Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kencan di Atas Aspal
Hari pertama sebagai sepasang kekasih terasa sangat sureal bagi Lia. Ia terbangun dengan senyum yang sulit hilang, meski ia tahu bahwa menjadi pacar seorang Devan berarti ia baru saja menandatangani kontrak dengan bahaya. Namun, pagi itu, yang ada di pikirannya hanyalah kencan pertama mereka.
Lia berdiri di depan cermin, mencoba memilih baju. Biasanya ia hanya mengambil sweater paling besar yang ia temukan, tapi hari ini berbeda. Ia mengenakan jeans hitam ketat dan kaos putih yang pas di badan, lalu menyampirkan jaket denim kesayangannya. Kacamata bulatnya tetap ada, namun matanya tampak lebih bersinar.
Brummm... Brummm!
Suara gahar motor Devan terdengar di depan rumahnya. Lia segera berlari turun, namun ia berhenti mendadak saat melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu, menatap keluar dengan dahi berkerut.
"Lia, siapa pria yang membuat kegaduhan di depan rumah kita pagi-pagi begini?" tanya ayahnya, Pak Gunawan, dengan nada menyelidik.
Lia menelan ludah. "Itu... itu teman Lia, Yah. Namanya Devan."
Pak Gunawan membuka pintu tepat saat Devan turun dari motornya. Devan tampak sedikit berbeda hari ini; ia memakai kemeja flanel merah yang rapi meski tetap dengan celana jeans robek dan boots andalannya.
Devan melihat ayah Lia dan seketika sikapnya berubah menjadi sangat sopan. Ia melepas bandananya dan menjabat tangan Pak Gunawan dengan mantap.
"Selamat pagi, Om. Saya Devan. Saya ingin meminta izin untuk mengajak Lia jalan-jalan hari ini," ucap Devan dengan suara berat namun tenang.
Pak Gunawan menatap tato di tangan Devan, lalu menatap motor besarnya. Ada keheningan yang mencekam selama beberapa detik. "Kamu yang kemarin mengirim orang-orang untuk menjaga rumah saya, kan?"
Lia dan Devan tersentak. Ternyata Pak Gunawan tidak sebodoh yang mereka kira.
"Iya, Om. Saya hanya ingin memastikan keluarga Om aman dari orang-orang jahat di luar sana," jawab Devan jujur.
Pak Gunawan menghela napas, lalu menepuk bahu Devan. "Saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya di luar sana, Devan. Tapi saya melihat bagaimana putri saya tersenyum sejak mengenalmu. Bawa dia pulang sebelum jam delapan malam, dan jangan sampai ada lecet sedikit pun pada dirinya. Mengerti?"
"Siap, Om. Saya jamin," jawab Devan tegas.
Setelah mendapat izin yang tak terduga itu, Devan membantu Lia naik ke motornya. "Siap untuk kencan pertama kita, Tuan Putri?" goda Devan.
"Kemana kita pergi?"
"Rahasia."
Motor itu melesat membelah jalanan kota. Devan tidak membawa Lia ke mal mewah atau restoran bintang lima. Ia membawa Lia ke sebuah pameran buku tua di pinggiran kota yang diadakan di sebuah gedung tua yang artistik. Lia hampir melompat kegirangan saat melihat ribuan buku langka yang dipamerkan.
"Aku tahu kamu tidak suka tempat yang terlalu bising," bisik Devan sambil menggandeng tangan Lia dengan erat, seolah memberi pengumuman kepada dunia bahwa gadis ini miliknya.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri rak-rak buku. Devan dengan sabar mendengarkan Lia bercerita tentang sejarah buku-buku itu, meski ia tidak mengerti sepenuhnya. Baginya, melihat binar di mata Lia jauh lebih menarik daripada buku apa pun di dunia ini.
Namun, kedamaian itu terusik saat mereka sedang duduk di sebuah kedai kopi kecil di sudut pameran. Beberapa anggota geng motor lain—bukan The Vipers, tapi kelompok kecil yang ingin cari muka—mengenali Devan. Mereka mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arah Lia.
"Lihat, si Serigala Hitam sekarang memelihara Kelinci Kaca," ejek salah satu dari mereka yang lewat di samping meja mereka.
Lia menunduk, merasa tidak nyaman. Ia bisa merasakan aura Devan mendadak berubah. Tangan Devan yang tadinya lembut membelai tangan Lia, kini mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
"Devan, jangan. Tolong," bisik Lia, menatap mata Devan dengan memohon. "Abaikan saja mereka. Jangan rusak hari ini dengan perkelahian."
Devan menatap Lia, melihat ketakutan di matanya, dan perlahan ia merilekskan tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Hanya karena kamu yang meminta, Lia. Kalau tidak, lidahnya sudah aku potong."
Devan berdiri, namun bukan untuk menyerang. Ia justru merangkul Lia dan mencium pelipisnya di depan orang-orang itu. "Ayo kita pergi dari sini. Aku tahu tempat yang lebih bagus untuk melihat matahari terbenam."
Kencan mereka berakhir di sebuah jembatan layang yang belum diresmikan, tempat favorit Devan untuk menyendiri. Mereka duduk di atas aspal yang masih baru, bersandar pada motor besar Devan, sambil menatap langit yang berubah warna menjadi jingga keunguan.
"Terima kasih untuk hari ini, Devan. Ini kencan terbaik yang pernah kubayangkan," ucap Lia tulus.
Devan menatap Lia, lalu mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana dari sakunya—bukan cincin pertunangan, tapi sebuah cincin pengikat. "Ini tanda bahwa kamu milikku, dan aku milikmu. Di duniaku, janji adalah segalanya. Dan aku berjanji akan selalu ada di sampingmu, apa pun yang terjadi."
Lia membiarkan Devan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Di bawah langit senja, mereka berbagi ciuman pertama yang manis dan penuh perasaan. Sebuah momen yang membuat Lia lupa sejenak bahwa di luar sana, banyak mata yang sedang mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.
Lia tidak tahu bahwa di sudut kota yang lain, seseorang sedang melihat foto kencan mereka dengan kemarahan yang membara. Seseorang dari masa lalu Devan yang tidak akan membiarkan hubungan ini berjalan dengan mudah.