NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Retakan Pertama

Langkah kaki Arlan terasa berat saat ia menapaki koridor lantai empat yang remang. Lututnya yang memar akibat benturan keras di lantai beton basement tadi mengirimkan rasa nyut-nyutan yang ritmis, seolah-olah tubuhnya sendiri sedang berusaha mengingatkan bahwa ia masih terdiri dari daging dan tulang yang rapuh. Di tangannya, sebuah gelas kertas berisi kopi hitam panas mengeluarkan uap tipis, satu-satunya sumber panas yang ia miliki di tengah suhu koridor yang terus merosot mendekati angka sepuluh derajat Celcius.

Ia berhenti sejenak di depan sebuah cermin dekoratif besar yang tergantung di dekat persimpangan lorong. Arlan mengatur napasnya, mencoba meniru ritme napas manual yang kaku agar tidak terlihat mencolok jika ada yang mengawasi. Namun, saat matanya menatap pantulan dirinya sendiri, ia menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bayangannya di cermin itu baru mulai mengangkat gelas kopi satu detik setelah ia melakukannya di dunia nyata.

"Satu detik," bisik Arlan pada kesunyian hampa akustik yang menyelimutinya. "Retakannya semakin melebar."

"Anda bicara pada diri sendiri lagi, Arlan? Itu kebiasaan yang tidak efisien."

Arlan tersentak, namun ia berhasil menjaga gelas kopinya agar tidak tumpah. Di ujung lorong, Pak RT—sosok yang secara administratif memimpin blok apartemen ini—berdiri dengan kaku. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik yang motifnya tampak sedikit buram, seolah-olah dicetak oleh printer yang kehabisan tinta.

"Hanya memastikan saya masih punya suara di gedung yang sunyi ini, Pak RT," jawab Arlan, mencoba menjaga suaranya tetap datar meski jantungnya berdegup kencang.

Pak RT melangkah mendekat. Arlan memperhatikan detail yang sangat kecil: kancing kedua dan ketiga pada kemeja pria itu terpasang terbalik. Itu adalah sebuah cacat replikasi yang seharusnya mustahil dilakukan oleh seorang manusia yang sudah berpakaian secara mandiri selama puluhan tahun.

"Gedung ini tidak sunyi. Gedung ini sedang dalam proses sinkronisasi data penduduk. Sebagai warga yang baik, Anda harus mendukung ketertiban biometrik kami," Pak RT bicara tanpa mengedipkan mata sedikit pun.

"Ketertiban biometrik?" Arlan mengerutkan kening, matanya melirik ke arah sudut langit-langit. "Maksud Anda kamera-kamera kecil yang baru saja dipasang di setiap sudut plafon itu? Saya tidak ingat ada rapat warga untuk pemasangan alat pengintai semacam itu."

"Itu bukan alat pengintai, Arlan. Itu adalah sensor integritas. Kami hanya ingin memastikan bahwa setiap orang yang berjalan di koridor ini adalah orang yang seharusnya ada di sini. Integritas adalah martabat," Pak RT memberikan senyum yang tidak sampai ke matanya.

Arlan merasakan getaran dingin dari koin perak di saku celananya, koin yang baru saja ia ambil dari saku baju satpam yang "rusak" di lift tadi. Koin itu seolah-olah beresonansi dengan kehadiran Pak RT. "Integritas? Atau penghapusan privasi secara massal? Saya merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan mata yang bahkan tidak memiliki kelopak."

"Privasi adalah konsep yang usang bagi mereka yang tidak memiliki rahasia. Apakah Anda memiliki rahasia, Arlan? Sesuatu seperti... barang-barang yang tidak terdaftar dalam manifes kurir Anda?" Pak RT mencondongkan tubuhnya, aroma besi berkarat yang tipis mulai tercium dari kulitnya.

"Rahasia saya hanya sebatas mengapa kopi di gedung ini terasa semakin hambar," Arlan mengangkat gelasnya, menyembunyikan getaran tangannya. "Jika Anda tidak keberatan, saya ingin kembali ke unit saya. Lutut saya butuh istirahat."

"Silakan. Tapi ingat, Arlan, kamera-kamera itu tidak hanya merekam wajah. Mereka merekam konsistensi bayangan. Jika bayangan Anda tidak sinkron, itu berarti ada kesalahan data pada keberadaan Anda," Pak RT berbalik, gerakannya seolah-olah sudah diprogram untuk berputar tepat seratus delapan puluh derajat.

