"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Biasa
Fransisca menghela napas kasar. Tapi memang seperti inilah suaminya yang memiliki mental bagaikan anak berusia lima tahun.
"Nanti kak butler yang ceritakan." Fransisca menghela napas.
"Tidak mau! Harus kak Fransisca yang ceritakan." Arkan Zoya merajuk, terlihat bagaikan hampir menangis.
"Kalau begitu saya undur diri, menunggu paket makanan." Ucap Zedna pelan, melangkah mundur. Kemudian berjalan meninggalkan kamar. Memang benar-benar etika butler profesional.
"Baik! Baik! Akan kakak ceritakan. Tapi sambil memakaikan Arkan pakaian." Pada akhirnya Fransisca mengalah. Walau bagaimanapun pun jika sampai Arkan menangis, suara tangisannya pasti akan membuat telinga sakit.
Wanita yang perlahan membuka jubah mandi. Kemudian memakaikan Arkan boxer. Mungkin sesuatu sedikit menarik perhatiannya. Organ perkembangbiakan orang ini sedikit menyusut dibandingkan saat dimandikannya tadi.
"Sekarang ceritakan!" Ucap Arkan manja. Membuat pikiran Fransisca buyar.
Membantu Arkan menggunakan celana panjang. Pada akhirnya Fransisca mengucapkannya pelan."Kak Fransisca hanya ingin kak butler tidak percaya pada gosip yang beredar."
"Gosip?" Tanya Arkan polos, kala satu persatu pakaian pilihan Fransisca melekat di tubuhnya.
"Gosip artinya desas-desus. Berita yang mungkin saja bisa bohong. Bagaimana menjelaskannya ya? Artinya sesuatu yang tidak pasti." Fransisca meraih hairdryer dan beberapa krim perawatan kulit untuk pria. Tidak lupa juga minyak kayu putih. Sungguh baby sitter berpengalaman dengan gaji tinggi.
"Lalu?" Tanya Arkan kala Fransisca mengoleskan pelembab wajah untuk pria pada kulit lembut, putih, tampan tanpa celah milik suaminya.
"Begini, Arkan tau bukan kak Johan tidak begitu menyukai kak Fransisca. Jadi supaya dapat bertahan di tempat bekerja, kak Fransisca memerlukan teman. Teman ini mengumpulkan berita untuk kak Fransisca." Fransisca menghela napas.
"Kak Fransisca memerlukan Arkan! Kak Fransisca tidak memerlukan teman." Kembali Arkan merajuk.
"Bukan seperti itu Arkan sayang." Fransisca memilih menjelaskannya secara gamblang. Daripada berlama-lama seperti ini. Entah anak ini akan mengerti atau tidak."Sebenarnya kak Fransisca memiliki masalah di tempat kerja. Kak Johan mengirim orang jahat untuk mendekati kak Fransisca."
"Kak Fransisca masih sayang Arkan kan? Karena itu...jangan dekat-dekat dengan orang lain." Kembali Arkan Zoya menunjukkan ekspresi wajah hampir menangis.
"Tidak! Tentu saja kak Fransisca tidak akan tertipu dengan mudah oleh buaya buntung." Ucap Fransisca mulai mengoleskan lotion ke tubuh Arkan. Walaupun tidak mencapai semua bagian. Lebih baik berpakaian dulu baru menggunakan lotion, pasalnya bentuk tubuh pemuda ini membuatnya tidak dapat berkonsentrasi."Tapi, kak Fransiska membayarnya."
"Membayarnya?" Tanya Arkan polos.
"Benar Arkan sayang...kak Fransisca membayarnya untuk berpura-pura berhasil mendekati kak Fransisca. Lalu mencuri informasi balik dari kak Johan. Setelahnya, kak Fransisca tidak akan merasa tertekan lagi di kantor, setelah membunuh para tikus yang berkeliaran." Jelas Fransisca pelan.
"Ada banyak tikus di kantor? Wa... walaupun Arkan takut tikus, tapi Arkan mau ke kantor untuk melindungi kak Fransisca!" Tegas Arkan bersungguh-sungguh, dengan mimik wajah sedikit ketakutan?
Perlahan Fransisca tertawa. Pemuda ini memang terlalu polos."Baik! Kalau tikusnya sudah dibunuh sebagian, Arkan boleh menemani kak Fransisca ke bekerja."
Arkan mengangguk antusias."Tapi kak Fransisca tetap tidak boleh dekat-dekat dengan orang itu... orangnya tampan atau cantik?" Tanyanya masih terdengar polos sejauh ini.
"Tampan, tapi Arkan jauh lebih tampan, lembut dan pintar." Fransisca menghela napas, usai memakaikan minyak kayu putih. Sekarang menghidupkan hair dryer mengerikan rambut suaminya.
"Ta...tapi, tetap saja orang itu pria jahat. Jangan terlalu dekat. Arkan tidak suka, jika terlalu dekat Arkan tidak mau makan lagi. Biar Arkan mati dimakan cacing." Gerutu pemuda bermental anak berusia 5 tahun ini. Benar-benar hampir menangis.
"Iya! Kak Fransisca tidak akan terlalu dekat. Cuma boleh dekat dengan Arkan. Kak Fransisca janji." Fransisca mengacungkan jari kelingkingnya. Arkan Zoya membalasnya walaupun raut wajahnya masih seperti anak bebek yang marah.
"Kak Fransisca, kapan akan membuat anak dengan Arkan?" Pada akhirnya pertanyaan itu setelah sekian ban terdengar lagi. Membuat Fransisca pusing setengah mati.
"Kita minta dokter ya... nanti Arkan tinggal menuruti permintaan dokter." Ucap Fransisca pelan, belum menyerah dengan metode bayi tabung.
"Tidak mau! Tidak mau jika dokter ikut membantu membuatnya. Apa bayi itu robot harus dibuat banyak orang. Arkan cuma mau membuatnya dengan kak Fransisca. Kalau tidak...." Kalimat Arkan Zoya disela.
"Ya! Ya! Ya! Kita akan membuat bersama." Lagi-lagi dirinya harus mengalah. Inilah konsekwensi dari menjadi baby sitter bergaji tinggi.
Tapi, ya sudahlah... lagipula diajari pelan-pelan pun tidak akan rugi. Mungkin jika berhasil mengajarinya mimpi me*sum itu tidak akan menggangu lagi.
"Baik! Hari ini pelajaran pertama dalam membuat anak." Fransisca kini duduk di samping Arkan. Memejamkan matanya sejenak, menghela napas."Arkan... tugasmu hanya membalas apa yang kak Fransisca lakukan. Mengerti!?"
Arkan mengangguk dengan cepat.
Fransisca bergerak mendekat, dua bibir yang pada akhirnya menempel canggung. Arkan Zoya tidak melakukan apapun.
"Ternyata memang benar dia mengalami kerusakan otak. Hingga metalnya seperti anak berusia 5 tahun." Batin Fransisca, perlahan menyusupkan lidahnya. Perlahan juga Arkan membalasnya.
Terasa begitu lembut dan memabukkan seperti dalam mimpinya. Dirinya bergerak secara alami mengganti pelan posisi mulut dan lidah mereka. Arkan juga membalasnya...
Rasanya benar-benar gila. Arkan hanya membalas apa yang dilakukannya. Tapi rasanya seperti ini.
Mungkin satu hal yang tidak disadari Fransisca. Arkan mengepalkan tangannya, seperti menahan diri untuk bergerak? Atau seperti anak polos lainnya yang merasa ini menjijikkan? Siapa yang tau isi otak orang paling polos di dunia ini.
Hingga Fransisca melepaskan ciumannya. Perlahan dirinya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Gila! Pada akhirnya melecehkan orang dewasa bermental anak kecil ini.
"I...itu pelajaran pertama. Nanti perlahan akan ada pelajaran lainnya." Ucap Fransisca cepat.
"Akan ada pelajaran lainnya? Kenapa tidak diajari langsung?" Tanya Arkan menunduk kecewa sedikit merajuk.
"Arkan sayang...kak Fransisca harus bekerja. Agar bisa tetap membelikan Arkan kue dan lolypop raksasa." Jawab Fransisca padanya.
"Kak Fransisca tidak boleh membuat anak dengan orang lain. Tidak boleh!" Ucap Arkan Zoya.
"Iya, tentu saja hanya dengan Arkan. Kak Fransisca mandi dulu, Arkan boleh menggambar sambil menunggu sarapan dari kak butler. Oke?" Fransisca bangkit dari tempatnya duduk. Kemudian melangkah menuju kamar mandi, tanpa menoleh sama sekali.
Namun Arkan Zoya mengambil krayon dan buku gambar, sambil bergumam."Tidak boleh dengan orang lain. Orang itu bisa mati..." Gumamnya mulai menggambar.
Mungkin hanya kalimat omong kosong anak kecil. Tidak usah didengarkan. Karena sampai sekarang sosok Arkan Zoya belum sembuh bukan?
Jika sudah sembuh tidak akan mempermalukan dirinya sendiri bersedia dimandikan seorang wanita. Terima-terima saja disuapi, ini hanya anak kecil biasa...kan?