atau kami bakar semua truk ini!" teriak seorang pria yang tampaknya adalah pimpinan mereka.

Reza hendak membuka pintu, namun Aris sudah lebih dulu melompat keluar dari truk depan. Wajah Aris tidak menunjukkan rasa takut; ia justru tampak tenang, seolah ia sedang pulang ke rumah lamanya.

"Kalian salah alamat," suara Aris menggelegar di tengah kesunyian hutan sawit. "Saya tahu siapa yang mengirim kalian. Bang Guntur di Merak tidak bilang ya, kalau yang mengawal truk ini adalah Aris 'Si Jagal'?"

Mendengar nama itu, beberapa perampok tampak ragu. Nama Aris ternyata masih memiliki gaung di dunia bawah tanah Sumatera. Namun, sang pimpinan tidak mau kehilangan muka.

"Itu dulu, Ris! Sekarang kamu cuma anjing penjaga kurir ayam geprek! Bakar truknya!"

Satu botol molotov dilemparkan ke arah truk pertama. Namun, dengan gerakan yang luar biasa cepat, Aris menangkap botol itu di udara sebelum sempat pecah dan melemparkannya kembali ke arah semak-semak yang kosong. Ledakan api kecil terjadi, menciptakan pembatas antara kurir dan perampok.

"Mas Reza, tetap di dalam!" perintah Aris.

Aris bergerak seperti bayangan. Ia tidak menggunakan senjata api, hanya tangan kosong dan sebuah sabuk kulit yang ia lepas dari pinggangnya. Dalam hitungan detik, dua perampok terjungkal. Aris bertarung dengan efisiensi seorang profesional tidak ada gerakan yang terbuang.

Reza tidak bisa hanya diam. Ia meraih tuas persneling. "Semuanya, dengar! Saat saya bilang 'maju', injak gas dalam-dalam! Kita tabrak kayu pembakar itu, truk kita punya pelindung baja di depan!"

Reza menginstruksikan kurir lain lewat radio. Saat Aris berhasil melumpuhkan sang pemimpin perampok dengan satu kuncian leher yang mematikan, Reza berteriak, "MAJU!"

BRRRRRUUUMMM!

Ketiga truk itu meraung serentak. Pelindung bumper depan yang sudah dimodifikasi oleh Budi menghantam tumpukan kayu terbakar. Percikan api menyambar ke segala arah, namun truk-truk itu berhasil menembus blokade.

Aris melompat ke arah truk yang sedang bergerak, berpegangan pada pintu samping, dan masuk kembali ke kabin dengan satu gerakan akrobatik.

"Gila kamu, Ris!" teriak Reza sambil tertawa tegang, tangannya masih gemetar di atas setir.

"Kita harus gila untuk bertahan di sini,

Mas," jawab Aris sambil menyeka darah kecil di sudut bibirnya. "Tapi mereka tidak akan menyerah. Guntur punya koneksi dengan gudang-gudang penadah di Lampung. Kita harus sampai ke pos polisi terdekat dalam dua puluh menit."

Mereka berhasil keluar dari area perkebunan dan mencapai jalan lintas yang lebih ramai tepat saat sebuah mobil patroli lewat. Para perampok itu tidak berani mengejar lebih jauh.

Malam itu, mereka beristirahat di sebuah pangkalan truk di pinggiran Bandar Lampung. Reza duduk di atas bak truk, menatap bintang-bintang yang sangat jernih di langit Sumatera. Ia melihat tangannya yang kini penuh debu jalanan.

"Mas Reza," Aris mendekat, membawa dua kaleng kopi hitam. "Kenapa Mas masih mau melakukan ini? Mas sudah punya uang, punya keluarga. Kenapa harus bertaruh nyawa di tengah kebun sawit?"

Reza terdiam sejenak, menyesap kopinya yang pahit. "Karena dulu, saat aku mau mati, dunia terasa sangat sempit. Hanya ada aku dan kegagalanku. Sekarang, dunia ini terasa sangat luas. Ada banyak orang yang hidupnya bisa lebih baik hanya karena paket yang kita antar tepat waktu. Rasa berharga itu... lebih membuatku ketagihan daripada rasa aman, Ris."

Aris mengangguk, ia mengerti. Mereka berdua adalah orang-orang yang sudah "selesai" dengan kematian, sehingga hidup tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah petualangan.

Namun, ketenangan mereka terganggu saat ponsel Reza berbunyi. Itu adalah panggilan video dari Anya. Saat layar menyala, Reza melihat wajah Anya yang sembab.

Za... ada orang yang melempar batu ke rumah kita di Bogor malam ini. Mereka meninggalkan pesan: 'Tarik trukmu dari Sumatera atau keluargamu yang kami antar ke kuburan.'"

Darah Reza mendidih. Ia menyadari bahwa pertempuran ini tidak lagi hanya di aspal Sumatera, tapi sudah merambah ke pintu rumahnya sendiri.

"Anya, dengar. Bawa Fajar ke rumah Budi sekarang juga. Aris, hubungi tim keamanan cadangan di Bogor. Kita akan selesaikan malam ini juga. "

Reza berdiri. Matanya yang tadinya tenang kini memancarkan api yang sama dengan api molotov di hutan sawit tadi. Jika Guntur dan komplotannya mengira Reza akan lari ketakutan, mereka salah besar.

"Ris," kata Reza dingin. "Kita balik ke Mereka sekarang. Tanpa truk. Kita temui Guntur di kandangnya."

"Kita cuma berdua, Mas?"

"Tidak. Kita punya seluruh jaringan kurir yang sudah muak dengan pungli mereka. Kita akan buat malam mereka menjadi malam terpanjang bagi Kelompok Naga Hitam."

Reza mengambil kembali gelang benang kuningnya. Perjalanan pulang kali ini bukan untuk lari, tapi untuk menjemput keadilan yang tertunda.

Kemarahan seorang pria yang pernah ingin mati adalah jenis kemarahan yang paling murni; ia tidak lagi memiliki rasa takut akan kehilangan, karena ia sudah pernah melepaskan segalanya. Saat mobil sewaan yang membawa Reza dan Aris melesat kembali menuju Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang ke Merak, suasana di dalam kabin sedingin es.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!