NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Mimpi di Atas Meja Kayu

​Malam itu, bulan sabit menggantung rendah di atas atap rumah kosong yang bocor.

Di tengah ruangan, sebuah api kecil menyala, memanaskan sepanci sup encer yang isinya lebih banyak air daripada sayuran.

Namun bagi Jian Yi dan ketiga sahabatnya, ini adalah momen paling mewah yang mereka miliki.

​Jian Yi menatap satu per satu wajah sahabatnya.

Coi Gi yang kini tubuhnya lebih tegap namun tetap urakan, Shi Tuzhu yang mulai menumbuhkan kumis tipis, dan Gi Jibo yang masih saja pendiam.

Pedang tua berkarat itu tersandar di dinding, tetap terlihat seperti besi sampah bagi mata orang biasa.

​"Hei," suara Jian Yi memecah keheningan. "Setelah tujuh tahun kita lari dari kejaran penjaga pasar dan berebut makanan dengan anjing liar... apa sebenarnya yang kalian inginkan dari hidup ini? Jika kalian punya pilihan, apa impian kalian?"

​Coi Gi tertawa hambar, menyandarkan punggungnya ke pilar kayu yang rapuh. "Impian? Sederhana saja, Yi. Aku ingin punya rumah yang atapnya tidak bocor saat badai. Aku ingin menikahi gadis tercantik di desa sebelah, lalu makan daging babi panggang setiap hari tanpa perlu mencuri."

​Shi Tuzhu menimpali dengan mata menerawang. "Aku hanya ingin hidup tenang. Memiliki ladang sendiri, melihat anak-anakku tumbuh besar tanpa harus tahu rasanya tidur dengan perut melilit karena lapar. Hidup berkecukupan... itu sudah lebih dari cukup."

​Gi Jibo mengangguk pelan. "Keamanan. Aku ingin kita tidak perlu lagi takut pada tentara korup yang suka menendang kita di jalanan."

​Jian Yi terdiam. Mimpi mereka sangat manusiawi, sangat sederhana, namun di dunia yang busuk ini, kesederhanaan adalah kemewahan yang mustahil bagi orang seperti mereka.

​"Begitu ya..." Jian Yi berdiri, matanya berkilat di balik bayang-bayang. Ia meraih pedang tuanya. "Kalau begitu, siapkan diri kalian. Besok, mimpi itu bukan lagi sekadar bualan sebelum tidur."

​"Kau mau ke mana,Jian Yi?" tanya Coi Gi bingung.

​"Pergi mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita." jawab Jian Yi pendek sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam.

​Tujuan Jian Yi adalah Kantor Pemerintahan Distrik.

Sebuah bangunan megah dengan pilar-pilar marmer yang dibangun dari keringat dan darah rakyat jelata.

Di sana, seorang gubernur bernama Zhao Fu tinggal dengan harta yang menumpuk, hasil dari pajak ilegal dan pemerasan bertahun-tahun.

​Di gerbang utama, dua penjaga berbaju zirah menghadang. "Berhenti, Gembel! Tempat ini bukan untuk—"

​KLANG!

​Bahkan sebelum mereka bisa mencabut pedang,

Jian Yi bergerak seperti bayangan. Dengan gagang pedangnya yang masih terbungkus kain lusuh, ia menghantam tengkuk kedua penjaga itu hingga pingsan seketika.

​Jian Yi mendobrak pintu aula utama. Di dalam, Gubernur Zhao Fu tengah berpesta, dikelilingi oleh tumpukan emas dan pelayan yang gemetar ketakutan.

​"Siapa kau?! Pengawal! Tangkap penyusup ini!" teriak Zhao Fu, lemak di lehernya bergetar karena panik.

​Sepuluh prajurit elit mengepung Jian Yi. Mereka adalah pendekar tingkat rendah yang disewa dengan harga mahal.

Namun di mata Jian Yi yang telah berlatih selama tujuh tahun di bawah bimbingan Roh Pedang Kuno, gerakan mereka lambat seperti kura-kura.

​"Bocah, kau cari mati!" Salah satu prajurit menebas ke arah leher Jian Yi.

​Jian Yi tidak menghindar. Ia hanya mengayunkan pedang berkaratnya dengan satu tangan.

​BOOM!

​Gelombang energi Qi yang murni meledak dari pedang itu.

Tekanan udara di ruangan itu meningkat drastis.

Pedang para prajurit hancur berkeping-keping, dan mereka terpental menghantam dinding hingga pingsan berdarah.

​Jian Yi melangkah pelan, setiap hentakan kakinya terdengar seperti lonceng kematian bagi Zhao Fu. Ia sampai di depan meja emas sang gubernur.

​"Kau... pendekar kultivasi?" bisik Zhao Fu, gemetar hebat sampai membasahi celananya sendiri. "Tolong... ambil saja emasnya! Aku akan memberimu apa pun!"

​Jian Yi menancapkan pedang berkaratnya ke meja emas itu hingga retak. "Aku tidak butuh izinmu untuk mengambil apa yang sudah kau curi dari rakyat. Mulai detik ini, jabatanmu, rumah ini, dan seluruh hartamu... berpindah tangan."

​Jian Yi mencengkeram kerah baju sang gubernur dan menyeretnya keluar menuju alun-alun kota yang masih sepi.

Dengan suara yang diperkuat tenaga dalam, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru distrik.

​"Rakyat Distrik Barat! Hari ini, tirani Zhao Fu berakhir!"

​Hanya dalam satu malam, Jian Yi membongkar gudang rahasia sang gubernur.

Ia membagikan sebagian besar gandum kepada warga, namun ia menyisakan bagian terbaik untuk ketiga sahabatnya.

​Menjelang fajar, Jian Yi kembali ke rumah kosong mereka. Ia tidak datang dengan tangan hampa.

Di belakangnya, beberapa kereta kuda yang penuh dengan kain sutra, peti koin emas, dan makanan lezat berbaris rapi.

​Coi Gi, Shi Tuzhu, dan Gi Jibo terbangun dengan mata terbelalak.

Mereka melihat Jian Yi berdiri di sana, jubahnya sedikit terkena noda darah, namun wajahnya tetap tenang.

​"Coi Gi, ini emas untuk membangun rumah paling megah dan mahar untuk gadis tercantik yang kau inginkan." ucap Jian Yi sambil melemparkan sekantong besar koin emas.

​"Tuzhu, ladang terbaik di utara sudah kubeli atas namamu. Jibo, tidak akan ada lagi tentara yang berani menyentuh kalian, karena sekarang... akulah yang memegang otoritas di wilayah ini."

​Ketiga temannya terpaku. Mereka menatap tumpukan harta itu, lalu menatap Jian Yi seolah melihat dewa yang turun dari langit.

​"Yi... apa yang kau lakukan?" bisik Coi Gi gemetar.

​Jian Yi tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung beban rahasia tujuh tahun. "Aku hanya mewujudkan impian kalian. Sekarang, tidurlah di kasur yang layak. Besok, kehidupan baru kalian dimulai."

​Si Pedang Tua di pinggangnya bergetar pelan, seolah terkekeh. "Bagus, Bocah. Tapi ingat, harta mengundang lalat. Dan lalat yang akan datang berikutnya... memiliki taring yang jauh lebih tajam dari gubernur gendut itu."

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!