Ruby Lauren dan Dominic Larsen terjebak dalam pernikahan yang tidak mereka inginkan.
Apakah mereka akan berakhir dengan perpisahan? Atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaBintang , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Memilikinya
Dominic merasa heran dengan sikap diam Ruby beberapa hari ini. Dia merasa tidak nyaman, padahal keinginannya juga wanita itu selalu diam.
"Robin, malam itu kau membawanya ke rumah orang tuanya bukan? Kenapa kalian cepat sekali kembali? Apa yang terjadi di sana?" tanya Dominic.
Robin menatap heran, tidak biasanya Tuannya itu akan bertanya seperti ini. "Kenapa Tuan peduli?"
"Aku hanya bertanya saja! Apa salahnya aku bertanya!?" balas Dominic geram.
Robin tertawa. "Tidak biasanya Anda bertanya seperti ini, Tuan. Jangan-jangan Anda memiliki perasaan pada Nyonya Ruby."
Dominic menatap malas Robin, dia menekan puntung rokok ke asbak dan akan segera pergi. Namun, Robin mengatakan hal yang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Orang tuanya tidak ada di rumah, sepertinya mereka meninggalkan Nyonya Ruby. Mereka tidak mau tahu tentang Nyonya Ruby lagi."
Dominic mengerutkan keningnya. "Jadi, dia pulang dengan cepat karena tidak ada yang peduli padanya lagi?" tanya Dominic, Robin hanya menanggapi dengan anggukan.
Tiba-tiba Dominic tertawa, sehingga Robin merasa heran.
"Kasihan sekali dia," katanya dengan nada mengejek, dia masih tertawa, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Tapi aku tidak peduli, biarkan saja tidak ada lagi orang yang peduli padanya, dia sekarang hidup sendiri tanpa siapa pun," ucap Dominic.
"Tuan, Nyonya Ruby tidak jahat. Kenapa kau tidak membuka hati padanya?"
Dominic langsung memasang wajah datar. "Diam, kau tidak tahu apapun!"
"Tapi, Tuan–"
Belum selesai Robin berbicara Dominic langsung pergi meninggalkan Robin. Dia muak jika harua membuka hati untuk wanita lain. Namun, sebenarnya Dominic hanya takut akan dikhianati lagi.
**
Di koridor yang sepi, Dominic berpapasan dengan Ruby. Dia berhenti dan menatap Ruby dengan tatapan penuh kebencian.
"Berhenti meminta Robin untuk membujukku supaya mau menerimamu, Benalu! Jika kau terus melakukan hal seperti itu, aku akan menendangmu keluar dari mansion ini!" ucap Dominic penuh ancaman.
Ruby menghela nafasnya dan melipat tangan ke dada. Dia mendekat dan berdiri tepat di hadapan Dominic. "Bicara apa kau, Orang gila? Sejak kapan aku meminta Robin untuk membujukmu supaya mau menerimaku!?"
Dominic mencengkram pipi Ruby. "Sekarang kau berani menyebutku orang gila!?"
Ruby mencakar tangan Dominic dengan kuat, sehingga pria itu melepaskan cengkramannya. "Dengar baik-baik, Dominic Larsen!!" Tatapannya begitu tajam kepada pria di hadapannya. "Aku tidak pernah meminta Robin untuk mengatakan padamu supaya menerimaku. Dan kau memang orang gila! Bagiku kau sangat gila!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ruby beranjak dengan langkah cepat. Sengaja, dia menabrak lengan Dominic dengan begitu keras sampai Dominic merasakan rasa nyeri yang tiba-tiba menyergap dan syok dengan sikap Ruby.
"Apa-apaan itu!?" gumam Dominic dengan tatapan penuh amarah, menatap bayangan Ruby yang kian menghilang ke kejauhan.
Dominic menghela nafasnya. Lalu dia berjalan menuju halaman belakang dan pergi ke rumah kecil yang ada di belakang mansion.
Di rumah itu, di dalam ruangan yang dipenuhi cahaya remang-remang dari lampu gantung tua, Dominic duduk di kursi kayu yang sudah usang, sambil memegang sebuah bingkai foto bergaya vintage.
