Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Melawan Senior Wan Ju
Han Chuan dan Bai Ling maju bersamaan. Angin di sekitar mereka berdesir kencang, menandakan pertarungan akan dimulai.
Han Chuan mencabut pedangnya dari sarung dengan gerakan cepat. Suara shring! terdengar tajam saat bilah logam itu keluar sepenuhnya, memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Dalam sekejap, tubuhnya melesat ke depan secepat kilat.
Bai Ling merespons tak kalah cepat. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, lalu memutar gagangnya dengan presisi sempurna. Saat Han Chuan menebas, Bai Ling menangkisnya dengan hentakan keras.
Suara benturan senjata bergema keras di seluruh arena. Percikan api kecil berloncatan dari titik benturan, membuat para murid yang menonton menahan napas.
Han Chuan mendorong dengan kekuatan penuh, ayunan pedangnya begitu cepat hingga hanya meninggalkan bayangan samar di udara. Bai Ling menahan serangan itu dengan kedua tangannya, tombaknya bergetar hebat, ujungnya menancap sedikit ke tanah karena tekanan besar dari pedang Han Chuan.
Namun Bai Ling tak mundur. Dengan teriakan pendek, ia memutar tombaknya ke samping dan mengalihkan arah tebasan Han Chuan, lalu menusuk balik dengan kecepatan tinggi.
Han Chuan memutar tubuhnya ke belakang, pedangnya menyapu udara dalam gerakan melingkar cepat. Swoosh! Udara bergetar, menyibakkan debu dan dedaunan di sekitar arena.
Dua senjata itu kembali bertemu. Suara logam saling beradu berulang kali, cepat dan keras.Gerakan mereka berdua tampak seperti bayangan yang saling menembus. Setiap langkah Han Chuan lincah dan presisi, sementara setiap serangan Bai Ling tajam dan penuh kekuatan.
Kedua jenius muda itu bertarung dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata biasa. Tanah di bawah kaki mereka mulai retak kecil akibat tekanan energi spiritual yang bertabrakan. Aura pedang Han Chuan memancarkan cahaya biru gelap yang bergetar halus, sementara aura tombak Bai Ling bersinar perak dengan semburat merah di ujung bilahnya.
Sorak kagum terdengar dari para murid yang menonton di pinggir arena.
“Cepat sekali!”
“Ini... bahkan lebih hebat dari pelatihan para senior!”
Pertarungan terus berlanjut, keduanya tak mau mundur. Setiap tebasan, setiap tusukan, menimbulkan ledakan kecil udara dan percikan api, membuat suasana arena semakin panas dan menegangkan.
Sementara itu, di antara para murid yang menonton, ada satu murid yang memperhatikan Han Chuan dengan penuh minat. Ia adalah salah satu murid senior tertua di akademi.
“Han Chuan… kau makin kuat ternyata,” gumamnya pelan sambil menyipitkan mata.
“Senior Wan Ju, kira-kira siapa yang menang ya?” tanya salah satu murid di sampingnya dengan nada bersemangat.
“Aku tidak bisa memastikan siapa…” kata Wan Ju yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, matanya tiba-tiba melebar. Ia menatap ke arah Han Chuan dengan ekspresi terkejut, seolah melihat sesuatu yang mustahil.
Sementara itu, Han Chuan dan Bai Ling sama-sama melompat mundur beberapa langkah. Debu di tanah beterbangan akibat hentakan kaki mereka. Bai Ling mendengus keras, wajahnya memerah karena emosi. Dengan gerakan cepat, ia mencengkeram erat tombaknya dan melesat ke arah Han Chuan.
“Teknik Tombak Pusaran Badai Penghancur!” teriak Bai Ling.
Tombaknya berputar dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, pusaran angin tajam terbentuk di ujung tombaknya, menghasilkan suara desingan keras yang memekakkan telinga. Bilah-bilah angin berputar cepat, melesat ke arah Han Chuan seperti ribuan pisau terbang.
