NovelToon NovelToon
ISTRI KE 13

ISTRI KE 13

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Mimi Zee

Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.

Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.

Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.

Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Bayu

Aku masih kepikiran Firman. Hancurnya Firman adalah kehancuranku pula. Ini bukan Firman yang kukenal dulu. Firman yang fulu adalah Firman yang cerdas, banyak akal, dan bijak. Firman adalah ketua OSIS yang disegani di sekolah. Mana mungkin bisa berubah sedrastis itu. Kemana akal sehatnya. Jika aku di Kediri aku sudah menyusulnya, memeluknya dan meyakinkannya bahwa hidup tak seseram pikirannya. Ah, aku akan menasehatkan sesuatu yang aku sendiri tidak bisa melakukannya. Jujur saja aku belum bisa memandang hidup sebagai sesuatu yang indah. Kenyataannya hidupku menyedihkan di tangan pria tua itu. Mungkin itu juga yang dipikirkan Firman. Hidupnya menyedihkan saat kutinggalkan.

Aku tidak nafsu makan malam ini. Sejak tadi Romo memberikan petuah-petuah di meja makan tapi tak terdengar sedikit pun olehku. Pikiranku melayang bersama bayangan Firman. Sendok dan garpu hanya bersentuhan ringan dengan piring namun hanya beberapa yang berhasil menghantarkan makanan menuju mulutku.

"Romo, Maaf, ada Tuan Bayu" salah seorang penjaga melaporkan.

"Oh, suruh masuk" Perintah Romo.

Semuanya berdiri menyambut kedatangan yang disebut Tuan Bayu tadi. Melihat mereka berdiri akupun ikut berdiri. Aku tidak tahu siapa yang dimaskud Tuan Bayu itu. Kenapa semua sampai berdiri menyambut kedatangannya, seperti saat kedatanganku. Apakah ia anggota keluarga ataukah kolega penting.

Dua orang masuk ruang makan. Yang satu begitu santai seolah rumah sendiri. Yang satu lagi bersikap sopan layaknya tamu.

"Selamat malam Kang Djani" Sapa salah seorang.

"Selamat malam Bayu"

Lalu keduanya berpelukan.

"Kenapa balik lagi, aku pikir sudah dimakan gajah" kelakar Romo.

"Hahaha, gajah nggak doyan dagingku Kang"

"Dasar bocah, kenapa tidak pulang pas pernikahanku?"

"Haish, pekerjaan nggak kelar-kelar Kang"

"Pekerjaan ditinggal ngorok ya nggak kelar Bay, ayo duduk"

Kedua tamu itu duduk. Yang disebutkan bernama Bayu itu berada tepat di sampingku. Sedang satunya lagi berhadapan dengannya tapi aku bisa melihat wajahnya. Dia tampan. Sopan, tidak banyak gaya seperti Bayu. Dadanya tampak bidang. Kulitnya putih bersih. Penampilannya rapi. Mungkin usianya tiga puluhan atau kurang dari itu.

"Mana istri Kang Djani yang baru itu?" Bayu bertanya. Apa dia tidak melihat anggota baru di meja ini. Gayanya bikin muak.

"Toleh ke kiri, di kirimu itu istri baruku"

"Oh, maaf maaf aku tidak terlalu memperhatikan. Haloo"

Aku tersenyum sebagai sapaan.

"Bayu ini adalah adik sepupuku, dia punya bisnis di Brunei, jadi sering kesana. Kemarin pas pernikahan kita, dia masih di Brunei. Oh ya, dia masih lajang. Kalau Azimah punya teman, bisa dikenalkan ke dia, biar badungnya ilang" Jelas Romo.

Bayu tertawa terkekeh-kekeh dengan ucapan Romo.

"Oh ini kenalkan pengacara baru saya. Namanya Varun. Saat ini dia mengurus pembukaan cabang baru bisnis saya" Bayu memperkenalkan temannya yang tampan itu.

"Kenapa dengan bisnismu? Ada sengketa?" Tanya Romo.

"Yah, sedikit Kang, pembebasan lahan yang masih digandoli sama beberapa warga. Sudahlah, saya yakin Varun bisa menyelesaikan" Jelas Bayu.

