alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
enam
Malam semakin merangkak naik, azan salat isya juga sudah lama berlalu, Alia berjalan gontai menyusuri trotoar. Menuju gudang tempatnya bekerja, matanya mencari-cari teman yang menggantikan shiftnya tadi.
Sosok yang Alia cari terlihat sedang bercengkerama dengan seorang satpam penjaga gudang, ia ingin memanggil namanya, namun Narida, temannya itu sudah terlebih dahulu melihat ke arahnya.
Temannya itu melambai-lambaikan tangan memanggil Alia untuk mendekat.
"Ada apa sebenarnya, al? Kamu jarang loh kayak gini?" Tanya Narida penasaran begitu Alia berada tepat di hadapannya,
"kamu tuh makhluk yang paling jarang minta tolong, sungguh aku penasaran jadinya dek", ucap Narida penasaran, Narida adalah teman yang dimiliki Alia sejak SMP, satu-satunya teman yang mau berteman dengannya.
Mungkin karena mereka memiliki latar belakang yang sama, sehingga pertemanan mereka bisa bertahan sampai mereka tamat SMA. Pekerjaan yang Alia jalani saat ini juga merupakan perjuangan dari Narida, yang minta tolong pada manager gudang atasan mereka.
"Aku bingung nari, saat ini hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menolongku, karena hanya kamu satu-satunya orang yang aku punya"
Ucapan Alia terdengar biasa saja, namun bagi Narida yang juga merupakan anak yatim piatu seperti dirinya, ucapan-ucapan seperti itu membuat orang-orang malang seperti mereka mampu bertahan dari kerasnya hidup.
"shift aku sebentar lagi berakhir, kamu harus cerita padaku semuanya, yah dek" Alia mengangguk paham.
Bibirnya tersenyum, narida selalu memanggilnya 'dek', persis seperti papa memanggilnya. Narida selalu merasa lebih tua dari alia, walaupun mereka sekelas sejak SMP.
Namun Alia tidak pernah keberatan, baginya panggilan apapun yang diberikan orang-orang terdekatnya tidak masalah, baginya Narida lebih dari seorang sahabat, ia adalah sosok ibu, kakak, atau adik yang tidak pernah Alia miliki.
"kamu tunggu aku yah" pesan Narida sembari berlari, panggilan dari mandor membuatnya berlari tergesa-gesa.
Alia memutuskan untuk tidak pulang malam ini, tidak... sebenarnya Alia memutuskan untuk melarikan diri dari manusia-manusia kejam yang sedang merencanakan untuk memanfaatkannya.
Alia sebenarnya tidak takut, baginya tidak ada lagi di dunia ini yang mampu membuatnya ketakutan. Bukankah Alia sudah siap untuk mati, namun kehadiran janin yang tidak bersalah, yang sedang bersemayam dalam rahimnya, membuat Alia memutuskan untuk menyelamatkannya.
"Ayo..dek" ajak Narida yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya, yang sedang termenung. Alia sedikit terkejut, ia sama sekali tak menyadari kehadiran sahabatnya itu.
"Kita pulang naik ojek saja, tadi aku udah pesan"
Alia mengangguk, berdiri dan mengikuti langkah Narida yang sudah setengah berlari, mendatangi ojek pesanannya yang sudah lumayan lama menunggu.
"Cerita dek, kenapa kamu malam ini tidak pulang?" Tanya narida, setelah mereka duduk tenang menghadap makanan, di kamar kecil kost-an Narida.
Tangan Alia masih membuka bungkusan terang bulan yang mereka beli tadi, sembari menyomot sepotong dan mengunyahnya. Alia menatap sahabatnya lekat, dengan mata indahnya.
"Aku takut ibu tiriku akan menjualku lagi, nari. Malam ini pria bajingan yang aku ceritakan padamu itu, meminta ibu tiriku untuk mengantarkan aku ke sana lagi" bisik Alia lirih.
Narida terperanjat kaget, mulutnya yang juga sedang mengunyah sampai terhenti tak percaya.
"Gila..." seru Narida tak percaya, rasa marah terdengar dari umpatannya.
"Ibu tirimu itu sudah gila, dek"
Alia mengangguk setuju, ia juga tahu kalau ibu tirinya dan juga saudara tirinya itu gila, yah.., gila uang.
"Jadi keputusanmu sekarang apa dek?,"
"Aku tidak tahu nari, aku hanya ingin pergi jauh dari sini, agar ibu tiriku ataupun pria brengsek itu tidak akan bisa menemukan aku selamanya" ujar Alia lirih.
"aku ingin pergi jauh dari sini nari, tapi kamu tahukan, aku tidak punya tujuan dan juga..uang" suara lirih Alia semakin lirih ketika menyebutkan uang, rasa malu menyelimuti wajahnya yang memerah.
