Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Nadia terdiam cukup lama di depan ponselnya. Ibu jarinya berhenti menggulir, tepat pada satu berita yang entah sudah berapa kali muncul di beranda sosial medianya hari itu. Judulnya mencolok..... Gibran Pradikta di temukan meninggal dunia.
Jagat media sosial seolah sepakat berduka. Unggahan hitam putih, potongaj berita televisi hingga komentar panjanh penuh spekulasi memehuni linimasa. Gibran Pradikta, pemimpin perusahaan besar yang namanya selama ini hanya ia dengar sekilas dari berita ekonomi, kini menjadi pusat perhatian nasional. Sosok muda, cerdas, dan berpendapat.... terlalu sempurna untuk berakhir seperti ini, kata orang-orang.
Nadia menghela napas pelan. Ia bukan tife orang yang larut dalam berita sensasional. Dunia para pengusaha besar tersa jauh bagi hidupnya yang sederhana dan penuh rutinitas. Ia berniat menutup aplikasi itu. Toh apa urusannya dengan kematian CEO ternama?
Namun pikirannya tidak semudah itu di ajak bekerja sama. Ada sesuatu yang mengganjal, seperti serpihan yang menggores rasa penasarannya. Nama itu. Gibran Pradikta. Terlalu familiar. Terlalu dekat untuk sekedar kebetulan.
Nadia mencoba meyakinkan diri, bahwa itu hanya perasannya saja. Banyak orang bernama Gibran di luar sana, bukan?
Ia tersenyum kecut, menertawakan pikirannya sendiri yang mulai tak tentu arah. Tapi entah kenapa, bayangan wajah pria yang ia kenal....dengan sorot mata tajam dan suara tenang.... perlahan muncul di benaknya.
Jantung Nadia berdegup sedikit cepat.
"Tidak mungkin," gumamnya lirih.
Ia kembali menatap layar ponsel yang sudah menggelap. Rasa penasarannya seolah mendorong dirinya untuk mengetahui lebih jauh. Nadia kembali membuka beranda sosmednya. Entah dorongan dari mana, jari-jarinya bergerak sendiri, menghentikan guliran yang tepat pada berita yang sama.
Kali ini, ia memaksa dirinya untuk benar-benar memperhatikan detailnya.
Foto yang di tampilkan tidak setajam yang ia harapkan. Bukan potret tunggal seorang pria muda seperti yang di bayangkannya, melainkan foto keluarga.....atau setidaknya begitu kesan pertama yang ia tangkap. Di dalam foto tersebut, ada tiga pria dan dua perempuan. Seorang pria tua berdiri tegak dengan setelan rapi dan ekpresi berwibawa, jelas terlihat seperti sosok berpengaruh. Di sampingnya, seorang perempuan berusai senja, dengan senyum tipis yang tenang, sementara perempuan lain yang tampak lebih muda, berdiri anggun dengan tatapan datar. Di samping sebelah kiri, seorang pria setengah baya berdiri tegak memakai setelah rapi, dengan senyum tipis yang menggambarkan aura dingin.
Dan... satu sosok pria muda. Namun justru dialah yang paing susah di kenali.
Wajahnya setengah tertutup bayangan, posisimya sedikit lebih ke belakang, seolah sengaja tidak ingin menonjol. Nadia mengerutkan kening. Ia mengamati satu-persatu wajah yang ada di foto itu, mencoba menebak..... yang manakah Gibran Pradikta? tidak ada penanda. Tidak lingkaran merah. Tidak ada keterangan jelas.
"Yang mana....sih?" gumamnya pelan.
Komentar-komentar di bawah pun tak banyak membantu. Sebagian besar hanya ucapan bela sungkawa, sisanya spekulasi yang saling bertabrakan. Hingga matanya tertuju pada satu potongan informasi dari media daring.
'Gibran Pradikta di kenal sebagai figur tertutup dan jarang terekspos kamera wartawan'
Nadia terdiam. Penjelasan tersebut seperti potongan puzzleyang sekaligus menjawab dan menambah kebingungannya.Pantas saja wajah pria muda itu nyaris tak pernah ia lihat sebelumnya.Pantas saja fotonya buram, di ambil dari kejauhan, atau tersembunyi di antara sosok-sosok lain yang sering tampil di hadapan publik.
Ia kembali menatap foto tersebut, kali i i lebih lama. Ada rasa asing yang bercampur dengan kegelisahan bercampur dengan kegelisahan samar. Jika benar Gibran Pradikta jarang muncul
di media, maka wajar bila Nadia tak bisa memastikan siapa dia.
Namun justru di situlah letak keanehannya. Karena semakin ia tahu, semakin besar pula rasa penasarannya.
**********
Malam merambat pelan di balik jendela mension yang sunyi. Lampu-lampu Kota tak berkelip dari kejauhan, seolah merayakan sesuatu yang tak di ketahui banyak orang. Di ruang kerja yang luas dan tertutup rapat, Gibran berdiri menghadap kaca, punggungnya berdiri tegak, namun sorot matanya penuh perhitungan.
Rangga duduk santai di sofa, satu kaki terangkat, ekspresinya jauh lebih tenang
di bandingkan ketegangan yang seharusnya menyertai situasi mereka.
"Semua berita sudah naik," ujar Rangga akhirnya, memecahkan keheningan. "Media nasional, polisi, pengamat, netizen... semuanya sepakat. "Gibran Pradikta di nyatakan meninggal."
Gibran tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah ia tunjukan di hadapan dunia."Bagus,"katanya pelan. "Itu artinya, kita berhasil."
Ia berbalik, berjalan perlahan mendekati meja. Diatasnya berserakan beberapa koran dan tablet yang menampilkan judul-judul besar... tentang jasad tak di kenal di sungai, tentang pengusaha muda yang tragis, tentang duka sebuah keluarga besar. Semua yelah tertata rapi, seolah memang telah di persiapkan sejak lama.
"Tak ada satu pun yang meragukan identitasnya?"tanya Gibran, suaranya tenang namun penuh kewaspadaan.
Rangga menggeleng. "Tidak. DNA, ciri fisik, kronologi... semua sudah kita atur. Arya pun ikut angkat bicara. Dia terkihat paking yakin, bahwa kau sudah mati."
Nama itu membuat Gibran tertawa singkat, "Tentu saja, dia ingin itu sejak lama."
Ia mencondongkan tubuh ke depan, jemarinya mengetuk meja perlahan.
Selama bertahun-tahun, Arya selalu berada satu langkah di depannya, bersembunyi di balik senyum kakak yang
Ambisius. Kini, untuk pertama kalinya, Gibran merasa kendali sepenuhnya berada di tanganya.
"Dengan aku di anggap mati," lanjut Gibran, "dia akan bergerak bebas. Terlalu bebas. Dan disitulah kesalahannya."
Rangga menatap sahabatnya dengan sorot penuh pengertian. "Jadi kau yakin, Arya sudah masuk jebakan?"
Gibran mengangguk mantap. "Dia tak akan pernah curiga pada orang yang sudah di kuburkan. Semua yang dia lakukan setelah ini... perebutan perusahaan, penghapusan jejak, pengkhianatan... akan terlihat jelas."
Gibran menggeser jarinya di layar tablet, lalu menghentikannya pada satu siaran langsung yang tengah diputar ribuan orang. Logo sebuah stasiun televisi nasional terpampang di sudut layar, dengan keterangan Live—Kediaman Keluarga Pradikta.
Sudut bibir Gibran terangkat tipis.
Di layar, halaman rumah besar itu dipenuhi wartawan. Mikrofon berlogo warna-warni diarahkan ke dua sosok yang berdiri berdampingan. Arya dan Karlina—kakak kandungnya. Keduanya mengenakan pakaian hitam, wajah mereka dibuat seteduh mungkin demi konsumsi publik.
Seorang wartawan melontarkan pertanyaan dengan suara penuh empati. Arya mengambil alih lebih dulu.
“Sebagai kakak, kehilangan ini sangat berat bagi kami,” ujar Arya, suaranya terdengar bergetar. Ia menundukkan kepala sejenak, lalu mengusap wajahnya seolah menahan air mata.
“Gibran adalah adik yang luar biasa. Kami tidak pernah menyangka… semuanya akan berakhir seperti ini.”
Gibran menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap layar tanpa berkedip. Ia mengenal ekspresi itu terlalu baik. Setiap jeda napas, setiap tarikan suara yang dibuat seolah pecah...semuanya terlalu sempurna. Terlalu terlatih.
Di samping Arya, Karlina tampak lebih diam. Matanya sembab, namun kesedihannya terlihat kaku, seakan ia sendiri belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Saat mikrofon diarahkan kepadanya, ia hanya mengangguk pelan dan berkata singkat, “Kami mohon doa dari semua pihak.”
Arya kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih emosional. “Kami berharap publik memberi kami ruang untuk berduka.”
Kata-kata itu langsung disambut simpati. Kolom komentar di bawah siaran penuh dengan ucapan belasungkawa, doa, dan pujian atas ketegaran Arya sebagai kakak tertua. Tak satu pun menyadari bahwa kesedihan itu hanyalah topeng yang dipoles rapi.
“Hebat,” gumam Gibran pelan, nyaris seperti pujian...atau ejekan.
Ia mematikan suara siaran, namun tetap membiarkan gambarnya berjalan. Di balik tatapan sendu Arya yang menghadap kamera, Gibran bisa melihat ambisi yang tersembunyi. Duka yang dibuat-buat itu telah berhasil menipu publik. Bahkan media pun menelan semuanya mentah-mentah.
“Dia benar-benar menikmati perannya,” ujar Rangga dari balik punggungnya.
Gibran mengangguk pelan. “Dan itu berarti dia sudah merasa aman.”
bersambung...