Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlutut
Noah berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, menatap Viona yang sejak pagi tadi seolah membangun benteng tinggi. Viona yang biasanya cerewet, hari ini berubah menjadi wanita karier yang sangat dingin dan profesiona” terlalu profesional hingga membuat Noah merasa terusir.
"Vio, kita harus ngobrol," kata Noah memotong pembicaraan, suaranya berat dan tidak menerima penolakan. Ia bahkan tidak peduli kamera laptop Viona sedang menyala.
Viona tersentak, ia menatap layar laptopnya dengan panik. "Sebentar ya, saya bicara dulu sama suami," ucap Viona kepada sekretarisnya sebelum mematikan mikrofon dan kamera dengan gerakan cepat.
Viona berbalik, menatap Noah dengan raut kesal. "Kenapa, Noah? Lo nggak lihat gue lagi meeting?"
Noah melangkah mendekat, mengabaikan meja kerja darurat Viona. Ia berhenti tepat di depan istrinya, menatap mata Viona yang tampak berusaha menghindari kontaknya. "Lo kenapa? Semenjak saat itu lo diem aja. Lo kayak... berusaha lari dari gue."
Viona terdiam sejenak, ia menarik napas panjang dan menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Oke! Gue jujur aja ya. Gue merasa asing aja sama lo, Noah. Maksud gue... kita masih sahabatan, kan?" tanya Viona dengan nada yang terdengar sangat ragu.
Noah menghela napas kasar, ia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan.
"Sahabatan? Jelas! Tapi status kita sekarang suami istri, Vio. Apa yang kita lakuin semalam itu normal bagi orang yang sudah menikah. Kenapa lo harus ngerasa asing?"
"Masalahnya, gue nggak pernah kepikiran apa pun soal ini!" jawab Viona setengah berteriak, suaranya bergetar. "Selama ini lo itu Noah, tempat gue ngadu, tempat gue berantem, orang yang tahu semua keburukan gue sebagai sahabat. Tapi sekarang? Setelah semalam... gue nggak tahu gimana cara natap lo tanpa ngerasa... aneh."
Noah tertegun. Ia menyadari bahwa bagi Viona, transisi dari "zona nyaman sahabat" ke "zona intim suami istri" jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Noah kemudian berjongkok di depan kursi Viona, meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya erat.
"Vio, dengerin gue," ucap Noah lembut, memaksa Viona untuk menatapnya. "Nggak ada yang berubah soal persahabatan kita. Gue tetep Noah yang bakal dengerin semua aduan lo. Tapi sekarang, gue punya hak lebih buat jagain lo. Lo nggak perlu merasa asing, karena gue masih orang yang sama."
Viona menatap tangan Noah yang menggenggamnya. "Tapi kalau nanti kita gagal, gue bakal kehilangan suami sekaligus sahabat terbaik gue, Noah. Itu yang gue takutin."
Noah menarik tangan Viona dan mengecupnya lama. "Gue nggak akan biarin kita gagal. Jadi, berhenti bersikap seolah gue orang asing, karena itu jauh lebih nyakitin daripada omelan lo biasanya."
Noah melepaskan genggaman tangannya dari jemari Viona perlahan, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat panas. Ia berdiri tegak, menatap Viona yang kini menunduk, tidak berani membalas tatapannya.
“Tapi... gue minta kita seperti biasa dulu ya? Gue masih mencerna perubahan ini," lirih Viona. Suaranya bergetar, namun penuh dengan permohonan. "Gue masih nggak bisa lepas dari label sahabat yang ada di bayangan gue. Soal apa yang pernah terjadi... gue mohon lupakan dulu."
Noah terdiam sejenak. Kalimat "lupakan dulu" itu menghantam harga dirinya tepat di ulu hati. Tidak menyangka bahwa Viona akan bereaksi seperti ini setelah apa yang mereka lalui di bawah langit Jeju semalam. Ternyata, keintiman yang bagi Noah adalah sebuah pengakuan cinta, bagi Viona hanyalah sebuah kesalahan yang harus segera dihapus dari memori.
“Lupakan?" ulang Noah dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan yang berbahaya. "Lo minta gue nganggep semua itu nggak pernah terjadi?"
Viona hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. "Biar kita sama-sama nyaman, Noah."
Noah menarik sudut bibirnya, membentuk senyum getir yang penuh sarkasme. "Nyaman buat lo, atau nyaman buat rasa takut lo?"
Ia menjauh satu langkah, memberikan jarak yang diminta Viona, jarak yang terasa seperti jurang tak berdasar. "Oke. Kalau itu yang lo mau. Kita balik jadi 'sahabat' yang dijodohin. Gue nggak bakal sentuh lo, dan gue nggak bakal bahas soal itu lagi."
Noah berbalik menuju pintu, namun langkahnya terhenti. Tanpa menoleh, ia menambahkan dengan nada suara yang kembali dingin seperti Pak Dosen di kampus.
"Tapi satu hal yang harus lo tahu, Vio. Melupakan itu jauh lebih susah daripada mencerna. Dan gue bukan aktor yang jago pura-pura."
Brak.
Pintu kamar tertutup dengan dentuman yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat hati Viona mencelos. Ia menatap pintu itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin merasa lega karena status "sahabatnya" kembali, tapi entah kenapa, dadanya justru terasa sesak melihat punggung Noah yang menjauh.
Noah berjalan menyusuri lorong hotel dengan rahang yang mengatup rapat. Ia merasa bodoh. Ternyata di benak Viona, apa yang ia lakukan belum seberkenan itu. Ia pikir malam itu adalah awal dari segalanya, namun ternyata bagi Viona, itu adalah sesuatu yang ingin ia hapus.
———
Deru mesin SUV hitam milik Noah membelah kesunyian malam di kawasan perumahan elit tempat Zayn tinggal. Ban mobil itu berdecit kasar saat berhenti di depan gerbang, menggambarkan betapa kacaunya pikiran sang pengemudi.
Noah melangkah masuk ke dalam rumah Zayn tanpa mengetuk, langsung menuju bar pribadi di sudut ruangan di mana Zayn sudah menunggunya dengan dua gelas kristal yang sudah terisi.
Zayn, yang sudah sangat mengenal tabiat sahabatnya sejak kecil, hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu, jika Noah Sebastian Willey datang dengan wajah segelap langit badai, artinya hanya ada satu orang yang menjadi penyebabnya: Viona.
"Ada apa kali ini? Muka lo kayak habis ditolak tender triliunan," tanya Zayn santai sembari menyodorkan satu gelas ke arah Noah.
Noah meneguk habis minumannya dalam sekali teguk, membiarkan rasa pahit membakar kerongkongannya. "Jujur aja, gue sama Viona udah melakukan hal itu," jelas Noah tanpa basa-basi.
Zayn hampir tersedak. Ia menatap Noah dengan pandangan tidak percaya, namun sedetik kemudian ia tertawa kecil. "And then masalahnya apa? Kalian kan suami istri, jadi wajar kan? Malah bagus dong, artinya proyek 'cucu' orang tua kalian lancar."
Noah membanting tubuhnya ke kursi bar, menyugar rambutnya dengan frustrasi.
"Masalahnya, dia nggak terima, Zayn. Setelah ngelakuin itu, dia oke-oke aja padahal waktu di Jeju. Tapi beberapa hari setelah balik ke Seoul, dia berubah total."
Noah menghela napas panjang, suaranya terdengar sangat lelah. "Dia bilang dia merasa asing sama gue. Dia minta gue lupakan semuanya dan balik jadi 'sahabat' kayak biasa. Dia nggak bisa lepas dari label itu."
Zayn terdiam, kali ini ia menatap Noah dengan iba. Sebagai pihak ketiga yang melihat dinamika mereka, Zayn tahu betul kalau Noah sudah "jatuh" terlalu dalam.
