Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Perpustakaan dan Bayangan Tua
Kembali ke Sekte Azure Cloud, Kaelen menemukan dirinya mendapat sedikit reputasi. Kisah tentang "murid luar beruntung" yang membantu Senior Lin Xia melawan penjaga formasi menyebar, meski versinya dibesar-besarkan dan disalahartikan. Beberapa murid memandangnya dengan rasa hormat yang baru, sementara yang lain, seperti Arlan, semakin benci.
Imbalan poin kontribusi dari misi memberinya kesempatan untuk mengakses lantai dua perpustakaan, di mana manual tingkat menengah dan catatan penelitian disimpan. Inilah yang dia tunggu-tunggu.
Lantai dua lebih sepi, diisi oleh murid inti dan beberapa murid luar berbakat. Udara berbau kayu tua dan kertas, dan formasi penerangan lembut menerangi lorong-lorong. Kaelen langsung menuju bagian "Fenomena Alam Langka dan Arsitektur Kuno".
Di sini, di antara gulungan tentang formasi gunung berapi dan energi geomansi, dia menemukan sebuah jurnal usang berjudul "Pengamatan Celah Langit di Punggung Naga" oleh seorang penjelajah bernama Alaric, yang mengaku sebagai anggota sekte dua ratus tahun yang lalu.
Jurnal itu rinci. Alaric menggambarkan perjalanannya ke Gunung Naga Tidur, rintangan yang dihadapi—beast es raksasa, badai energi yang tidak stabil, ilusi alam—dan akhirnya tiba di sebuah lembah tersembunyi di puncak tertinggi. Di sana, dia menyaksikan "langit terkoyak", sebuah celah ungu dan emas yang memancarkan energi dari dunia lain. Dia bahkan mencoba mendekati, tetapi diserang oleh "penjaga tanpa wujud" yang hampir menghabiskan nyawanya. Dia melarikan diri, tetapi membuat sketsa peta lembah dan mencatat siklus: "Celah itu berdeny-deny seperti jantung, dan denyutnya mencapai puncak setiap 99 tahun menurut kalender bintang kita, saat bulan kembar merah sejajar di puncak langit malam."
Itu konfirmasi! Dan waktunya hampir sama dengan perkiraan Lio.
Tapi ada lebih banyak. Alaric mencurigai bahwa celah itu bukan fenomena alam murni. Dia menemukan prasasti batu di sekitar lembah, ditulis dalam bahasa kuno yang dia sebut "Bahasa Para Penjaga Langit". Prasasti itu memperingatkan tentang "Bahaya dari Luar" dan menyebutkan "Kunci Jiwa Terpecah" yang bisa menstabilkan celah. Kaelen gemetar. Kunci Jiwa Terpecah—itu pasti merujuk pada fragmen Jiwa Primordial seperti dirinya!
Apakah fragmen-fragmen itu bukan hanya bagian dari dirinya, tetapi juga kunci untuk sesuatu yang lebih besar? Mungkin untuk menstabilkan Portal Celestial, atau bahkan menutupnya?
Dia dengan hati-hati menyalin peta dan catatan Alaric ke dalam memorinya. Dia juga menemukan bahwa Alaric menyimpan artefak yang ditemukannya—sebuah medali logam dengan simbol matahari terbit—di "Ruang Peninggalan Sekte, Rak 7, Nomor 23". Itu mungkin berguna.
Kaelen sedang asyik membaca ketika merasakan kehadiran di belakangnya. Dia menoleh dan melihat seorang pria tua berjubah abu-abu kotor, dengan rambut putih acak-acakan dan mata keruh, berdiri di sana, seolah-olah mengambang. Pria tua itu adalah penjaga perpustakaan lantai dua, yang dikenal sebagai Tua Chen, seorang lelaki eksentrik yang jarang berbicara dan dianggap setengah gila oleh banyak murid.
"Baca-baca tentang celah langit, ya?" suara Tua Chen parau, seperti daun kering. "Banyak yang penasaran. Banyak yang mati."
Kaelen membungkuk. "Saya hanya tertarik pada fenomena alam, Tua Chen."
"Fenomena alam?" Tua Chen terkekeh. "Itu bukan fenomena alam, anak muda. Itu adalah luka. Luka di tubuh dunia kita. Dan luka menarik lalat." Dia mendekat, bau tua dan debu menyengat. Matanya yang keruh tiba-tiba tampak tajam sejenak. "Kau bukan lalat. Kau lebih seperti... lebah madu. Tertarik pada nektar yang sama, tapi mungkin dengan tujuan berbeda."
Kaelen berhati-hati. "Apa maksud Tua Chen?"
"Pemburu," bisik pria tua itu, membuat Kaelen kaku. "Mereka mencari celah itu juga. Mereka mencari sesuatu yang jatuh dari dalamnya, atau sesuatu yang bisa masuk ke dalamnya. Mereka telah mengintai sekte ini selama beberapa waktu. Wanita bermata ungu itu juga mencurigai, tapi dia tidak tahu keseluruhan ceritanya."
"Tua Chen... bagaimana Tua Chen tahu tentang ini?"
Tua Chen tersenyum, menunjukkan gigi kekuningan. "Aku sudah tua. Aku telah menjaga buku-buku ini lebih lama dari kebanyakan orang hidup. Aku membaca yang tidak tertulis. Aku melihat bayangan di antara baris-baris." Dia menunjuk jurnal Alaric. "Dia, Alaric, adalah muridku dulu. Dia memberiku medali itu untuk disimpan, karena dia tidak percaya pada orang lain."
Kaelen terkejut. Tua Chen adalah guru Alaric? Itu berarti dia berusia setidaknya dua ratus tahun, sebuah pencapaian kultivasi yang luar biasa yang menunjukkan kekuatan tersembunyi.
"Apakah Tua Chen akan menghentikan saya?" tanya Kaelen.
"Menghentikanmu? Dari apa? Mencari kebenaran? Mencari bagian dari dirimu sendiri?" Tua Chen menggeleng. "Tidak. Tapi aku akan memperingatkanmu. Pemburu itu kuat. Mereka berasal dari organisasi bernama 'Ordo Penghapusan'. Mereka percaya bahwa Jiwa Primordial adalah kanker dalam kain realitas, kesalahan yang harus dihapuskan. Mereka telah memburu fragmen-fragmen seperti dirimu selama ribuan tahun, memusnahkannya atau mengurungnya. Dan mereka memiliki cara untuk melacakmu, terutama saat kamu menggunakan kekuatanmu atau saat fragmen lain dibersihkan."
Itu menjelaskan parasit di Batu Langit—itu adalah alat pelacak sekaligus racun.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Kaelen.
"Pertama, sembunyikan dirimu lebih dalam. Kedua, tumbuh kuat. Ketiga, temukan sekutu. Kau tidak bisa melakukan ini sendiri." Tua Chen mengeluarkan kunci kecil dari jubahnya. "Ruang Peninggalan. Rak 7, Nomor 23. Ambil medali itu. Itu bukan hanya artefak; itu adalah kunci untuk membuka segel di lembah. Tapi hati-hati, itu juga akan menarik perhatian."
"Kenapa Tua Chen membantu saya?"
"Karena aku bosan," kata Tua Chen sambil menguap. "Dan karena dunia ini perlu sedikit kekacauan untuk menghindari kebosanan. Juga, karena Ordo itu menyebalkan. Mereka ingin menghapus semua keanehan, semua keajaiban. Aku lebih suka dunia yang penuh dengan hal-hal aneh." Dengan itu, dia berbalik dan berjalan pergi, menghilang di antara rak-rak buku.
Kaelen berdiri terpaku. Sekutu yang tidak terduga. Dia pergi ke Ruang Peninggalan, sebuah ruangan kecil dengan relik yang dikatalogkan. Dengan kunci Tua Chen, dia membuka kotak nomor 23. Di dalamnya, di atas kain beludru, terbaring sebuah medali perunggu dengan simbol matahari terbit yang diukir di satu sisi, dan pola bintang aneh di sisi lainnya. Saat disentuh, medali itu terhangat, dan dia merasakan resonansi yang samar dengan dirinya sendiri. Ini pasti mengandung sepotong kecil logam dari dunia lain, atau diresapi dengan energi fragmen.
Dia menyembunyikannya dengan aman di dalam pakaiannya.
Hari-hari berikutnya, Kaelen fokus pada kultivasi. Dengan poin kontribusi, dia menukar beberapa pil Qi Gathering tingkat menengah dan manual tentang teknik penyembunyian. Dia juga mulai secara diam-diam melatih kemampuan barunya: memanipulasi Hukum Ruang dalam skala mikro, menciptakan kantong kecil ruang yang terdistorsi untuk menyembunyikan benda atau bahkan menyamarkan aura dirinya. Dia menyebutnya Saku Bayangan.
Namun, bahaya semakin dekat. Suatu malam, saat dia bermeditasi di kamarnya, Mata Penjaga tiba-tiba menjadi panas membara. Dia membuka mata dan melihat bayangan hitam merayap di bawah pintu, berubah bentuk seperti asap. Pemburu! Mereka menemukan caranya masuk ke sekte?