Han Chuan menyipitkan mata, tubuhnya hampir tak mampu mengikuti kecepatan angin yang menghantam ke arahnya. “Sial, aku tidak bisa menghindar semuanya,” gumamnya dalam hati.
Ia segera menurunkan kuda-kudanya dan menarik napas dalam. “Saatnya menggunakan teknik rahasiaku untuk menghadapi ini!”
Suara petir kecil terdengar dari bawah kakinya. Cahaya biru berkilat di sekitar tubuhnya. “Teknik Rahasia: Lukisan Dalam Pedang! Gerakan Guntur!”
Dalam sekejap, Han Chuan menghilang dari tempatnya. Petir menyambar di sepanjang jalur larinya. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kilatan biru di tanah. Ia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, membelah pusaran angin yang menyerangnya.
Bletak! Benturan antara pedang dan pusaran angin menimbulkan ledakan udara. Suara logam beradu berdentang keras di udara, membuat para murid refleks menutup telinga.
“Apa itu… tidak mungkin! Han Chuan benar-benar sudah membangkitkan teknik rahasianya!” ucap salah satu murid dengan nada kaget.
“Sekarang sudah jelas siapa pemenangnya,” sahut murid lain yang menatap kagum.
Xue Lin menatap lebar ke arah arena, matanya bergetar tak percaya. “Han Chuan benar-benar sudah membangkitkan teknik rahasia… dia luar biasa,” ucapnya dengan suara gemetar.
Beberapa guru akademi yang menyaksikan dari kejauhan saling berpandangan. “Tidak disangka, akademi kita melahirkan satu jenius baru lagi. Yang pertama adalah Ling Shura, sekarang Han Chuan,” ucap salah satu guru dengan nada bangga.
“Ya, kau benar. Akademi kita benar-benar beruntung,” sahut guru lain sambil menatap ke arah arena.
Sementara itu, pertarungan belum berakhir. Han Chuan melesat semakin cepat, mendekati Bai Ling dengan gerakan hampir tak terlihat. Bai Ling mulai panik, keringat dingin menetes di dahinya.
“Jangan mendekat! Jangan mendekat!” teriaknya panik sambil mengayunkan tombaknya ke segala arah. Angin tajam kembali berhamburan, memotong udara dengan suara siutan tajam.
Han Chuan bergerak zig-zag, menghindari setiap bilah angin dengan refleks luar biasa. Petir di sekitar tubuhnya terus menyambar, menghasilkan percikan biru yang menyilaukan.
Dengan satu lompatan besar, ia melesat tepat di depan Bai Ling. Dalam sekejap, ujung pedangnya menempel di leher Bai Ling.
“Cukup,” ucap Han Chuan dengan nada tenang.
Bai Ling terpaku, napasnya tersengal. Matanya melebar, lalu perlahan kehilangan fokus. Tubuhnya goyah dan jatuh ke tanah dengan suara bruk, pingsan di tempat.
Arena mendadak sunyi. Semua murid menatap ke arah Han Chuan dengan wajah terkejut dan kagum. Petir di sekelilingnya perlahan mereda, menyisakan hawa energi yang masih berdesir di udara. Han Chuan menurunkan pedangnya perlahan, menatap Bai Ling yang tergeletak, lalu menghela napas panjang.
Xue Lin langsung berteriak, “Han Chuan, kau sangat hebat!” suaranya menggema di seluruh arena. Para murid lain ikut bersorak, memuji Han Chuan dengan semangat. Sementara itu, beberapa murid bergegas masuk ke arena untuk mengangkat Bai Ling yang pingsan dan membawanya keluar.
Han Chuan masih berdiri tegak di tengah arena, menatap pedangnya sejenak. Kilau biru samar masih terlihat di bilah pedang itu sebelum akhirnya meredup. Tiba-tiba, dari arah kerumunan terdengar suara tawa berat yang menggema.
“Hahaha! Tak kusangka, Han Chuan, kau benar-benar telah membangkitkan teknik rahasiamu!” seru seseorang dengan suara dalam dan kuat. “Kalau begitu, mari kita lakukan latih tanding! Aku ingin melihat sejauh mana kekuatanmu sekarang.”
