NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: DI BALIK LUKISAN YANG MENANGIS

Jantung Arunika terasa seperti hendak melompat keluar dari dadanya. Tangan Adrian masih mencengkeram dagunya, sementara mata pria itu menatap tajam ke arah saku gaunnya. Kertas dari sosok misterius berinisial "E" itu terasa seberat timah di dalam sana.

"Aku bertanya, Arunika," suara Adrian merendah, getaran baritonnya mengirimkan gelombang ketakutan ke seluruh saraf Arunika. "Apa yang sedang kamu sembunyikan?"

"Hanya... hanya pembatas buku, Adrian. Aku tadi di perpustakaan dan menemukannya," bohong Arunika. Suaranya bergetar hebat, sebuah tanda yang sangat mudah dibaca oleh pria secerdas Adrian.

Adrian tidak melepaskan cengkeramannya. Alih-alih, dia menggerakkan tangannya yang lain ke arah saku Arunika. Gerakannya lambat, sengaja untuk menyiksa mental istrinya. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh kain gaun itu, ponsel di saku jas Adrian bergetar.

Adrian berhenti. Ia mengeluarkan ponselnya, melirik layar, lalu mendengus sinis. Ia melepaskan dagu Arunika dengan sentakan kecil yang membuat kepala wanita itu terayun.

"Simpan pembatas bukumu. Aku ada urusan di ruang kerja. Jangan keluar dari kamar sampai aku memanggilmu. Aturan Nomor 4, ingat?" ucap Adrian dingin. Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Arunika ambruk ke lantai marmer begitu sosok Adrian menghilang di balik pintu besar ruang kerjanya. Ia meraup udara sebanyak-banyaknya. Tangannya meraba saku, memastikan kertas itu masih ada.

"E... siapa kamu?" bisiknya lirih.

Sesuai perintah, Arunika mengurung diri di kamar. Namun, rasa penasaran dan ketakutannya berperang hebat. Ia teringat isi pesan itu: Cari kunci di balik lukisan wanita menangis di lantai dua.

Arunika tahu lukisan itu. Ia melihatnya saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Sebuah lukisan minyak kuno yang menggambarkan seorang wanita berkerudung hitam dengan air mata yang tampak sangat nyata. Lukisan itu tergantung di lorong sunyi menuju balkon barat, area yang jarang dilewati pelayan.

Ia melirik ke arah kamera CCTV di sudut plafon. Adrian sedang sibuk, kan? pikirnya nekat.

Dengan langkah yang diusahakan setenang mungkin, Arunika keluar dari kamar. Ia berjalan menempel ke dinding, berusaha menghindari sudut pandang kamera yang ia tahu titik butanya. Debaran jantungnya kian kencang saat ia sampai di depan lukisan wanita menangis itu.

Wajah wanita di lukisan itu tampak sangat sedih, seolah-olah dia bisa merasakan penderitaan Arunika. Dengan tangan gemetar, Arunika meraba bingkai emas lukisan tersebut. Di bagian belakang bawah, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.

Sebuah kunci logam kecil dengan ukiran bunga lili.

"Dapat," bisik Arunika.

"Menemukan sesuatu yang menarik, Sayang?"

Suara itu muncul entah dari mana. Arunika terlonjak dan hampir menjatuhkan kunci tersebut. Ia berbalik dan mendapati Adrian sedang berdiri di ujung lorong, bersandar pada pilar dengan tangan bersedekap. Di wajahnya terpampang senyum yang sangat manis—senyum "Malaikat"-nya—namun tatapan matanya sedingin es.

Arunika menyembunyikan tangannya di balik punggung. "A-Adrian? Aku pikir kamu masih di ruang kerja."

Adrian berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya yang mengilat di atas lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian. "Ruang kerjaku membosankan. Dan aku menyadari, istriku sedang melakukan tur keliling rumah tanpa izin. Melanggar Aturan Nomor 1, hm?"

Adrian kini berdiri tepat di depan Arunika. Ia jauh lebih tinggi, membuat Arunika merasa seperti mangsa yang terpojok di bawah bayang-bayang predator.

"Apa yang ada di tanganmu?" tanya Adrian lembut. Terlalu lembut.

