NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 **Di Cakar Awan (kucing)**

​"Indihoy apa Abang?" tanya Ila dengan nada polos yang membuat suasana kamar mendadak mencekam bagi kedua kakaknya.

​Alzian dan Elzion saling lempar pandang, mencoba mencari jawaban yang paling aman untuk telinga anak sekecil Ila. "Bukan apa-apa, Dek. Kamu tidur saja ya, nanti besok telat bangunnya. Kan besok harus sekolah," ucap Elzion berusaha mengalihkan pembicaraan secepat mungkin.

​Namun, Ila bukanlah anak yang mudah menyerah jika rasa penasaran sudah melanda. Ia melipat tangannya di dada. "Indihoy apa Abanggg? Ila gak mau tidur kalau belum tau artinya!" ucap Ila sedikit ngegas, menuntut jawaban pasti.

​Alzian memutar otak dengan cepat sebelum akhirnya menyahut asal, "Olahraga malam." Kalimat itu meluncur begitu saja, yang penting adiknya puas dan segera memejamkan mata.

​Mendengar itu, Ila tampak berpikir sejenak. "Ayah olahraga malam-malam? Pantes gak pakai baju tadi..." gumam Ila sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa potongan teka-tekinya sudah lengkap. Ia benar-benar percaya bahwa sang Ayah sedang melakukan push-up atau angkat beban di dalam kamar.

​Alzian dan Elzion serentak mengembuskan napas lega. Bahaya besar baru saja terlewati.

​"Sekarang tidur ya," pinta Alzian dengan suara yang sangat lembut, tangannya mengusap puncak kepala Ila.

​Ila mengangguk lucu, "Iya Abang..." sahutnya patuh. Ia kemudian merangkak menuju tengah kasur besarnya dan merebahkan tubuh mungilnya di sana.

​"Mau Abang temani tidur, hm?" tawar Alzian penuh perhatian.

​"Ck," decak Elzion pelan saat mendengar tawaran kembarannya yang dianggap terlalu memanjakan si bocil.

​Ila menggeleng dengan gerakan menggemaskan. "Gak, Ila udah besar. Jadi Ila tidur sendiri aja," sahutnya yang langsung memicu tawa kecil dari Alzian.

​"Masih bocil kamu, Dek..." ledek Elzion, tidak tahan untuk tidak menggoda adiknya.

​"No no no, Ila sudah besarrr!" bantah Ila tidak terima.

​"Kecil."

​"Besar!"

​"Kecil," pancing Elzion lagi sambil menahan tawa.

​"Besarrr Abangggg!" teriak Ila kesal. Matanya melotot lebar, berusaha terlihat garang. Namun bukannya takut, Elzion justru terbahak-bahak melihat wajah adiknya yang malah terlihat sepuluh kali lebih menggemaskan saat sedang marah.

​"Hahaha, iya iya, besar." Elzion akhirnya mengalah sambil masih tertawa, lalu ia melangkah keluar kamar meninggalkan kehangatan di sana.

​Ila cemberut, bibirnya mengerucut sebal karena merasa ditertawakan. "Abang El nyebelin..." gerutunya pelan.

​Alzian hanya terkekeh, ia mendekati Ila yang sedang rebahan dan menyelimutinya hingga sebatas dada.

​Cup.

​"Good night, Princess," bisik Alzian sambil mengecup kening Ila dengan penuh kasih sayang.

​"Malam, Abang," sahut Ila pelan sambil memejamkan matanya. Alzian mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram sebelum ia pun keluar dari kamar itu.

​Keesokan paginya, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang mewah itu.

​"Sayang, wake up," suara lembut Zeline terdengar memanggil. Ia menepuk-nepuk pelan pipi chubby Ila yang masih terlelap.

​"Enggh," lenguh Ila. Bukannya bangun, ia malah makin menarik selimutnya ke atas, menenggelamkan diri dan meringkuk seperti bayi di dalam balutan kain tebal.

​Zeline terkekeh melihat tingkah putrinya yang sangat sulit dibangunkan itu. "Sayang bangun, gak mau sekolah, hm?" tanya Zeline lagi dengan sabar.

​"Ila masih ngantuk, Bunda," sahut Ila dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, matanya masih tertutup rapat.

​"Harus bangun Sayang, kan mau sekolah. Sini ayo, Bunda mandiin..." Zeline menarik pelan selimut yang menutupi seluruh tubuh Ila.

​Mendengar kata 'mandiin', Ila membuka matanya perlahan, mencoba menyesuaikan dengan sinar matahari pagi. "Bunda mandiin?" tanya Ila dengan nada lucu, memastikan pendengarannya.

​"Iya, kenapa? Ila gak mau?" tanya Zeline balik.

​Ila langsung menggeleng cepat, rasa kantuknya menguap seketika. "Ila mauuu!" teriaknya penuh semangat. "Ayoo Bundaa!" Ila langsung berdiri tegak di atas kasur dan menarik pelan tangan Bundanya menuju kamar mandi.

​Zeline hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang sangat manja ini. Ia merasa bersyukur, meskipun raga ini milik Aqila, namun jiwa Ila di dalamnya memberikan warna yang sangat indah. Wajah Ila yang memang terlihat seperti bayi membuat siapa pun yang melihat tingkah childish-nya tidak akan merasa risih, melainkan justru akan merasa gemas luar biasa.

​Di dalam kamar mandi, Zeline memandikan Ila dengan penuh kasih sayang. Ila benar-benar manja dan polos; ia sama sekali tidak merasa malu melepaskan seluruh pakaiannya di depan sang Bunda, seolah-olah ia memang telah menjadi putri kandung Zeline sejak lahir.

