Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - My Dangerous Kenzo
...---------‐--------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...---------‐--------------...
Reno berhenti di parkiran, merogoh kunci mobil Citra.
“Gue anterin Citra dulu,” katanya singkat ke Naya. “Kalian duluan.”
Naya refleks menoleh.
“Hah? Kak—”
“Tenang,” potong Reno sambil melirik Kenzo. Tatapannya tajam, penuh peringatan.
“Jangan macem-macem.”
Kenzo cuma mengangkat alis, senyum tipis tersungging.
“Santai aja, Ren.”
Reno pergi bersama Citra.
Dan… mobil Kenzo pun menyisakan dua orang saja di dalamnya.
Pintu mobil tertutup.
Sunyi.
Mesin menyala, musik pelan mengalun—lagu R&B dengan nada rendah dan lambat.
Lampu kota berkelebat di kaca jendela.
Naya duduk di kursi penumpang, menatap ke luar, berusaha terlihat santai.
Padahal jantungnya sudah tidak karuan.
“Kenapa diem?” tanya Kenzo sambil menyetir, suaranya tenang.
“Capek,” jawab Naya singkat.
Kenzo tersenyum kecil.
“Boong.”
Naya meliriknya sekilas. “Apaan sih.”
Kenzo tidak menjawab.
Tangannya yang tadi di setir, pelan-pelan berpindah… berhenti di atas tangan Naya yang tergeletak di paha.
Refleks Naya menegang.
“Kak Ken.”
“Tenang,” katanya lembut. “Gue nyetir pake satu tangan juga bisa.”
Naya menelan ludah.
Harusnya dia narik tangannya. Harusnya.
Tapi dia diam.
Kenzo menoleh sekilas, menangkap reaksi itu. Senyumnya berubah—lebih dalam, lebih yakin.
“Lo tau gak,” katanya pelan, “lo gampang kebaca.”
“Apanya?” suara Naya melemah tanpa sadar.
“Deg-degan lo.”
Naya langsung menarik tangannya. “Sok tau!”
Kenzo terkekeh kecil.
“Mobil gue kedap suara,” katanya santai. “Gak ada Reno. Gak ada siapa-siapa.”
Jantung Naya berdegup lebih cepat.
Kenapa gue malah merhatiin itu…
Lampu merah menyala. Mobil berhenti.
Kenzo menoleh penuh, kali ini benar-benar menatap Naya.
“Gue gak bakal ngapa-ngapain kalo lo gak mau,” ucapnya rendah.
“Tapi jangan pura-pura gak ngerasa apa-apa juga.”
Naya tercekat.
“Kamu kebanyakan PD,” katanya, berusaha ketus.
“Mungkin,” jawab Kenzo.
“Tapi lo gak nyuruh gue berhenti.”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
Naya menatap lurus ke depan, napasnya tak beraturan.
Ini bahaya, pikirnya.
Tapi kenapa gue gak kabur?
Kenzo menyetir dengan satu tangan lagi.
Yang satunya… kini hanya berjarak beberapa senti dari Naya.
Dan jarak itu terasa jauh lebih panas dari seharusnya.
Hujan turun tiba-tiba.
Kenzo menepikan mobil di sebuah parkiran minimarket yang sudah hampir tutup. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, air hujan turun pelan tapi rapat, menciptakan suara yang menenangkan sekaligus bikin suasana makin sunyi.
Mesin dimatikan.
Hening.
Naya memeluk tasnya di pangkuan.
“Kenapa berhenti?” tanyanya, pura-pura biasa.
“Hujannya deres,” jawab Kenzo. “Bahaya nyetir.”
Naya mengangguk, lalu menatap ke luar jendela.
Kaca mulai berembun.
Kenzo menoleh ke arahnya.
“Lo dingin?” tanyanya pelan.
“Enggak,” jawab Naya cepat—terlalu cepat.
Kenzo tersenyum kecil. Ia meraih tisu, lalu mengusap embun di kaca samping Naya. Gerakannya dekat. Terlalu dekat.
Naya menoleh.
Jarak wajah mereka kini hanya beberapa senti.
Jantung Naya berdegup keras.
Kok gue gak minggir?
Kenzo menatapnya, tidak senyum, tidak bercanda.
“Nay…” suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan.
Naya menelan ludah.
Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung memalingkan wajah.
“Kenzo,” ucapnya pelan, bukan menolak—lebih seperti peringatan yang ragu.
Kenzo sedikit condong.
Naya ikut mendekat setengah langkah, tanpa sadar.
Dan—
TOKK. TOKK.
Suara ketukan di kaca mobil membuat Naya tersentak.
Seorang satpam berdiri di luar, memberi isyarat agar mobil dipindahkan.
Naya langsung menjauh, wajahnya panas.
Kenzo menarik napas panjang, lalu tertawa kecil, canggung.
“Timing-nya jelek,” gumamnya.
Naya menatap ke depan, berusaha menenangkan diri.
“Iya,” katanya pelan. “Untung.”
Kenzo menyalakan mesin lagi.
Mobil kembali melaju pelan meninggalkan parkiran.
Di dalam hati Naya, ada kekacauan yang tak mau reda.
Gue tadi… hampir.
Dan yang bikin takut—gue gak sepenuhnya keberatan.
Kenzo menyetir tanpa bicara.