"Tidak ada. Aku hanya... aku hanya mengagumi lukisan ini," jawab Arunika dengan air mata yang mulai menggenang.

Adrian menghela napas panjang, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang nakal. Tiba-tiba, ia mencengkeram tangan Arunika yang bersembunyi di balik punggung dan memaksanya terbuka.

Kunci kecil itu jatuh ke lantai dengan suara denting yang nyaring.

Hening sejenak. Suasana di lorong itu mendadak menjadi sangat mencekam hingga suhu udara seolah turun drastis.

Adrian menatap kunci itu, lalu kembali menatap Arunika. Senyum manisnya menghilang, digantikan oleh ekspresi datar yang tanpa nyawa. "Kunci gudang lama. Jadi, koleksi sebelumnya meninggalkan 'harta karun' untukmu, ya?"

"Koleksi sebelumnya?" suara Arunika mencicit. "Apa maksudmu, Adrian? Siapa Elena?"

Mendengar nama itu, rahang Adrian mengeras. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu tiba-tiba ia tertawa. Tawa yang kering dan tidak mengandung humor sedikit pun.

"Elena adalah wanita yang tidak tahu cara bersyukur, sama sepertimu," ucap Adrian. Ia memungut kunci itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Dia pikir dia bisa lari dari penjara yang kubangun dengan cinta. Dan kau tahu di mana dia sekarang?"

Adrian mendekatkan wajahnya ke telinga Arunika, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh tubuh Arunika membeku.

"Dia ada di bawah kaki kita, Arunika. Menjadi bagian dari fondasi rumah ini. Kau ingin bertemu dengannya?"

Arunika ternganga, tubuhnya lemas hingga ia harus berpegangan pada bingkai lukisan agar tidak jatuh. "Kamu... kamu membunuhnya?"

Adrian hanya tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Arunika dengan ibu jarinya, menghapus satu tetes air mata yang jatuh. "Aku tidak membunuh orang yang patuh, Sayang. Aku hanya menyingkirkan barang yang sudah rusak."

Adrian tiba-tiba merangkul pinggang Arunika dengan sangat kuat, memaksa wanita itu berjalan bersamanya menuju kamar.

"Karena kau sudah mencoba mencari tahu rahasia yang bukan urusanmu, malam ini kau butuh pengingat tentang siapa tuanmu di sini. Aturan Nomor 100: Kata-kataku adalah hukum, dan keingintahuanku adalah maut bagimu."

Sesampainya di kamar, Adrian mendorong Arunika ke atas tempat tidur. Pria itu tidak langsung menyerangnya, melainkan berjalan menuju lemari kecil di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah alat monitor.

"Lihat ini," Adrian menunjukkan layar monitor itu pada Arunika. Di sana terlihat sebuah rekaman CCTV yang menunjukkan sebuah gudang gelap. Di sudut gudang itu, ada sebuah peti kayu besar yang dirantai.

"Itu adalah peti koleksiku. Jika besok pagi kau tidak bisa menjadi istri yang sempurna—tersenyum saat sarapan, tidak bertanya tentang masa lalu, dan melayaniku tanpa protes—maka aku akan mengirimkan foto peti itu kepada ayahmu dengan pesan bahwa kau akan segera menyusul penghuninya."

Arunika hanya bisa meringkuk, memeluk lututnya sambil terisak. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya menikahi seorang pria kaya yang dingin, tapi ia telah menyerahkan hidupnya pada seorang monster yang menganggap nyawa manusia tak lebih dari sekadar pajangan.

"Sekarang, hapus air matamu," perintah Adrian sambil mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. "Mainan baruku tidak boleh terlihat jelek di malam kedua. Tunjukkan padaku bahwa kau lebih berguna daripada Elena."

Malam itu, di bawah kemegahan lampu kristal, Arunika menyadari satu hal: Pelariannya baru saja dimulai, dan jika ia tidak berhati-hati, ia benar-benar akan menjadi "koleksi" permanen di ruang bawah tanah Adrian.

Saat Adrian terlelap, Arunika meraba bagian bawah tempat tidur dan menemukan sesuatu yang tajam tertempel di sana dengan selotip. Sebuah pisau lipat kecil.

Elena tidak hanya meninggalkan kunci, dia meninggalkan senjata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!