"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Lahirnya Tahap Pembentukan Fondasi
Asap sisa tribulasi masih mengambang tipis di udara, berbau ozon dan kayu terbakar. Ruang meditasi itu telah kehilangan keutuhannya, atapnya berlubang, memperlihatkan langit malam yang kini tenang kembali, seolah-olah guntur yang baru saja mengamuk hanyalah mimpi buruk yang lewat.
Di tengah reruntuhan itu, Guiren masih mematung. Jubahnya yang koyak menempel pada kulit yang dipenuhi bekas luka bakar perak, namun getaran tubuhnya telah berhenti. Keheningan yang menyelimutinya sekarang bukan lagi keheningan karena mati rasa, melainkan keheningan dari sebuah inti yang baru saja lahir.
Di dalam pusat jiwanya, badai itu telah mereda.
Noda korosif dari sabotase Bai Feng, energi petir langit yang destruktif, dan Niat Tinta yang ia peras dari sisa-sisa hidupnya, semuanya telah memadat. Secara konvensional, tahap ini seharusnya melahirkan sebuah bola energi yang padat atau pilar cahaya yang menopang langit batin seorang kultivator. Namun, apa yang terbentuk di dalam diri Guiren menolak segala hukum yang tertulis dalam kitab-kitab sekte.
Sebuah gulungan kitab.
Benda itu melayang dalam kehampaan jiwanya, perlahan terbuka dengan keanggunan yang sunyi. Materialnya tampak seperti perak cair yang telah membeku, dengan tekstur yang menyerupai kulit ulat sutra langit namun lebih purba. Begitu gulungan itu terbuka, lembar demi lembar permukaannya mulai dipenuhi oleh goresan tinta yang hidup.
Setiap garis bukan hanya gambar, melainkan hukum-hukum pribadi yang ia ukir sendiri. Tinta itu berdenyut, bergerak seperti aliran darah, menyimpan setiap rasa sakit, pengkhianatan di lembah, dan janji yang ia buat kepada ibunya untuk menjaga Xiaolian. Ini bukan fondasi yang pasif, ini adalah kitab yang terus ditulis, sebuah fondasi yang akan tumbuh seiring dengan setiap goresan pengalaman hidupnya.
Guiren menarik napas dalam-dalam.
Seketika, rasa sakit yang membakar meridiannya lenyap, digantikan oleh kesejukan yang merambat ke seluruh saraf. Luka-luka tribulasi di permukaan kulitnya mulai menutup, meninggalkan garis-garis samar yang berkilau redup sebelum menyatu dengan warna kulitnya yang pucat. Esensi yang dulunya liar dan tajam kini mengalir patuh ke dalam Gulungan Kitab tersebut, menjadikannya sebuah sumur energi yang jauh lebih dalam dan fleksibel daripada apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia perlahan membuka matanya. Kain penutup mata yang ia kenakan telah hancur sebagian, namun ia tidak butuh penglihatan fana. Visi Qi-nya kini meluas melampaui dinding ruangan. Ia bisa merasakan denyut kehidupan pohon-pohon di kejauhan, aliran energi murid-murid lain di bawah bukit, dan yang paling penting, ia bisa merasakan kehadiran Xiaolian di kediaman Yue, sebuah cahaya kecil yang memberinya rasa tenang.
Guiren menunduk, menatap tangannya. Jemarinya tidak lagi bergetar. Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah diubah menjadi selembar kertas suci yang siap menampung sejarah dunia.
Pilihan untuk menolak Pil Fondasi standar dan menghadapi maut sendirian telah membuahkan hasil yang berbahaya sekaligus agung. Ia telah menyimpang dari jalan umum, menciptakan anomali yang mungkin akan dianggap sebagai bidah oleh para petinggi sekte. Namun, baginya, Gulungan Kitab ini adalah satu-satunya cara untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang ingin menjadikannya sekadar alat.
Ia bangkit berdiri. Kakinya menginjak debu dan serpihan ubin yang hancur. Suara langkahnya kini terdengar berbeda, lebih mantap, membawa beban dari otoritas batin yang baru saja mapan.
Di luar, angin malam berhembus masuk melalui atap yang terbuka, menyapu wajahnya yang kini tampak lebih tegas. Tahap Pembentukan Fondasi telah tercapai. Ia bukan lagi murid yang hanya bisa bertahan, ia telah meletakkan pondasi bagi dunianya sendiri.
Namun, di balik kepuasan itu, Guiren menyadari satu hal. Getaran dari tribulasi langitnya terlalu besar untuk diabaikan. Para penatua di puncak utama pasti telah merasakan perkembangan ini. Perhatian yang selama ini ia hindari kini akan jatuh tepat di atas kepalanya dengan bobot yang jauh lebih berat.
Ia meraih kuasnya yang tergeletak di samping kanvas yang kini telah menjadi abu. Ujung kuas itu masih menyisakan setitik tinta perak.
"Jalan ini masih panjang, Lian-er," bisiknya pada kesunyian malam.
Ia melangkah menuju pintu, meninggalkan reruntuhan ruang meditasinya. Di belakangnya, Gulungan Kitab di dalam jiwanya terus terbuka perlahan, siap untuk mencatat lembaran baru yang mungkin akan ditulis dengan darah musuh-musuhnya.
Sekte Mo-Yun baru saja melahirkan seorang monster, dan mereka bahkan belum menyadarinya.