Arlan berjalan melewati Pak RT, namun matanya tetap tertuju pada bayangan pria itu di lantai koridor yang dipoles. Benar saja, saat Pak RT sudah berjalan menjauh, bayangannya di lantai masih mematung selama satu detik sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki pemiliknya. Lag frekuensi ini adalah tanda bahwa realitas primer di Sektor 7 sedang digerogoti oleh dimensi cermin yang cacat.

Ia sampai di depan pintu unitnya, namun matanya menangkap kilatan lensa kecil yang tertanam di sudut plafon, tepat di atas pintunya. Kamera itu bergerak mengikuti gerakannya. Arlan tahu, jika ia masuk sekarang dengan membawa koin perak dan dokumen kebakaran 2012, sensor itu akan mendeteksi anomali pada frekuensi barang yang ia bawa.

"Martabat manusia tidak seharusnya diuji oleh lensa digital," gumam Arlan dalam hati.

Ia berhenti tepat di bawah kamera tersebut, berpura-pura sedang mencari kunci di sakunya. Ia mengangkat gelas kopi hitamnya yang masih mengepulkan uap panas, memosisikannya sedemikian rupa sehingga uap tersebut naik dan menyelimuti lensa kamera pengintai itu. Karena suhu koridor yang sangat dingin akibat efek endotermik, uap panas itu langsung berubah menjadi embun pekat yang menutupi seluruh permukaan kaca lensa.

"Maaf, Pak RT. Kopi saya terlalu panas untuk ruangan sedingin ini," ucap Arlan pelan, memastikan suaranya terdengar oleh mikrofon kamera.

Dalam hitungan detik, pandangan kamera itu menjadi buram total akibat kondensasi alami. Ini adalah strategi pilihan ketiga miliknya—ia tidak merusak properti gedung, ia hanya membiarkan hukum fisika melakukan tugasnya. Arlan segera merogoh sakunya, mengeluarkan koin perak yang bergetar, dan menyelipkannya ke dalam celah rahasia di bawah ambang pintu unitnya sebelum embun itu memudar.

Arlan segera memutar kunci pintu unitnya dan menyelinap masuk sesaat sebelum lapisan embun pada lensa kamera di langit-langit mencair. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menahan napas sampai dadanya terasa sesak, mencoba menyelaraskan detak jantungnya yang berpacu liar. Di dalam kegelapan apartemennya, suasana terasa lebih asing. Bau debu kertas dan sisa aroma masakan ibunya yang "palsu" masih menggantung, namun kini bercampur dengan getaran aneh yang merayap di dinding.

Ia berjalan menuju dapur, meletakkan gelas kopinya yang kini sudah mendingin di atas meja kayu. Tangannya masih gemetar saat ia merogoh kantong rahasia di tas kurirnya, mengeluarkan manifes tahun 2012 yang menyebutkan bahwa gedung ini seharusnya sudah menjadi puing.

"Jika gedung ini sudah terbakar, lalu apa yang sedang kupijak sekarang?" bisik Arlan.

Ia mendekati jendela besar di ruang tengah yang menghadap ke arah blok apartemen seberang. Arlan tidak menyalakan lampu; ia membiarkan cahaya hijau-kebiruan dari lampu jalan menyinari ruangan. Ia mengambil cermin kecil dari sakunya, alat yang biasa ia gunakan untuk memeriksa sudut-sudut paket yang rusak, lalu mengarahkannya ke arah kaca jendela.

Melalui pantulan cermin itu, Arlan melihat tetangganya di gedung seberang—seorang wanita yang ia kenal sebagai Bu Lastri—sedang berdiri di balkonnya. Namun, ada yang salah. Bu Lastri di balkon sedang memegang sapu, tetapi bayangannya di kaca jendela tampak sedang mencekik sesuatu yang tidak terlihat.

"Echo," desis Arlan. Arlan menyadari bahwa permukaan reflektif di kota ini mulai gagal menyembunyikan kebenaran. Bayangan itu adalah residu dari apa yang seharusnya terjadi, atau mungkin proyeksi dari kehancuran yang sedang ditutupi.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu unitnya. Bukan ketukan yang keras, melainkan ketukan yang ritmis dan terlalu sempurna untuk disebut sebagai ketukan manusia yang sedang terburu-buru.

"Arlan? Ini Pak RT. Saya merasa Anda meninggalkan sesuatu di koridor," suara itu terdengar melalui celah pintu, kaku dan tanpa intonasi emosional.

Arlan mematung di tempatnya. Ia menoleh ke arah ambang pintu bawah tempat ia menyembunyikan koin perak tadi. Apakah sensor itu sempat merekamnya? "Saya sudah di tempat tidur, Pak RT. Lutut saya benar-benar sakit. Apa pun yang tertinggal bisa menunggu sampai besok pagi, bukan?"

"Keteraturan tidak bisa menunggu, Arlan. Inkonsistensi data harus segera diperbaiki. Saya melihat uap kopi Anda meninggalkan residu pada sensor kami. Itu dianggap sebagai sabotase ringan terhadap keamanan publik," Pak RT tidak pergi. Arlan bisa melihat bayangan sepasang sepatu di bawah celah pintu yang tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah pemiliknya tidak memiliki bobot tubuh.

"Sabotase? Itu hanya kecelakaan fisik, Pak RT. Suhu di koridor terlalu rendah," Arlan berjalan mendekat ke pintu, namun tetap menjaga jarak. Ia meraba kunci rumah tua di sakunya, satu-satunya benda yang memberikan rasa hangat di tengah hawa endotermik yang mulai merembes masuk ke dalam rumahnya.

"Buka pintunya, Arlan. Kami hanya perlu melakukan pemindaian ulang pada bayangan Anda di dalam ruangan. Prosedur ini demi martabat Anda sebagai warga Sektor 7."

Arlan tahu itu adalah jebakan. Jika ia membuka pintu, ia tidak akan pernah keluar lagi sebagai manusia asli. Ia teringat pada strategi pilihan ketiga: ia harus memancing memori atau logika yang tidak bisa diproses oleh peniru itu.

"Pak RT, apakah Anda ingat tentang hutang iuran keamanan tahun 2012 yang pernah Anda bahas dengan ayah saya?" Arlan bertanya dengan nada yang tiba-tiba tenang, hampir provokatif.

Hening sejenak. Arlan tahu bahwa di dalam manifes yang ia pegang, Pak RT yang asli seharusnya sudah meninggal dalam kebakaran itu. "Tahun 2012... data sedang diakses... Ayah Anda... hutang iuran..."

"Ya, hutang yang dibayarkan dengan koin perak khusus. Ayah saya bilang Anda sangat menyukainya," lanjut Arlan, berbohong secara teknis untuk menciptakan beban logika pada sistem ingatan sang peniru.

Di balik pintu, terdengar suara statik halus, mirip dengan suara radio yang kehilangan sinyal. Pak RT mulai mengalami kegagalan sinkronisasi karena mencoba mencari data "iuran koin perak" yang tidak pernah ada dalam sejarah digital mereka.

"Koin perak... tidak ditemukan dalam protokol... iuran keamanan 2012... gedung tidak terbakar... Arlan, Anda memberikan informasi palsu..." Suara Pak RT mulai pecah, terdengar tumpang tindih antara nada pria tua dan desis logam.

Arlan tidak menjawab lagi. Ia membiarkan peniru itu terjebak dalam lingkaran logika di luar pintu. Ia segera kembali ke meja, menyambar manifes dan koin perak yang ia sembunyikan tadi, lalu menuju ke arah jendela balkon belakang. Ia tahu ia tidak bisa lagi tinggal di sini. Tempat yang ia sebut rumah kini telah menjadi penjara yang diawasi oleh ribuan mata palsu.

Saat ia meniti tangga darurat di belakang gedung, Arlan sempat menoleh ke arah koridor melalui celah jendela tangga. Ia melihat Pak RT masih berdiri di depan pintunya, namun kini kepalanya menoleh ke arah kamera pengintai di plafon dengan senyum yang tidak manusiawi—senyum yang lebar hingga merobek sudut bibirnya, menunjukkan bahwa peniru itu tahu Arlan sedang melarikan diri, namun ia memilih untuk membiarkannya masuk ke dalam jaring yang lebih besar.

Arlan terus berlari menuruni tangga, menuju stasiun kota yang dingin, membawa beban memori yang kini terasa jauh lebih berat daripada barang-barang hilang yang pernah ia antar.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!