NovelToon NovelToon
Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Ketos / CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Ra za

Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Keyakinan Nayla

Pagi itu, udara terasa sedikit berbeda bagi Nayla. Ada degup jantung yang lebih cepat dari biasanya. Hari ini akan menjadi awal dari perjalanan barunya. Perjalanan yang entah akan membawanya ke mana, namun ia yakin ini bukan sekadar soal pekerjaan.

Setelah memastikan ayahnya sudah sarapan dan bibinya sudah datang untuk menemani, Nayla duduk di tepi tempat tidurnya, menatap ponsel di tangan dengan gelisah. Di layar, tertera sebuah nomor yang semalam diberikan oleh seorang wanita baik hati bernama Gaby.

Lalu jari-jarinya mulai menekan angka demi angka.

Telepon mulai tersambung. Suara nada tunggu terdengar di telinga Nayla, dan tak lama kemudian...

“Halo?”

Suara lembut dan berwibawa terdengar dari seberang.

Nayla menarik napas pelan. “Selamat pagi, Nyonya. Ini saya, Nayla... perawat yang Nyonya temui kemarin di rumah sakit.”

“Oh, Nayla!” Suara Gaby langsung berubah menjadi hangat dan penuh harapan. “Saya sudah menantikan kabar darimu. Jadi... bagaimana, Nay?”

Tanpa berputar-putar, Nayla menjawab, “Saya menerima tawaran Nyonya, saya siap untuk membantu merawat putra Nyonya.”

Terdengar helaan napas lega dari Gaby.

“Terima kasih, Nay. Terima kasih banyak. Tolong kirimkan alamat rumahmu sekarang, ya. Saya sendiri yang akan menjemputmu bersama sopir.”

“Baik, Nyonya. Saya kirim sekarang juga.”

Setelah menutup telepon, Nayla segera bersiap. Tas kecil yang berisi beberapa helai pakaian, perlengkapan pribadi, dan buku catatan medis, ia letakkan di dekat pintu. Meski dadanya sesak, ia tahu ini jalan terbaik untuk saat ini.

Tak butuh waktu lama, mobil hitam berkilau berhenti di depan rumahnya. Dari dalam, Gaby turun dengan elegan namun penuh kehangatan.

“Selamat pagi,” sapa Gaby sopan ketika memasuki halaman rumah Nayla.

“Selamat pagi, Nyonya,” jawab Nayla yang sudah menunggu di teras. “Silakan masuk.”

Gaby disambut oleh sang bibi dan ayah Nayla yang duduk di kursi roda. Dengan penuh hormat, Gaby pun menjelaskan maksud kedatangannya.

“Saya ingin meminta izin, Pak, Bu. Saya butuh bantuan Nayla untuk merawat putra saya yang sedang lumpuh. Saya akan menjaga Nayla dengan baik, dan tentu saja... Nayla bisa pulang kapan saja untuk menjenguk Ayah.”

Ayah Nayla menatap wanita itu penuh syukur.

“Terima kasih, Bu... sudah mempercayai anak saya. Maaf kalau dia belum berpengalaman di rumah pribadi, tapi dia anak baik.”

Gaby tersenyum. “Saya yakin itu. Justru saya butuh orang yang berhati tulus seperti Nayla.”

Setelah berpamitan dan mencium tangan sang ayah serta memeluk bibinya, Nayla pun masuk ke dalam mobil bersama Gaby. Mobil mulai melaju meninggalkan rumah kecil itu. Meski berat meninggalkan ayahnya, Nayla menatap ke depan dengan penuh harapan.

Dalam perjalanan menuju rumah keluarga Mahesa, Gaby mulai membuka obrolan.

“Nayla... saya harap kamu bersabar nanti menghadapi Leon. Putra saya memang sulit diajak bicara sejak kecelakaan itu. Tapi saya benar-benar berharap padamu.”

Nayla mengangguk perlahan. “ Nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin. Saya tahu, merawat pasien bukan hanya soal fisik, tapi juga hati.”

Gaby tersenyum simpul. “Leon adalah anak semata wayang saya, Nayla. Dia dulu sangat ceria, pekerja keras, penyayang... bahkan perusahaannya berkembang pesat karena kerja kerasnya. Tapi sejak kecelakaan itu, dia berubah. Dia jadi pemarah, tertutup, dan kadang—maaf—bersikap kasar.”

Nayla sempat diam. Ia menelan ludah pelan. Tak bisa dipungkiri, perasaan takut mulai menyelinap.

Namun Gaby belum selesai.

“Bahkan... kekasihnya meninggalkan dia setelah tahu kondisinya tak bisa berjalan lagi,” ucapnya lirih, suaranya bergetar.

Nayla menoleh dengan tatapan prihatin. “Ditinggal di saat seperti itu?” gumamnya lirih.

“Iya. Leon belum bisa menerima kenyataan itu. Dia merasa kehilangan segalanya dalam satu waktu. Saya takut kalau dia terus seperti ini, luka batinnya makin parah.”

Gaby menoleh, menggenggam tangan Nayla pelan.

