NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENYATAAN

Byuuuuur!

Segayung air tumpah begitu saja, menyiram tubuh Putra dari kepala hingga kaki. Tetes-tetes airnya menetes deras, merembes ke rambut, menetes di wajah, dan menempel di pakaian tidurnya yang kini basah kuyup. Hawa dingin air membuat bulu kuduk Putra meremang, hingga tubuhnya tersentak kaget.

“PUTRAAAAA! BANGUUUUUN!” Teriak wanita itu, Ratih Ibunya, suaranya terdengar panik penuh penekanan.

Mendadak, mata Putra melebar, tangannya terangkat seolah siap menariknya dari air yang masih menetes deras. Jantungnya berdegup kencang dan perlahan kesadarannya kembali menyelimuti dirinya.

"Mamaaaaaa! Bisa gak bangunin aku gak usah pakai air!" Protesnya.

“YA TERUS MAU PAKAI CARA APA?!” Teriak Ratih sambil menoyor kepala Putra berulang kali, suaranya tegas tapi penuh kemarahan. “Kamu lihat jam berapa sekarang!”

Mata Putra melebar, jantungnya berdebar saat menunjukkan jarum jam menempel ke arah angka tujuh kurang dua puluh menit. "Ya ampun, telat… kenapa nggak bangunin dari tadi si, Ma?!" Ucapnya panik.

Ratih menekuk tangan, menunjuk dengan tegas sambil melanjutkan, “Mama udah bangunin kamu tapi kamu nggak mau bangun-bangun! Kalau kamu buat mama capek… ikut bapakmu saja sana!”

Ratih mendengus sambil menoyor kepala Putra sekali lagi, "Di sana, kalau tinggal sama Ibu tiri kamu... setidaknya kamu bakal ngerti artinya disiplin.”

Mendengar ucapan Ratih, Putra membisu dengan tatapan santai, seolah sudah terbiasa oleh pernyataan itu. Tanpa sepatah kata pun, ia segera bergerak, langkahnya terburu-buru meninggalkan kamar, bukan karena ia sadar kalau ia akan terlambat lagi ke sekolah, melainkan ingin segera meninggalkan rumah, menjauh dari ocehan sang Ibu.

****

Kota sepagi ini telah berubah menjadi lautan kendaraan. Jalan-jalan utama dipenuhi mobil, motor, dan angkutan umum yang bergerak lambat, klakson bersahutan menambah kebisingan. Lampu lalu lintas seakan tak ada artinya, karena setiap ruas jalan penuh sesak, menunggu ritme macet yang tak berkesudahan kalau belum lewat jam siang nanti.

Dan ketika Putra berhasil menembus lautan kendaraan di jalan raya besar, ia menancapkan pedal gas motornya dengan tegas. Suara knalpot meraung, menggelegar di antara deru kendaraan lain, sementara asap tebal mengepul, membaur dengan polusi udara pagi yang sebenarnya masih segar.

Motor melaju lincah di antara mobil-mobil yang bergerak lambat, setiap kali ia menyalip, asap knalpotnya mengepul ke udara, menandai keberanian dan desperasinya untuk mengejar waktu.

Namun ketika Putra hendak berbelok ke persimpangan,

Beeeep!

Motor yang dikendarainya mendadak oleng, roda depan terpeleset di aspal yang sedikit licin. Tubuhnya kemudian tersungkur ke depan, hingga terasa panas ketika kulitnya menyentuh permukaan jalan yang keras.

Di depannya, sebuah mobil mendadak mengerem, bannya mengeluarkan suara gesekan nyaring. Putra menutup mata sejenak saat tubuhnya terguncang, debu dan serpihan kecil aspal beterbangan di udara. Sementara, suara klakson dan teriakan pengendara lain bersahutan di sekitarnya, menciptakan kekacauan sesaat sebelum akhirnya lalu lintas kembali bergerak perlahan.

