Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 Darah yang Sama, Dunia yang Berbeda
Hari pertama masuk SMA selalu terasa seperti panggung besar bagi sebagian orang. Bagi Kiandra, itu hanya hari lain yang harus ia lalui tanpa membuat ibunya khawatir.
Pagi itu, Kia berdiri di depan cermin kecil di kamar sempit mereka. Rambutnya ia ikat asal, seragam putih abu-abu yang sudah sedikit memudar menempel rapi di tubuhnya. Ia menatap bayangannya sendiri, lalu menarik napas panjang.
“Jangan cari masalah, Kia,” pesan ibunya semalam masih terngiang. “Sekolah yang baik. Ibu cuma punya kamu.”
Kia tersenyum tipis saat mengingat itu. Ia selalu ingin menjawab bahwa masalah sering kali yang mencarinya, bukan sebaliknya.
Di luar, suara motor tetangga, langkah kaki orang-orang yang berangkat kerja, dan hiruk pikuk pagi menyambutnya. Kia mengayuh sepeda tuanya menuju sekolah, menembus udara pagi yang dingin, dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Ia tidak tahu bahwa hari itu akan mengubah banyak hal.
Sekolah SMA Bintang Raya berdiri megah, bangunannya besar, bersih, dan penuh siswa dengan wajah-wajah penuh percaya diri. Kia memarkir sepedanya di sudut parkiran, sedikit jauh dari motor-motor mahal yang berjejer rapi.
Ia sudah terbiasa.
Langkahnya mantap menyusuri koridor, tatapannya lurus ke depan. Beberapa pasang mata meliriknya. Bukan karena ia aneh, tapi karena Kiandra memang mencolok dengan caranya sendiri. Wajahnya cantik dengan garis tegas, sorot mata tajam, dan aura dingin yang membuat orang berpikir dua kali untuk mendekat.
Di kelas XI IPS 2, Kia duduk di bangku dekat jendela. Ia lebih suka tempat itu, di mana ia bisa melihat langit dan tidak perlu terlalu banyak berinteraksi.
Tak lama kemudian, kelas mulai ramai.
Dan saat itulah Tara masuk.
Tara hadir seperti pusat gravitasi. Rambut panjangnya tergerai rapi, seragamnya tampak sempurna, seolah dijahit khusus untuknya. Tawa kecilnya menggema saat beberapa temannya menyambut.
“Kamu di sini, Tar!”
“Aku simpanin tempat buat kamu.”
Tara tersenyum, senyum yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Matanya menyapu kelas, lalu berhenti tepat pada Kia.
Entah kenapa, jantung Tara berdenyut sedikit lebih cepat.
Bukan karena kagum.
Melainkan karena rasa tidak suka yang muncul tanpa alasan jelas.
“Kok ada yang duduk di bangku itu?” gumam Tara, cukup pelan tapi terdengar oleh teman di sampingnya.
“Itu anak baru, kayaknya,” jawab temannya. “Namanya Kiandra.”
Tara mengernyit. “Bangku itu biasanya kosong.”
Kia mendengar semuanya. Ia menoleh, tatapannya bertemu dengan mata Tara. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi. Hanya dua pasang mata yang sama-sama menantang.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang tegang.
Lalu Kia memalingkan wajahnya kembali ke jendela, seolah Tara tidak cukup penting untuk dipedulikan.
Dan itu membuat Tara kesal.
“Anak itu sombong banget,” gerutu Tara saat pelajaran belum dimulai.
“Santai aja kali,” kata temannya. “Dia cuma anak baru.”
“Justru itu. Anak baru harusnya tahu diri.”
Di depan, guru masuk dan pelajaran dimulai. Tapi fokus Tara tidak pernah benar-benar kembali. Sesekali ia melirik ke arah Kia, memperhatikan caranya mencatat, caranya menopang dagu, caranya tidak peduli pada sekitar.
Sementara itu, Kia bisa merasakan tatapan itu. Ia tidak asing dengan tatapan seperti itu. Tatapan orang-orang yang terbiasa berada di atas dan tidak suka ketika ada yang tidak tunduk.
Ia hanya tidak menyangka, gadis itu akan menjadi bagian besar dari hidupnya.
