Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Hari-Hari Tanpa Suara
(POV: Noah)
Jarak ternyata tidak sunyi.
Ia bising—dengan caranya sendiri.
Pagi datang seperti biasa. Angin laut masih membawa bau asin yang sama. Bengkel masih berderit ketika pintunya dibuka. Mesin-mesin masih menuntut perhatian. Tapi ada sesuatu yang hilang dari ritme hariku.
Aku tidak lagi melihat jam dengan perhitungan, memperkirakan kapan matahari akan tenggelam dan kapan aku biasanya naik ke bukit.
Aku bekerja lebih lama dari yang diperlukan.
Bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena aku tidak tahu harus ke mana setelah selesai.
Pak Jorgen mampir siang itu, membawa mesin perahu kecil. Ia berceloteh tentang cuaca dan hasil tangkapan yang buruk. Aku mengangguk, menjawab seperlunya. Fokusku terpecah.
“Sejak kapan kau jadi pendiam?” tanyanya sambil tertawa.
Aku hanya mengangkat bahu.
Ia tidak tahu bahwa diamku bukan karena tidak ada yang ingin kukatakan, tapi karena orang yang biasanya mendengarkan tidak lagi berada dalam jangkauanku.
Malam turun perlahan. Aku menutup bengkel lebih cepat dari biasanya, lalu berdiri di luar, menatap jalanan basah yang mengarah ke bukit.
Aku tidak naik.
Aku pulang.
Dan untuk pertama kalinya sejak Alice datang ke Norden, rumahku terasa lebih sempit dari vila tua itu.
(POV: Alice)
Ruang yang kuminta akhirnya kudapatkan.
Dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya.
Hari-hariku menjadi terlalu rapi. Terlalu terkontrol.
Aku membersihkan vila dari pagi hingga sore, menyapu debu yang sebenarnya tidak mengganggu, menyusun ulang buku-buku yang tidak pernah kubaca. Semua untuk menghindari satu hal: berpikir.
Aku tidak mengirim pesan pada Noah.
Aku juga tidak berharap ia mengirim pesan padaku.
Itulah kesepakatan tak tertulis yang kubuat sendiri.
Namun setiap suara mesin dari kejauhan membuatku refleks menoleh ke jendela. Setiap bayangan mobil yang melewati jalan bukit membuat dadaku bergetar sesaat—lalu tenggelam lagi dalam kekecewaan kecil yang terus berulang.
Malam hari adalah yang terburuk.
Tidak ada percakapan pendek. Tidak ada langkah sepatu di teras. Tidak ada suara pintu dibuka dengan sedikit tenaga berlebih.
Aku menyadari sesuatu yang mengganggu:
kesunyian vila ini tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah caraku merasakannya.
Dan itu membuatku takut.
(POV: Noah)
Hari ketiga tanpa naik ke bukit, aku memperbaiki generator tua di gudang belakang bengkel.
Mesin itu membandel. Sama sepertiku.
Tanganku bergerak otomatis, tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana. Aku teringat caranya memegang cangkir kopi dengan kedua tangan.
Caranya mendengarkan—sungguh-sungguh mendengarkan—seolah kata-kataku tidak sekadar suara latar.
Aku mematikan mesin dan duduk di lantai semen.
Memberi ruang tidak berarti berhenti peduli.
Namun aku mulai bertanya-tanya: apakah ruang ini membantunya, atau justru membuktikan bahwa aku mudah dilepaskan?
Pertanyaan itu berbahaya.
Aku berdiri dan kembali bekerja, memaksa diri untuk fokus pada sesuatu yang bisa kuperbaiki dengan alat dan logika.
Perasaan tidak termasuk di antaranya.
(POV: Alice)
Aku menerima surat hari itu.
Amplopnya tebal, resmi, dan tidak seharusnya sampai ke Norden secepat ini.
Tanganku gemetar saat membacanya. Isinya singkat, dingin, dan penuh tekanan yang kukenal terlalu baik. Dunia yang kutinggalkan belum selesai denganku.
Aku melipat surat itu dan meletakkannya di meja.
Refleks pertamaku adalah ingin pergi ke bengkel.
Duduk di kursi tua itu. Mengatakan bahwa aku takut.
Namun aku tidak melakukannya.
Aku memilih menanggungnya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, aku mempertanyakan keputusanku sendiri.
(POV: Noah)
Sore itu, aku melihat vila dari kejauhan.
Lampunya menyala.
Aku berhenti sejenak di tengah jalan, mesin truk masih menyala, tanganku menggenggam setir.
Aku bisa naik.
Aku bisa bertanya apakah ia baik-baik saja.
Namun aku ingat kata yang ia pilih dengan susah payah.
Ruang.
Aku melanjutkan perjalanan.
Dan entah kenapa, itu terasa seperti keputusan paling berat yang pernah kubuat—lebih berat daripada bertahan hidup di kota yang tidak pernah ramah padaku.
(POV: Alice)
Malam turun dengan cepat.
Aku duduk di depan perapian yang tidak kunyalakan. Menatap api imajiner yang tidak pernah ada.
Aku tidak menyesal meminta ruang.
Namun aku mulai memahami sesuatu yang tidak kusadari sebelumnya: kemandirian bukan berarti menutup pintu untuk semua orang.
Dan mungkin, aku terlalu cepat menguncinya.
Aku memejamkan mata dan bertanya pada diri sendiri—bukan tentang Noah, tetapi tentang diriku:
Apakah aku sedang melindungi diriku… atau sedang lari lagi?
Jawabannya tidak datang malam itu.
(POV: Noah)
Sebelum tidur, aku berdiri di jendela kecil rumahku.
Angin membawa suara laut yang samar. Sama seperti biasanya.
Namun aku tahu, di atas bukit sana, seseorang juga sedang terjaga. Bukan karena kebisingan, tapi karena pikiran yang tidak mau diam.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari jarak ini.
Namun untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kedekatan sejati tidak hanya diuji saat dua orang bersama.
Ia diuji saat mereka berpisah—dan tetap memilih untuk tidak saling melukai.