Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 06
Happy Reading 📝
Siang ini di SMA Angkasa tengah di hebohkan dengan kehadiran kelima cowok dari sekolah lain yang di kenal dengan raja jalanan.
Mereka semua datang bukan tanpa tujuan, membuat heboh satu sekolah hingga membuat Aresha yang tengah menikmati makan siang nya harus terganggu dengan kehebohan yang terjadi.
Aresha yang merasa semakin terusik, langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju lapangan sekolah.
"Aresha, mau kemana?" tanya Veli, mengikuti Aresha dari belakang, begitupun Alhamdulillah, maksih ya suka suka.. , dengan tangan yang di masukan ke saku celana masing masing.
"Mau ngapain Arkan ke sini Sha?" tanya Veli setengah berbisik di samping Aresha.
Aresha tidak menjawab pertanyaan Veli, Aresha lebih memilih untuk berjalan mendekati mereka berdua, berdiri di tengah tengah antara Arkan dan Arjuna.
"Arkan, ngapain lo kesini?" tanya Aresha, menatap pria yang sudah heboh membuat satu sekolah ini. Arkana Louizer, pria semacam preman yang suka mencari keributan, dan juga pria yang sudah lama di kenal Aresha sebagai biang onar.
"Gue ke sini mau nyelesein masalah gue, tapi nih cowok, dengan sok beraninya bikin gue emosi dengan menghandang jalan gue," mendengar ucapan Arkan, Aresha beralih menatap Arjuna yang sedari tadi menatap tajam kehadiran Arkan.
"Arjuna," desis Aresha, namun Arjuna memilih mengabaikanya dan terus menatap Arkan.
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai ketua osis, dan aku nggak suka sekolahanku ada keributan. Jadi aku minta sekarang juga, buat kalian semua pergi dari sini." ucap Arjuna yang di tunjukan langsung kepada Arkan dan keempat teman nya.
"Hahaha..." Arkan beserta keempat temanya menertawakan Arjuna, seakan apa yang Arjuna ucapkan itu sebuah lulucon yang patut untuk di tertawakan.
"Sudah stop hentikan," teriak Aresha membuat semuanya terdiam.
Keadaan kembali hening, bahkan siswa siswi SMA Angkasa yang melihat pun tak ada yang berani mengeluarkan suaranya.
"Arkan, mending lo balik deh. Jangan bikin rusuh di sini," ucap Aresha dengan nada tegas.
"Yang bikin rusuh itu siapa? pacar lo itu yang mulai mancing emosi gue," teriak Arkan. Mata nya menyalang tajam menatap Arjuna.
Aresha menghela napas panjang, merasa kesal menghadapi spesies cowok macam Arkan. Karena Aresha tau, jika Arkan tidak akan pernah menuruti perkataan nya, sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
"Arjuna kita... "
"Ada apa ini?" ucapan Aresha terhenti saat sosok Arsen muncul dari belakang tubuh Arkan, seketika suasana menjadi riuh kembali, meneriaki nama Arsen yang datang dengan gaya col seperti biasa.
"Nah, ini dia orang nya!" sahut Arkan membuat Aresha semakin binggung di tengah tengah kerumunan manusia di tengah lapangan.
"Apa mau lo? Bukankah gue bilang jangan pernah datangin sekolah gue," desis Arsen berjalan beberapa langkah hingga berdiri tepat di samping Arkan.
Arkan menertawakan Arsen, memandang Arsen dengan remeh.
"Aku bilang jangan bikin rusuh di sekolah ini,"
Bugh...
"Arjuna," Aresha memekik melihat tubuh Arjuna terpental setelah Arkan memukul wajahnya.
"Arkan, apa yang lo lakukan hah," bentak Aresha mencoba membantu Arjuna berdiri, namun Arjuna menepisnya dan memilih berdiri sendiri .
"Makanya, jadi orang itu jangan sok pemberani, baru di pukul gitu aja udah tumbang. Lagian gu, heran sama lo Aresha, bagaimana bisa lo pacaran sama cowok kayak dia."
