Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Akira Seorang CEO Yang Baik
"Ini kenyataan Rei." Presdir Akira menjawab dengan datar.
"Bohong! Kau hanya membuat alasan!" Rei berteriak, alat setrum listrik tegangan tinggi yang mereka ciptakan kembali beraksi.
"Kenapa? Kenapa tidak percaya? Apakah kau memiliki bukti bahwa Organisasi kami melakukan kejahatan?" Presdir Akira bertanya dengan suara dingin.
"Bukti! Baik! Bagaimana kau menjelaskan ini?!" Rei mengeluarkan tiga kapsul pil obat yang didapatnya dari ruang laboratorium toko obat.
"Rin mendengar sendiri dari menejer toko baju! Menejer itu bilang tentang obat awet muda! Bagaimana kau menjelaskan ini?! Ini bukti nyatanya!" Rei melempar kantong berisi tiga kapsul pil itu ke depan Presdir Akira.
"Association West The Mysterious University Drug Of Abnormal."
"Apa?!" Rei mengerutkan kening, tiba-tiba Presdir Akira menggunakan bahasa Inggris.
"Asosiasi barat, obat universitas misterius yang tidak normal..." Presdir Akira memberitahu artinya dari kata itu sambil menjentikkan jari.
Klik!
DUARR! Terdengar bunyi ledakan dari atas atap gedung 51 lantai itu. Presdir Akira menghancurkan sesuatu di atas sana... Hanya dengan menjentikkan jari?
"Kami Organisasi rahasia bekerja sama dengan negara barat meneliti obat misterius yang di buat suatu universitas dan tidak diketahui keberadaannya. Obat buatan universitas itu membuat orang-orang menjadi gila dan obat itu sudah menjamur di negara barat."
Presdir Akira memungut kantong plastik berisi tiga kapsul pil obat berwarna pink putih yang di lempar Rei. "Dan yang kau bawa ini adalah obat penawar racunnya." Presdir Akira mengeluarkan satu kapsul obat tersebut dari kantong plastik.
"Kami menyebut nama obat penawaran: AWET MUDA, yang artinya *A**ssociation* *We**st* *T**he* *M**ysterious* *U**niversity* *D**rug Of* *A**bnormal*. Tujuannya untuk mengobati orang-orang yang terdampak racun gila. Nama obatnya memang sengaja di pilih seperti itu untuk mengelabuhi musuh yang mencoba menghancurkan."
Presdir Akira memutar-mutarkan kapsul obat itu di jarinya, "Dan hari ini kalian menghancurkan sebagian besar kerja keras kami selama lebih dari 8 tahun." Presdir Akira memandang rendah Rei dan Rin.
"Tapi... Menejer toko itu bilang kalau dia mau obat awet muda agar dia tetap muda..." Rin mengatakan hal itu dengan ragu-ragu.
"Menejer toko hanya menguji, karena tidak mungkin anggota Organisasi masih semuda itu..." Presdir Akira berhenti memutar kapsul dan menggenggam kapsul itu dengan erat. Yah... Setidaknya masih bisa membuat riset ulang.
"Bagaimana tentang Izumi itu? Bukankah sudah tersebar luas bahwa dia tua tapi masih tetap muda?" Rin terus bertanya pada Presdir Akira.
"Ada yang seperti itu? Rasanya profil anggota kami tak pernah bocor dalam publik... Izumi membuat akta lahir palsu, dia memalsukan umurnya menjadi 20 tahun lebih tua.
"Apa? Kenapa?" Rin bertanya tidak percaya.
"Entahlah, setahuku dia kabur dari rumah. Dia memulai karir baru sebagai orang yang baru pula... Nama aslinya adalah Kimika." Presdir Akira menjawab dengan santai.
"Ohh, baiklah! ... Bagaimana kau bisa menjelaskan tentang Organisasi malam itu?" Rei terlihat sudah mulai menyerah. Apakah yang mereka lakukan selama ini salah?
"Itu juga sama, salah satu cabang Organisasi yang bertugas menangkap para pel*cur dan orang kaya cabul yang hanya bisa menghabiskan uang untuk memuaskan n*fsu... Mereka akan di rehabilitasi menjadi manusia yang lebih baik." Presdir Akira menghela nafas, mengambil kursi terdekat lalu duduk dengan melipat kaki, kaki kirinya di atas kaki kanan.
"Sudah selesai Rei? Salah paham sudah berakhir kan? Ada pertanyaan?"
"Belum! Coba jelaskan tentang perbuatanmu pada ibuku!" Seru Rei sambil bersandar di dinding kamar itu.
"Ohh... Aku rasa, aku sama sekali tidak pernah melakukan itu." Presdir Akira mengayun-ayunkan kakinya.
"Jelas kau melakukannya." Ujar Rei dengan getir, akui saja perbuatan jahatmu itu...
"Kita lakukan tes DNA dan kita akan tahu." Jawab Presdir Akira dengan santai.
"Aku ingin sebuah fakta, kenapa kau membeli ibuku?" Tanya Rei pada Presdir Akira.
"Aku ingin melindungi dan menyelamatkan dia dari kakaknya..." Jawab Presdir Akira sambil sedikit mengenang kehadiran Toru 8 tahun yang lalu, "Setelah itu aku tidak tahu..."
"Yang kau tidak tahu itu bagian yang paling penting! Apapun alasannya kau tetap seorang penjahat!" Rei berseru geram, menatap sinis Presdir Akira dengan tatapan getir.
"Baiklah, mungkin aku butuh waktu untuk memikirkannya... Akan kucoba ingat." Presdir Akira memalingkan matanya, malas meladeni pertanyaan tentang insiden yang bahkan dia tidak tahu.
"Percuma juga kau ingat! Kesalahanmu tak akan terhapus walau kau ingat!" Seru Rei ketus, "Kuberi kau waktu satu bulan! Ingatlah! Dan bila kau ingat, coba tampakkan mukamu di depan ibuku! Dan bertanggung jawablah!"
"Baiklah... Satu bulan, kita lihat saja, andaikan bukan, kau tahu akibatnya." Jawab Presdir Akira dengan kejam.
"Terserah! Rin, ayo pergi." Rei berjalan sambil menarik tangan Rin kearah jendela kamar itu. Jendelanya sangat besar, satu sisi tembok di kamar itu kaca semua.
"Bagaimana cara kalian pergi? Kau tak akan bisa pergi dari sini... Walau lewat jendela pun, kacanya anti gores dan anti pecah, lagi pula ini tingkat 51." Presdir Akira berkata kejam pada Rei dan Rin sambil tersenyum jahat.
"Huh! Kau meremehkan kami? Walau anti gores dan anti pecah, tapi pasti nggak anti ledak kan? Kita lihat bagaimana kaca ini menahan frekuensinya." Rei mengambil bola bewarna merah dari dalam jubahnya.
"Apa..."
DUARR!!
Kalimat Presdir Akira terpotong oleh bunyi ledakan bom merah yang di lemparkan Rei. Jendela besar itu langsung hancur berkeping-keping. Rei dan Rin menggunakan sayap lipat di dalam jubah mereka untuk kabur. Mereka melesat terbang dengan kecepatan tinggi, meninggalkan gedung putih bertingkat 51 itu.
"Kurang ajar..." Presdir Akira mengerutkan keningnya, "Yah... Mari kita lakukan tes DNA." Presdir Akira meninggalkan ruangannya yang hancurkan dengan dahi terlipat. Sekarang suasana hatinya sedang sangat buruk.
"Kita di mana sekarang." Rei berteriak mengalahkan bunyi angin yang menderu kencang di telinganya... Mereka berhasil terbang dengan sayap lipat ciptaan mereka.
"Tidak tahu, tapi kita bisa kembali kalau mengikuti GPS di jepit rambut setengah bintangmu yang terjatuh waktu dipukul." Rin balas berteriak.
Mereka melesat cepat dan sampai di kota mereka puluhan menit kemudian, "Tadi itu di benua lain ya? Kok jauh sekali dari sini..." Rei merenggangkan tubuhnya saat mendarat di atas gedung kota Himegami untuk memungut senjata Amunisi F-5, topeng rubah, dan jepit rambut setengah bintang.
Lalu dengan cepat berlari pergi ke gedung rahasia tempat biasa mereka menyimpan alat dan perlengkapan ciptaan mereka.
"60 km, pasti beberapa kota dari sini..." Rin melihat tanda tempuh perjalanan di monitor sayap buatan mereka.
"Sepertinya sudah tiga jam kita pergi nggak pamit, ayo pulang, mama pasti khawatir." Rin melepas semua perlengkapannya dan meletakkan di dalam sebuah kotak besi yang kuncinya hanya bisa di buka menggunakan cap jari tangan Rei dan Rin... Rei mengikuti gerakan adiknya, melepas perban yang ada di kepala, sekarang sudah sembuh.
Mereka berlari-lari pulang kerumah setelah berganti baju, "Kami pulang!" Rei dan Rin mengucapkan salam saat tiba di rumah.
"Ya ampun, kalian main nggak pamit lagi. Kalian masih kecil lho, kalau diculik bagaimana?" Kaoru berkata dengan prihatin.
"Tenang ma! Ada Rin! Kalau kena karate-nya pasti K.O!" Rei menjawab dengan nada riang yang terdengar sangat manja.
"Iya ma! Nih lihat, hiah!" Rin mempraktekkan salah satu jurus tendangan karate.
"Memang hebat anak mama." Kaoru memuji Rin.
"Anak siapa dulu?" Rin menaikkan kepalanya dengan sok. Mereka semua tertawa riang, keluarga kecil itu sangat bahagia selepas dari kejadian yang menyangkut Presdir Akira.
"Rei, ada telepon video call dari Nico lebih dari 10 kali." Rin membuka laptopnya begitu tiba di kamar setelah mandi dan makan malam.
Rei juga berada dikamar Rin sekarang, "Dia tulis pesan: jangan lupa hari minggu." Ujar Rin.
"Ahh sial! Repot amat jadi artis papan atas. Dikejar fans melulu." Rei merebahkan diri ditempat tidur Rin, "Kenapa harus dia? Kenapa? Kenapa?" Rei mengeluh sambil menutup mukanya dengan bantal.
"Sabar, sabar... Ada hikmahnya juga kan?" Rin menutup laptopnya, "Sudah malam, sana pergi ke kamarmu, tidur besok sekolah." Rin mengusir Rei dari kamarnya.
Rei pergi balik ke kamarnya, bukankah informasi yang diberikan Nico tak begitu berguna... Malah membawa sial...
Keesokkan harinya...
Mereka pergi ke sekolah, dan di dalam sekolah Rei dan Rin sudah di tunggu Nico, "Kamu lambat banget datangnya Rei!" Nico mendekatkan wajahnya ke wajah Rei sampai jarak mereka hanya 10 cm... Rei mundur beberapa langkah dengan jijik.
"Ohh, pagi Nico, bukannya kau yang datang terlalu cepat?" Rei memasang senyum terpaksa, berusaha ngeles.
"Iya! Hari ini hari Sabtu ingat? Besoknya hari penting kan? Kan? " Nico semakin dekat dengan Rei... Dan Rei makin banyak mundur ke belakang.
"Iya..." Rei menjawab singkat dengan enggan, memalingkan wajah.
"Kalau begitu besok ketemuan dibawah air mancur taman yah!" Nico berseru senang.
"Aku dari tadi kayaknya jadi obat nyamuk disini, nggak ada yang nyapa." Rin tiba-tiba menyambung obrolan Nico dan Rei.
"Ohh! Pagi Rin! Nggak sadar kamu disitu." Sapa Nico dengan terkejut, "Rei! Jangan lupa yah! Dibawah air mancur ditaman lho! Dadah! Sampai ketemu!" Nico berlari meninggalkan Rei dan Rin.
"Pencemaran nama baik nih, besok anak cowok terkeren di sekolah kencan dengan seorang cewek preman yang nggak ada cantik-cantiknya, belum lagi dia lebay... Entahlah, aku pasrah." Rei mengeluh pada Rin
"Derita hidup, silahkan dijalani." Rin berjalan mendahului Rei masuk ke dalam kelas.
To be continued...
Gubrak!