NovelToon NovelToon
Between Kook & V

Between Kook & V

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / BXB / Teen School/College / Diam-Diam Cinta
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Axeira

Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.

Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 RIVAL WITH CRUSH

Hari itu dimulai seperti biasa... sampai Bu Kim, guru Sejarah yang terkenal no mercy, berdiri di depan kelas dan berkata satu kalimat yang mengguncang dunia:

“Hari ini, saya akan bentuk kelompok acak untuk proyek sejarah. Tidak boleh memilih sendiri. Dan... dua kelas digabung.”

Dua kelas. Tiga kata. Satu neraka.

Semua langsung menoleh ke arah Geng Jungkook dan Geng Taehyung yang duduk di pojok masing-masing ruangan.

“Please jangan bareng dia, please jangan bareng dia...”

Doa Yoongi sambil menunduk. Tapi takdir berkata lain.

“Yoongi dan Jimin, kelompok satu.”

Yoongi menatap langit-langit. “Tuhan, aku minta dijauhkan dari kesulitan, bukan dikasih langsung.”

Jimin menepuk tangannya. “Santai. Gue udah siapin outline proyeknya. Tinggal lo nggak usah ngotot salahin semua ide gue.”

Yoongi menghela napas. “Lo bisa nggak ngomong tanpa ngegas?”

Jimin nyengir. “Bisa. Kalau lo bisa mikir tanpa pesimis.”

Sementara itu...

“Namjoon dan Seokjin, kelompok dua.”

Namjoon langsung berkeringat. Seokjin menoleh dan tersenyum. “Wah, ini takdir.”

“Lebih kayak kutukan,” gumam Namjoon.

Seokjin mengeluarkan ponsel dan langsung selfie berdua. “Ayo senyum dulu. Dokumentasi awal kerja tim kita.”

Namjoon nyengir kaku, lebih seperti ditodong kamera CCTV.

Dan yang paling bikin seluruh kelas meledak tepuk tangan:

“Jungkook dan Taehyung, kelompok tiga.”

Taehyung menjatuhkan pensilnya. Jungkook menoleh pelan, dengan ekspresi: Apakah aku masih hidup atau sudah masuk dunia simulasi?

Mereka duduk satu meja. Suasana... super canggung.

Taehyung mencoba memecah es.

“Lo suka sejarah?”

Jungkook mengangguk. “Lumayan. Asal bukan sejarah kita.”

Taehyung menahan tawa. “Sarkas lo makin tajam ya. Gue suka.”

Sementara mereka saling menatap bingung siapa yang harus mulai duluan, Lisa tiba-tiba datang menghampiri Hoseok—yang berkelompok dengan murid biasa bernama Jaehyun (yang terlihat kecil dan takut lihat Lisa datang).

“Hobiii~” Lisa duduk di kursi belakang Hoseok. “Mau aku bawain kopi? Atau snack? Atau... cinta?”

Jaehyun menoleh cepat. “Saya bisa keluar, kok.”

Hoseok buru-buru geleng. “Enggak! Maksudnya... kita kerja kelompok serius ya, Jaehyun.”

Lisa cemberut. “Hmm... Jimin aja ngerti kode. Kamu enggak ya?”

Jimin di kejauhan langsung tersedak air mineral.

Selama 40 menit berikutnya, kekacauan terjadi:

• Yoongi dan Jimin debat soal urutan peristiwa sejarah, dan ujung-ujungnya ngomongin siapa yang paling drama.

• Namjoon mencoba jelaskan konsep peta kolonial, tapi Seokjin sibuk ngedit fotonya jadi ala film kerajaan.

• Jungkook dan Taehyung cuma berhasil nulis satu kalimat, karena sisanya mereka sibuk saling curi-curi pandang (dan pura-pura enggak).

Tapi sebelum bel pulang berbunyi, Jungkook membuka buku catatannya… dan menemukan tulisan kecil di sudut halaman:

“Serius itu keren, tapi senyum malu-malu itu... lebih membunuh. 😉”

Jungkook langsung noleh ke Taehyung. Tapi Taehyung cuma menatap papan tulis... sambil tersenyum sedikit.

