Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perpisahan Paling Pilu dan Pelukan Ibu
Suasana di lorong Rumah Sakit Medika mendadak berubah menjadi mencekam ketika suara mesin electrocardiogram (EKG) dari dalam ruang ICU berubah menjadi satu nada panjang yang melengking.
Piiiiiiiiiiip....
Amara yang sedang terduduk lemas di samping Aisyah langsung melonjak berdiri. Jantungnya seakan ikut berhenti berdetak. Ia melihat dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam ruangan tempat ibundanya terbaring.
"Bunda? Bunda!" teriak Amara histeris. Ia mencoba mendobrak pintu kaca, namun ditahan oleh petugas keamanan.
Aisyah yang panik segera memeluk kakak iparnya itu dari belakang. "Mbak, tenang Mbak! Istighfar, Mbak!"
Di dalam sana, dokter melakukan tindakan pacu jantung. Berkali-kali alat itu ditekan ke dada Ibu Maria, namun tubuh lemah itu hanya membalas dengan hentakan tanpa tanda-tanda kehidupan kembali. Luka kecelakaan itu terlalu parah; perdarahan dalam yang dialaminya membuat tubuhnya tak lagi mampu bertahan.
Dokter akhirnya menghentikan tindakannya, melirik arloji, lalu menundukkan kepala. Saat pintu terbuka, dokter menghampiri Amara dengan wajah menyesal.
"Maafkan kami, Nona. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Ibu Maria kehilangan terlalu banyak darah. Beliau sudah tiada pada pukul 18.45."
Dunia Amara seolah runtuh. Ia tidak berteriak lagi. Ia justru jatuh perlahan ke lantai, matanya kosong. Seluruh perjuangannya kabur dari Amerika, pengorbanannya meninggalkan Hannan, semuanya terasa sia-sia karena ia bahkan tak sempat mendengar kalimat terakhir dari bibir sang bunda.
Aisyah yang melihat Amara jatuh pingsan karena syok hebat, segera meminta bantuan perawat. Di tengah kekalutan itu, Aisyah memberanikan diri mengambil ponselnya. Ia tahu ia harus menghubungi seseorang yang bisa mengendalikan situasi ini di Indonesia. Ia menghubungi Ummi Salamah, ibu kandungnya (Ibu Hannan), yang saat itu ternyata sedang berada di Jakarta untuk sebuah acara pertemuan tokoh Muslimah.
Satu jam kemudian, langkah kaki terburu-buru terdengar di lorong rumah sakit. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat bersahaja namun berwibawa muncul. Dialah Ummi Salamah, ibu dari Gus Hannan.
"Aisyah! Di mana dia?" tanya Ummi Salamah dengan napas tersengal.
Aisyah segera menghampiri ibunya dan mencium tangannya. "Di dalam, Mi. Mbak Amara pingsan. Bundanya baru saja meninggal dunia."
Aisyah kemudian menarik ibunya ke sudut yang lebih sepi. Dengan suara bergetar, ia menceritakan semuanya. "Mi, Mbak Amara inilah yang menyelamatkan Aisyah dari jambret di bandara tadi. Aisyah baru sadar dia adalah istri Mas Hannan setelah dia menyebutkan namanya. Dia orang baik, Mi. Dia mempertaruhkan nyawanya pulang ke sini demi ibunya."
Ummi Salamah tertegun. Kebencian atau ketidaksukaan yang sempat muncul karena kabar pernikahan diam-diam putranya seolah luntur seketika mendengar cerita Aisyah. Sebagai seorang ibu, hatinya tersentuh.
Tak lama kemudian, Amara sadar dari pingsannya. Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di ruang perawatan sementara. Di sampingnya, duduk seorang wanita yang belum pernah ia temui, namun memiliki gurat wajah yang sangat mirip dengan Hannan.
"Mbak Amara..." panggil Aisyah lembut. "Ini Ummi saya. Ibunya Mas Hannan."
Amara tersentak. Rasa takut dan malu bercampur menjadi satu. Ia mencoba duduk meski kepalanya masih sangat pening. "Ummi... Maafkan saya... Saya... saya sudah mengecewakan keluarga kalian."
Ummi Salamah tidak marah. Sebaliknya, ia justru merangkul Amara dan menarik kepala menantunya itu ke pelukannya. "Sudah, Nak. Jangan bicara soal itu sekarang. Ummi sudah tahu semuanya dari Aisyah. Kamu sedang berduka. Menangislah..."
Tangis Amara kembali pecah di pelukan ibu mertuanya. Ia merasa mendapatkan kembali sosok ibu yang baru saja hilang dari hidupnya. "Bunda sudah tidak ada, Ummi... Aku sendirian sekarang..."
"Kamu tidak sendirian. Kamu punya Hannan, kamu punya Ummi, dan kamu punya Aisyah," bisik Ummi Salamah sambil mengelus jilbab merah muda Amara yang sudah berantakan.
Namun, di tengah suasana duka itu, Ummi Salamah menatap Aisyah dengan serius. "Aisyah, jangan beri tahu Abahmu dulu kalau Ummi bersama Amara. Abah masih sangat keras hati. Biarkan Ummi yang mengurus jenazah besan Ummi ini dan melindungi Amara untuk sementara waktu di Jakarta."
Tanpa mereka sadari, Hannan baru saja mendarat di Jakarta. Ia sedang berada di dalam taksi, memacu kendaraan itu menuju rumah sakit dengan hati yang hancur, takut jika ia terlambat menyelamatkan istrinya dari kejaran anak buah Bastian yang mungkin masih mengintai di kegelapan koridor rumah sakit.