NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 : Ancaman yang menjadi nyata

Orang-orang berdatangan termasuk ayah dan ibu Alena karena sempat mendengar jeritan wanita itu. Yani, juga ikut ke sana sambil membawa Alea yang khawatir karena mendengar suara Mamih.

Putri dengan cepat menyembunyikan ponsel itu dari pandangan orang lain.

"Ada apa ini? Alena, kamu kenapa?" Wanita itu sangat terkejut saat melihat putrinya tampak lemas terkulai di atas kursi.

Mereka segera mengerubungi Alena yang terlihat stresss dan shock.

"Air, ambil air minum! Bi, tolong ambilkan air!" Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yani yang berdiri agak di belakang.

Tanpa banyak bersuara sang babysitter lekas bergerak berlari cepat ke arah dapur untuk mengambil air.

Alea yang diturunkan oleh Yani kemudian berjalan mengitari orang-orang untuk melihat Mamihnya.

"Mamih, Mamih kenapa?" Tangan kecil si mungil menyentuh tangan Alea. Wajahnya tampak khawatir tapi Alena tak bisa berkata apapun.

"Udah, bawa dulu masuk ke dalam," ujar ayahnya Alena. Dia bergerak membantu putrinya bangun dari tempat duduk.

Dengan langkah yang berat dan seperti diseret, Alena pun mengikuti bimbingan sang ayah dan ibunya yang sedang menuntun ia berjalan masuk ke dalam rumah.

Orang-orang di belakang mengikuti dengan perasaan cemas.

"Kak Alena kenapa sih, Teh?" Wahyu yang baru pulang sekolah langsung bertanya ada saudara sepupunya itu.

"Teteh gak bisa cerita ini ke kamu. Nanti saja di dalam," jawabnya.

.

.

Di dalam ruangan tamu Alena masih terlihat menangis. Wajahnya memerah dan suaranya sudah serak.

"Kamu kenapa Len? Apa yang terjadi?" Tanya sang ibu menatap putrinya dengan cemas.

"Mamih, Mamih kenapa?" Alea tak kalah khawatirnya. Meski masih kecil namun ia dapat merasakan rasa sakit yang sedang dirasakan Alena.

Alena tak menjawab. Dia diam seribu bahasa dan menangis tersedu. Bibirnya seakan kelu. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala seperti sedang mencoba untuk menolak sebuah fakta.

"Put, kalian itu sedang bicara apa sih tadi?" Karena tak ada jawaban dari Alena. Wanita itu beralih menatap ke arah Putri.

Putri menatap orang-orang di sekelilingnya dengan bingung. Ponsel milik Alena disimpan dalam saku gamis. Tanpa sadar ia menggenggam ponsel tersebut erat-erat.

"Putri, jawab dong! Jangan bikin khawatir!" Desak wanita itu dengan kekhawatiran yang tak terbendung.

"Umm...." Dia melirik ke arah Alena yang terlihat mulai agak tenang. Dia ga berani asal ambil keputusan karena video itu pastinya menjadi aib bagi Alena.

"Arinta selingkuh Bu, Yah...," ucap Alena dengan nada suara yang bergetar.

"Apa kamu bilang???!!" Semua orang di sana shock setelah mendengar kebenaran itu.

"Alena udah dapat buktinya..., Alena gak sangka, dia bakal sejauh itu...." Dia mulai menangis kembali. Luka yang baru saja membaik kini seolah tercabik kembali.

"Suruh dia pulang sekarang! Ayah harus bicara langsung dengan dia!!" Pria itu spontan mengamuk. Suaranya langsung lantang menggema di dalam ruangan.

"Kamu yang sabar, Len...." Sang bunda dengan cepat meraih, memeluk tubuh sang putri.

"Lebih baik, Kak Alena tinggal di sini dulu," ujar Putri mengusulkan.

"Iya, Ibu setuju," timpal wanita itu mengangguk cepat. "Kamu sama Alea di sini dulu sampai masalah ini selesai. Kamu mau 'kan, Len...?" Ia menatap Alena dengan penuh kasih. Rasanya tak tega ia membiarkan sang putri mengalami nasib malang seperti ini. Ia mengelus lembut lengan anaknya itu.

"Iya, Bu...," balas Alena setuju.

"Kamu minum dulu, Ibu bakal siapin kamar untuk kalian." Ia berdiri dari tempat duduk dan segera pergi.

Keadaan hening sesaat. Mereka hanya bisa menatap dalam diam tanpa berani berkomentar. Alea menjadi satu-satunya yang berani bergerak dan berbicara.

"Mamih, jangan sedih. Alea bakal nemenin Mamih...." Anak itu berdiri di depan Alena lalu memeluk kedua lututnya sambil menyandarkan kepala kecilnya di atas lutut itu.

"Makasih ya, Alea...," balas Alena membelai lembut kepala sang putri dengan hati yang berat. Kenapa ini semua harus terjadi, disaat ia berpikir keadaan mulai membaik dan mungkin mereka benar-benar bisa memulai semua lagi dari awal.

"Teh..., sabar ya...." Putri duduk di sebelah Alena dan menepuk pelan bahunya.

"Put, ponselnya mana...?" Alena menatap ke arah Putri dengan wajah lemah dan meminta ponselnya kembali.

"Teteh yakin?" Tanya Putri memastikan.

"Iya, enggak apa-apa. Aku bakal butuh itu untuk bukti 'kan...," jawabnya yang mengindikasikan akan terjadi gugatan? Atau laporan?

Putri hanya mengangguk dan mengeluarkan ponsel itu dari dalam saku gamisnya, lalu menyerahkannya kepada Alena.

.

.

Sementara Arinta yang sedang berada di dalam gedung kantor dan melakukan pekerjaannya sedang dilanda kegelisahan karena ancaman Melinda.

Sial betul wanita itu!!! Apa sih maunya!

Hatinya bergemuruh dengan rasa amarah.

Namun, tiba-tiba saat itu ponselnya berdering. Memecah kekalutan di hatinya yang sudah menumpuk.

Siapa lagi? Melinda? Apa dia gak puas?

Dengan kasar pria itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kantornya. Dengan cepat ia langsung menekan tombol 'terima' tanpa melihat dulu siapa orang yang memanggil.

"Apa lagi? Kamu belum puas, Mel?" Ucap pria itu begitu mengangkat panggilan tersebut.

"Oh, bagus! Jadi benar nama perempuan itu Melinda?!" Balas suara di seberang yang ternyata adalah suara laki-laki.

Arinta tersentak setelah mendengar suara bentakan laki-laki di seberang. Wajahnya memucat seketika ia menyadari itu seperti suara ayahnya Alena.

Ini kok mirip suaranya Pak Arif...?

Jantungnya berdegup tak karuan. Keringat dingin meluncur dari pelipis kiri.

"A-Ayah...?" Ujarnya terbata-bata.

"Gak usah panggil saya Ayah!" Sambar pria itu tajam seperti benda tajam yang menusuk ruang hatinya. "Apa yang kamu lakukan pada Alena, anak saya? Berani kamu selingkuh?" Ungkapnya penuh kekecewaan dan amarah.

"Yah, itu..., semua bisa saya jelaskan!" Arinta panik. Jelas ia tak punya pembelaan.

"Kamu bikin malu! Apa kamu tidak tau video mesum kamu itu dikirim?!" Balas pria itu dengan nada emosi dan penekanan.

Video mesum? Video mesum apa???

Arinta mencoba berpikir untuk beberapa saat. Pikirannya kemudian langsung tertuju ke arah apa yang pernah dilakukannya dengan Melinda.

Jangan bilang ada yang merekam kejadian itu dan mengirimkannya??? Tapi siapa??

Ia kembali menenangkan diri dan berpikir. Sampai dugaannya berhenti pada satu titik kesimpulan.

Ini pasti ulah Melinda!!!

Ia menggeram dalam hati dengan napas yang tertahan. Satu-satunya orang yang dapat melakukan semua ini hanyalah Melinda karena cuma dia yang punya akses.

"Sekarang juga saya minta kamu ceraikan anak saya!"

Suara itu bagaikan guntur yang mengoyak kesadaran Arinta. Cerai.

"Tapi, Yah...!"

Arinta mencoba untuk menjelaskan atau membujuk tapi pria itu sudah tak mau mendengar apa-apa dan memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

"ARGHHHH! SIALAN!" Pria itu menggebrak meja dengan kedua kepalan tangannya.

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!