Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINTA HITAM DI JANTUNG BADAI
"Lo pikir payung rongsokan itu bisa nyelamatin lo dari gue, Viona? Di dunia ini, aturan itu ditulis pake pena, bukan dipayungin biar nggak basah."
Baskara melangkah maju, bayangannya memanjang di lantai koridor apartemen yang kini gelap gulita. Suaranya bukan lagi suara manajer yang biasanya meledak-ledak karena target bulanan; suara itu kini dalam, bergema dengan nada logam yang saling bergesekan. Di tangan kanannya, Pena Takdir memancarkan cahaya merah pekat yang tampak seperti darah segar yang berpendar. Aura hitam yang keluar dari pena itu merayap di dinding koridor, memakan cat tembok dan meninggalkan jejak busuk di sana.
"Mundur, Baskara! Gue nggak tahu setan apa yang ngerasukin lo, tapi jangan berani-berani lo deketin Ibu!" teriak Viona. Ia menggenggam erat gagang payung biru pemberian Alfred.
"Ibu lo? Elena Larasati itu cuma beban, Viona. Sama kayak bokap lo, Nathan Mahendra. Mereka itu pecundang yang nggak tahu caranya gunain kekuatan. Tapi gue beda. Gue bakal nulis ulang takdir gue sendiri, dan lo adalah tinta yang gue butuhin." Baskara tertawa, sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk Viona berdiri.
Viona merasakan dadanya sesak. Tekanan udara di koridor itu mendadak menjadi sangat berat, seolah ia sedang berada di dasar lautan. Setiap langkah yang diambil Baskara membuat lantai apartemen bergetar. Ia melirik ke arah Riko yang sedang berusaha mendorong kursi roda Elena menuju lift. Pintu lift tampak begitu jauh dalam kegelapan yang pekat ini.
"Riko, bawa Ibu pergi sekarang! Jangan noleh!" perintah Viona dengan suara serak.
"Tapi lo gimana, Vio?! Dia gila! Dia punya kekuatan aneh!" Riko berteriak panik, tangannya gemetar hebat saat menekan tombol lift berkali-kali.
"Gue bakal nyusul! Cepet!"
Baskara mendengus remeh. Ia mengangkat Pena Takdir ke udara, lalu menggerakkannya seolah sedang menulis di atas kanvas yang tak terlihat. "Bab pertama: Kehancuran bagi mereka yang menghalangi jalan sang pemenang."
Seketika, aura hitam dari pena itu melesat membentuk tombak-tombak tajam menuju arah lift. Viona tidak punya waktu untuk berpikir. Secara naluriah, ia melompat ke depan Riko dan ibunya, lalu mengembangkan payung birunya lebar-lebar.
BLAARRR!
Benturan itu menciptakan suara ledakan yang memekakkan telinga. Namun, bukannya hancur, payung biru tua yang tampak kusam itu justru mengeluarkan perisai cahaya safir yang solid. Tombak-tombak hitam milik Baskara hancur berkeping-keping begitu menyentuh pendar cahaya payung tersebut. Viona terdorong ke belakang hingga bahunya menabrak pintu lift, tapi ia tetap berdiri tegak.
"Apa-apaan... itu payung apa?!" Baskara terbelalak. Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap.
"Ini payung yang lo remehin tadi," desis Viona. Tangannya terasa panas, seolah energi dari payung itu meresap ke dalam aliran darahnya.
Di saat ketegangan memuncak, sebuah suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah tangga darurat. Suasana koridor yang semula panas oleh amarah Baskara mendadak menjadi sangat dingin—dingin yang menusuk hingga ke tulang, persis seperti es yang membeku di tengah badai.
Seorang pria jangkung muncul dari balik kegelapan. Ia mengenakan setelan jas hujan transparan yang berkilat tertimpa cahaya biru dari payung Viona. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan hitam besar.
"Menarik sekali. Drama kantor yang berubah jadi pertumpahan darah takdir," ucap pria itu dengan nada bosan.
Baskara menoleh dengan cepat. "Julian? Lo ngapain di sini?! Gue kan sudah bilang, urusan Viona ini bagian gue!"
