Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Umpan telah dimakan
.
Mobil yang dikendarai Gilang akhirnya tiba di depan rumah kontrakan Rini. Hujan masih belum berhenti, membasahi jalanan dan menciptakan genangan di sana-sini. Gilang mengamati keadaan sekitar, kontrakan itu tampak sederhana, namun bersih dan terawat.
"Terima kasih sudah mengantar saya, Pak," ucap Rini sambil menatap wajah Gilang.
"Sama-sama," balas Gilang, senyumnya tulus. "Aku sama sekali tidak keberatan mengantarmu," ucapnya. “Malah senang,” lanjutnya yang hanya ia ucapkan dalam hati.
Rini mengangguk pelan seolah hatinya tersentuh. "Bapak benar-benar baik," ucapnya. “Oh iya, jaket Bapak akan saya kembalikan setelah dicuci," ucapnya. "Tidak etis rasanya kalau saya mengembalikan jaket yang bekas tubuh saya. Saya takut Bapak merasa jijik."
Gilang tersenyum mendengar ucapan Rini. "Padahal sebenarnya saya tidak mempermasalahkan itu," ucapnya.
"Kalau begitu, saya turun dulu ya, Pak," ucap Rini lalu bersiap membuka pintu mobil. "Terima kasih sekali lagi."
"Rin..." panggil Gilang tiba-tiba, menahan pundak gadis itu yang baru saja membalikkan badan dan memegang handle mobil.
Rini menoleh, menatap Gilang dengan tatapan bingung. "Iya, Pak?"
"Jika ada masalah apapun, jangan ragu menghubungi saya," ucap Gilang melancarkan serangan.
Rini mengerutkan keningnya, seolah sama sekali tidak mengerti maksud Gilang. Padahal memang itu yang ia harapkan. "Maksud Bapak?"
"Mungkin kamu membutuhkan bantuan biaya untuk adikmu sekolah," jelas Gilang. "Aku tidak keberatan membantu."
Mata Rini berbinar mendengar tawaran Gilang. "Benarkah?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja," jawab Gilang sambil mengangguk dan tersenyum meyakinkan.
"Ya ampun, terima kasih banyak, Pak," ucap Rini. Kemudian serta merta mendekat ke arah Gilang dan memeluknya dengan erat.
Gilang terkejut dengan tindakan Rini yang tiba-tiba. Dadanya berdebar kencang merasakan tubuh Rini yang lembut memeluknya. Harum aroma rambut Rini menusuk hidungnya, membawa aroma yang menenangkan dan membuatnya memejamkan mata sejenak. Jiwa buayanya meronta.
"Sama-sama," ucap Gilang membalas pelukan Rini dengan lembut.
Tiba-tiba, Rini melepaskan pelukannya, seolah-olah dirinya baru tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Wajahnya memerah berpura-pura malu.
"Maaf, Pak," ucap Rini dengan nada gugup. "Sa saya refleks. Saya benar-benar minta maaf. Sa saya tidak sengaja melakukannya."
Rini menundukkan wajahnya, seolah merasa bersalah dan takut Gilang akan marah atau menganggapnya tidak sopan.
Gilang tersenyum melihat tingkah Rini yang gugup dan malu-malu. Ia merasa gemas dengan gadis itu.
"Tidak apa-apa, Rin," ucap Gilang lembut. "Aku mengerti."
Gilang mengulurkan tangannya dan mengangkat dagu Rini, membuat gadis itu menatapnya.
"Jangan merasa bersalah," ucap Gilang dengan tatapan lembut. "Aku senang kok kamu memelukku."
“Maksud Bapak?" Rini menatap Gilang pura-pura tidak paham.
Gilang terdiam sejenak, mencoba berpikir mencari alasan. Tidak mungkin tiba-tiba melancarkan serangan. "Maksud saya anggap saja saya ini kakakmu sendiri. Jadi saya tidak akan segan membantu kamu.”
"Terima kasih, Pak," ucap Rini terlihat tulus. Padahal dalam hatinya dia mengumpat. “Dasar buaya buntung!”
Gilang tersenyum, lalu mengusap pipi Rini dengan lembut. "Sudah malam," ucapnya. "Sebaiknya kamu segera masuk. Sudah waktunya kamu istirahat, kamu pasti lelah karena bekerja seharian."
Rini mengangguk, masih membiarkan tangan itu berada di pipinya meskipun sebenarnya ia merasa jijik. Tangannya bergerak membuka pintu. Sebelum keluar, ia menatap Gilang sekali lagi dan tersenyum manis.
"Terima kasih, Pak. Selamat malam," ucapnya.
"Selamat malam, Rin," balas Gilang.
Rini keluar dari mobil dan berlari menuju kontrakan. Gilang mengamati Rini sampai gadis itu masuk ke dalam rumah. Setelah itu, ia menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
"Kelinci kecil itu, kira-kira bagaimana rasanya?" gumam Gilang pada dirinya sendiri.
Tidak ada rasa bersalah pada Almira maupun Lila. Yang ada hanya rasa penasaran, ingin segera mencicipi buah yang ranum.
Gilang menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan kontrakan Rini. Namun, pikirannya tetap tertinggal pada gadis itu. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Tubuh mungil, kulit mulus, wajah polos, aroma harum pe°rawan. Tiba-tiba saja membuat celananya terasa sesak.
"Shit...!" umpatnya kesal.
.
Rini tersenyum menyeringai setelah mobil Gilang menghilang dari pandangan. Wajah lugu dan polos yang baru saja ia tunjukkan sirna, digantikan ekspresi penuh perhitungan. Ia meraih ponsel dari dalam tas nya, mengetik pesan singkat dengan gerakan cepat dan cekatan.
"Rencana pertama berhasil,"
Jemari lentiknya menekan tombol kirim, lalu ia menyeringai puas.
*
Di tempat lain
Almira merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ia merasa lelah dan bosan dengan semua drama ini. Namun, ia harus tetap kuat dan fokus pada tujuannya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, menandakan ada pesan masuk. Almira meraih ponselnya dan membuka pesan itu. Senyumnya merekah saat membaca pesan dari Rini.
"Rencana pertama berhasil,"
Almira tertawa pelan, merasa lega karena rencananya berjalan dengan lancar. Gilang sudah masuk dalam jebakan. Sekarang, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan pria itu sepenuhnya ke dalam perangkapnya.
"Bagus, Mbak Rini," gumam Almira pada dirinya sendiri. "Saya tidak akan melupakan jasa Mbak Rini."
Almira mematikan lampu kamarnya dan memejamkan mata. Tidur dengan tenang. Pintu kamar sudah dikunci, tidak ada kemungkinan Gilang bisa masuk. Karena dia sudah merasa enggan dan jijik bersentuhan dengan pria itu, yang telah membagi tubuh dan hatinya dengan wanita lain.
semangat thor