"Sepertinya aku mengenalnya, dia sangat tampan dan wajah putih bersih itu, dia sungguh seperti malaikat." Batin Xela.
Tiba-tiba lelaki tampan itu menciumnya di bawah air yang masih jauh dengan permukaan. Xela bisa merasakan sentuhan bibir mereka, lelaki tampan itu memeluknya dengan erat dan mencium bibirnya, ini terasa seperti mimpi. Xela menganggapnya mimpi karena tubuhnya terlalu lemah dan tidak bisa melakukan penolakan. Ciuman di dalam air dengan sosok lelaki tampan adalah mimpi bagi Xela, matanya yang sudah melihat dengan pandangan kabur memaksanya untuk terpejam.
Namun Xela bisa merasakan ciuman ini, ciuman yang sangat dalam bahkan sangat dalam dari danau ini.
Penasaran untuk melihat siapa sosok itu, Xela membuka matanya lagi berusaha fokus memandang sosok lelaki itu dan ia menemukan lelaki itu mirip Alfarel.
"Oh tidak apakah dia kak Alfarel? Tuan possesif itu?" batin Xela lalu menutup matanya lagi tidak kuasa menahan perih matanya, ia tidak bisa Melepaskan dirinya dan ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlita Marlita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjalan Sendirian
Xela merasakan ada sesuatu menimpa pangkuannya. Ia kemudian membuka mata agar bisa melihat apa yang ada di pangkuannya, ia melihat beberapa lembar uang kertas yang sudah berada dipangkuannya. Semakin sakit hati seorang Xela, ia merasa dihina dan merasa dirinya memang di anggap Al sebagai perempuan tidak benar.
"Kau menghinaku lagi, huhuhu ..."
Xela menangis lagi melihat beberapa lembar uang yang ada di hadapannya.
"Aku tidak menghinamu. Aku sudah bilang ambil uang itu dan berhentilah kau bekerja didunia gelap kalau tidak ingin terkena penyakit menular. Paham? "
Gertak Alfarel sekali lagi.
Xela hanya diam, ia memerhatikan uang yang sudah bertebaran kemana-mana dihadapannya.
Sebenarnya Xela senang melihat uang berwarna merah muda itu mungkin cukup untuknya membayar kost, dan membeli kebutuhannya dalam jangka tertentu.
Xela akhirnya memungut uang tersebut dan menyusunnya kembali.
Baiklah mungkin ini rejeki. Aku akan memanfaatkan uang ini, lagipula boleh juga sebagai ganti rugi mulut cabe laki-laki tidak punya akhlak itu.
Batin Xela sambil menyusun uang tersebut sambil menghitungnya.
Dasar perempuan, dia benar-benar pecinta yang gelap mata dan gelap hati.
Guman Alfarel didalam hati melihat Xela memungut uang yang ia lempar tadi.
"Apa sudah cukup?" Tanya Alfarel setelah Xela berhasil menyusun uang tersebut.
"Mungkin untuk beberapa waktu, terimakasih atas uang gratis ini. Aku menerimanya karena aku menganggap ini bayaran dari hinaan yang kau beri. Lain kali boleh kau hina aku setelah kau tidak tahu apa yang terjadi padaku, asalkan kau memberi uang bayaran ganti rugi atas sakit hatiku dengan uang seperti ini."
Xela tersenyum memandang uang yang tersusun rapi di tangannya, ia sebenarnya merasa sedih, tetapi ia ingin mengubah kesedihan itu untuk agar bisa melawan keangkuhan laki-laki dihadapannya, Xela menyadari semakin ia bersedih dan semakin dirinya marah Al selalu mengomporinya sehingga jalan yang baik baginya adalah berusaha melawan dengan tidak boleh terpancing oleh perkataan Al yang menyayat hati.
Kembali pada Al, ia melongo sejenak melihat perempuan yang antusias melihat uang.
Mengapa dia menjadi berubah drastis seperti mati lampu saja, bukannya dia semakin marah. Ini malah senang, gue harus buat dia marah lagi.*
batin Alfarel.
Alfarel bergerak cepat mengambil kembali uang yang ada di tangan Xela.
"Kembalikan, udah di kasi kok di ambil lagi." Xela berusaha merebut uang itu kembali, tetapi ternyata sulit, tinggi badan Al yang kira-kira 178 cm itu membuatnya kesulitan merebut uang di tangan Al.
"Tidak semudah itu, eh siapa namamu?"
"Xela."
"Iya, Xela, tidak semudah itu. Aku merebutnya kembali karena aku teringat. Barusan kamu menampar ku, aku memperhitungkannya. Kalau kamu ingin mendapat uang ini kembali kamu harus menuruti apa permintaan ku."
Xela yang mendengarnya kebingungan sekaligus merasa kehilangan harapan.
Dia memberi tetapi mengambil kembali. Apakah itu hak. Baiklah aku akan mengalah mungkin cara ini bukan yang terbaik untuk mencari untung. Sama saja aku merendahkan diriku sendiri di mata orang lain.
Xela menatap sendu Alfarel yang tersenyum sinis kepadanya, ia patah hati, kesenangan yang dirasakannya tadi sirna begitu saja.
Kini ia berpikir dirinya sangat rendah.
Xela mundur perlahan meninggalkanmu lokasi sofa.