Waktu istirahat tiba.
Kia memilih keluar kelas lebih dulu, menuju kantin. Ia tidak membawa bekal hari ini, jadi ia harus membeli makanan sendiri. Di kantin, ia berdiri di antrean, menunggu giliran.
“Eh, bukannya kamu yang duduk di bangku jendela tadi?”
Suara itu datang dari samping. Kia menoleh dan mendapati Tara berdiri dengan dua temannya.
“Ada perlu?” jawab Kia singkat.
Nada suaranya datar, tidak ramah, tapi juga tidak kasar.
Tara menaikkan alis. “Kamu anak baru, ya?”
“Iya.”
“Terus kenapa langsung duduk seenaknya?”
Kia menatap Tara, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak hangat.
“Karena bangkunya kosong.”
Teman-teman Tara saling pandang.
“Berani juga kamu jawabnya,” ujar salah satu dari mereka.
Kia mengangkat bahu. “Aku cuma jawab jujur.”
Tara melangkah lebih dekat. “Di sekolah ini, ada aturan tak tertulis.”
“Maaf,” potong Kia, matanya menatap lurus. “Aku tidak tertarik mempelajari aturan yang tidak tertulis.”
Udara di sekitar mereka terasa menegang.
“Kamu pikir kamu siapa?” suara Tara meninggi.
Kia mendekatkan wajahnya sedikit. “Sama seperti kamu. Murid.”
Beberapa siswa mulai melirik ke arah mereka. Bisik-bisik kecil terdengar.
Tara mengepalkan tangan. Belum pernah ada yang berbicara padanya seperti itu. Apalagi dengan wajah setenang itu.
“Kita lihat nanti,” ucap Tara dingin. “Sekolah ini tidak sesederhana yang kamu kira.”
Kia tersenyum tipis. “Hidupku juga tidak pernah sederhana.”
Ia berbalik dan meninggalkan Tara begitu saja, membawa nampan makanannya ke meja kosong.
Tara berdiri kaku, dadanya naik turun menahan emosi.
“Tar, sabar,” bisik temannya.
Tara tidak menjawab. Matanya mengikuti punggung Kia dengan tatapan tajam.
Sejak hari itu, tanpa mereka sadari, garis tak kasat mata telah ditarik. Garis antara dua dunia yang kelak akan saling bertabrakan.
Di rumah, sore itu, Kia membantu ibunya melipat pakaian.
“Sekolahmu gimana?” tanya sang ibu sambil tersenyum.
“Biasa,” jawab Kia.
Ia tidak ingin menceritakan apa pun. Ibunya sudah cukup lelah dengan hidup. Kia tidak ingin menambah beban.
Ibunya menatapnya lama. “Kalau ada apa-apa, cerita ya.”
Kia mengangguk.
Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Sekolah barunya tidak akan tenang. Gadis bernama Tara itu bukan tipe yang akan diam.
Dan Kia… bukan tipe yang akan mengalah.
Sementara itu, di rumah besar di sisi lain kota, Tara melempar tasnya ke sofa.
“Papa!” panggilnya.
Seorang pria paruh baya keluar dari ruang kerja. “Kenapa?”
“Di sekolah ada anak baru. Menyebalkan banget,” keluh Tara.
Ayahnya tersenyum kecil. “Jangan gampang emosi.”
Tara mendengus. “Papa selalu bela orang lain.”
Pria itu terdiam sejenak, ada bayangan sesuatu di matanya, tapi segera ia tutupi.
“Kamu capek. Istirahat sana.”
Tara berbalik menuju kamarnya tanpa tahu bahwa pria itu sedang menatap punggungnya dengan perasaan bersalah yang dalam.
Perasaan yang berkaitan dengan seorang perempuan dan anak yang tak pernah ia akui.
Malam itu, Kia berbaring menatap langit-langit kamar. Kata-kata Tara terngiang kembali, tapi tidak benar-benar menyakitinya. Yang menyakitinya adalah kenyataan bahwa dunia selalu terasa tidak adil bagi orang seperti dirinya.
Ia tidak tahu bahwa gadis yang ia benci hari ini adalah darah yang sama dengannya.
Ia hanya tahu satu hal.
Perang mereka baru saja dimulai.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya