Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Liburan di Begonia
Keesokan harinya Arinta mengajak Alena dan Alea untuk jalan-jalan mumpung masih akhir pekan. Dia mengajak keduanya pergi ke Lembang, lebih tepatnya ke kebun Begonia.
"Gimana, Len?" Tanya pria itu di tengah sarapan paginya penuh harap.
"Asikk!! Ayo Mamih, jalan-jalan liat bunga, nanti Alea mau foto di bunga yang banyaaaak!" Alea merentangkan kedua-tangannya lebar-lebar sambil tertawa lebar.
Alea menatap kegembiraan yang terpancar pada wajah Alea. Dia terlihat sangat antusias dan ceria. Rasanya tak tega juga kalau ia harus mematahkan kebahagiaan anak satu-satunya itu.
"Ia sayang, kita pergi liat bunga." Alea tersenyum ke arah putrinya. "Makanya Alea sekarang makannya jangan bandel, ya?" Ujarnya sambil mengusap pipi sang buah hati.
"Horeeee! Liat bungaaa!" Alea bersorak dengan gembira sampai bertepuk-tangan.
"Len, beneran kamu mau?" Tanya Arinta reflek. Sorot kedua-matanya tak bisa menyembunyikan kegembiraan yang ia rasakan.
"Ya, aku mau demi Alea...," ucapnya seakan memberikan sebuah penegasan kecil. Tapi Arinta tidak peduli. Baginya ini kesempatan yang harus dia gunakan sebaik mungkin.
"Makasih ya, Len...," balasnya tiba-tiba menggenggam halus tangan Alena.
Alena agak terkejut dengan sentuhan Arinta yang tiba-tiba. Wanita itu reflek menarik tangannya ke belakang.
"Mmm, lebih baik kita segera sarapan...," ucapnya dengan perasaan sedikit canggung. Arinta hanya tersenyum kecil. Setidaknya ada sedikit kemajuan, meski hanya karena Alea tapi ajakannya tidak ditolak mentah.
.
.
Arinta tampak sibuk, ia memasukkan dua paper bag. Berukuran cukup besar ke dalam mobil berisikan cemilan. Semuanya khusus kesukaan Alea, mulai dari biskuit coklat, marshmallow, kue pie, bolu, minuman buah segar dan lain-lain. Dia sengaja membeli itu semua untuk bekal di jalan.
Alea sendiri sudah melompat-lompat kecil karena tau dia akan segera berjalan-jalan bersama. Papih dan Mamihnya ada bersamanya.
Begitu semua bekal dan beberapa barang yang dibutuhkan sudah dinaikkan ke dalam mobil. Yani naik duluan ke kursi belakang sambil membawa boneka milik Alea. Tak lama gadis kecil itu juga dibantu masuk ke dalam bersama Yani. Sengaja, agar Alea bisa mendapat ruang lebih luas. Dia bisa bermain dengan bonekanya, tidur dengan bantal kalau capek, dan mengambil cemilan langsung.
Setelah menaikkan Alea ke kursi belakang dengan Yani, Alena menutup pintunya dengan hati-hati, lalu ia berjalan, membuka pintu mobil depan dan naik ke dalamnya.
"Sudah siap semua? Gak ada yang ketinggalan 'kan?" Arinta mengecek, bertanya sekali lagi untuk memastikan sambil menoleh ke arah Yani lalu ke Alena.
"Tidak ada, Pak," jawab Yani dengan yakin.
"Oh ya sudah, kita berangkat ya...." Arinta pun menyalakan mesin mobil yang diiringi oleh suara teriakan Alea dari dalam mobil.
"Horeeee, Alea bisa jalan-jalan sama Mamih dan Papih!!" Ia sangat gembira sampai loncat di atas kursi mobil.
"Alea, turun. Jatuh nanti kamu," ujar Alena merasa cemas saat melihat putrinya yang reflek melompat.
Alea tidak membantah, dia langsung duduk mengikuti ucapan sang mamih sambil tertawa kecil. Mobil Arinta pun mulai bergerak dan meninggalkan area tersebut.
.
.
Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan pada pukul 09:00 pagi. Meski masih pagi, tapi suasana sudah cukup ramai di sana. Maklum weekend memang biasanya lebih ramai pengunjung dibanding hari biasa.
Berjalan dari area parkir mereka sudah disambut dengan pintu gerbang wisata melengkung yang dihiasi oleh banyak bunga. Arinta langsung berinisiatif untuk memotret Alea, Alena juga Yani.
"Foto dulu yuk!" Ujarnya secara reflek. "Kalian berdiri di sana." Dengan cekatan Arinta langsung mengarahkan Alena untuk berfoto bersama Alea dan Yani.
"Gak usah ah, langsung masuk saja," balas Alena yang mungkin merasa sedikit risih. Yah, dia memang kurang suka pamer kehidupan. Tapi Arinta agak memaksa.
"Sekali-kali, Len! Biar ada kenangan kita pernah kemari," ucap Arinta yang entah kenapa langsung membuat Alena kepikiran.
"Ya udah deh...," ucapnya yang tumben-tumbenan mengalah.
Kemudian ia berjalan sambil menggendong Alena bersama Yani yang diminta oleh Arinta untuk ikut berfoto.
"Satu...."
"Dua...."
"Ti..., ga...!"
Dalam hitungan ketiga sebuah foto manis sudah didapatkan di dalam ponselnya. Arinta tersenyum senang saat melihat hasil foto.
"Udah ayo masuk, sudah mulai panas." Alena terlihat sudah gak betah untuk lama-lama di luar. Arinta hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang istri yang sudah lebih dulu memasuki gerbang.
.
.
Di dalam sana mata mereka dimanjakan oleh berbagai macam puluhan bunga begonia aneka warna. Alea langsung antusias dan menunjuk-nunjuk ke arah bunga berwarna merah.
"Sabar ya Alea, Palih mau titip barang dulu," ucap Arinta yang sedang memegang dua paper bag cemilannya Alea.
Dia bergegas pergi ke tempat penitipan barang dan menitipkannya di sana.
Bunga merah itu menjadi spot pertama mereka berfoto bersama-sama. Arinta, Alena dan Alea. Mereka tampak seperti keluarga yang harmonis meski sedang mengalami masalah internal yang sedang dicoba untuk diatasi.
Hari itu pokoknya semua berjalan dengan lancar. Alea yang hepi sangat aktif dan selalu bertanya akan banyak hal, menandakan anak kecil itu cukup cerdas dan memiliki rasa ingin tau yang besar.
Mereka berfoto, bermain mengelilingi bunga, hingga naik delman yang memang menjadi salah satu fasilitas di tempat wisata itu, kemudian terakhir memetik buah stroberi yang bisa dibawa pulang.
Sebelum pulang mereka sempat mampir untuk makan dulu di kafe yang masih berada di area tempat wisata itu.
Arinta memposting beberapa hasil foto mereka bersama ke dalam media sosialnya dan menulis kata-kata....
Keluarga tercinta
Ia tersenyum, merasa senang dan meng-upload semua foto itu tanpa ragu. Alena menatapnya heran, ada rasa curiga melihat tingkah Arinta yang senyum-senyum sendiri.
"Ada apa?" Tanya Alena dengan sepasang alis yang saling bertaut.
"Oh, ini...." Arinta masih terlihat tersenyum. "Aku baru saja mem-posting foto-foto kita di Instagram." Ia memperlihatkan ponselnya kepada Alena.
"Oh...," balas Alena singkat tampak tidak terlalu tertarik setelah mengetahuinya.
"Kamu posting juga dong, Len," ujar Arinta tiba-tiba dengan nada yang antusias.
"Untuk apa?" Tanyanya yang mungkin bagi sebagian orang dirinya terdengar agak jutek.
"Ya..., gak apa-apa sih..., biar kompak aja gitu...," ucap Arinta langsung menarik kembali ponselnya.
"Jangan kayak anak kecil," ujar Alena dengan dingin.
"Posting satu atau dua foto gak masalah 'kan, Len?" Arinta melakukan protes kecil.
Yah, dia memang sebenarnya sudah tau watak sang istri yang tidak begitu suka mengumbar kehidupan pribadinya, termasuk saat mereka liburan, dia sangat jarang sekali mem-posting atau membagikannya di media sosial. Berbeda dengan Arinta yang lebih antusias.
Alena hanya menghela napas mendengar permintaan sang suami, hingga akhirnya ia mengambil salah satu gambar yang paling ia suka dan memasangnya di Instagram. Lalu ia menuliskan kata-kata juga di sana.
Liburan keluarga bersama, Alea terlihat sangat senang hari ini....
"Sudah...," ucap Alena setelah memasang satu foto itu. Arinta tersenyum lega. Diam-diam dia berharap agar Alena perlahan mulai mau memaafkannya.
Tapi tentu di balik kebahagiaan mereka, ada saja orang yang tak menyukainya. Siapa lagi kalau bukan Melinda yang sampai sekarang harus mengalami hujatan karena curhatannya itu.
Saat mengecek Instagram Arinta yang ternyata sedang liburan, membuat hatinya panas.
Bisa-bisanya kamu bersenang-senang sama wanita itu sementara aku di sini menderita!!
Lihat saja, aku bakal bikin kalian berpisah!!!!
Melinda pun bersumpah dalam hati akan membalas semuanya. Dia gak sudi kalau melihat Arinta kembali lagi bersama Alena dan bahagia.
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang