NovelToon NovelToon
Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Manusia Serigala / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”

“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.

“Sebagai manusia.”

“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”

“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”

999 tahun pencarian....

“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”

PLAK!

“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.

Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Penyihir Kena Palak

Ia menatap mereka berdua dengan bingung. “Apa yang sudah terjadi di sini?”

Sekejap, seluruh tekanan di lorong itu lenyap. Elena segera memutar tubuhnya, wajahnya kembali tenang, nyaris hangat. Ia berlari menghampiri Ivory seraya berkata, “Ivo, lihatlah ponsel baruku! Bajing—dia merusaknya.”

Elena menunjuk ke arah Denzel yang tampak masih terkejut dengan kemunculan Ivory di sana. Tanpa sadar Denzel mundur setengah langkah, menundukkan kepala dengan penuh perhitungan. Dan entah mengapa Denzel merasa takut berhadapan dengan Ivory yang kini berdiri di samping Elena dengan napasnya tercekat. Matanya langsung tertuju pada Elena, lalu ke ponsel yang hancur di tangannya dan akhirnya pada pria di hadapannya.

“Kau menindas kakakku?” tanyanya pelan, berbahaya.

Denzel menoleh berusaha menghindari tatapan tajam Ivory. “Ini bukan urusan—”

“Bukan urusanku?” Ivory melangkah maju. “Kau memojokkan kakakku di tempat sepi, merusak barang pribadinya, lalu bilang ini bukan urusanku?”

“Aku hanya—”

“Kau hanya apa?” potongnya cepat. “Menekan orang yang lebih lemah karena kau merasa punya kuasa? Wah, mirip sekali dengan bosmu ‘yah?”

Wajah Denzel menegang. “Jaga ucapanmu soal Tuan Rowan.”

“Oh, justru karena aku tahu, aku bicara,” lanjutnya tanpa memberi celah.

“Bos gila dan mesum itu setidaknya tidak berpura-pura suci. Tapi kau? Malah menindas orang secara diam-diam. Munafik.”

Denzel berniat membuka mulut, membuat pembelaan. “Aku—”

“Kau apa?” rentetnya lagi, suaranya naik tajam. “Kau mau bilang apalagi, Hah? Dasar pembully karyawan.”

Ia menunjuk ponsel yang hancur. “Ganti. Sekarang.”

“Aku tidak wajib—”

“Kau wajib,” potongnya cepat, nyaris tanpa menarik napas. “Kalau tidak, aku akan memastikan semua orang tahu bagaimana direktur terhormat ini suka mengintimidasi pegawai di gang sepi. Dan percayalah, bahkan Bos gilamu itu tidak akan memberikan pembelaan kepadamu.”

Denzel terdiam, mencoba menyusun argumen. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sekali. Dua kali. Tak satu pun kata berhasil keluar. Akhirnya, dengan rahang mengeras, ia mengeluarkan dompet dan menyerahkan kartu hitam yang jelas memiliki limit tak terbatas.

“Baiklah, gunakan kartu ini untuk membeli ponsel yang baru. Jika sudah selesai kembalikan padaku,” katanya kaku.

Ivory tanpa ragu mengambil kartu itu, lalu berdiri di depan kakaknya, seolah menjadi dinding.

“Jangan pernah mendekatinya lagi,” ucapnya dingin. “Apalagi kalau kau sampai menindasnya lagi. Akan aku pastikan tangan dan kakimu aku patahkan.”

Denzel menatap mereka, tak berdaya, kata-kata yang tadi berderet di kepalanya kini menguap tanpa sisa. Saat mereka pergi, Elena membisikkan sesuatu kepada Ivory. “Kau yakin akan menggunakan kartu blackcard nya ini?”

Ivory menggenggam tangan Elena erat. “Tentu saja, kau membutuhkan ponsel baru.” ujarnya pelan, penuh amarah yang ditahan. “Kita harus membeli ponsel keluaran paling terbaru dengan menggunakan blackcard ini. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk tangan kanan bos gila itu menyakitimu.”

Sementara itu, Denzel hanya bisa menggerutu, “Sial, niatnya mau memergoki malah jadi kena palak!”

Karena merasa terlalu kesal, Denzel sampai salah tujuan matra teleportasinya. Alhasil, dia malah nyasar di dalam salah satu toilet. Dengan kesal, Denzel memilik menaiki lift untuk menuju ruangan Ceo dimana Ragnar berada.

Lift khusus berhenti tanpa suara di lantai teratas. Denzel melangkah keluar dengan langkah terukur, meski di balik wajah datarnya ada sesuatu yang mengganggu. Bukan ancaman sihir hitam, melainkan rasa kesal karena telah menjadi korban palak kakak beradik itu.

...****************...

Begitu sampai, Denzel membuka pintu ruangan tersebut dengan tidak sabaran. Ruangan itu luas, minimalis, dingin. Dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian, kendaraan dan manusia berlalu lalang memenuhi jalanan yang tampak seperti semut dari sudut pandanganya. Ragnar masih berdiri di depan jendela, jas hitam rapi, satu tangan memegang tablet data. Ia tampak lebih seperti eksekutif puncak daripada penguasa malam.

Di belakang meja kerjanya terdapat asistennya, Dorian. Dimana ia tidak sedang memeriksa laporan apapun, tetapi berusaha menyusun scenario terbaik untuk rencana yang ia usulkan sebelumnya. Bahkan Dorian lebih serius dalam menyusun scenario, dibandingkan saat memeriksa pekerjaan utamanya.