Tapi senyum tipis di sudut bibirnya bilang satu hal:
Dia sadar.
Dan Naya tahu—
mulai sekarang, perasaannya tidak akan sesederhana penyangkalan lagi.
Hujan mulai reda. Tinggal sisa tetesan kecil yang jatuh dari daun dan aspal basah memantulkan cahaya lampu jalan.
Kenzo menyetir pelan. Musik dimatikan.
“Ada yang mau lo omongin?” tanya Kenzo akhirnya, suaranya tenang, gak menggoda.
Naya terdiam beberapa detik.
“Apa gue keliatan gampang kebaca banget?”
tanyanya balik, lirih.
Kenzo melirik sekilas.
“Sedikit,” katanya jujur. “Tapi bukan berarti gue nganggep lo main-main.”
Naya menoleh. “Terus lo nganggep gue apa?”
Kenzo menghela napas pelan.
“Adik temen gue,” jawabnya dulu.
“Dan…” ia berhenti sebentar, “…orang yang bikin gue mikir dua kali.”
Jawaban itu bikin dada Naya terasa aneh. Hangat tapi bikin waspada.
“Sok dalem,” gumam Naya, tapi kali ini tanpa ketus.
Kenzo tersenyum kecil. “Lo kira gue gak bisa serius?”
Naya gak langsung jawab.
“Gue gak suka cowok yang kebiasaan dekat atau mau sana sini,” katanya jujur. “Capek aja liatnya.”
Kenzo mengangguk pelan.
“Fair.”
Mobil masuk ke jalan rumah Naya. Lampu gerbang sudah menyala. Kenzo memarkir mobil dengan rapi.
Mesin mati.
Sunyi lagi.
Naya membuka pintu… lalu berhenti.
Menoleh.
“Kak Ken.”
“Iya?”
“Makasi,” katanya singkat.
Kenzo menatapnya, lebih lembut dari biasanya.
“Anytime.”
Naya turun, lalu sebelum menutup pintu, ia mencondongkan badan sedikit.
Topi di kepalanya—topi Kenzo—ditarik agak rendah.
“Topi ini,” katanya santai, “gue pinjem agak lama.”
Kenzo terkekeh pelan.
“Baliknya kapan?”
Naya tersenyum tipis.
“Nanti… kalo gue mau.”
Kenzo membuka pintu mobil, satu kakinya sudah turun.
Hujan tinggal sisa rintik, lampu jalan memantul di kaca mobil.
Ia berhenti sebentar.
Menoleh ke Naya.
Dengan suara rendah, hampir santai tapi bikin jantung nggak siap—
“Lain kali… gue nggak bakal ngerem.”
Kenzo tersenyum tipis.
Pintu tertutup.
Naya melangkah ke dalam rumah dengan jantung berdebar, tapi kali ini bibirnya tersenyum kecil.
Dada naya naik turun.
Gila…
Ini cowok bener-bener bahaya.
Dan yang paling bikin kesal—
bukan karena hampir kejadian.
Tapi karena…
dia pengin
Di dalam mobil, Kenzo masih duduk beberapa detik, menatap ke arah rumah itu.
“Bahaya,” gumamnya sendiri.
“Tapi gue suka.”
Dan malam itu, ketegangan tidak meledak—
hanya disimpan, rapi, menunggu waktu yang tepat.
Kenzo naik ke tangga dengan langkah pelan. Kepalanya masih penuh potongan kejadian malam ini—hujan, suara Naya, topi di kepalanya, tatapan sebelum pintu mobil tertutup.
Di kamar, ia menutup pintu pelan lalu menyandarkan punggung ke sana.
“Gue ngapain sih…” gumamnya sambil mengusap wajah.
Ponselnya bergetar.
Naya.
Kenzo menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya membuka.
Naya:
Topinya jangan ditagih dulu ya.
Sudut bibir Kenzo terangkat tanpa sadar.
Ia membalas, singkat.
Kenzo:
Selama kepalanya yang make masih gue kenal.
Tiga titik muncul… hilang… muncul lagi.
Naya:
Kapan-kapan gue balikin nya.
Kenzo:
Kalo lo MAU balikin langsung aja ke rumah.
Naya :
Playboy banget
Kenzo:
Gue tau lo mau
Kenzo tertawa kecil, lalu meletakkan ponsel di kasur. Ia merebahkan diri, menatap langit-langit.
“Pinter banget bikin orang kepikiran,” katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Di lantai bawah, Mama Kenzo masih duduk di ruang keluarga. Ia menoleh ke arah tangga, alisnya sedikit berkerut.
“Kenzo pulang beda,” gumamnya. “Lebih diem… tapi senyum-senyum.”
Mama menggeleng pelan, lalu tersenyum kecil.
“Ah, anak muda.”
Sementara itu di kamar, Kenzo menutup mata, menarik napas dalam-dalam.
Keputusan buat gak menginap malam ini terasa benar.
Karena kalau ia tinggal sedikit lebih lama…
ia gak yakin bisa tetap setenang ini.
Dan di dua rumah yang berbeda,
dua orang yang sama-sama keras kepala
sama-sama berpikir hal yang sama:
Ini mulai berbahaya.
Dan justru karena itu… sulit dihentikan. 🖤
...-----------------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...-----------------------...