Kaelen tidak bergerak, menggunakan teknik penyembunyian barunya untuk menekan semua aura dan keberadaannya. Bayangan itu merayap di lantai, berputar-putar, sepertinya bingung. Kemudian, sebuah bisikan seperti logam berderit terdengar, "Dia di sini... tapi tersembunyi..."
Tiba-tiba, sebuah segel cahaya muncul di langit-langit kamar, memancarkan gelombang pemurnian. Teriakan kesakitan yang teredam terdengar, dan bayangan itu menghilang. Beberapa detik kemudian, ada ketukan di pintu. Itu adalah Lin Xia, dengan wajah serius.
"Buka. Aku tahu kau masih bangun."
Kaelen membuka pintu. Lin Xia masuk, matanya menyapu kamar. "Ada penyusup spiritual. Penjaga formasi sekte mendeteksi infiltrasi tapi tidak bisa menangkapnya. Itu menuju ke arahmu." Dia menatap Kaelen. "Siapa yang mengincarmu, Kaelen? Dan mengapa?"
Kaelen memutuskan untuk memberikan sedikit kebenaran. "Saya tidak yakin, Senior. Tapi sejak misi di hutan, saya merasa diawasi. Mungkin terkait dengan formasi rusak itu."
Lin Xia mengangguk, tidak sepenuhnya percaya. "Formasi itu tua dan mengandung energi yang tidak dikenal. Mungkin kamu secara tidak sengaja membawa jejaknya. Apapun itu, kamu dalam bahaya. Sebagai murid di bawah pengawasanku sementara, aku akan menempatkan formasi pelindung di kamarmu. Tapi ini hanya sementara. Kamu harus meningkatkan kekuatanmu dan mencari perlindungan yang lebih permanen."
Dia mengeluarkan beberapa bendera dan menempatkannya di sudut-sudut ruangan. "Ini akan memberi peringatan jika ada upaya spiritual lagi. Dan," dia menatapnya, "besok, laporkan ke Menara Formasi. Aku punya tugas untukmu—sebuah proyek penelitian tentang formasi ruang. Kamu menunjukkan insting yang baik di hutan. Mungkin kamu bisa berguna. Dan di menara, kamu akan lebih aman."
Ini adalah perkembangan yang tak terduga. Masuk ke Menara Formasi berarti dekat dengan Lin Xia dan sumber daya formasi sekte, tapi juga berarti pengawasan yang lebih ketat. Tapi di sisi lain, itu bisa memberikan perlindungan dari Pemburu dan akses ke pengetahuan tentang portal.
"Terima kasih, Senior," kata Kaelen.
Setelah Lin Xia pergi, Kaelen merenung. Dia sekarang memiliki beberapa sekutu potensial: Lio di marga, Tua Chen di perpustakaan, dan sekarang Lin Xia, meski dengan motif yang tidak jelas. Dia juga memiliki musuh: Arlan, Ordo Penghapusan (Pemburu), dan mungkin bahaya lain yang belum diketahuinya.
Dia mengeluarkan medali Alaric, memegangnya erat. Peta di pikirannya jelas. Dia harus mencapai Gunung Naga Tidur dalam waktu delapan puluh hari lebih, melewati bahaya beast dan cuaca, menemukan lembah tersembunyi, dan menggunakan medali ini untuk membuka segel. Dan dia harus melakukan semua ini sambil menghindari Pemburu dan mungkin mengungkap rahasia dirinya.
Itu adalah tugas yang hampir mustahil bagi murid luar level Qi Gathering. Tapi Kaelen bukan murid biasa. Dia adalah fragmen Jiwa Primordial dengan memori dan pemahaman tak terbatas, meski terkunci. Dia harus membuka kunci lebih banyak lagi, dan untuk itu, dia membutuhkan tekanan dan pencarian.
Dia menatap keluar jendela, ke arah Menara Formasi yang menjulang tinggi, puncaknya bersinar dengan cahaya formasi. Besok, babak baru akan dimulai. Dia akan memasuki jantung Sekte Azure Cloud, dan di sana, dia akan menemukan jawaban atau menemui ajalnya.
Tapi satu hal yang pasti: dia tidak akan berhenti. Panggilan fragmen-fragmennya, kerinduan untuk menjadi utuh, terlalu kuat untuk diabaikan. Rimba Tak Berhingga menunggu, dan dia akan menjelajahinya, satu langkah berbahaya pada satu waktu.