...****************...

Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih menyelimuti ruangan. Zeline dengan telaten membasuh tubuh putrinya. Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikiran Zeline; ia ingin memastikan Ila mengerti batasan privasi.

​"Ila, dengerin Bunda ya. Ila boleh lepas semua baju seperti ini hanya di depan Bunda saja, mengerti?" ucap Zeline lembut sambil mengusap bahu Ila dengan sabun. Ia tidak ingin putrinya yang terlalu polos ini suatu saat nanti bertindak ceroboh di depan orang lain.

​Ila mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap sang bunda dengan raut bingung. "Why, Bunda?" tanya Ila polos.

​"Ila sudah besar, Sayang. Jadi tidak boleh lepas baju sembarangan ya," jelas Zeline perlahan.

​Ila menunduk, memperhatikan tubuhnya sendiri yang kini tanpa helai benang pun. Ia kemudian menyentuh dadanya dengan jari telunjuknya. "Ini besar?" tunjuk Ila pada bagian dadanya dengan ekspresi tanpa dosa.

​Zeline terkekeh kecil melihat tingkah jujur putrinya. "Iya, sudah mulai besar. Jadi jangan lepas baju sembarangan ya, apalagi di depan laki-laki," nasihat Zeline lagi.

​"Kenapa ini membesar, Bunda?" tanya Ila lagi, benar-benar penasaran mengapa anatomi tubuhnya mulai berubah.

​"Karena perempuan nanti akan menyusui anaknya, Sayang."

​"Menyusui anak?" Ila memiringkan kepalanya, mencoba mencerna informasi baru itu.

​Zeline mengangguk pasti. "Nanti kalau Ila sudah menikah, Ila akan punya adek bayi. Dan adek bayi itu hanya boleh minum di sini..." Zeline menunjukkan bagian dada sebagai sumber nutrisi bayi kelak.

​"Kalau belum menikah tidak boleh punya adek bayi?" tanya Ila dengan kelogisan khas anak kecil.

​Zeline mengangguk mantap. "Iya, kalau mau punya adek bayi harus menikah dulu," ucapnya memberikan pemahaman dasar.

​"Menikah seperti apa, Bunda?" kejar Ila, rasa ingin tahunya seolah tidak ada habisnya.

​"Menikah itu saat pasangan laki-laki dan perempuan sedang menghadap penghulu dengan menggunakan gaun pengantin yang cantik," jelas Zeline sambil mulai membilas tubuh Ila.

​Ila menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah ritual mandi selesai, Zeline membantu Ila mengenakan seragam sekolahnya dan mengeringkan rambut Ila yang basah menggunakan hairdryer.

​"Awan wake up! Awan gak boleh malas-malasan loh!" teriak Ila setelah selesai bersiap. Ia menghampiri Awan, kucing kesayangannya yang masih meringkuk malas di atas karpet bulu.

​Zeline hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi putrinya dengan si kucing. "Bunda turun duluan ya, mau siapkan sarapan untuk Ayah dan Abang-abangmu," pamit Zeline yang kemudian berlalu keluar kamar.

​Ila masih berusaha membangunkan peliharaan kesayangannya itu. Namun, Awan sepertinya sedang dalam mode tidur nyenyak dan enggan diganggu. Karena merasa diabaikan dan mulai kesal, Ila melakukan tindakan nekat; ia menarik ekor Awan.

​"Meongggg!!!"

​Awan menjerit keras. Terkejut karena ekornya ditarik dengan tidak berperasaan, insting pertahanan diri kucing itu muncul. Secara refleks, cakar tajamnya menyambar pergelangan tangan mungil majikannya.

​"Aarrggh!" Ila mengerang kesal sekaligus kesakitan. Ia mematung sesaat melihat pergelangan tangannya yang kini terdapat garis merah panjang dan mulai mengeluarkan darah.

​"Hikss... Awan jahat! Ila gak like!" Tangis Ila pecah seketika. Dengan perasaan hancur dan perih, ia berlari keluar kamar menuju lantai bawah.

​"Bundaa... Ayahhh... hiksss..." Suara tangis Ila menggema di seluruh penjuru rumah saat ia berlari menuju ruang makan.

​Bryan, Zeline, serta si kembar Alzian dan Elzion tersentak kaget. Secara refleks, mereka semua berdiri dari kursi makan saat melihat Ila berlari mendekati Bryan dengan wajah yang sudah sembap.

​"Ayah look... Awan cakar Ila, hikss..." adu Ila sambil menyodorkan pergelangan tangannya yang berdarah ke hadapan ayahnya.

​Bryan seketika panik luar biasa melihat darah di kulit putih putrinya. Darah tingginya seolah naik seketika. "Kita ke rumah sakit! Sekarang!" serunya tanpa sempat memeriksa seberapa dalam luka tersebut.

​Melihat sang kepala keluarga panik, suasana ruang makan jadi kacau. Semuanya ikut panik. Zeline bergegas lari mengambil kotak P3K sebagai pertolongan pertama sebelum mereka benar-benar meluncur ke rumah sakit. Padahal, mereka belum melihat dengan jelas apakah itu luka serius atau hanya cakaran permukaan.

​"Ayahhh... hikss..." isak Ila makin kencang karena melihat semua orang panik, ia jadi mengira lukanya sangat parah.

​"Sabar Sayang, Ayah di sini." Bryan memeluk Ila erat, mencoba menenangkan putrinya.

​"Coba Bunda obati dulu agar tidak keluar terus darahnya," ucap Zeline yang sudah kembali dengan kotak P3K di tangan dan langsung mendekati Ila.

1
saniati Amat
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!