“Karena itu, saya mohon, Nayla. Jangan hanya jadi perawat bagi tubuhnya... tapi juga bantu sembuhkan jiwanya. Saya yakin, Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan.”

Hati Nayla terasa hangat meski juga gugup.

“Nyonya” ucapnya pelan, “saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, namun saya akan berusaha semampu saya untuk melakukan yang terbaik untuk putra Nyonya.

Gaby mengangguk, air matanya nyaris jatuh karena terharu.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam diam, namun bukan diam yang kosong—melainkan diam penuh doa dan harapan, bahwa semua ini akan menjadi awal yang baik, bagi Nayla... maupun bagi Leon yang terkurung dalam kesedihannya.

Perjalanan menuju kediaman keluarga Mahesa memakan waktu cukup lama, namun Nayla hampir tak menyadarinya. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam, duduk tegak dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Setiap kata yang keluar dari mulut Nyonya Gaby tentang putranya ia dengarkan dengan saksama, tentang sifat Leon sebelum kecelakaan, tentang perubahan besar yang terjadi setelahnya, dan tentang alasan mengapa Nayla diminta datang ke rumah itu.

Di dalam hatinya, Nayla berusaha menenangkan diri. Ia sadar, langkah yang diambilnya hari ini akan mengubah hidupnya sepenuhnya. Pria bernama Leon bukan hanya akan menjadi tuannya, tetapi juga tanggung jawab yang harus ia emban dengan kesabaran dan keteguhan hati.

Keheningan di dalam mobil akhirnya pecah ketika sopir memperlambat laju kendaraan.

“Kita sudah tiba, Nyonya,” ucapnya hormat.

Gaby mengangguk pelan lalu menoleh ke arah Nayla. Senyumnya hangat, berusaha menenangkan.

“Mari, Nayla. Kita sudah sampai.”

Begitu turun dari mobil, langkah Nayla spontan terhenti. Di hadapannya berdiri sebuah rumah besar dengan arsitektur megah perpaduan gaya modern dan klasik Eropa. Pilar-pilar tinggi menyangga teras depan, sementara taman luas dengan pepohonan dan bunga tertata rapi membingkai bangunan itu dengan kesan anggun. Semilir angin membawa aroma dedaunan dan bunga segar, menambah kesan eksklusif yang membuat Nayla sejenak merasa kecil.

Saat memasuki rumah, keterkejutan itu kembali terulang. Interiornya luas dan elegan, dipenuhi cahaya lembut dari lampu gantung kristal yang menjuntai megah di tengah ruangan. Dinding berwarna terang dihiasi lukisan-lukisan bernilai seni tinggi. Lantai marmer mengilap memantulkan bayangan langkah mereka, seolah menegaskan bahwa rumah ini bukan tempat biasa.

Gaby menangkap raut kagum di wajah Nayla.

“Jangan merasa canggung,” katanya lembut. “Rumah ini memang besar, tapi pada akhirnya, fungsinya tetap sama.”

Nayla mengangguk kecil, tersenyum sopan, meski di dalam dadanya jantung berdegup lebih cepat.

Mereka kemudian berhenti di depan sebuah lift yang menyatu dengan interior rumah.

“Kamar Leon berada di lantai tiga,” jelas Gaby. “Sejak kecelakaan itu, kami memasang lift agar ia bisa berpindah tempat tanpa kesulitan.”

Lift bergerak naik perlahan. Nayla menahan napas tanpa sadar.

Sesampainya di lantai tiga, mereka disambut Bibi Eli yang tampak gelisah.

“Nyonya… maaf, tadi Tuan Leon sempat terjatuh dari kursi rodanya,” lapornya cepat. “Untung Paman Juan segera membantu.”

Wajah Gaby langsung berubah pucat.

“Kenapa tidak langsung menghubungi Mama?”

“Saya takut Nyonya sedang ada urusan penting,” jawab Bibi Eli menunduk.

Tanpa membuang waktu, Gaby melangkah cepat menuju kamar Leon. Nayla mengikutinya, dan semakin mendekat, ia bisa merasakan suasana berbeda—seolah udara di sekitar kamar itu lebih berat.

Kamar Leon luas, namun nuansanya muram. Tirai besar terbuka, membiarkan cahaya sore masuk dan menyinari sosok pria yang duduk membelakangi pintu, menatap keluar jendela. Bahunya tegap, namun sikapnya kaku dan tertutup.

“Leon, kamu tidak apa-apa?” suara Gaby terdengar penuh kecemasan.

“Aku baik,” jawab Leon singkat, dingin, tanpa menoleh. “Mama tidak perlu ke sini.”

Nada suaranya tajam, seperti dinding yang sengaja ia bangun agar tak seorang pun mendekat.

Nayla menelan ludah. Inilah pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan Leon. Ia belum melihat wajah pria itu, tetapi suaranya saja sudah membawa tekanan yang sulit diabaikan.

“Kamu terjatuh. Mama lihat tanganmu membengkak,” kata Gaby lembut, mencoba mendekat.

“Aku bilang aku tidak butuh siapa pun!” bentak Leon.

Sebelum Gaby bisa melanjutkan, suara Nayla terdengar, pelan namun jelas.

“Maaf, Tuan Leon… jika Tuan mengizinkan, saya bisa membantu meredakan bengkaknya.”

Leon terdiam.

Ia memutar kursi rodanya perlahan, matanya mengarah pada sosok yang berdiri tak jauh dari ibunya. Seorang gadis muda dengan pakaian sederhana namun rapi. Rambutnya dikepang sederhana ke belakang, wajahnya bersih tanpa riasan mencolok. Tatapan matanya tenang—bukan menantang, tapi juga bukan tunduk.

Untuk sesaat, Leon lupa mengalihkan pandangan.

Ada sesuatu dari gadis itu yang terasa… berbeda. Bukan kecantikannya semata, melainkan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Nayla pun merasakan hal serupa. Melihat Leon dari dekat membuat dadanya bergetar. Pria itu tampan dengan garis wajah tegas, namun sorot matanya gelap, menyimpan luka yang belum sembuh. Aura dominannya tetap terasa kuat meski ia duduk di kursi roda.

Leon akhirnya mendengus kecil, memalingkan wajah.

“Siapa dia?” tanyanya dingin pada ibunya. “Dan kenapa orang asing dibawa ke kamarku?”

Gaby menarik napas, lalu menatap putranya dengan penuh kesabaran.

“Namanya Nayla. Mulai hari ini, dia akan tinggal di sini dan membantu merawatmu.”

“Merawat?” Leon tertawa sinis. “Aku tidak meminta bantuan siapa pun.”

Nayla merasakan dadanya mengencang, namun ia tetap berdiri tegak. Ia tahu, ini baru permulaan.

“Kamu mungkin tidak memintanya,” lanjut Gaby lembut, “tapi Mama yang memintanya. Setidaknya… beri dia kesempatan.”

Leon tidak menjawab. Ia kembali memutar kursi rodanya menghadap jendela, mengakhiri percakapan itu sepihak.

Gaby menoleh ke Nayla, sorot matanya menyiratkan harapan sekaligus permohonan maaf. Nayla membalasnya dengan anggukan kecil. Ia menarik napas dalam-dalam.

Di dalam hatinya, Nayla berjanji.

Sekeras apa pun Leon menolak, ia tidak akan mundur.

Karena ia tahu, pria itu bukan membutuhkan belas kasihan, melainkan seseorang yang cukup sabar untuk tetap tinggal.

1
Nur Syamsi
Yuni jgn jadi ulat bulu PDA keluarga orang, baik Tia maupun Nayla mrk ini adalah wanita tulus yg dinikahi oleh pria yg mapan ., makanya jgn macam macam Yuni mas dah" an kamu jga dpat pria yg tulus mencintaimu ..
Nur Syamsi
Siapa ya apcobu tiri Tia kali ya
Nur Syamsi
Betul Tia memaafkan seseorang itu mudah tp melupakannya yg sulit 🙏🙏🙏
Nur Syamsi
Wah kabar baik ni Tianya Rafa, mungkar n Hamidun dianya
Nur Syamsi
Woi wanita ambisius yg Tdk mau dengar nasehat kamu akan tunai apa yg kamu tabur
Erna setiani
cieee Rafa
hary as syifa
Bener2 sampai akhir ceritaku diplagiat ya kak. Novel aslinya ada di apk sebelah judulnya Pesona Perawat Tuan Abraham.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎
Zani: maaf kak, kak bilang plagiat sampai akhir. apakah semuanya sama?apakah cerita dengan topik yang sama itu plagiat. Saya baca beberapa cerita novel juga banyak kesamaan. tapi bukan berarti itu plagiat.🙏
total 1 replies
Imelda Mell Lele
karya yg bagus author..aq suka..teruskan berkarya seperti ini ya..
Nur Syamsi
Bagus Tia, itu hanya wanita ular yg taunya hanya ingin ganggu kesenangan orang....
Nur Syamsi
Jgn gila Rafa dihalalin sja tu Tianya
Munawaroh Ag
ini Certa plagiat kah kok sama cerita nya sama di apk faizo
Sastri Dalila
👍👍👍
Nur Syamsi
Cepat Rafa kasian Tianya
Erna setiani
cieee cieeee Pengantin baru
Erna setiani
kamu yang mempermalukan diri sendiri Clarisa, dasar gak punya malu
Nur Syamsi
Bawa ke apartemenku Rafa nanti disana baru tunggu penjelasan setelah Redah tangisnya, kasian Tia Rafa menanggung beban...berat dr ibu dan saudara tirinya
Nur Syamsi
Dasar Davin pria serakah
Nur Syamsi
Syang Ada yg maha kuasa yg melihat kelakuan hambahnya Tdk ada kejahatan yg pernah menang tp biasanya akan berbalik PD yg oran merencanakan kejahatan itu .
Nur Syamsi
Dasar pebonor,,,,pengganggu ulatvjantan
Erna setiani
ngomong kenapa Leon aku mencintaimu gitu aah susah ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!