Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
1
Pagi buta, saat ayam jantan milik tetangga baru saja berkokok sekali, Anjeli sudah bangun. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan pagi-pagi sebelumnya. Efek dari meminum air sumur kristal di ruang ajaib semalam benar-benar nyata. Rasa pegal di bahunya hilang, dan semangat yang sempat padam kini menyala kembali.
Ia melangkah perlahan menuju dapur, berusaha agar lantai kayu yang lapuk tidak berderit dan membangunkan Aris. Anjeli mengambil sebuah kaleng bekas biskuit yang ia gunakan untuk menyimpan sisa-sisa uang recehnya. Hanya ada beberapa lembar uang seribuan yang sudah lusuh dan koin-koin kecil.
"Hanya cukup untuk membeli sebungkus bibit kangkung atau bayam," bisiknya pada diri sendiri.
Anjeli sadar, untuk mencapai tujuannya menjadi petani sukses tanpa dicurigai, ia harus memulai dari hal yang paling masuk akal. Jika ia tiba-tiba menanam tanaman langka atau mahal, orang-orang desa yang suka bergunjing pasti akan curiga. Kangkung adalah pilihan yang paling aman. Semua orang di desa ini menanam kangkung.
Sebelum berangkat ke pasar, Anjeli menyempatkan diri menengok ke kebun belakang rumahnya. Lahan itu hanyalah sepetak tanah berukuran empat kali enam meter yang dipenuhi batu kerikil dan semak belukar. Tanah itu keras, gersang, dan sudah bertahun-tahun tidak pernah menghasilkan apa pun selain rumput liar.
"Aku akan membuktikan bahwa tanah ini bisa menghidupi kita, yah," tekadnya dalam hati.
Anjeli sampai di pasar induk saat matahari belum sepenuhnya terbit. Bau sayuran segar dan amis ikan menyambutnya. Alih-alih menuju area kuli panggul seperti hari-hari sebelumnya, ia malah berjalan ke pojok pasar, tempat seorang kakek tua menjual bibit-bibit tanaman dalam kemasan plastik sederhana.
"Cari apa, Nduk? Tumben tidak mengangkut karung," tanya kakek penjual bibit itu, namanya Kek Juna.
"Mau coba bertani kecil-kecilan di belakang rumah, Kek. Ada bibit kangkung yang murah nggk kek?”
Kek Juna merogoh bagian bawah dagangannya. "Ini ada bibit yang kemasannya sudah agak rusak, tapi isinya masih bagus. Karena kamu yang beli, Kakek kasih tiga ribu saja."
Anjeli menerima plastik itu dengan tangan gemetar. Di tangannya kini ada ribuan calon nyawa yang akan menjadi tumpuan hidup keluarganya. Setelah membayar, ia bergegas pulang. Ia tidak mengambil pekerjaan sebagai kuli hari ini. Ia beralasan pada mandor pasar bahwa ia sedang tidak enak badan, padahal tenaganya justru sedang meluap-luap.
Sesampainya di rumah, Anjeli segera mengunci pintu kamarnya. Ia duduk bersila dan kembali memusatkan pikiran pada cincin di jarinya. Seperti semalam, tarikan gaib itu membawanya masuk ke dalam Ruang Ajaib.
Kondisinya masih sama tetap tenang, sejuk, dan damai. Anjeli segera menuju ke lahan hitam seluas 10x10 meter itu. Ia tidak ingin menanam semua bibitnya di sini. Sesuai dengan penjelasan yang ia terima dari perkamen semalam, ia harus menggunakan ruang di dalam cincin ini sebagai persemaian.
Anjeli menggali lubang-lubang kecil dengan jari tangannya di tanah hitam yang empuk itu. Ia memasukkan sebagian benih kangkung ke dalamnya, sementara sisanya ia biarkan tetap di dalam kemasan plastik. Setelah itu, ia mengambil gayung dari gubuk bambu dan menimba air dari sumur kristal.
“Byur”
Air itu menyentuh tanah dan seolah-olah tanah itu bernapas. Anjeli terpaku melihat pemandangan di depannya. Dalam hitungan menit, tanah yang tadinya datar mulai retak kecil. Tunas-tunas hijau mungil muncul ke permukaan, tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang.
"Woww, Luar biasa...ini sungguh kuar biasa" Anjeli menutup mulutnya. "Jika kangkung biasa butuh waktu 21 sampai 30 hari untuk panen, di sini mungkin hanya butuh waktu semalam."
Namun, ia teringat aturan rahasia itu. Ia tidak boleh menjual kangkung dari ruang ini secara langsung. Ukuran dan kualitasnya pasti akan terlalu mencolok. Ia punya rencana lain. Ia akan mengambil air dari sumur ini, membawanya keluar, dan menggunakannya untuk menyiram tanaman di dunia nyata. Dengan begitu, tanamannya di dunia nyata akan tumbuh lebih cepat dan lebih sehat dari tanaman tetangga, tapi tidak sampai dianggap menggunakan sihir.
Saat Anjeli sedang asyik memperhatikan tunasnya, ia merasakan sebuah getaran lembut dari cincinnya. Sebuah tulisan muncul di permukaan air sumur yang tenang:
"Energi ruang terbatas pada level pemilik. Jangan memaksakan pertumbuhan jika tubuhmu merasa lelah."
Benar saja, tiba-tiba Anjeli merasa sedikit pening. Rupanya, berada di dalam ruang ini dan mengaktifkan pertumbuhan tanaman membutuhkan energi mentalnya. Ia segera mengambil satu botol plastik kosong yang ia bawa dari rumah, mengisinya dengan air sumur kristal, dan segera keluar dari ruang itu.
Kembali ke dunia nyata, Anjeli keluar ke kebun belakang dengan membawa cangkul tua yang sudah berkarat milik ayahnya. Dengan semangat membara, ia mulai membabat semak dan menggali tanah yang keras itu. Keringat bercucuran membasahi wajah cantiknya yang kusam, namun ia tidak berhenti.
"Anjeli? Apa yang kamu lakukan, Nak?"
Suara itu membuat Anjeli terlonjak. Ia menoleh dan melihat ayahnya, Pak Burhan, sedang duduk di kursi roda usangnya di ambang pintu belakang. Wajah ayahnya tampak bingung sekaligus khawatir.
"Anjeli mau menanam kangkung, Yah. Sayang tanahnya kalau dibiarkan menganggur," jawab Anjeli sambil menyeka keringat dengan ujung bajunya.
Pak Burhan menghela napas sedih. "Tanah itu mati, Nak. Dulu Ayah sudah coba berkali-kali, tidak ada yang tumbuh selain ilalang. Jangan buang-buang tenagamu. Lebih baik kamu istirahat."
Anjeli mendekati ayahnya, menggenggam tangan pria itu yang kasar. "Ayah, izinkan Anjeli mencoba sekali ini saja. Anjeli punya perasaan kalau kali ini akan berhasil. Doakan saja ya, Yah?!”
Melihat binar di mata putrinya yang sudah lama hilang, Pak Burhan tidak tega untuk melarang lagi. Ia hanya bisa mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia merasa pesimis.
Sore itu, setelah tanah digemburkan sebisa mungkin, Anjeli menanam sisa benih yang tidak ia tanam di ruang ajaib. Setelah selesai, ia mengambil botol berisi air sumur kristal yang ia sembunyikan di balik semak. Ia mencampurkan sedikit air itu ke dalam ember penyiramnya.
"Tumbuhlah dengan baik," bisik Anjeli saat air itu meresap ke dalam tanah gersang.
Tanpa diketahui Anjeli, di kejauhan, di balik pohon mangga besar milik tetangganya, ada sepasang mata yang mengawasi dengan sinis. Itu adalah Bu Sumi, tetangga yang paling suka mencari kesalahan orang lain.
"Anak si Burhan sudah gila," gumam Bu Sumi sambil mengunyah sirih. "Tanah batu begitu mau ditanami. Kita lihat saja, paling besok juga sudah layu kena panas."
Anjeli tidak peduli. Ia masuk ke dalam rumah, menyiapkan makan malam sederhana untuk ayah dan adiknya, sambil terus meraba cincin di jarinya.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