Foto itu menunjukkan senyum manis kekasihnya yang telah lama pergi meninggalkan dunia ini. Dia menarik napas dalam, seakan mencoba menghirup aroma yang dulu sering tercium dari rambutnya. Matanya memandang tajam ke foto itu, seolah-olah bisa melihat langsung ke dalam jiwa yang dulu begitu dekat dengannya.
"Kau tahu, Sayang," bisik Dominic dengan suara yang bergetar, "aku tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain. Hanya kau yang bisa memenuhi ruang di hatiku." Tangannya gemetar sedikit saat dia menyentuh kaca foto itu, seolah bisa merasakan kehangatan tangan kekasihnya.
Di sekelilingnya, barang-barang peninggalan kekasihnya masih tergeletak dengan sangat rapi, sebuah syal yang dulu sering melingkar di leher saat musim dingin tiba, beberapa buku yang belum sempat dibaca bersama, dan cangkir kopi favoritnya yang kini hanya menyimpan kenangan.
Dominic menghela nafasnya. "Kenapa takdir begitu kejam? Kenapa aku harus berpisah dengan orang yang tulus mencintaiku? Siapa lagi yang bisa aku percaya sekarang, selain Robin?"
Dominic merasakan sebuah lubang besar di dalam dadanya, seakan setiap kenangan yang tercipta bersama kekasihnya adalah lembaran-lembaran yang tercabik. Dia tahu, tak ada yang bisa menggantikan posisi wanita itu di hatinya, seolah-olah cinta itu telah membeku layaknya waktu yang terhenti di rumah kecil itu.
**
Sementara itu di mansion utama keluarga Larsen.
Brian dan Angelic duduk di ruangan yang remang-remang, beberapa dokumen terhampar di meja kayu di depan mereka. Wajah mereka serius, matanya tajam menatap satu sama lain.
"Dominic masih hidup, kita tidak bisa menguasai semua hartanya!" kata Brian, dia terlihat sangat kesal karena rencananya selalu gagal.
"Mommy dan Daddy juga terlihat tidak ingin membunuhnya lagi, jadi kita yang harus bergerak kali ini," sahut Angelic.
"Kita harus melakukan ini dengan sempurna, tidak boleh ada kesalahan lagi," balas Brian sambil menggeser pion di atas peta.
Angelic mengangguk, rambut pirangnya tergerai, menutupi sebagian wajah pucatnya yang dipenuhi ketegangan. "Dominic tidak boleh curiga. Kita tahu dia banyak musuh, jadi kita bisa menggunakan itu sebagai kedok," kata Angelic dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Brian mengambil secarik kertas dan mulai menulis rencana dengan detail. Mereka memutuskan untuk menyusupkan racun ke dalam makanan Dominic saat pesta minggu depan. "Saat pesta, kau yang bertugas mendekati dan memastikan dia makan makanan itu." Instruksi dari Brian sambil menatap Angelic tajam.
Angelic menelan ludah, merasakan dinginnya rencana yang mereka buat sendiri, apalagi Dominic tidak pernah mau bicara dengannya.
Keduanya tahu risiko besar mengintai, namun hasrat untuk menguasai kekayaan Dominic membuat mereka mengesampingkan segala rasa takut.
"Kau juga tidak berhasil bukan? Kau bilang akan menyingkirkannya! Sekarang dia masih hidup!"
Angelic berdecak kesal, dia sangat jengkel mengingat hal ini lagi. "Padahal aku sudah menitipkan racun kepada Ruby, tapi ternyata wanita itu menukarnya! Sepertinya dia tidak berada di pihak kita!" ungkap Angelic.
Brian tampak berpikir. "Ruby, ya? Menurutku di sangat cantik. Aku jadi ingin memiliki wanita itu."
Angelic memutar malas kedua bola matanya. "Kak, apa yang kau pikirkan!!? Kita harus menyingkirkan orang-orang yang tidak berguna!"
"Jangan sentuh Ruby. Wanita itu harus menjadi milikku," ucap Brian, menatap tajam adik perempuannya itu.
"Masih banyak wanita di luar sana!"
Brian tertawa kecil. "Mereka tidak menarik, aku merasa Ruby saat menarik ketika aku melihat wajahnya di ruang makan. Untuk itu aku memutuskan ingin memilikinya."
Angelic hanya bisa menghela nafas kasar. Dia tahu Brian tak akan bisa dihentikan lagi.
...****************...