"Tutup mulut lo Arkan, hal seperti inilah yang nggak gue suka dari lo," desis Aresha menatap Arkan marah. Aresha merasa tak terima jika ada yang menghina kekasihnya.
"Kita selesaikan masalah ini di luar," Arsen menarik kasar tangan Arkan keluar dari area lapangan, dengan di ikuti Arkan Dkk dan Arsen Dkk di belakang nya.
Aresha tidak mempedulikan mereka lagi, Aresha kini menatap miris Arjuna yang meringis memegangi sudut bibirnya yang terluka.
"Arjuna, kamu nggak papa kan?"
"Bisa nggak, kalau ada masalah kayak gini, kamu nggak usah ikut campur."
Aresha menatap Arjuna tak percaya.
"Aku cuma nggak mau kamu kenapa napa Arjuna," balas Aresha tak suka.
"Itulah yang aku gak suka dari kamu. Kamu terlalu berlebihan dan selalu mencampuri urusan orang." Arjuna mengusap kasar sudut bibirnya, lalu berjalan meninggalkan Aresha seorang diri di tengah lapangan.
Aresha terdiam di tengah tengah lapangan, membiarkan dirinya menjadi tontonya satu sekolahan. Dan Aresha tidak peduli itu, karena kini, hati nya tengah terluka, hatinya merasa sakit mendengar kata kata yang barusan di ucapkan kekasihnya sendiri.
"Jangan di sini Sha, malu di lihatin banyak orang," Veli datang dan langsung menarik tangan Aresha keluar dari lapangan, dan Aresha membiarkan itu, karena sekarang, rasanya diam lebih baik dari apapun yang ingin Aresha ucapkan. Termasuk jeritan hati nya yang meronta kesakitan.
Sepulang sekolah, Aresha tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mendatangi rumah Arjuna dengan di antar oleh Stepany yang kebetulan rumah nya searah dengan rumah Arjuna.
Aresha tidak bisa berlama lama bertengkar dengan Arjuna, ini seperti penyiksaan bagi darinya sendiri. Jadi Aresha memilih langsung mendatangi kediaman Arjuna untuk menyelesaikan masalah.
"Thanks ya Step," ucap Aresha setelah sampai di depan gerbang rumah Arjuna.
"Lo beneran gak mau gue tungguin, gue khawatir sama lo Sha,"
"Apa yang lo khawatirin, Arjuna nggak sejahat itu kok. Nanti pulang nya, biar Arjuna yang anter gue." ucap Aresha mencoba untuk tetap tersenyum, agar sahabat nya ini tidak lagi mengkhawatirkan nya.
"Oke deh, gue cabut dulu ya, Sha!"
"hati hati, Step."
Begitu mobil Stephany menghilang, Aresha mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Arjuna.
Aresha mengetuk pintu hingga seorang pembantu datang dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam.
"Biar Mbok yang akan panggil Den Juna, Non Aresha duduk dulu disini," Aresha tersenyum ramah, dia sudah mengenal para pembantu di rumah kekasihnya, mengingat bukan sekali dua kali ia mendatangi kediaman Arjuna.
"Ada apa kamu ke sini?"
Aresha menoleh kebelakang, menatap Arjuna yang baru saja datang dengan setelan santai nya.
"Mama sama Papa kamu kemana? "
"Belum pulang," jawab Arjuna singkat.
"Kamu masih marah sama aku?"
"Soal? "
"Arsen!"
"Bisa nggak, gak usa sebut namanya di depan aku." sentak Arjuna hingga membuat Aresha terkejut.
"Kamu kenapa sih, kasar banget sama aku," Aresha berucap lirih, matanya menatap mata Arjuna yang seakan enggan menatap nya.
"Karena aku nggak suka dengan apa kamu lakukan,"
"Memangnya apa yang telah aku lakukan?" bantah Aresha.
"Kamu pikir aku nggak tau, kamu diam diam suka ke bar kan sama teman teman kamu itu. Kamu juga sering main sama cowok, padahal kamu tau kalau aku nggak suka sama cewek kayak gitu,"
Aresha terdiam untuk sesaat, ia pikir dengan datang kerumah Arjuna akan menyelesaikan masalah, namun ternyata Aresha salah. Aresha berdiri dari duduknya. Hingga sekarang Aresha berhadapan langsung dengan Arjuna.
"Harusnya kalau kamu nggak suka aku kayak gitu, kamu ngomong baik baik sama aku. Aku akan berubah demi kamu, tidak seperti sekarang, kamu marah marah jelas." teriak Aresha menatap Arjuna kecewa.
"Kamu buat aku bingung Arjuna, bingung kalau sebenarnya kamu beberan sayang sama aku atau tidak?" Aresha mengusap kasar air matanya, berlari keluar dari rumah Arjuna yang membuat luka dihatinya semakin membara.
Aresha keluar dari rumah Arjuna dengan derai air mata, berlari sekencang mungkin menjauhi rumah Arjuna. Bahkan Aresha sampai tidak memperdulikan rasa sakit di kaki nya yang terluka karena kesandung tadi saat keluar dari rumah Arjuna.
Bertepatan dengan Aresha yang berlari, dari arah depan, ada sebuah mobil yang melaju kencang.
"Aaaaaaa," Aresha berteriak menutupi wajahnya yang hampir saja tertabrak mobil hitam di depanya.
Aresha mengusap air matanya begitu melihat sosok yang tadi hampir menabrak nya keluar dari mobil nya.
"Lo udah gila ya, bagaimana bisa berlari di tengah jalan seperti ini," teriak pemilik mobil marah.
Aresha tidak menjawab, Aresha hanya diam membiarkan pemilik mobil itu memarahinya. Aresha masih syok, hingga tidak menyadari jika pemilik mobil yang hampir menabrak nya adalah Arsen.
"Lo bisu atau gimana?" bentak Arsen sekali lagi. Dan saat itu juga Aresha tersadar, Aresha mendongak dan menatap Arsen.
"Lo yang salah, karena lo yang mau nabrak gue," lirih Aresha.
"Gue nggak akan nabrak lo kalau lo nggak gila berlarian di tengah jalan seperti ini," nada Arsen masih sama, dingin dan membentak.
Kali ini Aresha tak menjawab, Aresha hanya diam dengan air mata yang kembali berlinang di mata nya.
"Maaf," lirih Aresha pelan, perasaanya benar benar tak baik sekarang. Hingga tak ada tenaga untuk berdebat dengan Arsen.
Arsen merasa aneh, tidak biasanya Aresha diam tak melawan kepadanya.
"Lo kenapa?" tanya Arsen memelankan nada suranya.
Aresha menggelengkan kepalanya, tangan nya bergerak mengusap air matanya sendiri.
"Masuk mobil, gue antar pulang," ucap Arsen berjalan, dan kembali masuk kedalam mobil nya.
Aresha menurut, berjalan lemah dan masuk kedalam mobil milik Arsen.
Arsen yang terbiasa membawa mobil dengan kecepatan tinggi, langsung menanjap gas nya hingga membuat Aresha hampir saja terjungkal kedepan jika saja lengan Arsen tak menghalangi nya.
"Arsen," pekik Aresha terkejut.
Mereka berdua, Arsen dan Aresha, tiba tiba terdiam saling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Terutama Arsen, yang menatap wajah Aresha dengan begitu dalam.
📝
keesokan harinya, Aresha.merasa jika ada yang tidak beres dengan tubuh nya. Badanya tiba tiba terasa panas dengan kepala yang berdenyut sakit.
"Aresha, kamu nggak sekolah Sayang?" Nara membuka pintu kamar Aresha, berjalan mendekati Aresha, dan tersenyum melihat putrinya yang masih tertidur dengan terbalut selimut tebal nya.
"Bangun Sayang, udah pag__"
"Sayang, kamu kenapa? Badan kamu panas banget. Astagfirullah, kamu sakit ya?" seketika Nara menjadi panik saat menyadari suhu tubuh Aresha yang panas. Nara berjalan cepat keluar kamar untuk membawakan obat untuk Aresha.
"Pake ini dulu ya, siang nanti kita ke Dokter," ucap Nara mengompres kening Aresha dengan handuk panas yang dibawanya.
Aresha terbangun dan tersenyum menatap Nara.
"Aresha baik baik saja Bun, Bunda nggak perlu khawatir ya," ucap Aresha lemah.
"Kamu kenapa sampai kayak gini Sayang, kemaren kan masih baik baik saja," tangan Nara bergerak mengusap lembut kepala Aresha, wajah dan suaranya sangat terlihat jelas jika Nara menyimpan kekhawatiran.
Aresha tersenyum hambar, dia tau penyebab sakit nya ini. Ya, rasa sakit yang tengah di rasakan nya ini berasal dari Aresha yang terlalu kelelahan setelah berlari dari rumah Arjuna. Padahal Aresha sendiri tau, jika dia tidak boleh kelelahan terlalu lama.
"Papa belum pulang ya Bun?" tanya Aresha mulai merindukan sosok Papa nya, sekeras apapun sifat Aresha, dia tidak akan pernah bisa berjauhan dengan papa nya. Ya, meskipun sering kali dia merasa kesal dengan aturan yang papa nya terapkan itu.
"Besok Papa baru pulang, dan kamu harus sudah sehat saat Papa pulang, oke," Aresha tersenyum dan beralih memeluk tubuh bunda nya.
"Maafin Aresha Bun, Aresha Sayang Bunda," ucap Aresha mulai menyadari dosa dosanya yang sudah ia perbuat selama ini di belakang ibu nya. Terutama untuk hal berbohong.
Nara tersenyum dan membalas pelukan putrinya.
"Bunda juga, jadi anak Bunda yang baik ya. Buat Papa dan Bunda bangga sama Aresha,"
Nara melepaskan pelukan nya dan mencium kening Aresha sekilas.
"Kamu makan dulu ya, habis itu di minum obat nya,"
Aresha mengangguk dan mulai menerima suapan demi suapan dari Nara, hingga ketukan pintu terdengar dan muncula sosok Bik Sina pembantu rumah nya.
"Maaf Nyonya, di luar ada tamu,"
"Siapa Bik?"
'"Saya nggak tau Nyonya, kayaknya pacar nya Non Aresha deh, soalnya ganteng banget orang nya," Aresha melotot, menatap Bik Sina dengan pandangan tak percaya.
Arjuna? Benarkah Arjuna mendatangi nya, jika memang benar Arjuna, entah apa yang harus Aresha lalukan untuk mengungkapkan rasa bahagia nya.
"Suruh aja ke sini Bik," ucap Aresha.
"Yaudah, kalau gitu Bunda tinggal dulu ya, setelah itu, kamu harus jelasin semuanya ke Bunda," Nara tersenyum dan mengelus rambut panjang Aresha sebelum memutuskan untuk turun menyusul Bik Sina.
Aresha kembali duduk dan menatap pintu kamar nya dengan degup jantung yang luar biasa, untuk pertama kalinya Arjuna datang ke rumah nya dan itu sungguh membuat Aresha senang bukan main. Walau hatinya masih sedikit sakit, tetap saja Aresha tak bisa berlama lama jika harus bertengkar dengan Arjuna.
tok tok tok.
"Masuk," begitu pintu telah terbuka sempurna, Aresha tak dapat menghilangkan keterkejutan nya.
"Arsen," Aresha menatap kedatangan Arsen tak percaya, rasa kecewa kini memenuhi hati Aresha saat orang yang ia harapkan kehadiran justru tidak datang untuknya.
Dan mungkin memang benar apa yang di ucapkan sahabat sahabat nya, jika Arjuna tidak benar benar sayang dan serius dengan nya.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu