Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja Kemeja dan "Perang Dingin" di Fitting Room
Senin pagi yang harusnya jadi Monday Blue buat semua orang, malah jadi Monday Sage Green buat Nara. Sesuai janji semalam, Nara udah siap di depan unit 401 dengan gaya yang lebih fresh. Dia pakai mini skirt hitam dan kaos oversized yang dimasukkan rapi, nggak lupa kacamata hitam yang nangkring di kepalanya biar kelihatan kayak desainer mahal.
"Mas! Udah siap belum? Keburu mall-nya tutup nih!" teriak Nara sambil nendang pelan pintu unit 402.
Pintu terbuka, dan Rian muncul dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. Dia ngelihat Nara dari atas sampai bawah terus senyum tipis. "Mall baru buka jam sepuluh, Nara. Ini masih jam sembilan lewat lima belas. Efisiensi waktu kamu perlu diperbaiki."
"Dih, mulai deh kaku! Kan biar kita dapet parkiran yang paling depan, Mas Robot!" Nara narik tangan Rian menuju lift.
Di dalam mobil, suasana udah jauh lebih enak dibanding semalam. Bau parfum Rian yang mewah bikin Nara makin betah nyender di kursi penumpang. Rian sesekali ngelirik Nara, mastiin ceweknya itu nggak lagi mikirin soal karangan bunga duka cita gila dari si Karin tadi pagi.
"Mas, beneran mau beli warna sage green?" tanya Nara sambil mainin gantungan kunci buah naga di tasnya.
"Iya. Biar kalau kita jalan bareng, orang tahu kalau saya ini 'properti' milik desainer grafis unit 401," jawab Rian santai sambil muter setir.
Nara hampir keselek ludah sendiri. "Waduh, Mas Rian kalau ngomong suka nggak pake filter ya sekarang. Sejak kapan jadi pinter ngegombal begini?"
"Sejak saya sadar kalau hidup terlalu kaku itu rugi. Apalagi kalau punya pacar yang energinya kayak nuklir begini," balas Rian sambil ketawa rendah.
Sampai di mall, mereka langsung menuju gerai brand ternama langganan Rian. Begitu masuk, para pelayan toko langsung nunduk sopan. Maklum, Rian itu tipe nasabah prioritas yang kalau belanja nggak liat label harga, cuma liat bahan dan jahitan.
"Cari kemeja warna apa, Pak Rian? Koleksi musim gugur kita baru masuk," tawar salah satu pelayan cantik yang namanya tercatat 'Bella' di name tag-nya.
Bella ini ngelihat Rian dengan tatapan yang... ya, lo tau lah, Bro. Tatapan haus akan pria tampan dan mapan. Dia bener-bener nyuekin Nara yang berdiri di samping Rian.
"Saya mau cari warna hijau. Sage green atau olive," jawab Rian pendek.
"Oh, mari Pak, saya tunjukkan koleksi terbaik kami," ucap Bella sambil sengaja jalan mepet di samping Rian. "Warna ini pasti cocok banget sama warna kulit Bapak yang cerah."
Nara yang ngelihat itu langsung narik napas dalem. Wah, wah... muncul lagi satu nih bibit-bibit pelakor, batin Nara. Dia nggak mau tinggal diem. Nara langsung nyelip di antara Rian dan Bella.
"Mas, yang ini jelek warnanya. Terlalu pucat, nanti Mas dikira lagi sakit tipes," kata Nara sambil narik satu kemeja asal.
Bella langsung nengok ke Nara dengan senyum dipaksakan. "Maaf Mbak, ini warna paling best seller di London. Bahannya sutra organik."
"London? Oh, mantan Mas Rian juga dari London. Dan setahu saya, seleranya agak... low budget ya Mas?" Nara ngelirik Rian sambil senyum licik.
Rian cuma nahan tawa. Dia tahu Nara lagi mode cemburu tingkat dewa. "Iya, Nara. Saya nurut kamu aja. Mana yang bagus?"
Nara mulai milihin kemeja dengan teliti. Dia ambil satu kemeja warna hijau lumut yang bahannya linen premium. "Nah, ini! Teksturnya dapet, warnanya juga bikin Mas kelihatan lebih... maskulin tapi tetep 'milik saya'. Coba ganti sana!"
Rian nurut aja kayak anak kecil yang disuruh ibunya. Dia masuk ke fitting room. Sementara itu, Nara nunggu di depan sambil terus dipelototin sama Bella.
"Mbak ini... asistennya Pak Rian ya?" tanya Bella dengan nada ngeremehin.
Nara benerin kacamatanya. "Bukan. Saya 'Direktur Kebahagiaan' di hidupnya Pak Rian. Kenapa? Mau daftar jadi staf saya?"
Bella langsung bungkam dan pura-pura ngerapihin gantungan baju. Nggak lama, pintu fitting room terbuka. Rian keluar pakai kemeja pilihan Nara. Kancing bagian atasnya sengaja nggak dipasang, memperlihatkan sedikit dada bidangnya.
Nara mendadak bisu. Gila, ganteng banget cowok gue, jerit Nara dalam hati.
"Gimana? Pas?" tanya Rian sambil ngelihat dirinya di cermin besar.
Nara nyamperin Rian, terus dia pura-pura ngerapihin kerah kemejanya—padahal sebenernya udah rapi banget. Dia sengaja ngelakuin itu biar Bella yang di belakang makin panas. "Bagus banget, Mas. Pas di badan. Tapi... kayaknya ada yang kurang."
"Apa?"
Nara tiba-tiba jinjit, terus dia sengaja ninggalin bekas lipstik tipis di kerah kemeja bagian dalem—yang nggak bakal kelihatan orang luar tapi Rian pasti tahu. "Nah, sekarang baru lengkap. Udah ada tandanya."
Rian kaget, tapi terus dia ketawa. Dia bisik ke kuping Nara, "Kamu makin nakal ya sejak kita jadian."
"Biarin! Biar nggak ada yang berani macem-macem!" jawab Nara sambil melet.
Setelah beli tiga kemeja sekaligus, mereka mutusin buat makan siang di area food court yang lebih santai. Rian yang biasanya anti makan di tempat terbuka, sekarang malah asyik duduk nungguin Nara pesen seblak.
"Mas, serius mau nyobain seblak? Ini pedes banget lho, nanti perut Mas yang 'mahal' itu kaget," tanya Nara pas bawa satu mangkok merah penuh kerupuk basah dan ceker.
"Saya mau tahu kenapa kamu suka banget sama makanan yang baunya menyengat begini," jawab Rian sambil ambil sendok.
Baru satu suapan, muka Rian langsung merah padam. Dia langsung minum air mineral satu botol sampai abis. "Nara... ini... ini ilegal. Kenapa ada makanan yang rasanya kayak lagi perang di dalem mulut?"
Nara ketawa ngakak sampai keluar air mata. "Hahaha! Itu namanya kenikmatan dunia, Mas! Mas aja yang hidupnya terlalu tawar!"
Di tengah tawa mereka, tiba-tiba HP Rian bunyi. Pesan dari tim legalnya.
Pesan dari: Tim Legal
"Pak Rian, somasi sudah diterima oleh pihak Karin Adiwijaya. Namun, ada laporan baru. Beliau baru saja mengunggah foto di media sosial yang menunjukkan dokumen kontrak lama antara Bapak dan beliau. Beliau mengklaim bahwa Bapak masih memiliki hutang janji pernikahan secara tertulis."
Rian langsung naruh sendoknya. Ekspresinya balik lagi jadi dingin, tapi kali ini bukan kaku, melainkan siap buat "menghancurkan" lawan.
"Ada apa, Mas?" tanya Nara, khawatir liat perubahan muka Rian.
Rian nunjukin layar HP-nya ke Nara. "Dia mau main api yang lebih besar. Dia bawa-bawa kontrak sampah dari tiga tahun lalu."
Nara baca pesannya. Dia diem sebentar, terus dia pegang tangan Rian. "Mas, Mas masih simpen kontrak itu?"
"Kontrak itu otomatis batal pas dia pergi, Nara. Tapi secara hukum, kalau ada tanda tangan di atas materai, dia bisa jadiin itu alat buat cari panggung di media," jelas Rian frustrasi.
Nara mikir keras. Sebagai desainer, dia tahu soal manipulasi dokumen. "Mas, coba Mas kirimin saya foto dokumen yang dia post itu. Saya mau cek sesuatu."
Rian ngirim fotonya. Nara nge-zoom dokumen itu berkali-kali. Senyum licik muncul di wajah Nara. "Mas... Mas liat nggak tanda tangan Mas di sini?"
"Iya, itu tanda tangan saya. Kenapa?"
"Mas, tanda tangan Mas yang sekarang itu ada sedikit lekukan di huruf 'R' yang nggak ada di dokumen tiga tahun lalu. Dan liat deh, bayangan tinta di sini... ini manipulasi digital, Mas! Dia nggak punya dokumen aslinya, dia cuma ngedit foto lama pakai aplikasi desain!" seru Nara antusias.
Rian kaget. Dia nggak kepikiran sampai ke sana. "Kamu yakin?"
"Yakin 1000 persen! Saya ini tiap hari mainan Photoshop, Mas. Saya tahu mana yang asli, mana yang tempelan. Dia ceroboh banget naruh layer bayangannya."
Rian langsung senyum lebar. Dia narik Nara terus nyium keningnya di depan orang-orang yang lagi makan seblak. "Nara! Kamu bener-bener jenius! Kamu baru aja kasih saya senjata buat bikin dia masuk penjara karena pemalsuan dokumen!"
Rian langsung telepon tim legalnya lagi. "Halo? Jangan cuma somasi. Siapkan laporan pidana atas pemalsuan dokumen dan pencemaran nama baik. Saya punya bukti forensik digital dari ahli saya sendiri."
Nara bangga banget dibilang "ahli". "Gimana, Mas? Masih mau bilang saya beban hidup?"
Rian ngerangkul Nara erat-erat. "Kamu itu bukan beban, Nara. Kamu itu berkah yang datang dalam bentuk cewek berisik penikmat seblak. Saya nggak tahu apa jadinya saya kalau nggak ada kamu hari ini."
"Makanya, jangan pernah ngeremehin kekuatan desainer grafis!" Nara nyengir bangga.
Mereka pun pulang dengan perasaan menang. Karin mungkin punya banyak uang dan masa lalu, tapi dia lupa kalau Rian punya Nara—cewek yang nggak cuma punya hati, tapi punya mata yang sangat teliti buat ngelihat setiap celah kebohongannya.
Sampai di depan pintu apartemen, Rian nahan tangan Nara. "Nara, makasih ya buat hari ini. Kamu bener-bener hebat."
"Sama-sama, Mas. Sekarang, buang ya kemeja hitam Mas yang tadi kena parfum si pelayan toko itu. Bau aromanya nggak enak," kata Nara sambil masuk ke unitnya.
Rian ketawa. "Siap, Bos!"
Malam itu, untuk pertama kalinya, Rian tidur dengan sangat nyenyak. Dia tahu, selama ada Nara di unit sebelah, nggak ada satu pun masalah yang nggak bisa mereka selesaikan bareng. Kontrak permanen mereka bukan cuma soal status, tapi soal kerja sama tim yang nggak terkalahkan.