Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Detail kecil yang terlewatkan
Malam semakin larut, keheningan menutup ruangan seolah waktu berhenti hanya untuk mereka. Sesekali bunyi pulpen yang menggores kertas terdengar, ritmenya konstan, sementara hembusan napas Katrina dan Olivia yang tertidur di samping meja menambah nuansa hening yang nyaris rapuh.
Victoria menopang dagunya, matanya penuh rasa ingin tahu, menatap sosok di depannya yang tak kunjung berhenti menulis. Raut wajahnya menunjukkan kebosanan, tetapi sorot matanya justru semakin menyimpan banyak pertanyaan.
“Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan, sampai segila itu?” ucapnya tiba-tiba, nada suaranya ringan namun menohok.
Asisten Alexander hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk pada catatannya. “Tugas kami bukan sesuatu yang bisa dibicarakan. Lebih baik kau tak tahu.” Suaranya tenang, seakan berusaha menutup pintu percakapan.
“Tch pelit!!” Victoria mendesah pelan, tubuhnya merosot hingga kepalanya jatuh di atas meja. “Kenapa semua orang terus bersikap aneh setelah dokter Mily meninggal?” katanya, kali ini terdengar lebih lirih.
Perkataan itu langsung membuat gerakan tangan pria itu terhenti sesaat. Ia menegakkan tubuh, menatap Victoria dengan dahi berkerut.
“Aneh? Apa maksudmu?” tanyanya serius.
Dengan mata setengah terpejam, Victoria menggeser rambut panjang yang menutupi wajahnya. Tatapannya tajam meski terlihat mengantuk. “Mereka seperti dilarang menyebut nama itu, dan orang-orang yang pernah dekat dengan dokter Mily… mereka menjauh, seakan menghapus semua jejak.”
Keheningan merambat lagi. Asisten itu tak berkata apa-apa, hanya mencatat cepat, namun pikirannya jelas terguncang. Kalimat Victoria seperti celah kecil yang membocorkan rahasia besar.
“Bagaimana kau bisa tahu hal semacam itu?” suaranya terdengar lebih dalam, penuh kehati-hatian.
Victoria tersenyum samar, matanya mulai menutup. “Karena jawaban sering bersembunyi di balik hal-hal yang dianggap tak penting. Hanya mereka yang memperhatikan detail kecil yang bisa melihat celahnya.”
Suaranya meredup hingga akhirnya lenyap bersama napas tenangnya. Gadis itu terlelap, meninggalkan pria itu sendirian dalam gelombang pikirannya. Jemarinya menggenggam pena lebih erat, menuliskan kata-kata itu berulang kali. Ia tahu, ucapan sederhana barusan bisa menjadi kunci, sesuatu yang mungkin selama ini ia abaikan.
Namun yang lebih mengganggunya, adalah rasa bahwa Victoria melihat lebih banyak dari yang ia perlihatkan.
Namun… kalimat itu terus berputar di kepalanya, bergema seperti bisikan yang tak mau pergi. Sang asisten menggenggam pulpen dengan gelisah, jantungnya berdegup lebih cepat seolah tubuhnya sendiri menolak untuk diam. Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu merogoh sakunya dengan terburu. Dari sana, ponselnya dikeluarkan, jari-jarinya bergerak cepat di atas layar.
“Tuan Reed, kita lakukan penyelidikan ulang—”
Pesan itu baru separuh jalan ketika ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk, lebih dulu daripada niatnya mengirim. Dari nama pengirim saja, tubuhnya langsung menegang. Alexander.
“Temui aku di ruang CCTV.”
Hanya satu kalimat, tetapi cukup untuk membuatnya berdiri begitu saja. Tanpa pikir panjang ia segera membereskan buku catatan, menyelipkan pena ke saku, lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan.
Derap sepatunya terdengar jelas di lorong rumah sakit yang kini sunyi, seperti gaung yang menemani dirinya seorang. Setiap langkah menambah rasa waswas, seolah sesuatu menunggunya di ujung perjalanan.
Ketika pintu ruang CCTV terbuka, bau khas ruangan penuh mesin langsung menyambutnya. Cahaya layar monitor memantul di dinding, menciptakan bayangan bergerak yang terasa hidup.
Di dalam hanya ada satu sosok, Alexander duduk tegak di kursi petugas, wajahnya serius diterangi cahaya monitor. Tangannya sibuk memutar ulang rekaman demi rekaman, sorot matanya terpaku seolah mencari sesuatu yang hilang.
“T-Tuan…” panggil asisten itu dengan suara hampir berbisik. Rasa ragu menyelusup di dadanya. “Anda sendirian?”
Alexander tidak menoleh, hanya menggeser sebuah buku catatan ke arahnya. “Ini beberapa catatan yang sudah kupilah. Cocokkan dengan data yang biasa beredar di publik.” Suaranya datar, tetapi tegas.
Asisten itu mendekat, menarik kursi, lalu membuka lembar demi lembar buku itu. Tangannya mulai sibuk dengan laptop, memadukan catatan yang diberikan Alexander dengan informasi di media sosial, artikel, dan data resmi. Namun, saat matanya menelusuri tulisan itu, sesuatu membuatnya berhenti.
“Tuan… apa Anda tidak salah tulis?” suaranya pelan, namun terdengar tegang. “Dokter Mily… di sini Anda tulis dia seorang psikolog. Padahal di semua artikel disebutkan, dia seorang ahli bedah.”
Alexander tak menoleh, hanya menjawab lirih, “Itulah yang sedang kucari tahu.”
Asisten itu mengangkat wajah, menatap layar monitor tepat saat Alexander menghentikan salah satu rekaman. “Lihat,” ucapnya sambil menunjuk ke arah layar. “Rekaman ini, tepat pukul 00:20. Dokter Mily keluar dari sebuah ruangan. Dan nama ruangan itu… konsultasi psikologis.”
Sekilas, rasa dingin merambat di tubuh asisten itu. Ia segera memperhatikan rekaman lain yang diputar Alexander. Malam demi malam, pada jam yang sama, dokter Mily selalu keluar dari ruangan yang sama. Rutinitas yang seolah sengaja disembunyikan.
“Ini… tidak masuk akal…” gumamnya. “Jika benar begitu, maka semua yang diberitakan selama ini… salah besar.”
Alexander hanya menatap layar, jemarinya mengetuk pelan meja, matanya menyusuri detail kecil di rekaman, ekspresi dokter Mily, cara ia menoleh, hingga bayangan samar yang kadang tertangkap di kaca.
Asisten itu akhirnya menoleh, wajahnya dipenuhi kebingungan. “Tuan… apa Victoria menemui Anda hari ini? Bagaimana Anda bisa menemukan detail sekecil ini?”
Alexander menoleh untuk pertama kalinya, tatapannya menusuk. “Victoria? Untuk apa dia menemuiku?”
Kebingungan semakin dalam. “Tidak… hanya saja… apa yang Anda lakukan sekarang, itu persis seperti yang dia katakan padaku..”
Tatapan Alexander menegang. Ia terdiam, keningnya berkerut. Bagaimana mungkin gadis itu mengetahui celah yang bahkan luput dari penyelidikan mereka? Selama ini hanya ia dan asistennya yang memegang kendali, tak ada orang luar yang seharusnya tahu.
“Apa yang dia katakan padamu?” tanyanya, suaranya lebih rendah, nyaris seperti desakan.
Asisten menelan ludah, lalu mengulang lirih, “Bahwa jawaban selalu tersembunyi pada detail kecil yang diabaikan, lalu bagaimana anda tahu..”
Ruangan itu mendadak lebih sunyi dari sebelumnya. Suara mesin monitor pun terasa jauh. Alexander menatap kembali layar rekaman dengan sorot mata tajam, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya.
“Aku hanya teringat pada satu hal, pengakuan petugas cleaning service. “Bukan aku yang membunuhnya.” Kalimatnya membuatku merasa janggal. Tubuh dokter Mily ditemukan di area rumah sakit. Jika benar, maka kemungkinan besar seluruh aksi itu juga terekam.”
Alexander bersandar ke kursi, menghela napas dalam-dalam, namun matanya tak lepas dari monitor. Perlahan, sebuah kesimpulan mulai terbentuk.
Dan semakin ia menatap layar itu, semakin ia merasa bahwa kebenaran bukan hanya disembunyikan… tapi sengaja diputarbalikkan.