NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Gus Azkar melepaskan kancing kemejanya satu per satu dengan tangan yang gemetar karena gairah, sementara bibirnya sama sekali tidak terlepas dari bibir Rina. Lumatan itu terasa begitu dalam dan menuntut, seolah ia ingin menghapus sisa-sisa kesedihan istrinya dan menggantinya dengan gelora cinta yang membara.

Kemeja Gus Azkar akhirnya terlepas dan jatuh begitu saja ke lantai marmer, memperlihatkan tubuh atletisnya yang kokoh di bawah cahaya temaram. Rina bisa merasakan panas dari kulit suaminya yang bersentuhan langsung dengan tangannya yang melingkar di leher Gus Azkar. Desahan halus keluar dari bibir Rina saat Gus Azkar mulai memberikan perhatian pada leher jenjangnya.

​"Mas..." rintih Rina pelan, jemarinya meremas rambut hitam suaminya.

​"Iya, Sayang. Mas di sini," bisik Gus Azkar dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa geraman tertahan. "Malam ini, biarkan Mas menunjukkan betapa berharganya kamu bagi Mas. Kamu bukan hanya sekadar istri, tapi napas Mas."

​Gus Azkar kembali mencium Rina, kali ini dengan lebih lembut namun penuh penekanan. Tangannya yang besar mulai menjelajahi lekuk tubuh Rina di balik daster biru tipis itu. Setiap sentuhan Gus Azkar membuat Rina merasa seolah jiwanya sedang terbang tinggi. Tak ada lagi bayang-bayang masa lalu, tak ada lagi suara-suara jahat yang menghakiminya. Di dalam kamar ini, hanya ada kekaguman Gus Azkar yang tulus terhadap dirinya.

​Tangan Gus Azkar perlahan menarik tali daster Rina, membiarkan pakaian tipis itu merosot jatuh. Mata Gus Azkar menggelap saat melihat keindahan "fakta" yang selama ini Rina sebut sebagai candaan.

​"Masya Allah... kamu benar-benar anugerah terindah, Rina," gumam Gus Azkar dengan pandangan yang tak lepas dari wajah istrinya yang memerah karena malu sekaligus bahagia.

​Lampu tidur yang remang-remang menjadi saksi bisu bagaimana Gus Azkar memperlakukan Rina dengan sangat hati-hati namun penuh gairah. Ia memastikan setiap sentuhannya memberikan kenyamanan dan rasa dicintai yang luar biasa bagi istrinya.

Malam itu, di rumah yang tenang di pinggir sawah, bukan hanya raga mereka yang menyatu dalam keintiman yang panas, tetapi luka di hati Rina benar-benar sembuh total oleh kasih sayang suaminya yang luar biasa.

​Suasana semakin hening, hanya menyisakan suara napas yang memburu dan detak jantung yang beradu kencang di bawah selimut yang sama.

Gus Azkar mengerang rendah saat kenikmatannya terganggu. Ia masih berada dalam posisi memeluk Rina dengan sangat erat, kepalanya masih bersandar nyaman di dada istrinya. Sejak pukul 21.30 tadi, ia benar-benar menikmati "jatah" manjanya, menyesap kehangatan dari tubuh Rina tanpa henti. Namun, keheningan jam setengah dua pagi itu mendadak pecah oleh dering ponsel yang nyaring dari atas nakas.

Dengan napas yang masih sedikit memburu, Gus Azkar terpaksa melepaskan pagutan bibirnya pada aset berharga istrinya itu. Ia melirik Rina yang hanya melenguh kecil dalam tidurnya; sepertinya Rina benar-benar kelelahan sampai suara ponselnya sendiri pun tidak sanggup membangunkan kesadarannya.

Gus Azkar meraih ponsel itu dengan perasaan dongkol. Matanya menyipit melihat layar. Kali ini bukan nomor yang tadi, tapi nomor baru lainnya.

"Siapa lagi ini? Benar-benar tidak tahu waktu," geram Gus Azkar dalam hati.

Ia menggeser tombol jawab, namun tidak segera bersuara. Ia ingin mendengar siapa lagi yang berani mengusik ketenangan istrinya di jam sepertiga malam seperti ini.

"Halo, Rina? Sayang, kamu belum tidur kan?" Suara di seberang sana terdengar berat, seperti suara laki-laki yang sedang mabuk atau setengah sadar. "Aku baru lihat postingan lama kamu yang pake baju biru itu... sumpah, aku kangen banget lihat kamu goyang. Boleh minta video baru nggak? Aku bayar mahal deh, lebih mahal dari yang biasanya kamu minta di TikTok."

Rahang Gus Azkar seketika mengeras. Amarah yang tadi sempat padam oleh kemesraan kini kembali membara. Ia bangkit dari posisinya, duduk di tepi ranjang sambil menatap Rina yang tertidur dengan daster yang sudah tersingkap akibat ulahnya tadi. Ia merasa sangat terhina melihat istrinya masih dianggap sebagai komoditas oleh laki-laki di luar sana.

"Dengarkan saya baik-baik," suara Gus Azkar keluar dengan nada yang sangat rendah, dingin, dan penuh ancaman. "Jika sekali lagi kamu menyebut kata 'bayar' atau meminta hal yang tidak senonoh pada istri saya, saya sendiri yang akan melacak keberadaanmu melalui kepolisian."

Laki-laki di seberang sana terdiam. "L-lho? Ini siapa?"

"Saya Gus Azkar, suami sah dari wanita yang kamu hubungi. Simpan uangmu itu untuk membeli harga diri, karena mulai detik ini, tidak akan ada satu pun video atau foto Rina yang bisa kamu lihat lagi. Dia sudah bertaubat, dan dia berada dalam perlindungan saya."

Klik.

Gus Azkar langsung mematikan telepon dan mematikan daya ponsel Rina sepenuhnya. Ia tidak ingin ada gangguan lagi sampai pagi. Dengan kasar, ia melempar ponsel itu ke sudut sofa.

Ia kembali menatap Rina. Rasa posesifnya melonjak tajam. Ia merayap kembali ke atas kasur, memeluk Rina dari belakang dengan sangat protektif, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum.

"Mas tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, bahkan lewat kata-kata sekalipun," bisik Gus Azkar sambil kembali mencari kehangatan di dada Rina, seolah ingin menegaskan kembali bahwa mulai malam ini, Rina adalah miliknya secara mutlak, lahir dan batin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!