"Hei, kau mau kemana. Bukankah kau butuh uang ini?"
"Tidak. Aku tidak butuh karena kalau aku mengambilnya sama saja aku menjual harga diriku."
Alfarel terdiam namun ia berpikir nakal, ia selalu ingin melihat perempuan itu marah.
"Oh, seperti itu. Atau ini terlalu sedikit untuk mu, tidak seperti penghasilan terbesarmu di Rose Room, hah?"
Mulai lagi perkataan yang dilontarkan Alfarel seakan menyalakan bara api dalam diri Xela yang hampir padam.
Xela menatap laki-laki itu dengan nanar, langkah kakinya dengan cepat maju.
'PLAK'
Ini kali kedua Xela menampar laki-laki yang menghinanya. Alfarel yang mendapat Tamparan kedua kali bukannya jera, ia malah tersenyum lagi.
"Apa maksudmu mengatakan itu. Asal kamu tahu, aku tidak pernah bekerja disana, aku dijebak. Apakah matamu buta, kau lihatlah aku yang menggunakan kameja rapi seperti ini. Aku ingin pekerjaan yang baik tapi aku dijebak, dan setelahnya aku di tolong olehmu tapi aku merasa kau orang yang tidak punya otak. Kau bicara seenak jidat tentangku. Aku tidak patut berterima kasih kepada mu."
Xela berbicara lantang berhasil membuat Alfarel bungkam. Setelah berkata demikian Xela keluar rumah mewah itu dengan langkah pasti, tentu disertai langkah gemetar. Sebab, baru pertama kali ini ia membuang energi berhadapan dengan laki-laki yang seolah tidak punya hati.
Aku telah gagal mendapatkan apa yang aku butuhkan. Aku butuh duit, duit, dan duit tetapi akhirnya malah seperti ini. Tuhan hari ini sungguh aku mendapatkan pengalaman yang sangat amat buruk didalam hidupku, ini baru yang pertama kali, semoga juga menjadi pengalaman yang buruk yang ke terakhir. Aku hampir saja dilecehkan lelaki hidung belang, tetapi aku ditolong oleh orang yang tidak punya akhlak.
Batin Xela, ia mengomel didalam hati sehingga tidak menyadari dirinya sudah melewati pagar yang sudah terbuka.
Xela susah berada di luar lokasi lingkungan mewah milik Alfarel.
Xela menyadari suara burung yang berkicau dan suasana susah menunjukkan jika waktu senja menyongsong. Langkah Xela terhenti, matanya dan tubuhnya bergerak memerhatikan sekitar. Tempat itu sangat sepi, ia berada diantara pohon-pohon di sisi kiri dan kanannya.
Sore yang tidak terasa dinginnya itu membuat Xela heran, karena tidak percaya, ia pun lalu membuka smartphonenya. Alangkah kagetnya gadis itu melihat waktu sudah menunjukkan pukul 17.28
Ya Tuhan, kenapa cepat sekali roda bumi ini berputar. Aku harus cek lokasi.
Xela membuka aplikasi untuk membantunya mengetahui lokasi, banyak pesan WhatsApp disana tetapi tidak ia buka dan tidak ia hiraukan. Yang terpenting saat ini, ia bisa segera datang ke rumah didalam keadaan selamat dengan bantuan aplikasi untuk melihat peta jalan.
Rupanya kost tempat tinggalnya yang ada di gang cempaka no. 92 kota R, membutuhkan waktu selama 2 jam lebih jika berjalan kaki. Sungguh melelahkan bukan?
Xela hampir saja menangis selalu satu jam berada di lokasi perhutanan, ia bisa saja memesan ojek tetapi karna dirinya saat ini tidak memiliki uang, ya sudahlah ia akan berusaha berjalan kaki sampai tiba di tempat tujuan.
Satu jam kemudian Xela lega setelah melewati kota yang menampilkan panorama indah. Ia sedikit terhibur, setidaknya kehidupan yang berasa pahit ada manis-manisnya juga saat melihat karya makhluk di kota R, lampu kelap-kelip, musik dan juga suara orang bercakap-cakap di dalam ruko terdengar dari trotoar yang ia lewati.
Xela melewati toko kaca yang bisa memantulkan bayangannya, ia pun singgah untuk melihat gambar dirinya melalui pantulan tersebut. Ia terkejut begitu sadar dirinya masih memakai jaket hitam yang melapisi kameja putih kotak-kotak yang ia pakai, teringatlah Xela kalau kamejanya sudah rusak dalam kejadian tadi siang.
Ternyata jaket laki-laki tidak punya akhlak itu sekarang ku pakai.
Xela melirik bayangannya dengan kesal, ia kembali melanjutkan langkahnya yang masih berlangsung satu jam lagi.
Pikirannya bercampur aduk, antara marah, sedih, dan lelah ditengah jalan perkotaan, Xela berusaha menjalani semuanya meskipun sejujurnya ia sangat malu dan takut.
Malu karena setiap melewati restoran semua mata melirik ke arahnya, takut karena memang itu wajar bagi seorang perempuan yang berjalan sendirian di trotoar kota. Banyak kekuatiran yang dirasakan terutama oleh para gadis termasuk Xela.
bersambung ...
aku benci wanita lemah..
dan juga benci laki" yg tidak tegas pembawa bencana...