“Kau sudah kembali,” kata Ragnar tanpa menoleh. “Lebih cepat dari yang aku perkirakan.”

Denzel berhenti dua langkah dari posisi Ragnar dan membungkuk singkat. “Saya perlu melapor langsung, Tuanku.”

Dorian menghentikan kegiatan dan melirik sekilas. “Nada suaramu terdengar buruk. Ada apa kali ini?”

“Sebuah pertemuan rahasia,” jawab Denzel. “Saya memergoki kakak perempuan dari reinkarnasi Ratu Vampir bertemu dengan sosok dari kehidupan masa lalunya.”

Ragnar menghela napas pelan. “Dengan siapa?” Dalam hatinya, “Kenapa harus berbelit-belit? Lebih mudah langsung mengatakannya saja, bukan?”

“Dengan sisa para pengikut sihir hitam,” lanjut Denzel. “Mereka masih hidup. Masih terorganisir.”

Ragnar akhirnya menoleh. “Dan? Bukankah kita sudah bisa menebaknya bahwa sisa pengikut sihir hitam itu memang masih ada. Lalu kenapa kau terlihat khawatir seperti itu?”

“Mereka menyebut Elena sebagai reinkarnasi dari Pemilik Murni Sihir Hitam,” kata Denzel serius.

Dorian berhenti mengetik. “Itu klaim tingkat tinggi, tapi bukankah kita sudah memperkirakannya?”

“Aku telah merasakan resonansi sihirnya,” tambah Denzel. “Ada kecocokan frekuensi. Klaim itu… tidak sepenuhnya salah. Aku sangat yakin bahwa wanita itu juga bereinkarnasi seperti Ratu kita.”

Ragnar mengangguk pelan, jelas menilai informasi itu penting. Namun ekspresinya masih datar. “Lalu bagaimana pertemuan itu berakhir? Apakah dia mengakuinya?”

Denzel terdiam sesaat, lalu tanpa sadar berkata, “Tidak! Dia menyanggahnya dengan tegas. Dan… aku malah kena palak oleh mereka.”

Hening.

Dorian perlahan mengangkat kepala. “Maaf?”

Ragnar menoleh penuh. “Apa yang kau katakan barusan?”

Denzel berkedip, menyadari ucapannya sudah terlanjur keluar. “…Aku kena palak, Yang mulia.”

Dorian mematikan layar komputernya, fokusnya telah sepenuhnya teralihkan pada pengakuan Denzel. “Ulangi. Dengan konteks yang lebih detail! Siapa yang berani memalak penyihir hebat sepertimu ‘sih? Ada-ada saja…”

Denzel menghela napas. “Awalnya aku berniat mendesak wanita itu untuk mengakui bahwa dia memang reinkarnasi dari pemilik murni sihir hitam. Lalu dia malah menggunakan sebuah rekaman yang memperlihatkan sosok asliku sebagi penyihir untuk mengancamku balik. Kami terlibat konfrontasi singkat dan…”

“Dan?” tanya Ragnar, kini sepenuhnya tertarik.

“Aku menghancurkan ponsel miliknya dengan sihirku,” kata Denzel datar. “Dan diwaktu yang sama, reinkarnasi Ratu datang dan melindunginya.”

Dorian mengernyit. “Lalu?”

“Ya. Dan setelah itu,” lanjut Denzel, “mereka menuntut ganti rugi. Mereka mengambil salah satu kartu blackcard milikku.”

Ruangan kembali sunyi. Lalu—

“Bwahahaha…”

Baik Ragnar maupun Dorian tak kuasa lagi untuk tidak tertawa. Bukan tawa sinis, melainkan tawa tulus yang jarang terdengar. Ia menepuk jendela kaca dengan punggung jarinya. Bagaimana mungkin mereka tidak tertawa mendengar kejadian yang baru saja Denzel ceritakan dengan wajah polosnya yang memelas.

Bersambung ….

1
Fahmi Ardiansyah
ku tunggu kelanjutannya kak semangat terus ya
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author.. Semoga sehat selalu.. 🙏🥰
Fahmi Ardiansyah
iya terserah kmu ivori
Desyi Alawiyah
Sangat menarik dan luar biasa.. 😇
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author, makasih udah up.. 🙏
Desyi Alawiyah
Aku juga nurut kamu Ivory, terserah kamu mau melakukan apapun... Yang penting kamu dan Elena baik-baik saja...

Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..

Iya ngga sih... 😩
Desyi Alawiyah
Lanjut lagi dong kak...

Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋

Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Desyi Alawiyah
Oh, begitu ceritanya...

Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Fahmi Ardiansyah
lanjut kak.
Cindy
lanjut kak
Desyi Alawiyah
Update lagi dong Kak.. 🤭🙏
Fahmi Ardiansyah
tu ratumu LG marah Ragnar n susah di redamkan.
Desyi Alawiyah
Nggantung lagi ceritanya..

Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔
Desyi Alawiyah
Nah loh Ragnar, reinkarnasi Ratu mu marah tuh... Kamu sih pake bohong segala... 🤭
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Fahmi Ardiansyah
ya tunggu aja bentar LG pulng kok adkmu.tpi jgn kaget entar klu nyampek rumah cemberut n marah.
Fahmi Ardiansyah
ya iyalah seharusnya lukanya yg lebih parah LG n pertahankan agar lukanya gak hilng Ragnar skrg ivory merasa tertipu aku pastikan besok ivory pasti masih kecewa n marah.
Fahmi Ardiansyah
yaelah Ragnar caper bisa2 ivory malah merasa bersalah tu.
Fahmi Ardiansyah
aku senang cerita nya tambah seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!