NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Ketika Jarak Semakin Dekat, Obsesi Semakin Dalam

Adrian duduk di mejanya, menatap dokumen yang diberikan Bagas kemarin. Dokumen yang membuktikan bahwa semua laporan tentang Arkan adalah rekayasa. Tapi… ada sesuatu yang mengganjal.

Kenapa seseorang harus merekayasa laporan tentang dirinya sendiri?

Kenapa seseorang harus membuat dirinya terlihat berbahaya… kalau dia tidak berbahaya?

Adrian menggelengkan kepala.

"Tidak masuk akal," gumamnya pelan.

Ia menutup dokumen itu, lalu menatap foto Yura yang terpampang di ponselnya foto saat mereka masih kuliah dulu.

Senyum Yura di foto itu… hangat. Tulus. Bahagia.

Tapi sekarang… senyum itu jarang muncul.

Dan Adrian tahu itu karena Arkan. Ia mungkin salah menilai Arkan soal masa lalunya.

Tapi ia tidak salah soal satu hal: Arkan berbahaya bagi Yura. Bukan karena ia pernah melakukan sesuatu. Tapi karena cara ia menatap Yura. Cara ia selalu ada di sekitar Yura. Cara ia… tidak mau melepaskan.

Adrian mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan ini," bisiknya tegas. "Aku tidak peduli kalau dia CEO. Aku tidak peduli kalau dia punya kuasa. Aku tidak akan membiarkan Yura terjebak dengan pria seperti dia."

Ia bangkit dari kursi, lalu mengambil jaket. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia harus membuat Yura sadar… sebelum terlambat.

Di Toko Yura...

Pagi itu, Yura membuka toko seperti biasa.

Tapi pikirannya tidak tenang. Sejak Adrian memberi tahu tentang laporan Arkan, Yura tidak bisa berhenti memikirkannya.

Apakah itu benar?

Apakah Arkan benar-benar pernah melakukan hal-hal itu?

Atau… apakah Adrian salah?

Tapi Yura tidak ingin tahu. Ia tidak ingin ikut campur. Ia tidak ingin ribet. "Aku tidak peduli soal masa lalunya," gumam Yura pelan sambil mengelap meja kasir. "Aku cuma… tidak mau terlibat lebih jauh."

Tapi meski ia bilang begitu… Ia merasa harus waspada. Karena bagaimanapun juga… Arkan adalah pria yang pernah memaksanya masuk mobil. Pria yang pernah menciumnya tanpa izin.

Dan itu… tidak bisa dilupakan begitu saja.

Bel pintu berbunyi.

Yura menoleh dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Arkan.

Pria itu berdiri di depan pintu dengan ekspresi tenang tapi matanya… terlalu fokus. "Selamat pagi," sapa Arkan dengan suara lembut.

Yura menegakkan punggungnya, lalu mengangguk singkat tanpa senyuman. "Pagi."

Arkan berjalan ke kasir, tapi kali ini… ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Yura tidak menatapnya seperti kemarin.

Tidak ada empati. Tidak ada kehangatan kecil yang mulai ia lihat.

Hanya… jarak.

"Boleh… pesan kopi seperti biasa?" tanya Arkan pelan.

Yura mengangguk, lalu langsung berbalik tanpa berkata apa-apa.

Arkan berdiri di sana menatap punggung Yura yang menjauhinya. Sesuatu di dadanya… bergetar. Ada yang salah. Ia duduk di tempat biasanya, tapi matanya tidak lepas dari Yura.

Beberapa menit kemudian, Yura datang dengan cangkir kopi tapi ia meletakkannya di meja dengan cepat, lalu langsung mundur beberapa langkah.

Tidak seperti kemarin di mana ia masih sempat bicara sebentar.

Kali ini… ia ingin cepat menjauh.

Arkan menatap cangkir itu, lalu menatap Yura dengan tatapan penuh tanya.

"Yura…" panggilnya pelan.

Yura berhenti, tapi tidak menoleh.

"Ada yang… salah?" tanya Arkan hati-hati.

Yura terdiam sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh. "Tidak ada."

Tapi nada suaranya… dingin.

Arkan menarik napas. "Kau… menjauh."

Yura akhirnya menoleh tatapannya datar, tapi waspada. "Aku tidak menjauh. Aku cuma… menjaga jarak."

"Kenapa?" tanya Arkan suaranya lebih rendah, lebih serius.

Yura menatapnya lama, lalu menjawab dengan tegas. "Karena aku tidak ingin ribet. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh dengan… apapun yang berhubungan dengan kamu."

Kalimat itu menusuk.

Arkan terdiam rahangnya mengeras, tangannya mengepal di atas meja. "Aku… tidak mengerti," katanya pelan, tapi ada getaran dalam suaranya. "Kemarin kau mendengarkan aku. Kemarin kau… mulai percaya. Kenapa sekarang......"

"Karena aku sadar," potong Yura cepat. "Aku sadar kalau aku tidak boleh terlalu dekat dengan kamu. Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Dan aku… tidak mau tahu."

Arkan menatapnya lama tatapannya gelap, penuh emosi yang tertahan. "Jadi… kau tidak peduli?" tanyanya pelan hampir berbisik.

Yura tidak menjawab.

Tapi diamnya… sudah menjadi jawaban.

Arkan berdiri perlahan, meninggalkan uang di meja tanpa menyentuh kopinya.

Ia berjalan menuju pintu tapi sebelum keluar, ia berhenti. "Aku tidak akan memaksamu, Yura," katanya pelan, tanpa menoleh. "Tapi aku juga… tidak akan menjauh."

Lalu ia pergi.

Meninggalkan Yura yang berdiri sendirian dadanya sesak, tangannya gemetar.

Di Mobil Arkan....

Arkan duduk di kursi belakang mobilnya, menatap kosong ke depan. Bagas duduk di depan, tidak berani bicara. Suasana di dalam mobil… mencekam.

"Pak…" Bagas akhirnya bicara pelan. "Mungkin… Nona Yura hanya butuh waktu."

Arkan tidak menjawab.

Tangannya mengepal erat begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia menutup matanya, menarik napas dalam tapi dadanya terasa sesak.

Dia menjauh. Dia tidak mau tahu soal aku. Dia… melepaskan aku. Dan itu… menyakitkan.

Tapi lebih dari itu…

Itu membangkitkan sesuatu yang lebih gelap.

Sesuatu yang selama ini ia coba kendalikan.

Obsesi.

Arkan membuka matanya tatapannya gelap, penuh gairah yang berbahaya. Di pikirannya, ia bisa melihat Yura Dipeluk erat. Tidak bisa menjauh. Tidak bisa lari. Hanya ada di sana. Bersamanya. Miliknya. Ia ingin memeluknya.

Ia ingin memastikan Yura tidak pernah bisa menjauh lagi.

Ia ingin.....

"Pak."Suara Bagas memotong pikirannya.

Arkan menoleh tatapannya masih gelap.

"Apa?" tanyanya dingin.

Bagas menelan ludah. "Pak… saya mohon… jangan kehilangan kendali lagi."

Arkan terdiam.

Lalu ia tertawa kecil pendek, pahit. "Aku sudah kehilangan kendali sejak pertama kali aku bertemu dia, Bagas."

Ia menatap keluar jendela ke arah toko Yura yang sudah jauh di belakang. "Dan sekarang… aku tidak tahu apakah aku masih bisa mengendalikan diri… kalau dia terus menjauh."

Bagas menatap bosnya dengan ekspresi khawatir.

Karena ia tahu. Ketika Arkan kehilangan kendali…

Tidak ada yang bisa menghentikannya.

Sore itu, setelah Arkan pergi, Adrian datang ke toko Yura.

Begitu masuk, ia langsung melihat ekspresi Yura lelah, bingung, dan… terluka.

"Yura," panggil Adrian lembut.

Yura menoleh, lalu tersenyum tipis tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Adi… kamu datang lagi."

Adrian berjalan mendekat. "Kamu… baik-baik aja?"

Yura mengangguk cepat terlalu cepat. "Iya. Aku baik."

Tapi Adrian tidak percaya.

Ia menatap Yura dengan tatapan khawatir. "Yura… aku tahu kamu berbohong."

Yura terdiam.

Lalu ia menunduk tangannya gemetar saat memegang gelas yang baru ia cuci.

"Adi…" suaranya pelan. "Aku… tidak tahu harus bagaimana."

Adrian memegang bahu Yura dengan lembut. "Cerita sama aku. Apa yang terjadi?"

Yura menggelengkan kepala. "Aku cuma… bingung. Aku tidak tahu… siapa yang harus aku percaya."

Adrian menatapnya serius. "Kamu tidak harus percaya siapa-siapa, Yura. Kamu cuma harus percaya sama dirimu sendiri."

Yura menatap Adrian matanya berkaca-kaca.

"Tapi aku… takut salah, Adi. Aku takut… aku terlalu waspada. Atau… aku terlalu percaya."

Adrian menarik napas, lalu memeluk Yura dengan lembut bukan posesif, bukan memaksa.

Hanya… melindungi.

"Kamu tidak akan salah kalau kamu dengerin naluri kamu," bisik Adrian. "Dan aku… akan selalu ada buat kamu. Apapun yang terjadi."

Yura menutup matanya membiarkan air matanya jatuh.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu…

Ia merasa… aman.

Tapi yang tidak mereka tahu…

Di seberang jalan, mobil hitam itu parkir lagi.

Dan Arkan… melihat semuanya.

Ia melihat Adrian memeluk Yura.

Ia melihat Yura menangis di pelukan Adrian.

Ia melihat… keintiman yang tidak pernah ia miliki dengan Yura.

Dan sesuatu di dalam dirinya… patah.

Tangannya mengepal erat begitu erat sampai tangannya gemetar.

"Bagas," ucapnya pelan tapi nadanya… berbahaya.

Bagas menegang. "Ya, Pak?"

Arkan menatap pemandangan di depan dengan tatapan gelap penuh obsesi, penuh kemarahan, penuh… kepemilikan.

"Aku tidak akan membiarkan dia… bersama pria lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!