Aku melirik yang namanya varun. Deg, jantungku seperti copot. Matanya beradu dengan mataku. Dia melirikku juga. Aku malu. Segera kutundukkan wajahku. Dia pun demikian. Tatapan itu tidak bisa kuterjemahkan. Tatapan itu penuh tanda tanya. Dia menatapku dengan sedikit melirik.

Jantungku berdegup kencang saat dia berbicara. Dia mengobrol dengan Romo. Sepertinya Romo juga ingin mempekerjakan dia untuk mengurus bisnis perkebunannya. Suaranya serak basah. Terlihat kejantanan yang begitu dewasa pada suaranya. Beda jauh dengan yang namanya Bayu yang perilakunya sangat kurang sopan. Terlalu gaul atau terlalu banyak gaya. Entahlah.

"Berapa usiamu?" Romo bertanya pada Varun.

"Dua puluh delapan tahun bulan depan Pak" Jawab Varun tegas.

"Hmmmm masih muda, bagus" Gumam Romo.

"Darimana asalmu?" Tanya Romo lagi.

"Saya dari Jakarta, tetapi kuliah di Malaysia, dan mendapat kontrak kerja di Brunei, barulah saya mengenal Pak Bayu" Jawab Varun.

Aku melihat dia berbicara. Nada bicaranya sesuai dengan pendidikannya. Intelek, cerdas.

"Bayu, malam ini menginaplah di sini, saya ingin berbicara banyak dengan Tuan Varun ini" Pinta Romo.

"Oh memang itu yang kumau tadi hahahaha" Jawab Bayu.

Pukul 22.00 WITA.

Setelah Marni memijatku waktu itu, aku jadi ketagihan pijatannya. Lembut, tidak terlalu keras namun terasa di seluruh ototku. Sehabis dipijat badan terasa enteng. Marni sangat menyukai pujianku atas pijatannya. Ia senang aku berkenan dengan pijatannya. Malam ini, ia memijatku kembali. Dan Tina, ia sedang memberiku masker wajah dari tomat. Katanya biar wajahku tidak kering.

"Marni, apa yang kamu tahu tentang Tuan Bayu?" Tanyaku disela-sela pijatan Marni.

"Tuan Bayu itu adik sepupu Romo, usianya memang jauh berbeda, karena memang Ibunda Tuan Bayu lama tidak memiliki anak. Ada rumor yang beredar kalau mereka sebenarnya satu ayah. Tapi entah kebenarannya. Saya sarankan Nyonya tidak mengusik masalah itu" Jelas Marni.

"Tenang saja, aku tidak tertarik mengurusi mereka. Aku hanya menjaga diriku saja" Kataku.

"Tapi Nyonya juga hati-hati dengan Tuan Bayu" Kata Marni.

"Kenapa?"

"Dia suka menggoda perempuan" Sahut Tina.

"Mungkin dia tidak berani menggoda Nyonya saat ini, tapi Tuan Bayu itu rayuannya maut. Nyonya harus hati-hati" Kata Marni.

"Hm....Apa dia memang tinggal di sini?"

"Tidak Nyonya, dia punya dua rumah. Di Lombok dan di Bandung. Tapi dia sering menginap di sini. Yaa kan fasilitas di sini lebih mewah Nyonya"

Aku tersenyum kecil.

"Hm, kalau Varun?" Tanyaku lagi.

"Kami belum tahu dia seperti apa, karena kami baru melihatnya hari ini. Nyonya juga harus hati-hati. Karena Tuan Bayu sering membawa teman yang kurang baik ke rumah ini" Jawab Marni.

"Kurang baik bagaimana?" Aku penasaran.

"Suka mabuk, suka godain pelayan, bahkan juga bertindak seenaknya seperti rumah sendiri. Padahal hanya tamu"

"Apa Romo membiarkan hal itu terjadi?"

"Mereka tidak berani jika ada Romo, tapi bila Romo sedang ke luar kota, mereka bisa bersenang-senang"

"Tidak adakah yang melaporkan pada Romo?"

