"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 22: MUSIM BARU
Setelah closure antara Rafa dan Aisha, kehidupan menemukan ritme baru yang lebih stabil. Rumah kecil Aisha yang berjarak lima menit jalan kaki dari rumah Rafa menjadi tempat yang hangat, penuh dengan buku dan tanaman. Arka memiliki kamar di kedua rumah sama-sama lengkap dengan mainan dan buku pelajarannya. Dia senang dengan pengaturan ini, karena merasa memiliki dua rumah, dua tempat yang mencintainya.
Yayasan Arkana Harapan semakin berkembang, bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah daerah untuk kontribusinya pada kesehatan anak. Aisha dan Laras sering tampil bersama di acara-acara amal, menjadi contoh kemitraan unik yang menginspirasi banyak orang. Mereka dijuluki "Dua Ibu, Satu Hati" oleh media.
Tapi ketenaran membawa konsekuensi lain: banyak pria yang mulai tertarik pada Aisha. Sebagai ibu tunggal yang sukses, anggun, dan memiliki cerita hidup yang kuat, Aisha menjadi magnet bagi beberapa orang mulai dari donatur yayasan hingga rekan kerja profesional.
Laras yang pertama kali memperhatikan. "Ada yang mengirimkan bunga untukmu ke yayasan lagi," katanya suatu sore sambil menyusun dokumen.
Aisha mengernyitkan dahi. "Siapa?"
"Seorang arsitek. Namanya Glenn. Dia membantu mendesain renovasi panti asuhan yang kita danai. Katanya dia sangat terinspirasi oleh perjuanganmu."
Aisha mengabaikannya. Dia belum siap. Jantungnya masih perlu waktu untuk benar-benar pulih dari semua yang terjadi.
Tapi Glenn tidak mudah menyerah. Dia sopan, tidak memaksa, hanya menunjukkan ketertarikan dengan memberi perhatian tulus. Saat yayasan mengadakan penggalangan dana di sebuah hotel, Glenn datang dan menghampiri Aisha.
"Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa apa yang Anda lakukan sangat mulia."
"Terima kasih," jawab Aisha singkat, berusaha profesional.
Glenn tersenyum, matanya ramah. "Saya tahu Anda mungkin tidak tertarik pada hal-hal seperti ini. Tapi jika suatu hari Anda mau minum kopi, sekadar berbicara tentang yayasan atau hal lain, saya di sini."
Laras yang melihat dari kejauhan, tersenyum pada Rafa. "Dia baik, ya?"
Rafa mengangguk, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya bukan cemburu, tapi kekhawatiran. "Aisha masih rapuh. Aku tidak ingin dia terluka lagi."
"Kamu tidak bisa melindunginya selamanya, Raf. Dia butuh hidupnya sendiri."
---
Beberapa minggu kemudian, Glenn mengundang Aisha untuk melihat langsung proyek panti asuhan yang sudah selesai. Aisha setuju murni untuk urusan yayasan. Tapi selama perjalanan, mereka banyak berbicara. Glenn adalah duda, istrinya meninggal karena kanker empat tahun lalu. Dia punya anak perempuan berusia enam tahun.
"Mungkin kita punya kesamaan," katanya sambil menyetir. "Menjadi orang tua tunggal, mencoba membangun kembali hidup."
Aisha mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, dia merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti rasanya kehilangan, tanpa perlu dia jelaskan panjang lebar.
Tapi dia masih menjaga jarak. Hati butuh waktu lebih lama daripada pikiran untuk sembuh.
---
Sementara itu, di rumah Rafa dan Laras, kehidupan justru semakin harmonis. Penutupan bab Aisha secara romantis membuat Laras merasa lebih aman, dan Rafa lebih hadir sepenuhnya. Mereka bahkan mulai merencanakan liburan keluarga besar dengan Aisha dan Glenn jika mau ke Bali akhir tahun.
Suatu malam, Arka bertanya pada Aisha: "Bunda, katanya ada om Glenn yang suka sama Bunda. Bener ga?"
Aisha terkejut. "Siapa yang bilang?"
"Nadia denger Mama Laras ngobrol sama Ayah."
"Bunda dan Om Glenn cuma teman, sayang."
