Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Di mana putraku, Alisha? Di mana kau menyembunyikannya!”
Suara bariton itu meledak seperti guntur di ruang tengah mansion. Ia mencengkeram ponselnya dengan tenaga yang sanggup meremukkan plastik dan kaca. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah dengan urat leher yang menonjol.
Di depannya, Alisha berdiri terpaku dengan tangan yang masih memegang cangkir teh. Cangkir itu bergetar hebat hingga cairannya tumpah mengotori lantai marmer yang putih bersih.
“Apa maksudmu, Damian? Arka seharusnya masih di sekolah,” jawab Alisha dengan suara yang nyaris hilang.
“Kepala sekolah baru saja menelpon.” Damian melangkah maju dengan tatapan menuduh.
“Arka tidak ada di gerbang saat jemputan tiba. Kamera pengawas mati tepat saat jam pulang sekolah dimulai.”
“Kau pikir aku yang melakukannya?’ Alisha meletakkan cangkir itu dengan kasar. “Aku bersamamu di rumah ini sejak pagi! Bagaimana mungkin aku menculiknya?”
“Kau selalu ingin lari, Alisha!” teriak Damian. “Mungkin kau sudah menyewa orang. Mungkin kau bekerja sama dengan orang desamu untuk membawanya kembali ke pesisir.”
“Jangan gila!” Alisha membalas teriakan itu dengan air mata yang mulai mengalir.
“Aku tidak akan pernah membahayakan nyawa Arka dengan membiarkannya dibawa orang asing!”
Damian tidak mendengarkan lagi. Ia segera menghubungi tim keamanan pribadinya. Instruksi singkat dan tajam keluar dari mulutnya. Seluruh akses keluar masuk Jakarta diperketat. Bandara dan pelabuhan dipantau dalam hitungan menit.
Damian mondar-mandir di ruangan itu seperti singa yang terluka. Ia terus menyalahkan sistem keamanan sekolah elit yang baru saja ia pilihkan untuk Arka.
“Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan sekolah itu dengan tanah,” desis Damian.
“Berhenti mengancam dan mulailah berpikir!” Alisha menarik lengan jas Damian. “Arka bukan anak biasa. Dia terlalu cerdas untuk diculik tanpa suara. Pikirkan, Damian. Ke mana dia akan pergi jika dia ingin menghindari neneknya atau menghindari sekolah itu?”
Damian terhenti sejenak. Ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Logikanya mulai bekerja di bawah tekanan emosi yang hebat. Ia mengingat kembali pembicaraan semalam tentang Swiss.
Arka ketakutan. Arka merasa terancam. Namun, Arka tidak akan lari ke jalanan yang asing baginya.
“Dia tidak punya uang,” gumam Damian. “Dia tidak punya kendaraan.”
“Tapi dia punya otak yang bisa meretas apapun,” tambah Alisha.
Ponsel Damian berdering lagi. Kali ini dari sekretaris pribadinya di kantor pusat Sagara Group. Damian mengangkatnya dengan cepat, berharap ada kabar baik dari jaringan intelijen mereka.
“Tuan Damian, ada anomali di ruang kerja Anda,” kata sekretaris itu terdengar bingung. “Sistem komputer utama Anda terkunci. Ada pesan singkat di layar yang terus berulang.”
“Pesan apa?” tanya Damian cepat.
“Pesan itu berbunyi Keamanan Sagara Group lebih buruk daripada sistem toko mainan.” Lapor sekretaris itu.
Damian dan Alisha saling berpandangan. Rasa panik yang tadi mencekik kini berubah menjadi kebingungan yang luar biasa. Damian segera menyambar kunci mobilnya. Ia menarik tangan Alisha untuk ikut bersamanya. Mereka membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan tinggi menuju gedung pencakar langit Sagara Group.
Sesampainya di lantai teratas, suasana kantor sangat kacau. Tim IT sedang sibuk di depan layar komputer yang berkedip-kedip merah. Damian mengabaikan mereka semua dan langsung menuju pintu ruang kerja pribadinya yang tertutup rapat. Pintu itu menggunakan sistem pemindai retina dan sidik jari yang paling mutakhir. Namun, saat Damian menempelkan tangannya, layar kecil di pintu justru menampilkan ikon wajah tersenyum.
“Akses ditolak oleh Administrator Kecil.” Suara mesin itu bergema.
“Arka?” Alisha memanggil di depan pintu. “Arka, apakah kau di dalam? Buka pintunya, Sayang. Ibu sangat takut.”
Keheningan menyelimuti koridor selama beberapa detik. Kemudian, terdengar suara klik yang halus. Pintu kayu jati yang berat itu terbuka perlahan. Damian mendorong pintu itu dan masuk dengan langkah lebar.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari puluhan monitor di meja kerja Damian. Di kursi kebesaran CEO yang berukuran raksasa, duduklah seorang bocah kecil dengan tenang. Arka sedang memegang tablet miliknya, sementara jari-jarinya masih menari di atas keyboard komputer utama Damian.
“Arka!” Alisha berlari dan langsung memeluk putranya dengan erat.
“Kenapa kau melakukan ini? Ibu pikir kau diculik!”
“Aku tidak diculik, Ibu,” jawab Arka dengan nada datar yang sangat mirip dengan Damian. “Aku hanya melakukan pengujian penetrasi pada sistem keamanan Ayah. Ternyata sangat mudah untuk masuk ke sini dengan mengikuti mobil logistik di sekolah tadi.”
Damian berdiri di depan meja kerjanya. Kemarahannya yang tadi meluap-luap kini menguap, digantikan oleh rasa takjub yang bercampur dengan rasa malu. Putranya yang baru berusia lima tahun berhasil membobol gedung paling aman di Jakarta dan mengunci ayahnya sendiri di luar.
“Kau membuat seluruh kota panik, Arka,” ucap Damian terdengar berat.
“Kau tahu berapa banyak orang yang kukerahkan untuk mencarimu?”
“Hanya empat ratus dua belas orang,” sahut Arka tanpa melihat ke arah ayahnya. “Aku memantau posisi mereka semua melalui GPS kendaraan operasional Sagara yang baru saja aku retas.”
Damian terdiam. Ia melihat peta digital di layar monitor besar yang menunjukkan titik-titik koordinat tim keamanannya sendiri. Arka benar-benar mengendalikan situasi dari kursi kerjanya.
“Kenapa, Arka?” tanya Damian.
“Kenapa kau melakukan semua ini?”
Arka melepaskan diri dari pelukan ibunya. Ia berdiri di atas kursi agar tingginya bisa sedikit mengimbangi Damian. Matanya yang bulat kini menatap Damian dengan ketajaman yang mengerikan.
“Karena Ayah bilang rumah itu aman,” ujar Arka. “Ayah bilang Ayah bisa melindungi kami. Tapi Nenek bisa masuk ke kamar dan merencanakan hal buruk tanpa Ayah tahu. Jika aku bisa masuk ke kantor ini tanpa ketahuan, maka orang jahat juga bisa melakukannya.”
Damian mengepalkan tangannya. “Aku akan memperbaiki semuanya, Arka. Aku berjanji.”
“Aku tidak butuh janji tanpa jaminan,” balas Arka. “Aku hanya akan keluar dari sistem ini dan mengembalikan data perusahaan Ayah jika Ayah menandatangani perjanjian baru.”
Alisha tertegun. “Perjanjian apa, Sayang?”
Arka menekan sebuah tombol, dan sebuah dokumen muncul di layar monitor utama. Isinya singkat namun sangat mengikat secara hukum.
“Satu.” Arka membacakan poin pertama. “Ayah tidak boleh mengirimku ke Swiss atau sekolah asrama mana pun tanpa izin tertulis dari Ibu.”
“Dua.” Arka melanjutkan. “Ayah tidak boleh memaksa Ibu pergi dari rumah atau menyakitinya dengan cara apapun. Jika itu terjadi, aku akan menghapus seluruh aset digital Sagara Group dalam satu detik.”
Damian menatap dokumen itu dengan tatapan tidak percaya. Ia melihat ke arah Alisha yang juga tampak terkejut. Damian kemudian menatap putranya lagi. Di dalam diri bocah kecil itu, Damian melihat dirinya sendiri yang jauh lebih cerdas, lebih dingin, dan lebih manipulatif.
“Kau mengancam ayahmu sendiri demi ibumu?” tanya Damian dengan senyum miring yang pahit.
“Aku hanya melindungi asetku yang paling berharga,” jawab Arka dengan tenang. “Yaitu Ibu.”
Damian tertawa pendek. Bukan tawa kemenangan, melainkan tawa kekalahan yang penuh rasa hormat. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang anak kecil biasa. Ia sedang berhadapan dengan versi dirinya yang lebih sempurna. Bakat manipulasi Arka jauh melampaui apa yang pernah Damian bayangkan.
“Baiklah.” Damian melangkah maju dan mengambil pulpen emas di atas meja. “Aku akan menandatanganinya. Bukan karena aku takut pada ancamanmu, tapi karena aku menyadari bahwa kau benar.”
Damian membubuhkan tanda tangannya di atas layar digital. Ia kemudian menatap Arka dengan pandangan yang serius.
“Sekarang, kembalikan sistemku, Administrator Kecil!” perintah Damian.
Arka mengangguk dan menekan satu tombol terakhir. Seluruh monitor di ruangan itu kembali ke mode normal. Lampu-lampu gedung yang tadi berkedip merah kini kembali stabil. Arka turun dari kursi dan menghampiri ibunya.
Alisha memeluk Arka lagi, kali ini dengan perasaan lega yang bercampur dengan rasa ngeri. Ia menyadari bahwa putranya sudah tumbuh terlalu cepat di lingkungan yang penuh dengan duri ini. Ia melihat ke arah Damian yang masih menatap layar komputer dengan ekspresi penuh pemikiran.
“Damian!” panggil Alisha pelan.
Damian menoleh. “Dia memiliki bakat yang berbahaya, Alisha. Jika kita tidak mendidiknya dengan benar, dia bisa menghancurkan dunia ini sebelum dia berusia dua puluh tahun.”
“Kerja bagus untuk sistem keamanannya, Arka,” ujar Damian. “Tapi lain kali, jangan buat ibumu menangis. Itu adalah kegagalan sistem yang paling besar.”
Arka menyambut jabat tangan ayahnya. Untuk pertama kalinya, ada rasa saling menghormati di antara kedua pria Sagara itu. Namun, Alisha tahu bahwa ini hanyalah awal. Bakat Arka kini telah terbuka di depan mata Damian, dan itu pasti akan mengubah dinamika mereka selamanya.
Di luar gedung, wartawan masih menunggu kabar tentang hilangnya pewaris Sagara. Mereka tidak tahu bahwa di dalam ruangan itu, sebuah aliansi baru yang sangat kuat baru saja terbentuk.
“Ayo pulang,” ajak Damian sambil merangkul bahu Alisha dan menggandeng tangan Arka.
Saat mereka berjalan keluar dari kantor, para staf menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu dan ketakutan. Mereka melihat seorang CEO yang tampak bangga, seorang wanita yang tampak tegar, dan seorang bocah kecil yang tampak seperti penguasa masa depan.
Alisha merasakan genggaman tangan Arka yang erat. Ia tahu bahwa putranya baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya. Namun, ia juga tahu bahwa mulai hari ini, Damian Sagara tidak akan pernah lagi meremehkan keberadaan mereka berdua di dalam hidupnya.