"Siapa yang berani melaporkan Tuan Bayu?nyawa taruhannya Nyonya. yang saya khawatirkan adalah Mas Mehmed"

"Kenapa dengan Mehmed?"

"Belakangan ini Tuan Bayu sering mendekati Mas Mehmed. Saya khawatir dia mempengaruhi Mas Mehmed dengan perilakunya yang tidak baik"

Aku malah tidak memikirkan tentang Mehmed. Tapi dia bagaikan putra mahkota di rumah ini. Masa depannya pasti sudah dipertimbangkan kiat oleh Romo. Apalagi Mbakyu Halimah juga menguasai berbagai kondisi. Aku yakin ia tidak mudah membiarkan Mehmed terpengaruh oleh siapapun.

Sudah hampir jam dua belas malam. Aku berusaha memejamkan mata namun tak bisa tidur. Pikiranku sedang dibayang-bayangi pria dua puluh delapan tahun itu. Wajahnya yang bersih selalu menampakkan diri setiap aku terpejam. Uh, kenapa jadi seperti ini. Apakah ia sama buruknya dengan Bayu seperti yang diceritakan Marni tadi.

Kulihat dari balkon kamarku, Romo sedang ngobrol dengannya di pinggir kolam ditemani oleh dua pelayan laki-laki. Apa mereka tidak ngantuk? Aku melihatnya dari sisi atas. Wajahnya tidak begitu terlihat. Hanya hidung mancungnya yang tampak. Namun begitu ia tetap terlihat macho. Dahinya lebar.

Ups, dia melihat ke atas. Segera aku berlindung di balik tembok kamarku. Jangan sampai ia melihatku mengintip. Aku kembali ke ranjang dan berbaring. Berharap bisa segera tidur nyenyak.

Pukul dua dini hari. Aku belim juga tidur. Entah kenapa mataku sulit terpejam kupakai tehnik menghitung domba, tidak berhasil. Kupakai trik satunya lagi. Menggerakkan bola mataku ke kanan dan ke kiri terus menerus. Bukannya ngantuk, bola mataku justru terasa perih.

Kulihat kembali ke arah tadi dia ngobrol dengan Romo. Tempat itu sudah sepi. Mereka sudah tidak ada. Syukurlah. Semoga aku segera bisa tidur. Aku ke dapur mengambil air minum. Sebelum aku sampai di dapur, dari jendela ruang tengah uang luas. Ketika gorden bergoyang diterpa angin, aku melihat bayangan seorang pria berdiri di atas gazebo. Dia adalah pria itu. Yang hidungnya mancung dan wajahnya bersih serta rambutnya sedikit gondrong.

Aku mendekat pada jendela agar bisa melihat lebih jelas. Benar, dialah pria itu. Di sedang sholat di sana. Kenapa mesti di atas gazebo? Kenapa tidak di kamarnya? Tak apa, dengan begitu aku bisa melihatnya.

Astaghfirullah..... pikiranku kotornya, ingat Azimah, kau sudah bersuami, pantang bagi perempuan yang sudah menikah untuk melirik pria lain. Mataku terpejam, dosaku bisa membuat Bapakku disiksa di akhirat kelak. Segera kualihkan pandanganku. Alu ke dapur untuk tujuanku semula.

Dari jendela dapur yang tidak terlalu luas, aku melihat sekelebat sosok yang aku kenal. Sosok yang baru kulihat beberapa jam yang lalu di meja makan. Ku belalakkan mataku. Benar, dia sosok itu. Tuan Bayu, begitu para pelayan memanggilnya. Bayu sedang berdiri menghadap tiang. Dia tampak sedang berbicara dengan seseorang. Sayangnya aku tidak bisa melihat siapa yang sedang dia ajak bicara karena tertutup gorden jendela dapur. Aku bergeser sedikit.

Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Bayu sedang berbicara dengan Jenny. Kenapa mereka begitu akrab? Apa memang begitu? Atau itu sesuatu yang sebenarnya tidak diperkenankan? Mataku terus mengekor. Mereka berjalan menuju suatu tempat. Kupanjangkan leherku agar bisa menguntit mereka. Bayu membukakan suatu ruangan di samping kolam renang. Yang kutahu di situ ada lorong menuju ruangan lain. Semacam dua rumah yang dihubungkan jadi satu. Kata Mbakyu rumah ini awalnya hanya sampai batas kolam, tetapi Romo melebarkannya melalui lorong itu. Ya, mereka sedang menuju kesana. Aku terus bergeser agar bisa melihat lebih jelas.

"Azimah"

Hah, aku terkejut, Mbakyu menepuk pundakku dari belakang. Aku kaget dan bingung mau bilang apa. Hampir saja aku bicara soal apa yang kulihat tapi untunglah otakku segera berfikir.

"Eh, saya ambil minum Mbakyu. Kemana para pelayan kok sepi?" Aku pura-pura mencari pelayan.

"Ini sudah dini hari hanya ada para penjaga di luar. Yang lain pasti sudah tidur. Kau butuh sesuatu? Biar kubangunkan mereka" Mbakyu menawarkan bantuan.

"Oh tidak Mbakyu, besok saja" Aku segera menjauh dari Mbakyu sebelum ia bertanya macam-macam.

Ah apa yabg kulihat tadi. Pertama aku lihat Varun sholat di atas gazebo, kedua aku lihat Bayu bersama Jenny masuk ke lorong menuju bangunan yang lain. Ah, aku tidak tauu apa-apa tentang keluarga ini.

Aku teringat salah sayu halaman di buku catatan Ibu.

Meski kau melihat suatu kebenaran, jika tidak ada kaitannya denganmu, diamlah. Assukutu salamah. Diam berarti keselamatan.

Yah catatan Ibu mengingatkanku. Untung saja aku tidak keceplosan di depan Mbakyu tadi. Ah Ya Allah, Kau selamatkan aku lagi.

***

1
Zeldaa ༼⁠✩
keren cerita nyaa
momy luqy_
keren kaka..q suka ceritanya. ngga ad yang q skip deh pokoke👍😘
momy luqy_
Luar biasa
kiwicream
ceritanya bagus banget kak. bener2 antimainstream beda dari yg lain. sampe q begadang buat dengerin ini saking penasarannya
bunda DF 💞
bagua banget ceritanya,, bukan ttg ceo,, bukan ttg bucin"an,,, ttg poligami yg ruwet,, perebutan harta,, tp dikemas dgn keren n bikin penasaran
ossy Novica
dari sana saja bandot tua itu tak sadar juga ., sudah berapa orang istrinya meninggal
ossy Novica
jangan alasan poligami sebagai sunnah Rasul. Kebajakan itu di salah gunakan . Contohnya Romo , wanita hanya sebagai budak nafsu kalo tak berguna di ceraikan tampa apa2 Dia ngak sadar , sudah banyak istri tapi susah dapat keturunan , mungkin Allah sayang sama si anak ka4na itu di ambil cepat dari pada menderita nantinya.
ossy Novica
Varun tidak bisa di percaya ,berhati hatilah Imah ....
ossy Novica
jangan nampakkan rasa tak suka ,berhati hatilah Imah
Endah Windiarti
bagus banget ceritanya
Yuyun Haryanto
Jd baper bacanya Thor. ikutan 😭😭😭
Yuyun Haryanto
azimah biarpun tdk mencintai Romo tp dia tetap baik dgn Romo. dia sll ingin mencari keadilan tanpa memanfaatkan untuk kepentingan sendiri. azimah sosok yg tulus, cerdas.
Hr sasuwe
suka ceritanya menarik
Yuyun Haryanto
ternyata Halimah licik jg
Yuyun Haryanto
iih kok jg ngeri yah. tiap mimpi JD kenyataan. dulu wkt disekap digudang jg. manggil jg datang. sprt saling terkoneksi tanpa telepon.
Yuyun Haryanto
ternyata cinta itu buta yah Varun. GK ngeri apa menghadapi Romo ?
Yuyun Haryanto
ceritanya bagus Thor. gk bisa bayangin hidup serumah dgn 4 istri.
Asinan May
kereeeennnnn
xandn.na
bagus banget
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!