Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"Lan, aku beneran harus ikut?"
Entah sudah berapa kali Azelva menanyakan pertanyaan yang sama pada Kellano. Namun jawaban Kellano tetap tidak berubah.
"Mau seribu kali lagi Kamu nanya, jawabanku tetap sama, Zel. Kamu harus ikut!"
Azelva sebenarnya enggan ikut ke persidangan, apalagi pasti di sana bertemu dengan Regita. Azelva bukannya takut bertemu wanita itu, hanya saja ia tidak ingin terlibat dalam urusan perceraian Kellano dan Regita.
Terlebih lagi Regita terang-terangan menganggap jika Azelva adalah penyebab Kellano menceraikannya.
"Tapi Lan, kasihan Arlend kalau aku harus ikut," rengek Azelva. Wanita cantik itu berusaha membujuk Kellano.
"Kamu tenang saja, Arlend ada Bibi yang jaga. Lagian Kamu juga udah banyak stok ASI, kan?"
Awalnya Azel ingin membawa Arlend ikut bersamanya, namun Kellano tidak mengijinkannya. Pria itu beralasan udara pengadilan tidak cocok untuk Arlend, karena itu Kellano mempercayakan Arlend pada asisten rumah tangganya di rumah.
Mau tidak mau Azelva pun menurut dan pasrah, karena percuma saja melawan Kellano, pria itu sangat keras kepala dan tidak mau kalah.
"Hmmm..." Dengan wajah memberengut, Azelva menganggukkan kepalanya.
Sepanjang perjalanan menuju pengadilan, Azelva terus memikirkan, apa sebenarnya tujuan Kellano membawanya ke persidangan? Jangan-jangan pria itu sengaja menjadikannya tumbal?
Berbagai pikiran buruk mulai menghantui Azelva. Wanita cantik itu tiba-tiba saja takut jika apa yang di pikirannya sama dengan apa yang Kellano rencanakan.
Pletak
"Awwsshhh... sakit Lan!" Azelva meringis sambil mengusap dahinya yang sedikit sakit akibat sentilan Kellano.
"Makanya Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Kellano. Dari gerak gerik Azelva, pria tampat itu menduga, pasti wanita cantiknya itu berpikiran macam-macam tentangnya.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Tantang Azelva. Wanita cantik itu memicingkan matanya penuh selidik.
"Jika Kamu berpikir, aku menjadikanmu alasan perceraian ku dengan Regita, Kamu salah besar. Walaupun aku masih sangat mencintaimu, tapi aku tidak akan menjadikanmu korban apalagi pihak ketiga dalam kegagalan rumah tangga ku."
Deg
Azelva merasa hatinya berdesir saat mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Kellano itu. Tidak Azelva pungkiri, getaran itu masih ada. Namun wanita cantik itu langsung menepis perasaan itu. Azelva tidak ingin kembali terjebak dalam buaian mulut manis seorang pria.
"Terus, untuk apa Kamu membawaku ke sana? Apa Kamu sengaja ingin Regita menghinaku?"
"Sudah kubilang jangan berpikir macam-macam! Selama aku masih ada, aku tidak akan membiarkan siapapun berani menghinamu."
Pembicaraan keduanya harus terhenti karena mobil mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Kellano tidak hanya membawa serta Azelva saja, Daddy Arjuna dan Mommy Yumna pun ikut bersama mereka. Kedua paruh baya itu baru saja keluar dari mobilnya.
Sebenarnya Kellano bisa saja mengutus pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Regita. Namun, hal itu enggan Kellano lakukan karena, rencananya sejak awal ingin membuat Regita malu karena selama ini sudah berurusan dengannya.
Kellano ingin memberikan Regita pelajaran atas semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Kellano juga ingin menegaskan tidak ada siapapun yang lolos dari hukuman sekalipun Regita sudah menghilangkan saksi dan juga barang bukti.
Begitu Azelva dan Kellano turun dari mobil, tiba-tiba saja para wartawan mengepungnya. Entah darimana datangnya, namun pertanyaan yang dilontarkan para wartawan itu membuat Kellano bisa menebaknya.
"Jadi benar, Tuan Kellano ingin menceraikan Nyonya Regita karena orang ketiga?"
"Jadi wanita ini yang sudah membuat Tuan Kellano menceraikan Nyonya Regita?"
Masih banyak lagi pertanyaan yang mereka lontarkan pada Kellano dan Azelva. Namun, Kellano tidak marah ataupun geram, pria itu justru diam-diam tersenyum menertawakan kebodohan Regita.
Rupanya kamu ingin mempermalukan dirimu sendiri. Baguslah, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot mengadakan konferensi pers. Kamu sendiri yang akan memperlancar kehancuranmu, gumam Kellano dalam hati.
Dari kejauhan nampak Regita dan Ayahnya tersenyum puas menyaksikan Kellano dan Azelva terjebak diantara para wartawan. Mereka sengaja mengundang para wartawan untuk menyudutkan pihak Kellano. Regita tidak pernah sadar apa yang dilakukannya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Berani sekali Kamu datang ke sini, dasar wanita tidak tahu malu!" Umpat Regita.
Azelva dan Kellano sudah berhasil keluar dari kerumunan. Keduanya kini berdiri saling berhadapan dengan Regita yang berdiri angkuh di samping ayahnya. Sementara pengacaranya masing-masing sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang persidangan.
Azelva tidak menjawab perkataan Regita, karena sejak awal ia sudah menduga wanita itu pasti akan menghinanya dengan pertanyaan seperti itu.
"Kenapa tidak menjawab? Benar kan apa yang kukatakan? Kamu memang pelakor tidak tahu diri!"
Diamnya Azelva membuat Regita semakin gencar menghinanya. Wanita itu merasa dirinya sudah berada di atas angin.
"Jaga ucapanmu, Regita. Aku diam bukan karena mengiyakan perkataan mu. Aku diam karena menurutku tidak penting berbicara dengan orang gila seperti mu!"
Kellano diam-diam mengulum senyumnya, pria itu baru saja ingin membuka mulutnya, namun Azelva sudah lebih dulu membungkam mulut liar Regita.
Lihat saja, wajah Regita saat ini sudah tampak seperti habis memakan ribuan cabai.
"Kurang ajar! Kamu berani mengatai ku gila?" Regita sedikit berteriak, wanita itu tidak terima dengan ucapan Azelva.
"Kamu memang gila, berteriak gak jelas, playing victim, dan yang lebih parahnya lagi, Kamu ninggalin bayi Kamu yang baru lahir. Apa namanya kalau bukan wanita gak punya otak?"
"Kamu---"
Regita tidak melanjutkan ucapannya, karena pengacaranya sudah memintanya untuk masuk, mengingat sidang sebentar lagi akan dimulai.
To be continued