Namun, pengendara mobil itu keluar, membuka pintu dengan terburu-buru. Ia menatap Putra dengan mata terkejut dan raut cemas, langkahnya kemudian cepat mendekat.

Putra masih terkejut, tubuhnya gemetar meski jatuhnya tidak parah. Bukan karena motor yang tergelincir, bukan karena debu dan panas aspal, tetapi karena pria yang berdiri di depannya—wajahnya tampak sangat familiar, seperti seseorang yang pernah ia lihat.

Dalam sekejap, ingatannya melesat ke sebuah foto di bingkai pernikahan Salma. Suami Salma. Wajah yang sama, raut serius yang menatapnya sekarang di tengah jalan, membuat jantung Putra berdetak lebih cepat.

Belum sempat ia menenangkan diri, seorang wanita muncul dari jok kemudi mobil, menatapnya dengan ekspresi separuh marah, separuh heran.

“Kamu itu kalau jalan lihat pakai mata!” Tegur pria itu, suaranya keras namun terkendali, matanya menyorot Putra seperti ingin menegur sekaligus mengingatkan. “Anak sekolah nggak pakai helm, nggak pakai jaket!”

Wanita di sampingnya menepuk lengan pria itu lembut, mencoba meredakan ketegangan. “Sayang, udahlah… kita juga yang salah... motong jalan persimpangan,” Katanya. Nada suaranya tenang, namun Putra bisa merasakan ketegangan terselubung di balik kata-katanya.

Sayang. Batin Putra kacau. Ada rasa terkejut, penasaran, dan sedikit jijik yang bercampur.

Detik itu, Putra benar-benar terkejut. Selama ini yang mungkin ada di pikiran Salma bahwa suaminya sedang dinas keluar kota, namun kenyataannya ia ada di sini, di depan matanya, bersama wanita lain.

Perlahan, Putra sadar, ada rahasia yang kini terbuka, menyayat rasa percaya dan keyakinan akan ketulusan hati seseorang yang dicintainya. Salma.

“Kakinya luka. Kita kasih uang aja, beres. Sebelum nanti ada polisi, masalah jadi tambah rumit." Kata wanita itu, menatap Putra dengan pandangan dingin tapi praktis, seolah menyudutkan tapi sekaligus menutup masalah.

Putra terdiam, rasa malu dan cemas bercampur. Ia menatap luka di kakinya yang mulai memerah, lalu menoleh ke pria di samping wanita itu—suami Salma—yang menatapnya tanpa berkata apa-apa. Kata-kata wanita itu membuat Putra semakin tersentak, merasa kecil di hadapan mereka, dan sekaligus bingung dengan situasi yang baru saja terjadi.

“Kamu benar, sayang,” Kata pria itu, suaranya tenang tapi penuh persetujuan, menegaskan kata-kata wanita di sampingnya. Matanya menatap Putra sebentar, lalu tanpa banyak basa-basi, ia merogoh sesuatu dari saku celananya.

Dompet hitam itu muncul, dan beberapa lembar uang ia lemparkan ke arah Putra. “Udah ya, kamu ke klinik aja. Kita anggap urusan ini selesai." Ucapnya dengan nada tegas dan dingin. "Lain kali pakai jaket, minimal helm kalau ngendarain motor!" Jelasnya. "Minggir, mobil saya mau lewat!"

Putra tertegun. Uang itu—seolah menghapus keberadaannya di situ, seolah semua yang baru saja terjadi bisa dibayar dan dilupakan. Ia lalu menunduk, mengambil uang itu dengan tangan gemetar, sambil menahan rasa sakit di kakinya dan rasa terkejut yang belum surut.

Begitu mereka kembali masuk ke dalam mobil, Putra bersama motornya segera menepi. Tangan dan lututnya masih terasa perih, tapi dorongan untuk bangkit lebih kuat daripada rasa sakitnya. Tak lama kemudian, mesin mobil itu menyala hingga akhirnya melesat pergi, meninggalkan jejak debu dan asap knalpot yang perlahan menyebar di udara pagi.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!