NovelToon NovelToon
Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: MamGemoy

Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.

Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.

Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.

Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.

Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang Rindu

***

Ardian yang mulai bosan dengan keheningan itu, mulai membuka topik baru. "Kamu dengar lagu apa?" tanyanya setelah membuka satu bagian earphone yang melekat di telinga Rindu.

"Tentu saja lagu-lagu kesukaanku." Rindu mengambil lagi miliknya dari tangan Ardian. Namun, pria itu bergerak hendak berdiri.

"Sebentar." Ardian berjalan menuju speaker besar yang ada di sebelah televisi, kemudian menyalakan sambungan bluetooth-nya. "Hubungkan sekarang," pintanya, lalu Rindu pun menghubungkan ponselnya ke speaker itu.

Setelah alunan musik kesukaannya itu berpindah, Rindu menyandarkan kepalanya ke lengan sofa, merebahkan tubuh dan meluruskan kakinya ke atas. Ardian kembali duduk, dia mengangkat kaki Rindu, memposisikan dirinya di bawah, lalu memangku di kedua pahanya.

Ardian pun bersandar. Ikut mendengarkan lagu yang mengingatkannya akan masa lalu. Dia menatap Rindu dan tersenyum. Suasana seperti terasa lebih nyaman. Ardian sangat suka, Rindu tak sedikitpun merasa canggung padanya.

"Itu terdengar bagus, dulu sering kamu nyanyikan di acara radio. Aku tidak pernah ketinggalan setiap kali acara itu disiarkan. Kamu tau? Ketika aku merindukan suaramu, aku akan mendengarkan rekaman suaramu yang dulu," ucap Ardian memulai percakapan.

"Oh, ya? Kamu bisa dapat darimana?" tanya Rindu seraya tangan sibuk berselancar di media sosialnya.

"Aku membelinya."

"Rekaman itu? Wahh, hebat." Matanya masih fokus pada layar ponsel. Dia tak heran jika Ardian bisa mendapatkan itu, tentu saja dengan uangnya yang banyak.

"Tidak," jawab Ardian. "Aku membeli stasiun radio itu." Ungkap Arisan kemudian.

Pengakuan itu membuat Rindu ternganga. Ponselnya meluncur jatuh ke dada. "Hah, apa? Kamu ... hanya demi sebuah rekaman kamu sampai membeli stasiunnya, yang benar saja?" tanyanya tak percaya.

"Aku serius. Stasiun itu adalah salah satu kenangan tentang dirimu. Jadi aku membelinya, agar aku merasa lebih dekat denganmu." Ardian menatap Rindu lembut ketika berbicara.

"Ardi, kamu luar biasa. Sebesar itukah rasa cintamu?" Bola mata Rindu berbinar, terkesan dengan apa yang pria itu lakukan.

"Kamu nggak percaya? Besok aku akan membawamu kesana. Aku sudah membuat sebuah acara berdasarkan kata-katamu. Itu sudah disiarkan, setiap Minggu," ungkap Ardian lagi.

Rindu semakin dibuat takjub, apa saja yang telah Ardian lakukan untuk dirinya? Dia pun bangkit tanpa menurunkan kakinya ke lantai. Ardian masih setia memangkunya. "Maksud kamu … acara 'love binds the soul' itu? Aku sangat menyukainya, itu ide kamu, Ardi?"

"Hmm …." Angguk Ardian, lalu tersenyum manis.

"Ardian, kamu sangat luar biasa?" Rindu menarik kakinya turun, tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dan memeluk pria itu. Ardian tentu saja senang bisa merasakan sesaat kehangatannya.

Pelukan hangat itu pun dia balas. "Kamu sudah mulai jatuh cinta lagi padaku?" tanya Ardian kemudian.

Seakan tersadar dengan tindakannya yang tiba-tiba. Mimik wajahnya langsung berubah dingin. "Tidak, aku hanya kagum." Rindu melepaskan pelukannya.

"Kalau begitu aku akan berusaha lagi. Aku punya seribu macam cara untuk membuatmu jatuh cinta padaku."

"Yahhh … cobalah semampumu, aku menunggu." Balas Rindu acuh, lalu bersandar memainkan ponselnya lagi.

"Oke, kamu lihat aja besok." Ardian sangat percaya diri dengan ucapannya.

Rindu melirik pria yang tengah tersenyum penuh arti padanya. "Besok, apa yang akan terjadi besok? Ahh, biarlah, besok juga akan tau. Entah apapun yang dilakukan Rian, semoga saja bisa membuka pintu hatiku lagi." Guman Rindu dalam hati.

Mereka kembali hening untuk beberapa saat. Musik yang sedang melantun pun berganti. Rindu bersenandung kecil, mendendangkan bait demi bait lagu itu. Ardian sangat merindukan suara nyanyian yang selalu membuatnya tenang.

Ardian memiringkan tubuhnya, menaikkan sebelah kaki, menopang kepala di telapak tangan dan menyandarkan siku ke sandaran sofa. "Rin … kamu belum cerita gimana kehidupanmu setelah pergi delapan tahun lalu."

"Hanya kehidupan biasa," ucap Rindu tanpa melihat pada Ardian.

Jawaban Rindu tak membuat Ardian puas. "Apakah sesuatu yang tidak ingin kamu ingat?"

Rindu mengedikkan bahu, dia nampak tak acuh. "Yah, begitulah."

"Maukah kamu menceritakan?"

Mata wanita itu melirik sesaat. "Kamu yakin mau mendengarnya? Kamu siap?" Rindu malah balik bertanya.

Tak tau 'siap' bagaimana yang Rindu maksud, Ardian hanya ingin tau lebih banyak tentang Rindu. "Ya, jika kamu nggak keberatan menceritakannya."

Helaan napas kecil terdengar, Rindu menggeleng. "Tapi, aku yang belum siap melihat reaksimu setelah mendengarnya."

Ardian justru semakin bingung dengan penolakan Rindu. Dia pun menegakkan tubuhnya. "Apakah itu sesuatu yang menyakitkan?" Di berpikir, mungkin masa lalu Rindu sangat menyakit, sehingga sulit baginya untuk bercerita.

"Ehmm …," gimana Rindu mengangguk. Wajahnya saja terlihat enggan untuk membahas, membuat Ardian tak lagi ingin memaksa.

"Baiklah, aku akan menunggu setelah kamu siap. Bagaimanapun juga aku ingin mendengar semua tentangmu, meskipun sangat menyakitkan. Aku ingin kamu membagi semua sakit itu padaku. Agar aku hanya akan memberikan kebahagian saja padamu di masa depan."

"Cukup menyentuh." Rindu tersenyum tipis, lalu membelai lembut pipi Ardian. Sentuhan itu menerbitkan senyum manis Ardian.

Tak sampai satu menit, Rindu menurunkan tangannya. "Mungkin lain kali akan aku cerita. Sekarang aku ngantuk, kamar yang itu untukku bukan?" ucapnya seraya menunjuk salah satu kamar.

Rindu menegakkan tubuh dan bangkit. Lalu mematikan musik dari ponselnya. Saat dia hendak melangkah, tiba-tiba tangannya diraih Ardian dan menariknya ke arah lain. "Tidak, kamu tidur bersamaku."

"Ta–tapi, Ardi … tidak bisa." Kaki Rindu terpaksa melangkah, mencoba menarik tangannya dari cekalan Ardian.

Namun, pria itu menggenggam dengan erat. "Aku hanya ingin memelukmu sepanjang malam."

"Oo, terserah kamu saja. Tapi, benar kamu yakin?" Rindu berharap Ardian berubah pikiran.

Ardian tampak tak mempedulikan ucapan wanita itu. "Tergantung bagaimana kamu, jika kamu menggodaku lagi, aku tidak akan segan-segan. Aku akan langsung menerkammu, dan menghabisimu hingga pagi," ucapnya balik mengancam.

Rindu bergidik. "Oohh, Tuhan … bagaimana aku harus menahan. Melihat dada bidangnya saja aku sudah panas dingin. Apalagi harus memeluknya semalaman. Mungkin aku yang akan tergoda Ardian, atau aku yang akan menghabisimu. Cukup! dasar pikiran mesum." Dia memukul pelan kepalanya.

Dia saat Rindu sibuk dengan pikirannya, mereka telah sampai di kamar. Ardian melirik lalu mendorong Rindu hingga terduduk di kasur. "Ada apa?"

"Ti–tidak apa-apa."

"Sebelum tidur kita butuh sesuatu, tunggu sebentar." Ardian kembali keluar.

Dekorasi kamar Ardian membuat Rindu takjub. Terlihat sederhana tapi sangat elegan, cocok dengan kepribadian pria itu. Ardian tipe pria yang tidak suka terlalu memuja kemewahan. Apapun yang membuatnya nyaman Ardian akan menyukainya.

Rindu bersandar di kepala tempat tidur. Pemandangan kota besar terlihat dari jendela kaca, yang masih terlihat sibuk hingga malam hari.

"Kehidupan kamu sangat baik, Ardi, Berbanding terbalik dengan hidupku," gumam Rindu pelan.

***

1
Lina Handayani
Semangat, Mamy. Setiap kata dan cara penyampaiannya sangat bagus 😍, pantas diacungkan jempol 👍😅🙂.
Lina Handayani
Untaian kata-katanya rapih, bagus dan sangat mendalam. Mamy, aku suka ceritanya 😅😘.
Lina Handayani
Shownya, bagus, Mam😍😘.
Wiwin Almuid77
tetap semangat dalam menulis Thor .
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya...
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya....
..
El_Tien
cerita menarik wajib baca!
Rizki Al-Mubarok
Biasa, cari reverensi 😅
Rizki Al-Mubarok
Aku dapet referensi
rinny aphrystanti
lanjut ...bikin ikutan deg deg an....
El_Tien
kenapa aku jadi ingat Ardian dan rindunya 🤣🤣🤣
MamGemoy: 👀 emm
total 1 replies
rinny aphrystanti
lanjutkan thorrtt...
Ayuk Noy
aku mampir kak🥰
Lina Handayani
Semangat, Mamy.💪💪
Siti Afifah
ikut nderekdek
Lina Handayani
Rindu, wanita yang dirindukan.😅
White Snake
"kau cinta pertama dan terakhirku" Kaya lirik sebuah lagu.
Siti Afifah
ya alloh calon ayah yg sigap
Lina Handayani
Aku datang lagi Mam😉🤗. Semangat yah, aku suka ceritanya. Sampai-sampai, aku bisa merasakan dan membayangkan isi ceritanya 😍
Siti Afifah
rindu takut ancaman mntan suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!