Narida tersenyum paham, ia tahu Alia tidak enak hati, tangannya meraih tangan Alia,
"kamu mau ke Bandung?,"
"Kebetulan, bulan ini aku dipindahkan ke bandung, di sana kamu bisa cari pekerjaan lagi, ntar kalau kehamilanmu jadi masalah, biar aku yang bekerja, bagaimana?" Tanya Narida dengan mata berbinar.
Mata bola Alia membesar tak percaya, rasa haru menyeruak dalam hatinya, ia mengangguk terharu dengan mata berkaca.
"Terima kasih nari, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikanmu"
"Heee, kayak sama orang lain aja...Kamu itu sudah kuanggap saudaraku dek, susahmu adalah susahku" sambungnya dengan santai.
Alia yang terharu, semakin terharu dengan bulir air mata yang hampir jatuh di sudut matanya, hatinya menghangat, dengan cepat ia menghapus air yang menggenang di sudut matanya.
Wajah cantiknya tersenyum tulus, ternyata Tuhan itu sangat baik, setelah mengambil papanya, Alia diberikan ganti yang ternyata sudah bersamanya sekian lama.
"Kamu gak usah kembali ke rumah itu, walau pun hanya ingin menjemput beberapa pakaianmu, pakai saja punyaku dek, aku gak mau kamu kembali lagi ke rumah itu, dengan alasan apapun" ucap Narida dengan mimik marah.
"mengapa hidupmu di kelilingi manusia-manusia biadab" keluhnya lagi tak kalah sewot, Alia hanya tersenyum melihat kemarahan temannya itu.
"Resiko dari kecantikan yang kamu miliki dek, aku beruntung tidak secantik kamu, jadi aku tidak pernah punya masalah"
Narida meringis karena lengannya dipukul Alia yang melotot ke arahnya,
"Kamu juga cantik, tahu..., jangan gitu ihh"
"Hehehheeh maaf, maaf" pinta Narida dengan wajah lucu. Alia menatap Narida yang berjalan ke arah kamar mandi.
"aku buang air kecil dulu" pamitnya.
Narida temannya itu berkulit kuning langsat, bertubuh sedikit gempal, matanya yang selalu berbinar, membuat dia selalu terlihat seperti anak kecil.
Walau pada kenyataannya Narida lebih tua setahun darinya. Narida menjadi yatim piatu sejak kecil, yang membesarkannya adalah nenek dari pihak ibu, yang juga sudah meninggal ketika mereka masih duduk di bangku SMA kelas akhir.
Kehidupannya yang sangat menyedihkan berbanding terbalik dengan sikapnya yang riang dan baik hati, berbeda dengan Alia.
Kepribadian Alia sedikit tertutup, dan tidak suka bergaul, sejauh ini Alia hanya memiliki 1 teman akrab, yaitu Narida.
Alia merapikan sisa-sisa makan mereka, gawai Narida yang terletak di lantai tiba-tiba berdering kencang, mengagetkan Jingga. Matanya melirik ke layar ponsel, terlihat nama sahira di layar itu.
Alia meraih gawai itu mengulurkan kepada Narida yang baru keluar dari kamar mandi. Mata mereka bersitatapan, ada rasa cemas dari mata Alia, begitu juga Narida.
Sejauh ini baru kali ini, kakak tiri Alia pernah menghubunginya. Alia menautkan kedua tangannya, di depan wajahnya yang terlihat cemas, suara cempreng sahira terdengar begitu narida menyalakan speakernya.
"Hallo...!" Sapa Narida sopan,
"Kamu Narida teman Alia..kan?" Tanya sahira, tanpa basa basi.
"Iya..kak, saya teman Alia, ada apa yah kak, telpon tengah malam begini?" Tanya Narida menyindir sahira yang tak tahu diri, melakukan panggilan di malam yang hampir mendekati pukul 00.00 wib.
"Kamu bersama Alia, atau kamu tahu dimana dia?"
"Maaf kak, aku bukan pengasuhnya aku—"
"Kurang ajar.." terdengar umpatan kesal sahira memotong ucapan Narida, Alia tersenyum melihat Narida yang cengengesan,
Alia salut melihat kecablakan Narida
"kalau begitu, tolong hubungi nomor saya ini, kalau kamu melihat Alia, atau saat dia menghubungimu" perintah Sahira kasar, dan langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban Narida yang tercengang menatap gawainya.
"Kakak tirimu juga gila dek, sangat gila dan sangat tidak sopan" celetuk Narida dengan ekspresi lucu, yang membuat Alia tertawa lepas mendengarnya.
Bersambung..