Semua kepala menoleh ke arah suara itu. Seorang pria bertubuh tinggi dan berotot melangkah keluar dari barisan murid. Langkahnya mantap dan penuh wibawa. Dialah Wan Ju, murid senior tertua di Akademi Heiyun.
“Apa itu Senior Wan Ju?!” seru salah satu murid tak percaya.
“Ya, benar! Ini akan jadi pertarungan luar biasa!” sahut yang lain dengan semangat.
“Apalagi fisik Senior Wan Ju sangat kuat. Dia menjalani teknik kultivasi penguatan tubuh, tak heran tubuhnya seperti baja!” teriak murid lain, disambut riuh sorakan dari kerumunan.
Wan Ju berhenti di hadapan Han Chuan dan tersenyum lebar. “Junior Han Chuan, kau berkembang pesat sejak pertarungan sebelumnya. Sepertinya kali ini aku harus serius menghadapi mu. Jadi bersiaplah, keluarkan semua kemampuanmu.”
Saat ia berbicara, api merah menyala di sekitar kedua tangannya. Suara fwoosh! terdengar ketika api itu melilit pergelangan tangannya seperti naga kecil yang menari liar.
Han Chuan tersenyum tipis, matanya menyala dengan semangat. “Heh, sudah lama aku ingin melawanmu, Senior Wan Ju,” gumamnya pelan.
Tubuh Han Chuan bergetar ringan. Seketika kilatan biru menyambar di bawah kakinya. Dalam sekejap, ia melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Suara bzzt! petir menyambar udara ketika pedangnya diayunkan dengan kekuatan penuh ke arah dada Wan Ju.
Namun, sebelum bilah pedang itu mengenai tubuhnya, Wan Ju mengangkat tangannya dan menangkap pedang Han Chuan dengan telapak tangan yang dilapisi api,yang menimbulkan percikan api dan petir sekaligus.
Han Chuan terkejut. “Apa.. Senior bisa mengikuti kecepatanku?” serunya tak percaya.
Ia segera mengangkat kaki kanannya dan menendang dada Wan Ju dengan keras, mencoba melepaskan pedangnya dari genggaman lawannya. Bam! Tubuh Wan Ju sedikit terdorong ke belakang, namun senyumnya tetap terukir.
Pertarungan pun benar-benar dimulai. Han Chuan mengayunkan pedangnya bertubi-tubi, setiap tebasan meninggalkan jejak cahaya biru di udara. Sementara itu, Wan Ju membalas dengan tinju-tinju yang dilapisi api merah menyala.
Suara benturan antara pedang dan tinju bergema keras di seluruh arena. Gelombang angin dari setiap benturan membuat pasir dan debu beterbangan. Para murid yang menonton menahan napas, beberapa bahkan menutupi wajah mereka dari hembusan angin yang panas.
Han Chuan terus menyerang dengan kecepatan mengerikan. Beberapa kali pedangnya berhasil mengenai tubuh Wan Ju, namun kulit senior itu seolah dilapisi baja. Tidak ada luka sedikit pun.
“Fisiknya benar-benar gila kuatnya,” gumam Han Chuan di antara ayunan pedangnya.
Sementara itu, Wan Ju yang mulai kesulitan mengikuti kecepatan Han Chuan menggeram rendah. “Cepat sekali… tapi aku belum kalah!”
Ia memukul tanah dengan kaki kirinya. Ledakan kecil terdengar ketika energi apinya meledak, mendorong tubuhnya maju dengan kecepatan luar biasa. Tinju berlapis api menghantam pedang Han Chuan dan menciptakan gelombang panas yang menyebar ke seluruh arena.
Dentuman keras kembali terdengar. Boom! Tanah di sekitar mereka retak, dan cahaya merah serta biru saling beradu di udara.
Pertarungan antara Han Chuan dan Wan Ju kini benar-benar semakin sengit dua energi besar, api dan petir, bertabrakan di tengah arena, menciptakan ledakan kekuatan yang membuat semua orang terpaku tanpa bisa berkedip.