♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VI
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
'Yang ... hujan turun lagi
Dibawah payung hitam ku berlindung ... ,'
Lagu lawas terdengar dari CD player disebuah warung pinggir jalan menggemah sampai ditelinga Zarine dan Rafka.
Mereka berdua sedang berteduh dari hujan di sebuah warung kopi sederhana, Rafka sedang tak bawa jas hujan, Zarine yang biasa menaiki mobil, tapi karena supirnya tak bisa menjemput, dia pulang bersama Rafka, dia jelas tidak pernah membawa jas hujan.
Lagu lawas yang diputar sangat cocok dengan suasananya.
"Sorry ya," Rafka berucap merasa bersalah.
"Ngga papa," singkat Zarine menjawab sambil tersenyum kecil.
"Eh? Mau pesen apa? Kalau ngga mau kopi, di sini pasti ada mie, mau?" Rafka menawari Zarine.
Zarine memang sangat tidak menyukai kopi, menurutnya minuman itu pahit, walaupun banyak jenisnya, menurut Zarine sama saja, pahit.
"Aku ngga laper, Raf, kalau kamu mau, pesen aja," dengan senyuman Zarine menjawab.
Gadis itu memang sedang tidak ingin makan, dia masih kenyang karena makan siang tadi di kantin sekolah.
"Ok, tunggu sini ya," Rafka melenggang pergi memesan kopi pada penjaga warung.
Selang beberapa menit kemudian, Rafka kembali duduk disebelah Zarine.
Mereka berdua duduk saling diam, Zarine menatap hujan yang deras, Rafka menatap Zarine dari samping. Pemuda itu tau kalau teman perempuannya ini dingin, tapi apa boleh buat, Rafka sedang tak membawa jaket.
Sedang asik melihat Zarine dari samping, tiba-tiba Rafka teringat dengan perjodohan yang ditawari oleh Papanya.
'Apa aku tanyakan aja ya ke Zarine? Aku yakin pasti dia udah dikasih tau juga sama Om Abdi,' Rafka berniat bertanya soal perjodohan itu, apakah Zarine sudah tau atau belum.
'Ehem!' Rafka berdehem mengusir rasa gugup dan canggung. Wah?! Rafka juga bisa canggung to😂.
"Za? Ada yang mau aku tanyain, tapi kalau kamu ngga mau jawab juga ngga papa," dengan keberanian penuh, Rafka akhirnya bersuara.
Zarine menatap Rafka lekat.
'Apa Rafka mau tanya soal perjodohan itu ya? Om Hiko pasti udah bilang ke dia, 'kan?' Zarine menduga-duga.
"Kamu ... gini, itu ... aduh apa sih nih mulut! Kenapa jadi belibet?!" Rafka kesal dengan gugupnya.
Zarine terkekeh dengan tingkah gugup Rafka, lucu.
"Om Abdi ada ngomong soal perjodohan ngga ke kamu?" akhirnya, Rafka berhasil berbicara lancar.
Zarine menatap mata Rafka, mereka berdua saling menatap, sampai ... .
"Ini Mas kopinya," penjaga warung mengantarkan kopi pesanan Rafka, memecahkan aksi kontak mata lekat antara Rafka dan Zarine.
"Ouh iya Mas, terima kasih ya," Rafka tersenyum kecil, menjawab sang pengantar kopi.
"Iya, Ayah ada ngomong soal perjodohan sama ... ," jawab Zarine gantung, dengan matanya kembali menatap hujan yang masih deras.
Tanpa dilanjutkan pun, Rafka tau bahwa dirinya yang dimaksud.
"Menurut kamu gimana?" Rafka menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Entahlah Raf, jenjang pernikahan itu ngga mudah, apa iya siap? Masih pelajar, masih pengen kuliah, masa muda ngga akan terulang kembali, 'kan?" Zarine dengan tenang berpendapat.
Rafka menganggukkan kepalanya setuju.
"Kalau menurut kamu gimana?" Zarine bertanya balik dengan kepala menoleh pada Rafka.
"Aku juga bingung, Papa bilang mau jodohin aku karena capek sama kelakuanku, tapi kan aku tetep belajar, tetep ranking juga, meski jauh dibawa Abhi sama kamu, tapi kan tetep masuk 10 besar," Rafka mencurahkan isi hatinya sambil membela diri.
"Kamu sering bolos juga Raf, tidur di kelas juga bukan sekali dua kali, dari kelas 10 loh, eh salah, dari kelas 8 SMP kamu juga sudah sering kayak gitu," Zarine mengingat semua kelakuan Rafka masa sekolah.
Rafka, Zarine, Alfi, Abhi, Akifa, dan Abdiel sejak SD memang sekolah ditempat yang sama, walau beda kelas tapi mainnya tetap 6 orang itu isinya.
Rafka berkedip sembari mengembuskan napas lelah.
"Terus? Ini lanjutannya gimana? Kamu mau terima?" Rafka butuh jawaban.
"Kata jalani aja dulu, sayangnya ngga berlaku dalam hubungan ini, iya ngga? Karena ini udah pernikahan, bukan pacaran," keduanya saling menatap lekat lagi, hati Rafka menyetujui ucapan Zarine, hanya saja tanpa reaksi.
"Ayo pulang, ujannya udah reda, habisin dulu kopinya," ajak Zarine, dia berdiri merenggangkan tubuh sambil menunggu Rafka yang dengan cepet menghabiskan kopinya.
.......
.......
.......
Kalian mau tau sesuatu? Aku kehabisan ide😂, maksudnya, ini si Zarine ama Rafka nikah muda apa alasan kuatnya? Kalau alasan biar si Rafka tobat, kaya ngga 'kuat' banget ngga sih? Bener ngga?
.......
.......
.......
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih guys🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