Sebuah tembok besar menghalangi kehidupan dua insan yang saling jatuh cinta satu sama lain.
Mereka dihadapkan oleh keadaan yang hampir tidak mungkin bisa dilewati.
Mereka hanya memiliki dua pilihan, terus melangkah maju tapi menghancurkan semua orang, atau bergerak mundur namun mereka sendiri yang akan hancur.
Akankah kebahagiaan dan cinta akan berpihak pada mereka yang berjuang, ataukah perpisahan yang akan mereka dapatkan?
Dan mungkinkan ruang dan waktu dapan mempersatukan mereka?
Terus ikuti kisahnya di novel "Ruang dan Waktu" sebuah novel terusan dari novel "Keluarga Yang Tak Dirindukan" karya author Weka Hatake~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WK Rowling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Sekolah
Tak ada yang mau membuka suara selama kurang lebih tiga puluh menit perjalanan. Sesampainya di sekolah yang mereka tuju, banyak pasang mata yang memandangi keduanya yang tak lain adalah siswa-siswi yang bersekolah di tempat yang sama dengan Adel.
"Apa itu pacarnya Adel?"
"Walaupun cowoknya pake helm, tapi kelihatan gagah ya?"
"Ssttt Adel sama siapa tuh?"
Begitulah yang dikatakan siswa-siswi yang melihat Adel turun dari motor pemuda yang mengantarnya ke sekolah.
Tanpa memperdulikan teman-teman yang saling berbisik membicarakan dirinya, Adel yang sudah turun dari motor itu pun lekas berkata, "Makasih." Ucapnya singkat dan langsung bersiap pergi, namun tangannya ditahan oleh pemuda yang mengantarnya itu.
"Apalagi?" Tanya Adel yang sudah mulai jengah.
"Ini semua nggak gratis."
Adel menatap pemuda tersebut dengan tatapan sinis, dia tidak mau berdebat lagi mengingat mereka sudah sampai di sekolah dan tidak mau ada kesalahpahaman yang lebih jauh, jadi dia lebih memilih mengalah dan mengambil selembar uang dari saku seragamnya.
"Nih ambil." Katanya sambil menyodorkan selembar uang ke arah pemuda tersebut.
Pemuda itu hanya memandangi uang yang disodorkan oleh Adel kemudian berkata, "Gue gak butuh uang lo."
"Maksudnya?" Tanya gadis itu dengan kebingungan.
"Bukan uang yang gue minta, tapi gue minta komik yang lo rebut dari gue." Ya, pemuda yang tak lain adalah Kaisar itu rupanya masih mengingat dengan jelas siapa gadis yang diantarnya tersebut.
Rupanya Kaisar sudah menyadarinya sejak awal kecelakaan itu, hanya saja dia berusaha untuk diam mengingat situasi tidak berpihak kepadanya, dan setelah dirasa semuanya aman, barulah dia meminta apa yang dia inginkan sejak tadi.
"Komik?" Tanya Adel sekali lagi, dia semakin bingung apa maksud Kaisar.
"Maaf ya mas, saya nggak tau maksud kamu apa, mungkin kamu salah orang. Udah ya makasih udah dianterin saya mau masuk." Setelah berkata demikian tanpa menunggu jawaban dari Kaisar Adel membalikkan badannya dan melangkah pergi, namun baru satu langkah dia berjalan, Kaisar dengan cepat menarik tas punggung yang digunakan gadis tersebut sehingga membuat gadis tersebut berjalan mundur.
"Ini apa-apaan sih!" Adel sudah kehilangan kesabaran dia hampir mengumpat tapi masih bisa ia tahan, posisinya masih membelakangi Kaisar.
Kaisar yang tangannya masih memegangi tas punggung Adel hendak menjawab, namun tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari kejauhan.
"Kai!" Teriak seseorang yang membuat Kaisar dan Adel menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.
Kaisar langsung menarik tangannya dari tas Adel saat melihat orang yang memanggilnya itu berjalan menghampirinya.
"Loh kamu ngapain disini?" Tanya Kaisar saat orang itu sudah ada dihadapannya.
"Nganterin adikku, dia kan sekolah disini." Jawab orang tersebut, "Kamu sendiri kenapa ada di sini?" Lanjutnya.
Kaisar mengusap belakang kepalanya karena canggung kemudian menjawab, "Ee itu anu tadi aku nggak sengaja nabrak orang terus aku anterin kesini, kebetulan dia sekolah disini." Kaisar menjelaskan sambil menunjuk Adel yang masih diam ditempatnya sambil memperhatikan kedua orang di depannya yang saling berbicara itu.
Orang itu memperhatikan Adel dari atas sampai bawah kemudian berkata, "Nabrak apa nabrak?" Godanya.
"Nabrak sayang, ya sebetulnya bukan nabrak sih tapi nyerempet dikit aja tapi orangnya lebay banget sampe minta dianterin."
Mendengar jawaban dari Kaisar, Adel rasanya ingin memukul kepala pemuda itu, "Apa? Lebay? Kaki gue pincang bangs*t!!" Suara hati Adel berteriak lantang.
Ternyata gadis yang menyapanya itu adalah kekasih dari Kaisar, keduanya berkuliah di kampus yang sama.
"Hahaha, nggak usah panik gitu sayang, aku percaya kok sama kamu." Ucap Nara kekasih Kaisar, dia tertawa kecil sambil memukul pelan lengan Kaisar.
Nara yang kemudian memandang ke arah Adel yang masih memperhatikan keduanya itu kemudian berkata, "Maaf ya dek, kamu ada yang luka?" Tanyanya lembut.
Saat Adel membuka mulutnya hendak menjawab, Kaisar lebih cepat berbicara, "Ah cuma luka kecil sayang, lagian ini salah dia juga yang berdiri di tengah jalan."
Nara lekas memberikan tatapan tajam ke arah Kaisar, yang membuat pemuda tersebut seketika diam.
"Iya kak, aku cuma keseleo aja nanti juga bisa aku obati sendiri." Akhirnya Adel membuka suara.
"Beneran? Nggak mau diperiksa ke dokter dulu?" Nara memastikan.
"Nggak usah kak, nggak apa-apa. Kalo gitu aku masuk dulu ya kak, makasih." Jawab Adel dengan tersenyum ramah.
"Eh sebentar." Nara mencegah Adel yang hendak pergi, Kekasih dari Kaisar itu terlihat menuliskan sesuatu di kertas kecil kemudian diberikan kepada Adel.
"Nanti sepulang sekolah kamu harus memeriksakan keadaan kamu ke klinik ini, takut-takut ada luka dalam akibat kecelakaan tadi." Ucap Nara sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan alamat sebuah klinik.
"Nggak apa-apa kak nggak usah, beneran aku nggak kenapa-kenapa kok." Adel berusaha meyakinkan Nara bahwa dirinya baik-baik saja.
"Udahlah sayang, kamu denger kan dia sendiri bilang kalo dia nggak kenapa-kenapa." Kaisar ikut menimpali.
"Nggak bisa gitu Kai, ih kamu yang nabrak juga." Nara tetap memaksa Adel untuk menerima sarannya.
Dengan terpaksa akhirnya Adel menerima kertas bertuliskan alamat klinik yang diberikan oleh Nara.
"Kamu nanti langsung datang aja ke klinik itu, kebetulan ada keluarga saya yang bekerja disana, nanti saya hubungi pihak klinik agar kamu nggak usah ikut antri dan bisa langsung diperiksa." Nara menjelaskan dengan nada lembut.
Adel menganggukkan kepalanya kemudian menjawab, "Baik kak, terima kasih banyak."
"Bisa-bisanya kakak cantik yang begitu baik hati ini mau sama cowok kasar kayak dia." Lagi-lagi Adel ngedumel meskipun hanya di dalam hati.
"Kalo begitu aku masuk dulu ya kak, sekali lagi terima kasih banyak." Selepas berkata demikian Adel langsung bergegas masuk ke sekolahnya.
Nara dan Kaisar pun ikut pergi juga menggunakan kendaraan masing-masing menuju ke kampus tempat keduanya berkuliah.
lanjut thor..
thank ya thor 😁 😁
perang dunia anak dan emak
dasar Rani, waktu sehat nyakitin perasaan Anika dan nipu Rendra... sekarang sakit pun nyusahin Satya dan Adel... 😡