Julian, sang penagih utang takdir, hanya melirik Baskara dengan tatapan merendahkan. "Lo cuma peminjam amatir, Baskara. Lo dapet pena itu dari pasar gelap Ordo Chronos, dan lo pikir lo sudah jadi dewa? Pena itu punya kontraknya sendiri. Dan kalau lo gagal ngambil 'Koin Chronos' malam ini, kontrak lo bakal hangus beserta nyawa lo."
Viona menatap Julian dengan penuh kewaspadaan. "Julian, apa maksud lo? Koin apa?"
Julian berjalan mendekat, mengabaikan geraman Baskara. Ia berhenti tepat di batas pendar cahaya payung Viona. "Viona, Viona... Ayahmu, Nathan Mahendra, bukan cuma minjem waktu. Dia nyembunyiin sesuatu yang sangat berharga di rumah lama kalian. Sebuah koin yang bisa mutar balik sejarah tanpa perlu tumbal ingatan. Itu sebabnya Ordo Chronos, pialang takdir, bahkan bos brengsekmu ini mengincar kamu."
"Ayah nggak mungkin nyimpen barang bahaya kayak gitu!" bantah Viona.
"Bokap lo itu pahlawan yang tragis, Viona. Dia rela mati kecelakaan supaya koin itu nggak jatuh ke tangan orang kayak Baskara. Tapi sekarang, segelnya sudah terbuka karena lo dapet payung itu dari Alfred," Julian menutup buku hitamnya dengan dentuman keras yang membuat aura hitam Baskara meredup paksa.
Baskara yang merasa diabaikan menjadi gelap mata. Ia menyerang Julian dengan pena peraknya. "Banyak bacot lo, penagih sialan! Gue bakal bunuh lo berdua!"
Namun, sebelum ujung pena itu menyentuh Julian, pria itu hanya menggerakkan satu jarinya. Waktu di koridor itu seolah melambat secara ekstrem. Gerakan Baskara menjadi sangat pelan, seperti serangga yang terjebak dalam getah pohon.
Julian menoleh kembali ke arah Viona yang masih terpaku. "Gue bakal kasih lo jalan keluar sekarang, Viona. Bawa ibu lo pergi ke rumah lama di pegunungan itu. Tapi sebagai gantinya, lo harus janji satu hal."
"Apa?" tanya Viona cepat, sambil melirik Riko dan Elena yang ketakutan di belakangnya.
Julian tersenyum misterius, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan Baskara. Ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Viona di tengah deru angin gaib yang mulai memenuhi koridor.
"Kalau lo ketemu bokap lo di 'Ruang Antara' nanti, jangan pernah percaya sama apa pun yang dia katakan."
Viona tersentak. "Maksud lo? Ayah kan sudah meninggal!"
Julian tidak menjawab. Ia menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba pintu lift terbuka dengan sendirinya, memancarkan cahaya putih yang sangat terang hingga menyilaukan mata.
"Pergi, Viona! Sebelum Baskara sadar kalau dia cuma pion dalam permainan yang jauh lebih besar," teriak Julian.
Viona mendorong Riko dan kursi roda Elena masuk ke dalam lift dengan terburu-buru. Saat pintu lift mulai menutup, ia melihat Baskara yang mulai bisa bergerak kembali, berteriak penuh murka, sementara Julian berdiri tenang di tengah badai bayangan yang berkecamuk.
Namun, tepat sebelum pintu lift tertutup rapat, Viona melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di dalam bayangan Julian yang memanjang di lantai, ia melihat sosok Nathan Mahendra—ayahnya—sedang merantai pergelangan kaki Julian dari dimensi lain.
"Vio... jangan ke sana..." bisikan ayahnya terdengar di telinganya, sangat nyata.
Lift itu pun meluncur turun dengan kecepatan yang tidak normal, meninggalkan koridor yang hancur. Viona mencengkeram gagang payung birunya hingga buku jarinya memutih.
"Siapa yang sebenarnya jahat di sini?" gumam Viona lirih.
Ia menoleh ke arah ibunya, Elena, yang tiba-tiba membuka mata. Mata Elena tidak lagi kosong; kini matanya bersinar dengan warna emas yang redup, dan ia memegang tangan Viona dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk orang lumpuh.
"Vio, payung itu... itu bukan pemberian Alfred yang asli, kan?"