Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 So Sweet
Seperti biasa Aku pergi ke sekolah bersama Liani. Sambil bercanda kami menuju ke dalam kelas. Aku melihat Dayat dan Rizki sedang duduk berdua sambil berbicara. Entah apa yang sedang mereka bahas.
Ada Rina juga disana, temanku yang duduk paling belakang bersama Farisya. Rina langsung menghampiri Aku dan Liani.
"Ria, Liani besok pulang sekolah main ke rumahku ya. Kita makan-makan". Undangnya manis.
"Ada acara apa Rin?". Tanya Liani.
"Acara makan-makan biasa, Aku mengajak teman-teman yang lain juga kok". Jelas Rina.
"Insya Allah ya Rin!". Sambungku.
"Usahain datang ya Ria, biar makin ramai". Harap Rina.
#Keesokkan Harinya
Bel terakhir berbunyi, tanda jam pelajaran hari Sabtu telah selesai. Aku sengaja tidak membawa sepeda hari ini. Aku dan Liani diantar orang tua masing-masing saat pergi ke sekolah tadi pagi.
Syukurlah.
Aku senang diizinkan Ibu bisa pulang telat kerumah hari ini. Biasanya Aku sangat susah mendapatkan izin darinya. Berhubung pergi bersama Liani, jadi Ibu dengan tenang mengizinkan anaknya yang masih gadis.
Arif sedang memanggil Labi-labi yang kosong. Kendaraan seperti angkot yang beroda empat. Bisa muat 10 sampai 20 siswa.
Aku, Liani, Mita, Rina, Nur, Ana, Farisya naik ke labi-labi. Lalu diikuti oleh Dayat, Rizki, Arif, Hendra, Fatih dan juga Adi.
Bersama-sama kami menuju ke rumah Rina yang lumayan jauh.
Udara sejuk...
Angin sepoi-sepoi...
Suara burungpun berkicauan kesana kemari...
Kami telah sampai di rumah Rina. Rina tinggal di perkampungan yang masih asri.
"Ayo masuk". Ajak Rina.
Satu persatu kami masuk ke dalam rumah Rina. Di dalam rumah, sudah terbentang hambal yang cukup besar yang diatasnya sudah terhidang beraneka ragam makanan beserta minuman.
"Ayo silahkan duduk, kita makan dulu ya". Ajak Rina.
Jam menunjukkan sudah pukul 13.45.
"Bolehkah Aku shalat dulu Rina????". Pintaku.
"Aku juga mau shalat dulu Rin, sudah agak telat ni". Sambung Dayat tanpa diminta.
Aku hanya melihat Rina dan mengikutinya ke arah kamar mandi. Selesai dari kamar mandi ada Dayat yang sedang menunggu di luar kamar mandi. Aku langsung berlalu meninggalkannya dan shalat di tempat shalat yang di tunjukkan Rina tadi.
Selesai shalat Rina, Aku, Dayat juga ada Liani makan bersama. Sedangkan temanku yang lain bergantian shalat di ruang belakang.
Dan ada beberapa teman yang sudah selesai shalat dan makan mereka duduk santai di saungan kecil yang sengaja dibuat Ayahnya Rina didepan rumah tepat di halaman rumah Rina. Sebagai tempat keluarganya untuk bersantai.
"Selesai makan kita ke kebun rambutan ya, ada sungai juga di dekat pohon rambutan itu. Kalian pasti suka". Ajak Rina bersemangat.
"Mau banget Rin". Jawab Liani.
Dan Aku hanya tersenyum sambil melihat Liani yang kegirangan.
Setelah itu, bersama-sama kami menuju ke kebun rambutan milik Ayahnya Rina. Ternyata letaknya tidak terlalu jauh dengan rumah Rina.
Sesampai di kebun kami semua hanya bisa mendecak kagum.
"Masya Allah Rin, banyak sekali buahnya. merah-merah lagi". Kataku takjub.
"Hahahaha, Alhamdulillah" Rina hanya tertawa.
Sekarang sudah jam 15.00. Selesai memetik rambutan dengan puas dan memakannya langsung dibawah pohon rambutan.
Teman kami yang laki-laki berkeliling kebun melihat kondisi di sekitar pohon rambutan.
"HEI SINI ADA SUNGAI". Teriak Arif bahagia seperti orang yang baru saja menemukan harta Karun.
Spontan teman-teman pergi menuju ke arah Arif berada. Aku dengan malas ikut pergi ke sungai itu berada.
Ternyata sungainya berada di bawah. Jadi kalau ingin ke sungai, kita harus turun pelan-pelan menuju ke bawah. Tidak ada tangga di sana. Yang ada hanya ada sebuah tali yang bergelantungan sebagai alat bantu pegangan bagi yang mau turun kebawah untuk melihat sungai secara dekat.
Satu persatu temanku sudah turun menuju sungai. Teman perempuan dibantu oleh taman laki-laki dengan dipegang tangannya agar tidak jatuh dan terperosok saat turun menuju sungai.
Tinggallah Aku dan Dayat diatas yang belum turun dimana sungai itu berada.
"Kamu tidak turun Ria?". Tanya Dayat kepadaku.
"Aku tidak berani turun Yat, Aku takut. Aku lihat sungai dari atas sini aja". Jawabku sambil melambaikan tangan ke arah Liani di bawah.
Sekali-sekali terdengar suara tawa mereka dari bawah sungai.
"Ayo Aku bantu untuk turun kesana". Ajak Dayat sambil menunjuk ke arah sungai.
"Makasih Yat, Aku tidak mau menyentuh tangan laki-laki". Jelasku dan tidak bermaksud untuk menolak kebaikkannya.
"Aku ngerti kok. Kamu cukup pegang tali ini saja. Biar Aku yang turun duluan ya" Jelas Dayat.
Mukaku berubah seperti orang ketakutan. Karena turunannya agak curam. Dan Aku takut terpeleset apa lagi sampai terjatuh kebawah sana.
Dayat langsung turun dengan memegang tali dan memanggilku.
"Ria ayo pegang tali ini". Dia mengajakku segera turun dan memegang tali bagian atas dan Dayat memegang tali bagian bawahnya.
Aku ragu.
"Ayo, tidak apa-apa jangan khawatir ada Aku dibawah sini". Bujuknya kembali.
Dayat tahu Aku sangat ingin turun ke sungai. tapi Aku takut ketinggian.
Akhirnya Ku beranikan diri untuk turun pelan-pelan sesuai dengan arahan Dayat tadi. Dan kini Aku berhasil berada di sungai bersama teman-teman.
Aku tertawa bahagia seperti anak-anak yang sedang mendapatkan mainan baru dari Ibunya.
Dayat hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakanku.
"Akhirnya kamu turun juga Ria?". Tanya Liani yang sedang asyik memainkan kakinya di pinggir sungai.
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum tanda kemenangan bisa melihat sungai dari dekat.
Saat itu sungainya tidak sedang penuh dengan air, alias sedang surut. Sehingga tampaklah batu-batu kecil yang berada di dasar sungai tersebut.
Aku hanya bisa berdecak kagum.
"Masya Allah indah sekali sungai ini Ya Allah". Bisikku dalam hati.
Dari kejauhan Dayat hanya memperhatikan Aku sedang asyik di pinggir sungai.
"Ayo naik yuk". Ajak Arif kepada teman-teman.
Satu persatu temanku telah naik. Tinggallah Aku, Liani dan Dayat.
"Ayo Ria kita pulang". Ajak Liani.
"Iya sebentar lagi". Bujukku kepada Liani.
"Sudah hampir masuk ashar ni, kita harus segera pulang. Rumah kita jauh Ria". Jelas Liani kepadaku.
"Ayo Aku bantu naik?". Ajak Dayat kepadaku dan Liani.
Dengan memegang tali Dayat telah berdiri di tengah jalan tanjakan tadi.
Aku dan Liani ikut memegang tali itu dibawah pegangan Dayat dan pelan-pelan naik keatas.
Sesampainya diatas, Aku langsung berterima kasih kepada Dayat.
"Makasih ya Dayat, akhirnya atas bantuanmu Aku bisa melihat sungai dari dekat". Ucapku kepadanya.
"Iya sama-sama". Jawab Dayat sambil tersenyum.
"So sweet banget sih kalian". Sindir Liani kepada kami.
"Apaan sih Liani ni". Kataku dengan malu-malu.
Akhirnya kami sudah berada di dalam Labi-labi menuju arah jalan pulang Satu persatu teman kami sudah turun. Dan giliran Dayat Rizki yang sudah sampai di rumahnya. Saat turun dari labi-labi Dayat berjalan ke depan dan membayar ongkos labi-labi ke supir langsung. Lalu dia kembali ke belakang tempat kami duduk dan berkata.
"Ria sudah dibayar ya". Ucap Dayat.
Dan labi-labi itu berjalan kembali menjauhi Dayat Rizki.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