Kecurigaan Jungkook semakin kuat.

Apa mungkin... dia?

___

Hari itu, suasana sekolah mendadak seperti drama remaja ala Korea Selatan. Langit cerah. Angin sepoi. Dan kabar gosip menyebar cepat seperti Wi-Fi: “Lisa mau confess ke Hoseok hari ini!”

Lapangan belakang sekolah

Lisa berdiri dengan penuh gaya. Rambut tergerai, pita pink, dan bunga mawar kecil di tangan. Di depannya: Jung Hoseok, si cowok yang bahkan matahari pun iri lihat senyumnya.

Hoseok, tentu saja, terlihat bingung sekaligus panik.

“Lisa? Kamu kenapa bawa bunga?”

Beberapa murid sudah diam-diam nonton dari kejauhan—termasuk geng masing-masing.

Lisa menarik napas, lalu dengan suara lantang berkata:

“Hoseok! Aku suka kamu!”

Hening.

Burung pun kayaknya berhenti terbang.

Hoseok membeku, mata membulat. “Eh... Lisa... aku...”

Tapi Lisa belum selesai. Dia melanjutkan, dengan volume lebih tinggi—ya, biar semua orang denger.

“Kamu perhatian, ceria, dan senyum kamu bikin hari siapa pun jadi lebih baik! Kamu bikin aku deg-degan dari pertama kita ngobrol di festival sekolah!”

Jimin menjatuhkan botol airnya. Kena kaki sendiri. Refleks, dia menjerit, “Ow!”

Lisa melirik sekilas, lalu tersenyum sinis.

“Dan aku tahu... ada yang nggak suka aku confess. Tapi daripada nunggu cowok ini disambar cewek lain, mending aku duluan, kan?”

Jimin mengepal tangan. “Dia bukan barang rebutan.”

Lisa tersenyum manis, tapi tatapannya menusuk. “Tapi dia juga bukan punya kamu, Minie.”

Taehyung dan Jungkook di kejauhan menahan napas. Bahkan Yoongi berhenti main game-nya.

Setelah kejadian

Hoseok akhirnya berhasil kabur dari situasi awkward itu, pura-pura ada latihan tari. Lisa cuma tersenyum puas. Dia tahu satu hal:

"Kalau bukan pacar, minimal aku bikin sainganku panik duluan."

Di sisi lain, Jimin masuk ke ruang musik dengan ekspresi murung.

Yoongi sedang main piano di pojok ruangan. Dia menoleh, melihat Jimin melempar tas dengan keras ke sofa.

“Diterima?” tanya Yoongi pelan.

“Bukan urusan lo,” sahut Jimin. Tapi nadanya terlalu pelan untuk disebut marah.

Yoongi mendekat, duduk di kursi sebelah.

“Lo suka dia, kan?”

Jimin tidak menjawab.

“Dan lo kesel karena dia nggak lihat itu.”

Jimin menggigit bibirnya. “Gue nggak suka dikalahin. Apalagi... sama cewek yang ngerasa bisa dapat apa aja.”

Yoongi menatapnya dalam.

“Kalau dia tahu yang lo rasain, mungkin dia bakal milih lo.”

Jimin mendongak cepat. “Lo ngomong kayak... lo tahu rasa itu.”

Yoongi mengangkat bahu, lalu kembali main piano.

Nada-nada lembut memenuhi ruang musik, dan untuk sesaat, Jimin lupa marah.

📩 Sementara itu...

Jungkook kembali menemukan kertas kecil dalam bukunya.

“Terkadang, hal paling berani bukan nyatain perasaan... tapi berani berharap.”

Dan kali ini, tulisan itu diselipkan di halaman buku Sejarah, tepat di topik yang dia dan Taehyung bahas waktu kerja kelompok.

Jungkook menatap halaman itu lama, lalu menatap ke arah luar jendela, tempat Taehyung sedang duduk di taman, menggambar di buku sketsanya.

Hatinya berdegup. Curiga? Iya. Siap? Belum tentu.

1
elleaa_
kapan lanjut lagi kakkk? aku menunguuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!