"Gue rasa Vio bukan nggak terima karena dia nggak suka, Noah," ucap Zayn pelan, mencoba menganalisis. "Dia cuma takut. Bagi Viona, lo itu satu-satunya orang yang nggak akan pernah ninggalin dia sebagai sahabat. Begitu statusnya berubah jadi suami-istri yang 'intim', dia takut kalau suatu saat kalian cerai atau berantem, dia bakal kehilangan lo sepenuhnya. Dia belum siap kehilangan 'rumah' amannya."
Noah terdiam mendengar penjelasan Zayn. Dadanya terasa sesak. "Tapi dengan dia minta gue buat pura-pura lupa, itu justru bikin gue merasa nggak dianggap, Zayn. Gue merasa cuma jadi pelarian sesaat dia di Jeju."
"Lo harus sabar. Viona itu ibarat kucing liar, makin lo paksa, makin dia lari. Lo harus kasih dia ruang, tapi tetap pastiin dia tahu kalau lo masih ada di sana," saran Zayn.
Noah menyandarkan kepalanya ke meja bar. "Gue nggak tahu seberapa lama gue bisa sabar, kalau setiap kali gue liat dia, yang gue bayangin cuma gimana caranya buat dia jadi milik gue lagi tanpa ada label 'sahabat' yang ngehalangin."
Zayn meletakkan gelasnya, menyeringai lebar saat melihat reaksi membisu dari sahabatnya yang biasanya selalu punya jawaban tajam itu.
"Oh, oke! Jadi sekarang lo udah terang-terangan jatuh cinta sama Viona?" goda Zayn, matanya berkilat jenaka. "Seorang Noah Sebastian Willey, akhirnya bertekuk lutut sama cewek yang dulu sering dia panggil 'beban'?"
Noah terdiam sejenak. Ia menatap cairan amber di gelasnya, memutar-mutarnya pelan. Kata "jatuh cinta" itu terdengar sangat asing sekaligus sangat tepat secara bersamaan. Ia tidak menyangka akan mengatakan hal ini dengan lantang di hadapan Zayn atau bahkan di hadapan dirinya sendiri.
"Hm... ya..." Noah akhirnya bersuara, suaranya rendah dan terdengar sangat jujur. "Gue akui deh. Entah kapan mulainya, gue juga nggak tahu."
Zayn tertawa lepas, ia menepuk bahu Noah dengan keras. "Akhirnya! Butuh waktu berapa tahun buat lo sadar, hah? Dari zaman SMA lo udah kayak bodyguard pribadinya, sekarang baru ngaku?"
Noah tidak membalas tawa Zayn. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah yang kembali muram. "Tapi percuma kan, Zayn? Gue udah telanjur sayang, tapi dianya malah mau balik ke friendzone. Dia mau gue tetep jadi 'Noah si sahabat' yang nggak punya perasaan apa-apa."
Noah menghela napas kasar, bayangan wajah Viona yang memohon padanya di hotel tadi kembali melintas. "Gue ngerasa kayak... gue udah ngasih semua kartu gue, tapi dia malah nutup pintu. Rasanya jauh lebih sakit daripada ditolak kontrak kerja mana pun."
Zayn berhenti tertawa, ia menyadari kalau kali ini Noah benar-benar sedang tidak bercanda.
"Noah, dengerin gue. Viona itu cuma kaget. Dia butuh waktu buat sadar kalau perasaan dia ke lo itu juga udah berubah. Lo nggak bisa maksa perasaan orang buat sinkron di waktu yang sama."
"Gue cuma nggak tahu gimana caranya natap dia besok tanpa pengen narik dia ke pelukan gue dan bilang kalau gue cinta sama dia," bisik Noah pelan.
Malam itu, di kediaman Zayn, rahasia terbesar Noah resmi terbongkar. Ia bukan lagi sekadar suami karena paksaan orang tua, tapi pria yang sedang berjuang memenangkan hati istrinya yang masih terjebak di masa lalu.
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca