"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Perang Demi Lonceng Mochi
Suasana di halaman villa yang asri mendadak berubah menjadi medan tempur. Angin dari baling-baling helikopter yang menderu rendah di atas kepala membuat daun-daun teh beterbangan liar. Alana memeluk Mochi seerat mungkin, sampai kucing oren itu mengeluarkan suara protes "Meong!" yang melengking.
Pria berjas putih itu melangkah maju. Namanya Tuan Hendra, otak di balik 'The Board' yang selama ini menjadi bayangan hitam di balik kejayaan Arkananta Group. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengepung sebuah villa menggunakan tentara bayaran.
"Alana, jangan jadi pahlawan kesiangan. Serahkan lonceng itu sekarang, dan aku jamin ayahmu serta suamimu akan pulang dengan selamat," ujar Hendra, suaranya hampir tenggelam oleh deru helikopter.
"Enak aja!" balas Alana, suaranya melengking tinggi, mencoba mengalahkan bising mesin. "Mas Hendra atau siapa lah nama Mas, Mas tahu nggak ini kucing harganya nggak seberapa, tapi nyawanya lebih berharga dari jas putih Mas yang kayanya hasil nyuci uang itu! Mau ambil loncengnya? Sini, langkahi dulu sandal jepit aku!"
Arkan menarik Alana ke belakang punggungnya, sementara Malik—ayah Alana—sudah memegang sebuah pistol yang entah sejak kapan ia sembunyikan di balik korannya.
"Hendra, kamu sudah kalah sejak kamu memutuskan untuk menampakkan diri," ucap Malik dengan nada dingin.
"Kalah? Lihat sekelilingmu, Malik. Aku punya dua puluh orang bersenjata lengkap, dan kalian cuma punya... seorang miliarder yang sedang jatuh cinta dan seorang gadis TikTok?" Hendra tertawa meremehkan. "Serang!"
Duar!
Baku tembak pecah. Arkan menarik Alana masuk ke dalam villa tepat saat peluru-peluru mulai menghujani tiang kayu teras. Mereka merangkak di lantai marmer yang dingin.
"Lana, tetap di bawah meja ini! Jangan keluar sampai aku bilang aman!" perintah Arkan. Matanya menyapu ruangan, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata.
"Mas Arkan! Mas mau ke mana?!" Alana mencengkeram lengan kemeja Arkan.
"Aku harus bantu ayahmu. Dan Lana... kalau terjadi apa-apa, bawa Mochi lari lewat pintu belakang. Ada motor trail di sana. Kuncinya ada di bawah pot bunga," Arkan mencium singkat kening Alana, sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan.
"Mas! Jangan sok jadi superhero drakor deh! Mas itu CEO, bukan James Bond!" teriak Alana, namun Arkan sudah melesat menuju dapur untuk memutar posisi lawan.
Alana meringkuk di bawah meja jati besar. Mochi gemetar di pelukannya. Sisi julid Alana mulai meracau di dalam kepalanya. Gila ya, ini beneran kiamat kecil. Padahal aku belum sempat nikmatin saldo rekening Mas Arkan buat beli seblak sepuasnya!
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian hitam masuk lewat jendela yang pecah. Ia melihat Alana yang bersembunyi.
"Dapet kamu, Nona Manis!" pria itu menyeringai, tangannya terulur untuk merebut Mochi.
Alana tidak diam saja. Insting bertahan hidupnya yang terasah di gang-gang sempit kontrakan langsung aktif. Ia melihat sebuah vas bunga antik berisi air di atas meja. Dengan satu gerakan cepat, Alana menarik taplak meja tersebut.
Prang!
Vas itu jatuh tepat di kepala si penjahat, menyiramnya dengan air bunga lili yang sudah agak bau. Pria itu terhuyung, dan sebelum dia sempat sadar, Alana menendang bagian paling sensitif pria itu dengan lututnya sekuat tenaga.
"Rasain tuh! Makanya, kalau mau culik orang, permisi dulu!" seru Alana. Ia segera menyambar penggorengan teflon yang ada di dekat sana—entah kenapa ada teflon di ruang tengah—dan menghantamkannya ke wajah pria itu sampai pingsan.
Di luar, Arkan dan Malik bekerja sama dengan luar biasa. Malik ternyata adalah mantan intelijen yang handal, dan Arkan... yah, Arkan ternyata punya hobi latihan menembak rahasia setiap akhir pekan. Mereka berhasil melumpuhkan beberapa anak buah Hendra.
Namun, Hendra tidak bodoh. Ia menarik pemantik sebuah granat asap dan melemparkannya ke dalam villa.
Pshhhhh!
Asap putih pekat memenuhi ruangan. Alana terbatuk-batuk. Dalam pandangan yang kabur, ia merasakan sebuah tangan kasar mencengkeram lehernya dan menariknya berdiri.
"Lepasin!" Alana meronta, namun kali ini pegangan itu terlalu kuat.
"Cukup permainannya!" suara Hendra terdengar di dekat telinganya. "Arkan! Keluar atau istri kesayanganmu ini akan kehilangan kepalanya!"
Arkan muncul dari balik asap, senjatanya diturunkan. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang murni saat melihat Hendra menodongkan pistol ke pelipis Alana.
"Hendra, lepaskan dia. Kamu mau loncengnya? Ambil!" Arkan melemparkan sebuah benda kecil mengkilap ke lantai.
Hendra melirik benda itu sesaat. Kelengahan yang hanya satu detik itu dimanfaatkan Alana. Ia menggigit tangan Hendra sekeras mungkin, sampai ia bisa merasakan rasa asin darah.
"Aaargh! Dasar wanita gila!" Hendra berteriak kesakitan.
Alana merunduk, dan di saat yang sama, Malik melepaskan tembakan tepat mengenai bahu Hendra. Arkan menerjang maju, memberikan pukulan upper-cut yang membuat Hendra terbang melewati sofa dan menghantam dinding.
"Jangan pernah... berani... menyentuhnya!" geram Arkan sambil mendaratkan pukulan demi pukulan sampai Hendra tak berdaya.
Polisi dari kesatuan khusus yang sudah dikontak Kakek Arkan akhirnya tiba dengan helikopter bantuan. Sisa-sisa anggota 'The Board' diringkus. Hendra diseret dalam keadaan babak belur.
Suasana villa kembali sunyi, meski kini bangunannya sudah seperti rongsokan. Arkan terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal. Alana langsung menghampirinya, memeriksa setiap jengkal tubuh suaminya.
"Mas Arkan! Mas ada yang lubang nggak badannya?! Ada yang patah?!" tanya Alana panik.
Arkan tersenyum lemas, ia menarik Alana ke dalam pelukannya yang hangat meskipun berbau mesiu. "Aku gapapa, Lana. Berkat kamu... dan teflon itu."
Malik menghampiri mereka, ia menggendong Mochi yang entah bagaimana tetap tenang di tengah kekacauan. Ia melepas lonceng di leher Mochi dan menyerahkannya pada Alana.
"Ambil ini, Lana. Ini milik ibumu. Isinya bukan cuma rahasia perusahaan, tapi juga pesan terakhir ibumu untukmu. Dia tahu suatu saat kamu akan menemukan pria yang tepat untuk melindungimu," Malik tersenyum haru.
Alana menerima lonceng itu. Ia tidak membukanya. Ia menatap Arkan, lalu menatap ayahnya.
"Ayah, Mas Arkan... aku rasa, aku nggak butuh isi lonceng ini buat sekarang," ucap Alana tenang.
"Lho, kenapa?" tanya Malik heran.
"Karena rahasia paling berharga di dunia ini udah aku dapetin," Alana menggandeng tangan Arkan. "Yaitu tahu kalau aku punya keluarga yang beneran sayang sama aku, bukan cuma karena aku 'biaya kerugian' atau 'pion bisnis'. Soal dokumen ini... biar polisi yang urus buat bersihin nama Mas Arkan."
Arkan menatap istrinya dengan bangga. "Kamu beneran bukan gadis biasa, Lana."
"Ya iyalah! Aku kan Alana, Nyonya Arkananta yang paling julid se-Jakarta!"
Beberapa minggu kemudian, kehidupan mulai kembali normal. Arkan dan Alana sedang merayakan pembukaan kembali Yayasan Panti Asuhan mereka. Suasana meriah, banyak anak-anak tertawa. Namun, saat Alana sedang membagikan makanan, ia melihat seorang wanita yang sangat familiar berdiri di pojok ruangan.
Wanita itu memakai hijab, tampak bersahaja, dan menggendong seorang bayi. Itu... Bayu. Eh, bukan, itu istri Bayu yang sedang hamil dulu!
Wanita itu mendekati Alana dan membisikkan sesuatu: "Mbak Alana, Bayu titip pesan dari penjara. Dia bilang... hati-hati sama Kakek Arkan. Dia bukan pahlawan yang Mbak kira. Kematian ibu Mbak... kakeklah yang memerintahkannya, bukan Tante Sofia."
Alana menoleh ke arah Kakek Arkan yang sedang tertawa ramah bersama anak-anak panti. Jantung Alana seolah berhenti. Ya ampun... ini twist-nya nggak habis-habis apa?!