"Tapi kalau Bunda senang sama Om Glenn, Arka juga senang. Yang penting Bunda ga sendirian lagi."
Kepergian anaknya. Anaknya sendiri yang ingin dia bahagia, meski itu berarti berbagi cintanya dengan orang lain.
---
Glenn mulai menjadi bagian dari lingkaran mereka.
Dia diundang untuk makan malam di rumah Rafa—atas inisiatif Laras. "Kita perlu mengenalnya dengan baik," kata Laras pada Aisha.
Malam itu agak canggung. Rafa memperhatikan Glenn dengan teliti seperti ayah yang menguji calon menantu. Tapi Glenn melewatinya dengan baik: sopan, menghormati, dan yang paling penting, sangat baik pada anak-anak. Dia membawa hadiah kecil untuk Arka, Nadia, dan Arkana sesuai usia masing-masing.
"Kamu punya anak perempuan seusia Nadia?" tanya Laras.
"Ya, namanya Kayla. Dia di rumah dengan neneknya malam ini."
Setelah Glenn pulang, mereka berempat duduk membahas.
"Aku suka dia," kata Laras. "Tulus."
Rafa mengangguk. "Dia baik. Tapi aku masih ingin pastikan."
Aisha tersenyum. "Kalian tidak perlu khawatir. Kami masih hanya teman."
Tapi di dalam hatinya, dia mulai bertanya-tanya: apakah dia siap untuk membuka hati lagi?
---
Beberapa minggu kemudian, Glenn mengajak Aisha dan Arka ke kebun binatang bersama Kayla. Aisha setuju, dengan syarat Laras dan Rafa ikut seperti kencan ganda keluarga.
Hari itu menyenangkan. Kayla dan Arka langsung akrab, seperti sudah lama kenal. Mereka berlarian melihat hewan, tertawa. Glenn dan Aisha berjalan di belakang, sesekali berbicara ringan.
"Anakmu luar biasa," puji Glenn.
"Kayla juga. Dia cantik dan cerdas."
Glenn berhenti, menatap Aisha. "Aisha, aku tidak ingin terburu-buru. Tapi aku ingin kamu tahu… aku serius. Dan aku bersedia menunggu sampai kamu siap."
Aisha menatapnya, lalu memandang Arka yang sedang tertawa bersama Kayla. Ada gambaran keluarga baru yang mungkin. Bukan untuk menggantikan Rafa, tapi untuk melengkapi hidupnya yang sekarang.
"Beri aku waktu," bisiknya.
"Itu yang akan kulakukan."
---
Tapi hidup tidak pernah linear.
Seminggu setelah kencan keluarga itu, Aisha mendapat telepon dari rumah sakit—dr. Arman dirawat karena serangan jantung ringan. Dia langsung bergegas ke sana, diikuti Rafa dan Laras.
dr. Arman sadar, tapi lemah. "Jangan khawatir, ini cuma peringatan buat saya untuk lebih pelan-pelan."
Tapi di ruang rawat itu, Aisha bertemu dengan seorang dokter muda yang menangani dr. Arman dr. Rio. Usianya sekitar 35, single, dan matanya langsung tertuju pada Aisha.
"Kamu… Aisha, ya? Saya sering baca tentang yayasanmu. Sangat menginspirasi."
Aisha tersenyum sopan. "Terima kasih."
dr. Rio tampaknya tertarik. Dia sering "kebetulan" lewat saat Aisha menjenguk dr. Arman. Dia menawarkan bantuan untuk yayasan, bahkan mengusulkan kolaborasi medis.
Laras memperhatikan. "Dokter itu suka sama kamu."
"Lagi-lagi?" Aisha mengeluh. "Aku tidak mencari perhatian."
"Tapi kadang cinta datang tanpa kita cari."
Dua pria. Dua pilihan. Dan Aisha yang bahkan belum yakin apakah dia mau memilih sama sekali.
---
Glenn mengetahui tentang dr. Rio.
Tapi reaksinya mengejutkan: "Aku tidak akan bersaing dengan siapa pun, Aisha. Kamu berhak memilih siapa yang terbaik untukmu. Tapi aku akan tetap di sini, karena perasaanku padamu tulus."
Kedewasaan Glenn membuat Aisha terkesan. Berbeda dengan Rafa dulu yang penuh emosi, Glenn tenang dan pasti.
Sementara dr. Rio lebih agresif mengirim bunga, mengajak makan malam, menunjukkan prestasinya. Tipe pria yang percaya diri, mungkin terlalu percaya diri.
Arka punya pendapat. "Arka lebih suka Om Glenn. Soalnya dia enak diajak main. Kalau dokternya… serius terus."
Pandangan polos anaknya itu berarti banyak bagi Aisha.
---
Keputusan datang dari kejadian tak terduga.
Suatu hari, saat Aisha sedang rapat di yayasan, Arka tiba-tiba demam tinggi di sekolah. Guru menghubungi Rafa dan Laras tapi mereka sedang di luar kota untuk urusan pekerjaan. Nomor Aisha tidak terjawab karena sedang di rapat tanpa sinyal.
Glenn yang kebetulan sedang di dekat sekolah karena survei proyek, mendapat telepon dari guru yang panik karena namanya terdaftar sebagai kontak darurat tambahan setelah Aisha memberitahu sekolah tentang "teman keluarga".
Tanpa pikir panjang, Glenn menjemput Arka, membawanya ke rumah sakit, dan menunggui sampai Aisha tiba.
Saat Aisha sampai, panik, dia melihat Glenn sedang membacakan cerita untuk Arka yang sudah lebih tenang. Demamnya turun. Glenn bahkan sudah mengurus administrasi dan berkomunikasi dengan dokter.
"Maaf, aku ambil inisiatif. Tapi Arka butuh segera ke dokter," kata Glenn.
Aisha memeluk Arka, lalu menatap Glenn. Di saat genting, pria ini hadir. Bukan dengan kata-kata manis, tapi dengan tindakan nyata.
dr. Rio yang kebetulan jaga di rumah sakit itu, mendekati. "Aisha, kenapa tidak hubungi saya? Saya bisa bantu."
"Kami sudah ditangani dengan baik," jawab Aisha, masih memegangi Arka.
dr. Rio melihat Glenn, lalu berkata: "Oh, jadi ini… kompetisi?"
Glenn tidak bereaksi. Tapi sikap dr. Rio yang sedikit merendahkan itu membuat Aisha tersadar: dia tidak ingin pria yang melihat cinta sebagai kompetisi.
---
Malam itu, setelah Arka tertidur di rumah Aisha, Glenn akan pulang.
"Glenn," panggil Aisha di depan pintu. "Terima kasih untuk hari ini. Dan… untuk kesabaranmu."
"Untukmu, Aisha, aku akan selalu sabar."
Aisha tersenyum. "Kalau besok kamu tidak sibuk… maukah kita makan malam? Hanya kita berdua?"
Mata Glenn berbinar. "Tentu."
---
Kencan pertama mereka sederhana: makan malam di restoran kecil yang tenang. Mereka berbicara tentang segalanya masa lalu, ketakutan, harapan. Glenn tidak pernah membandingkan Aisha dengan almarhum istrinya. Dia hanya mendengarkan.
"Kamu tidak takut dengan… baggage saya?" tanya Aisha setengah bercanda.
"Setiap orang punya baggage, Aisha. Bagiku, yang penting adalah bagaimana kita membawanya ke depan bersama."
Jawaban yang sempurna.
Di akhir malam, Glenn mengantarnya sampai depan rumah, tidak memaksa masuk. Hanya pelukan hangat yang singkat, penuh hormat.
"Selamat malam, Aisha. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan."
---
Rafa dan Laras mengetahui perkembangan itu.
Reaksi Rafa kompleks: lega bahwa Aisha menemukan seseorang yang baik, tapi juga ada rasa sedih samar bahwa bab mereka benar-benar berakhir sekarang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Laras pada suaminya malam itu.
Rafa mengangguk. "Aku ingin dia bahagia. Dan Glenn… dia pria baik."
"Kamu masih mencintainya?"
"Selalu. Tapi cinta itu sekarang… seperti mencintai saudara. Dan aku ingin dia mendapatkan cinta romantis yang layak."
Laras memeluknya. "Kamu pria baik, Rafa."
---
Aisha dan Glenn mulai berkencan secara teratur.
Tapi Aisha tetap menjaga batas tidak terburu-buru. Dia memperkenalkan Glenn pada keluarganya secara bertahap. Arka semakin akrab dengan Glenn dan Kayla. Bahkan Nadia dan Arkana menyukainya.
Suatu akhir pekan, mereka semua Rafa, Laras, anak-anak, Aisha, Glenn, Kayla pergi piknik bersama. Gambar keluarga besar yang tidak konvensional, tapi bahagia.
Saat Glenn sedang membantu Arka menerbangkan layang-layang, Aisha duduk di sebelah Laras.
"Aku berhutang banyak padamu," bisik Aisha.
"Untuk apa?"
"Untuk memberiku ruang. Untuk mempercayaiku. Untuk… menjadi saudara."
Laras tersenyum. "Kita sudah melalui banyak sekali. Dan kita berhak bahagia semua orang."
---
Bulan-bulan berlalu.
Aisha dan Glenn semakin dekat. Tapi Aisha belum siap untuk komitmen lebih dia masih trauma dengan masa lalunya yang berantakan. Glenn mengerti, tidak memaksa.
dr. Rio akhirnya mundur setelah melihat keteguhan Aisha pada Glenn. "Dia beruntung memiliki kamu," katanya pada Aisha sebelum pergi.
Yayasan semakin sukses. Arka sehat dan bahagia, sekarang punya teman bermain baru Kayla dan masih dekat dengan ayah dan keluarganya.
Rafa dan Laras merencanakan bayi ketiga. "Kami ingin melengkapi keluarga," kata Laras sambil tersipu.
Dan Aisha… Aisha belajar untuk membuka hati perlahan. Bukan karena takut sendirian, tapi karena dia percaya bahwa cinta kedua bisa datang tanpa menghapus cinta pertama.
---
Pada hari ulang tahun Aisha yang ke-29, Glenn membawanya ke tempat pertama kali mereka bertemu lokasi proyek panti asuhan yang sekarang sudah jadi, penuh dengan tawa anak-anak.
"Di sinilah pertama kali aku melihatmu dan terpikat," kata Glenn. "Bukan hanya karena kecantikanmu, tapi karena kebaikanmu."
Dia tidak memberi cincin. Tidak melamar. Hanya berkata: "Aku ingin menghabiskan sisa hidupku melihatmu tersenyum. Perlahan. Tanpa terburu-buru. Apakah kamu mengizinkannya?"
Aisha menatapnya, lalu memandangi panti asuhan itu simbol dari perjalanan hidupnya dari korban menjadi pemberi harapan. Dia sudah melewati neraka. Sekarang, dia pantas mendapat secercah surga.
Dia mengangguk, air mata bahagia. "Aku mengizinkan."
Mereka berpelukan, di tengah sorak anak-anak panti yang tidak mengerti tapi ikut senang melihat "Ibu Aisha" tersenyum lebar.
---
Malam itu, di rumah Aisha, Arka bertanya: "Bunda mau nikah sama Om Glenn?"
"Belum, sayang. Tapi suatu hari nanti, mungkin."
"Arka setuju. Asal Bunda bahagia."
Dan di rumah sebelah, Rafa menatap bulan dari jendela kamar, Laras memeluknya dari belakang.
"Dia bahagia," bisik Laras.
"Ya," jawab Rafa. "Dan kita juga."
Mereka berdiri di sana, tiga rumah dalam satu kompleks yang dihuni oleh keluarga yang terhubung oleh sejarah rumit, tetapi dipersatukan oleh cinta yang lebih besar dari segalanya: cinta pada anak-anak mereka, dan pada kehidupan yang akhirnya memberikan kedamaian.
---
(Di buku harian Aisha, tertulis: "Hari ini aku belajar bahwa hati bisa mencintai lebih dari sekali. Dan setiap cinta memiliki ruangnya sendiri tidak saling menggantikan, hanya saling melengkapi. Untuk Rafa, terima kasih untuk masa lalu. Untuk Glenn, terima kasih untuk masa sekarang. Untuk Arka, terima kasih untuk segalanya.")